Panggilan resmi itu datang Selasa pukul sembilan lewat sepuluh, lewat surat berkop komite, bukan lewat pesan pribadi. Kinara membacanya dua kali — bukan karena isinya sulit, melainkan karena ia ingin memastikan tangannya tidak gemetar saat memegang kertas itu.
Pemeriksaan lanjutan. Ruang rapat lantai sebelas. Sebelas siang. Kehadiran yang bersangkutan diperlukan.
'Saya antar sampai lobi,' kata Gilang.
'Sampai lobi,' ulang Kinara. 'Poin sembilan.'
'Sampai lobi,' Gilang mengiyakan.
Mobil itu berjalan pelan, dan tidak ada yang bicara sepanjang dua puluh menit. Di lampu merah terakhir, Gilang berkata tanpa menoleh, 'Kalau mereka menyudutkan Ibu dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan berkas—'
'Saya jawab sendiri,' potong Kinara.
'Saya belum selesai.'
'Justru itu,' kata Kinara. 'Kalau Bapak selesaikan kalimatnya, Bapak akan menawarkan sesuatu, dan saya akan tergoda menerimanya. Jadi jangan diselesaikan.'
Gilang menutup mulutnya. Lampu berganti hijau.
Di lobi, ia berhenti persis di garis lantai yang membatasi area tamu dan area lift. Ia berdiri di sana lebih lama daripada perlu, dan Kinara sempat menoleh sekali sebelum pintu lift menutup — bukan untuk minta ditolong, hanya untuk memastikan lelaki itu benar-benar tinggal di tempatnya.
Ruang rapat lantai sebelas dingin seperti biasa. Enam orang: tiga dari komite, satu notulis, satu dari legal internal, dan Mira di ujung meja dengan map tipis yang belum dibuka. Ada satu kursi kosong yang tidak dijelaskan milik siapa.
Pertanyaan pertama mudah. Pertanyaan kedua mudah. Pertanyaan ketiga mulai melipat.
'Ibu menandatangani berita acara serah terima ini?'
'Ya. Tanggal empat belas.'
'Ibu tahu isi lampirannya?'
'Saya tahu lampiran yang saya terima,' kata Kinara. 'Saya tidak tahu lampiran yang ditambahkan setelah saya tanda tangan. Halaman tujuh timeline saya menjelaskan selisih nomor dokumennya, lengkap dengan jam unggah.'
'Kami belum menerima timeline itu.'
'Firma pengacara saya mengirimkannya Senin pagi,' kata Kinara. 'Nomor tanda terimanya ada di sini. Kalau berkasnya belum sampai ke meja Bapak, saya sarankan ditanyakan ke bagian yang menerima, bukan ke saya.'
Notulis menulis. Legal internal melirik ke kursi kosong.
Menjelang menit keempat puluh, pertanyaannya berbelok. Bukan lagi soal dokumen, melainkan soal rumah tangga: siapa menelepon siapa pada malam yang mana, apakah benar suaminya pernah memindahkan seseorang antardivisi karena permintaan istrinya.
Kinara meletakkan pulpennya.
'Pertanyaan itu di luar ruang lingkup pemeriksaan,' katanya. 'Saya jawab satu kali, dan hanya satu kali, supaya tidak ada yang bisa bilang saya menghindar: tidak. Saya tidak pernah meminta pemindahan siapa pun. Kalau ada dokumen yang menyatakan sebaliknya, saya minta dokumen itu ditunjukkan sekarang, di ruangan ini, dengan nomor dan tanggal.'
Tidak ada dokumen yang ditunjukkan.
'Kalau tidak ada,' lanjut Kinara, 'saya minta pertanyaan tadi dicatat dalam notulen, beserta keterangan bahwa penanya tidak dapat menunjukkan dasarnya.'
Notulis berhenti sebentar, menatap ketua sesi, lalu menulis.
Mira mengangkat tangan sedikit — gerakan kecil orang yang terbiasa bicara hanya ketika perlu. 'Untuk kelengkapan berita acara,' katanya, 'saya mencatat bahwa permintaan sesi lanjutan hari ini masuk lewat memo sekretariat, bukan usul komite. Saya minta nomor memo itu dilampirkan.'
Ruangan berubah setengah derajat lebih dingin.
'Itu urusan administrasi,' kata legal internal.
'Semua urusan administrasi ada nomornya,' kata Mira. 'Saya hanya minta nomornya.'
Ketua sesi membalik dua lembar sekaligus, seperti orang yang mencari halaman yang seharusnya ada di sana.
'Satu lagi, Bu Kinara. Dalam berkas ini disebut bahwa penyerahan dokumen dilakukan di ruang kerja Direktur Bara. Ibu ingat jam berapa?'
'Pukul empat lewat sepuluh,' kata Kinara. 'Saya ingat karena saya menunggu dua puluh menit di luar, dan saya mencatat menit tunggunya.'
'Kenapa dicatat?'
'Karena sejak awal saya diminta menunggu di tempat yang tidak ada kameranya,' kata Kinara. 'Waktu itu saya pikir itu kebetulan.'
Ruangan itu diam sebentar. Notulis menunggu, pulpennya menggantung.
'Catat jawabannya utuh,' kata Mira dari ujung meja. 'Termasuk bagian kameranya.'
Legal internal membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Pemeriksaan itu ditutup pukul dua belas lewat dua puluh tanpa kesimpulan, tanpa pembebasan, hanya kalimat yang sudah bisa ditebak: akan dijadwalkan sesi lanjutan.
Di lobi, Gilang masih berdiri di garis yang sama.
'Berapa lama Bapak di situ?' tanya Kinara.
'Tidak penting.'
'Penting buat saya.'
Gilang menyerah. 'Sejak Ibu naik.'
Kinara mengangguk pelan. Ia tidak mengucapkan terima kasih, dan Gilang tidak menunggunya. Keduanya berjalan ke mobil dengan jarak setengah langkah — untuk ukuran rumah tangga ini, itu kemajuan yang layak dicatat.
Di dalam mobil, Kinara membuka notesnya dan menulis satu baris: kursi kosong, lantai sebelas, tidak dijelaskan.
'Kenapa?' tanya Gilang.
'Karena ruangan itu disiapkan untuk tujuh orang,' kata Kinara. 'Bukan enam. Air mineralnya tujuh, notes-nya tujuh. Ada orang yang diundang, tahu isi agendanya, dan memilih tidak datang supaya namanya tidak ada di daftar hadir.'
Gilang menatap jalan lurus-lurus. Ia tahu persis siapa yang punya kebiasaan seperti itu, dan ia tahu bahwa menyebut namanya sekarang, tanpa satu lembar bukti pun, hanya akan mengubah dugaan menjadi gosip.
'Bapak mau bilang sesuatu,' kata Kinara.
'Saya mau menyebut satu nama,' aku Gilang. 'Dan saya menahannya.'
'Bagus,' kata Kinara. 'Kalau nama itu keluar dari mulut Bapak hari ini, besok dia sudah punya cerita tandingan. Orang seperti dia tidak takut dituduh. Dia takut dicatat.'
'Jadi kita catat.'
'Kita catat,' kata Kinara. 'Nomor memo, jam, siapa yang minta, siapa yang tidak datang. Bukan perasaan. Nomor.'
Gilang mengangguk pelan. Dua tahun lalu, kalimat seperti itu akan terdengar dingin baginya, mungkin bahkan menyakitkan — seperti istri yang berubah menjadi auditor di rumah sendiri. Sore itu ia justru merasa berterima kasih. Perempuan di sebelahnya sedang mengerjakan hal yang selama ini ia sendiri hindari: bekerja tanpa mengandalkan siapa pun yang akan datang menyelamatkan.
Sore harinya, Reza mengirim pesan yang isinya satu kalimat: server lama itu punya log akses bulan ini.
Gilang membaca pesan itu di lampu merah, dan untuk pertama kalinya sejak Senin, dadanya terasa dingin bukan karena marah.