Kinara tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan perusahaan keluarga Mahesa. Kinara tidak tahu apa-apa tentang tuduhan bahwa ia memanipulasi laporan keuangan dan menyebabkan kebangkrutan itu. Kinara tidak tahu apa-apa tentang mengapa Gilang Mahesa membencinya dengan dendam yang sudah mengakar.
Kinara hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas. Ia kehilangan pekerjaan sebagai akuntan di firma akuntansi terbaik di kota. Ia kehilangan apartemennya di kawasan yang nyaman. Ia kehilangan tabungannya di bank. Ia kehilangan segalanya tanpa alasan yang jelas.
Kinara tidak tahu mengapa semua itu terjadi padanya. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi dengan cara yang tidak bisa ia lawan.
Kinara mencoba mencari pekerjaan baru, tapi tidak ada firma akuntansi yang mau menerimanya. Kinara mencoba mencari apartemen baru, tapi tidak ada pemilik apartemen yang mau menyewakannya. Kinara mencoba membuka rekening bank baru, tapi tidak ada bank yang mau menerimanya.
Kinara tidak tahu mengapa semua itu terjadi padanya. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi dengan cara yang tidak bisa ia lawan.
Suatu malam, ketika Kinara sedang berjalan di jalanan kota dengan tas kecil berisi semua barangnya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur, ia berhenti di sebuah taman kecil dan duduk di bangku di bawah pohon.
Kinara tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Ia tidak tahu apa yang harus ia pikirkan. Ia hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia tidak punya apa-apa lagi, bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Kinara tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya duduk di bangku itu, dengan tas kecil berisi semua barangnya di pangkuannya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Mungkin satu jam. Mungkin dua. Ia hanya tahu bahwa ketika ia akhirnya mengangkat kepala, ada seorang pria berdiri di depannya, memayunginya dengan payung hitam besar, dan menatapnya dengan mata yang dalam dan gelap.
Gilang Mahesa.
Kinara membeku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menatap pria itu, CEO Mahesa Group, pria yang tidak ia kenal, dan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya berdiri di sana, memayunginya, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu, akhirnya, ia berbicara, suaranya rendah dan tenang.
'Kau Kinara. Wanita yang menghancurkan perusahaan ayahku dan membuatnya bunuh diri.'
Kinara menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang pria itu bicarakan. Ia tidak tahu apa-apa tentang perusahaan ayah pria itu. Ia tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan yang membunuh ayah pria itu.
'Saya tidak mengerti apa yang Anda katakan,' kata Kinara dengan suara yang pelan, dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang perusahaan ayah Anda. Saya tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan yang membunuh ayah Anda.'
Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Kau tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan yang membunuh ayahku? Kau tidak tahu apa-apa tentang tuduhan bahwa kau memanipulasi laporan keuangan dan menyebabkan kebangkrutan yang membunuh ayahku?'
Kinara tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
'Saya tidak tahu apa-apa tentang itu,' kata Kinara dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan itu. Saya tidak tahu apa-apa tentang ayah Anda. Saya tidak tahu apa-apa tentang tuduhan itu.'
Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Kau tidak tahu apa-apa tentang itu? Kau tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan yang membunuh ayahku? Kau tidak tahu apa-apa tentang tuduhan bahwa kau memanipulasi laporan keuangan dan menyebabkan kebangkrutan yang membunuh ayahku?'
Kinara menggeleng, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Saya tidak tahu apa-apa tentang kebangkrutan itu. Saya tidak tahu apa-apa tentang ayah Anda. Saya tidak tahu apa-apa tentang tuduhan itu.'
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Kinara tidak seperti wanita yang ia bayangkan. Kinara tidak seperti wanita yang bersalah, wanita yang kejam, wanita yang membunuh ayahnya dengan manipulasi. Kinara tidak seperti wanita yang ia bayangkan.
Kinara tidak seperti itu. Kinara tidak seperti itu sama sekali.
Tapi Gilang tidak peduli dengan itu. Gilang hanya peduli dengan balas dendamnya. Gilang hanya peduli dengan menghancurkan Kinara dari dalam.
'Aku tidak peduli apakah kau tahu apa-apa tentang itu atau tidak, Kinara. Aku tidak peduli apakah kau bersalah atau tidak. Aku hanya peduli dengan balas dendamku untuk ayahku. Aku hanya peduli dengan menghancurkanmu dari dalam untuk membuatmu menderita seperti ayahku menderita.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti ayahku hancur.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Gilang tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Gilang tidak seperti pria yang baik.
Gilang tidak seperti itu. Gilang tidak seperti itu sama sekali.
Kinara tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kinara tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kinara tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Kinara hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia tidak punya apa-apa lagi, bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Kinara merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Gilang merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.