Gilang Mahesa tidak membiarkan Kinara pergi begitu saja setelah ia menghancurkan hidupnya. Gilang tidak membiarkan Kinara pergi begitu saja setelah ia membuat Kinara kehilangan pekerjaan, kehilangan apartemennya, kehilangan tabungannya, kehilangan segalanya.
Gilang menawarkan pernikahan pada Kinara dengan syarat yang tidak bisa Kinara tolak: Kinara harus menikahinya untuk menebus kesalahannya, untuk membayar untuk apa yang sudah ia lakukan pada ayahnya, untuk menebus kebangkrutan yang membunuh ayah Gilang.
Kinara tidak bisa menolak tawaran itu. Ia tidak bisa menolak tawaran itu karena ia sudah kehilangan segalanya. Ia tidak bisa menolak tawaran itu karena ia tidak punya apa-apa lagi. Ia tidak bisa menolak tawaran itu karena ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Gilang menemukan Kinara di taman kecil itu lagi, beberapa hari setelah ia menghancurkan hidup Kinara. Kinara masih duduk di bangku yang sama, dengan tas kecil berisi semua barangnya di pangkuannya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur.
Gilang tidak berdiri di depannya dengan payung hitam kali ini. Gilang hanya duduk di bangku di samping Kinara, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar.
'Aku punya tawaran untukmu, Kinara,' kata Gilang dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi. 'Tawaran yang akan mengembalikan semua yang sudah kau kehilangan. Tawaran yang akan mengembalikan pekerjaanmu, apartemenmu, tabunganmu, semua yang sudah kau kehilangan.'
Kinara menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, dengan tatapan yang tidak tahu apa yang Gilang bicarakan. 'Saya tidak mengerti apa yang Anda katakan. Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud.'
'Aku akan mengembalikan semua yang sudah kau kehilangan, Kinara. Aku akan mengembalikan pekerjaanmu, apartemenmu, tabunganmu, semua yang sudah kau kehilangan. Tapi kau harus menikahiku untuk menebus kesalahanmu, untuk membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada ayahku, untuk menebus kebangkrutan yang membunuh ayahku.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Kau harus menikahiku untuk menebus kesalahanmu, Kinara. Itu adalah tawaran yang tidak bisa kau tolak.'
Kinara tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
'Saya tidak bisa menikahi Anda,' kata Kinara dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak bisa menikahi pria yang tidak mencintai saya dengan sepenuh hati. Saya tidak bisa menikahi pria yang datang untuk menghancurkan saya dari dalam.'
'Kau tidak punya pilihan, Kinara. Kau tidak punya pilihan karena kau sudah kehilangan segalanya. Kau tidak punya pilihan karena kau tidak punya apa-apa lagi. Kau tidak punya pilihan karena kau tidak punya siapa-siapa lagi.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Kau harus menikahiku untuk menebus kesalahanmu, Kinara. Itu adalah tawaran yang tidak bisa kau tolak.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
Kinara tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kinara tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kinara tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Kinara hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia tidak punya apa-apa lagi, bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Kinara merasa bahwa ia tidak punya pilihan lagi. Ia tidak punya pilihan selain menerima tawaran Gilang, selain menikahi Gilang untuk menebus kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, selain menikahi Gilang untuk membayar untuk kebangkrutan yang tidak pernah ia sebabkan.
'Saya terima,' kata Kinara akhirnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya terima tawaran Anda. Saya akan menikahi Anda untuk menebus kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.'
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Kinara tidak seperti wanita yang ia bayangkan. Kinara tidak seperti wanita yang bersalah, wanita yang kejam, wanita yang membunuh ayahnya dengan manipulasi. Kinara tidak seperti wanita yang ia bayangkan.
Kinara tidak seperti itu. Kinara tidak seperti itu sama sekali.
Tapi Gilang tidak peduli dengan itu. Gilang hanya peduli dengan balas dendamnya. Gilang hanya peduli dengan menghancurkan Kinara dari dalam.
'Bagus,' kata Gilang dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi. 'Kita akan menikah minggu depan. Dan kau akan menebus kesalahanmu setiap hari untuk membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada ayahku.'
Kinara tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
Dan untuk pertama kalinya, Kinara merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Gilang merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.