Ruang teknis di lantai dasar tidak pernah dirancang untuk menerima tamu. Ada dua kursi, satu meja panjang, dan rak-rak yang berdengung pelan seperti binatang tua yang tidurnya tidak nyenyak. Reza sudah di sana sejak pukul dua, dengan dua laptop dan buku catatan yang lebih tebal dari biasanya.
'Saya tidak buka isinya,' kata Reza begitu Gilang masuk. 'Saya cuma baca daftarnya. Itu saja sudah bikin saya tidak makan siang.'
'Jelaskan pelan,' kata Gilang.
Reza memutar layar. 'Tiga tahun lalu afiliasi ini ditutup. Yang ditutup badan hukumnya. Servernya tidak. Servernya dipindah ke penyedia yang lebih murah, dibayar tahunan, dari satu rekening yang bukan rekening perusahaan.'
'Rekening siapa?'
'Belum saya kejar,' kata Reza. 'Kalau saya kejar sekarang, saya harus minta akses ke bagian keuangan, dan bagian keuangan akan bertanya kenapa. Begitu ada yang bertanya kenapa, kita kehilangan tiga hari — dan mungkin kehilangan datanya.'
Gilang menarik kursi kedua dan duduk. Di kepalanya, versi dirinya yang lama sudah berdiri, sudah menelepon empat orang, sudah menyusun rapat pukul tujuh malam. Versi itu masih hidup. Ia hanya sedang diminta duduk diam.
'Log akses,' kata Gilang.
'Ini yang bikin saya berhenti makan.' Reza membuka satu berkas. 'Server yang katanya mati ini diakses dua belas kali dalam empat bulan terakhir. Sepuluh kali dari jaringan yang sama. Dua kali dari luar negeri.'
'Nama pengguna?'
'Satu akun teknis lama, namanya generik. Tapi pola waktunya tidak generik.' Reza menunjuk kolom jam. 'Selalu antara pukul sebelas malam dan satu dini hari. Selalu hari kerja. Tidak pernah akhir pekan.'
Gilang membaca kolom itu lama. Orang yang bekerja diam-diam biasanya bekerja setelah rumahnya tidur. Ia tahu itu bukan dari investigasi mana pun, melainkan dari dirinya sendiri, bertahun-tahun.
'Dua kali dari luar negeri itu tanggal berapa?'
Reza menyebutkan dua tanggal. Gilang menutup mata sebentar. Pada dua tanggal itu, Bara sedang di Singapura — bukan rahasia, fotonya bahkan dipajang di kanal internal perusahaan, lengkap dengan keterangan kunjungan mitra strategis.
'Itu belum bukti,' kata Gilang, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Reza.
'Belum,' Reza setuju. 'Ratusan orang ada di Singapura minggu itu. Tapi tidak ratusan orang yang punya alasan membuka server afiliasi yang katanya sudah mati.'
'Ada yang sudah menghapus sesuatu?'
'Ada yang mencoba,' kata Reza. 'Dua bulan lalu. Yang terhapus file kerjanya. Yang tidak terhapus salinan cadangan otomatis yang dibuat penyedia tiap malam. Orang yang menghapus mungkin tidak tahu penyedia murah itu punya kebiasaan menyimpan cadangan tiga puluh hari.'
'Jadi masih ada.'
'Masih ada,' kata Reza. 'Dan tinggal empat hari sebelum salinan paling tua ikut hilang.'
Ruangan itu berdengung. Gilang berdiri, berjalan ke rak, lalu kembali duduk. Ia memikirkan poin sepuluh yang tintanya baru kering kemarin pagi, dan menyadari betapa cepat sebuah perjanjian diuji.
'Kinara harus tahu,' katanya.
'Sekarang?'
'Sekarang.'
Reza tidak berdebat. Dua puluh menit kemudian Kinara berdiri di pintu ruang teknis dengan map timeline yang sudah lecek di sudutnya.
Gilang menjelaskan tanpa memperhalus satu bagian pun: server yang belum mati, dua belas akses, upaya penghapusan, dua tanggal dari luar negeri, empat hari tersisa.
Kinara mendengarkan sampai selesai, lalu bertanya satu hal yang tidak terpikir oleh keduanya.
'Kenapa Reza yang menemukan?'
'Karena saya yang disuruh membersihkan akses lama,' kata Reza.
'Siapa yang menyuruh?'
Reza membuka notesnya, membalik dua halaman, dan berhenti. Wajahnya berubah sedikit. 'Perintahnya turun lewat memo internal, ditandatangani atas nama direksi. Tapi yang menyiapkan drafnya bukan direksi.'
'Siapa?'
'Om,' kata Reza.
Kinara meletakkan mapnya di meja panjang, pelan sekali, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak melemparkan sesuatu.
'Nomor memonya sama dengan yang tadi diminta Mira di ruang rapat?' tanyanya.
Reza mencocokkan dua halaman. 'Beda dua digit. Berurutan. Disiapkan hari yang sama.'
'Berarti dia mau ini dibersihkan,' kata Gilang.
'Atau dia mau tahu siapa yang berani membersihkannya,' kata Kinara. 'Dan sekarang dia tahu namanya: Reza.'
Ketiganya diam. Rak-rak itu terus berdengung.
'Satu hal lagi yang perlu Bapak tahu,' kata Reza. 'Kalau memo itu memang disiapkan untuk memancing, maka orang yang menyiapkannya sedang menunggu satu dari dua hal terjadi. Pertama, arsipnya hilang dan tidak ada yang bisa membuktikan apa pun. Kedua, ada orang yang menyelamatkannya — dan orang itu jadi tersangka berikutnya.'
'Kamu tahu itu dari awal?' tanya Kinara.
'Saya tahu itu sejak memo turun,' kata Reza. 'Saya tetap kerjakan.'
'Kenapa?'
Reza menutup buku catatannya. 'Karena tiga bulan lalu saya diam waktu nama Ibu dipakai untuk menutup rapat. Saya tidak mau diam dua kali.'
Kinara menatap sekretaris itu agak lama. Ada hal-hal yang tidak bisa dibalas dengan terima kasih tanpa membuat orangnya salah tingkah, jadi ia hanya mengangguk sekali.
'Mulai besok, catatan kamu jangan cuma satu,' kata Kinara. 'Fotokopi. Satu di sini, satu di rumah saya, satu di pengacara luar. Kalau nanti kamu yang dijadikan sasaran, saya tidak mau bukti kerjamu cuma ada di satu buku yang bisa hilang di lift.'
'Kita tidak menyentuh apa pun malam ini,' kata Gilang akhirnya. 'Reza, salin yang bisa disalin ke dua tempat. Jangan lewat jaringan kantor. Jangan sebut nama siapa pun di label folder. Besok pagi kita putuskan urutannya.'
'Dan timeline saya?' tanya Kinara.
'Tetap di pengacara luar,' kata Gilang. 'Jangan ditarik, jangan ditambah, sampai kita tahu isi salinan itu.'
'Mira?'
'Belum,' kata Gilang. 'Kalau saya minta audit forensik sekarang, saya harus menyebut parameter. Menyebut parameter berarti menyebut rentang tahun dan kode proyek. Siapa pun yang membaca permintaan itu akan tahu apa yang kita cari sebelum kita sendiri tahu apa yang kita punya.'
Kinara mengangguk. Di pintu, ia berhenti sebentar.
'Satu hal,' katanya. 'Kalau nanti isinya menyangkut ayah Bapak, saya tidak mau Bapak membacanya sendirian jam dua pagi lalu memutuskan sendirian jam tiga.'
Gilang tidak menjawab. Itu, kalau dipikir-pikir, adalah jawaban paling jujur yang bisa ia berikan malam itu.