Rabu berjalan seperti hari kerja biasa bagi semua orang di gedung itu, kecuali tiga orang yang sedang menghitung mundur.
Reza bekerja di ruang teknis sejak pagi, dengan pintu sengaja dibiarkan terbuka supaya tidak ada yang merasa perlu bertanya apa yang disembunyikan di baliknya. Ia menyalin dalam potongan kecil, memberi nama folder dengan kode angka, mencatat setiap langkah di buku tulis — bukan di aplikasi, bukan di penyimpanan awan kantor. Buku tulis tidak bisa diambil dari jauh, dan tidak bisa dihapus oleh orang yang punya kunci sistem.
Gilang menjalankan agendanya seperti biasa: dua rapat, satu kunjungan proyek, satu panggilan dengan calon mitra yang bicara terlalu lama tentang sinergi. Ia menjawab semuanya dengan benar, dan tidak satu pun lawan bicaranya tahu bahwa lelaki di seberang meja itu sedang menunggu satu pesan.
Di rapat kedua, Bara duduk empat kursi dari tempatnya. Ia menyapa lebih hangat dari biasanya, bertanya kabar Kinara dengan nada prihatin yang terdengar sudah dilatih, lalu menyelipkan satu kalimat menjelang rapat bubar.
'Saya dengar tim teknis lagi bersih-bersih arsip lama,' kata Bara. 'Bagus. Barang lama cuma bikin sesak gudang.'
'Bikin sesak,' Gilang mengulang datar. 'Tapi kadang ada yang masih dipakai.'
'Yang masih dipakai biasanya sudah dipindah sejak dulu,' kata Bara sambil merapikan jasnya. 'Yang tertinggal itu sampah.'
Gilang tersenyum sebatas yang sopan, dan tidak menjawab. Di bawah meja, jarinya mengetuk dua kali — kebiasaan lama yang dulu ia pakai untuk menahan diri agar tidak bicara terlalu cepat.
Kinara tidak ke kantor. Ia duduk di ruang tamu rumah, menyusun ulang halaman sebelas timeline-nya dengan informasi baru: nama afiliasi, tanggal penutupan badan hukum, dan satu kolom kosong yang ia beri judul pembayar server. Kolom itu ia biarkan kosong. Ia sudah belajar, dengan cara yang mahal, bahwa menebak nama jauh lebih berbahaya daripada mengakui belum tahu.
Menjelang sore, Om datang ke rumah tanpa memberi kabar.
Kinara melihatnya dari jendela sebelum bel berbunyi. Ia sempat berpikir untuk tidak membuka pintu. Lalu ia ingat poin dua: tidak ada lagi orang yang boleh masuk rumah ini tanpa dicatat, dan tidak ada lagi orang yang boleh diusir tanpa dicatat.
Ia membuka pintu, menyalakan perekam suara di saku, dan berdiri di ambang — tidak mempersilakan masuk, tidak pula menutup pintu.
'Kamu sendirian?' tanya Om.
'Ada Bibi di dapur,' kata Kinara. 'Ada apa, Om?'
Om tersenyum dengan cara yang selalu membuat Kinara merasa sedang diukur. 'Saya dengar ada orang kantor yang sibuk di ruang teknis dua hari ini. Server lama. Barang rongsokan. Saya cuma mau mengingatkan: kalau ada data pribadi karyawan di sana, sebaiknya dihapus semua. Melindungi mereka juga.'
'Om khawatir data karyawan?'
'Saya khawatir orang salah paham,' kata Om. 'File lama itu setengah-setengah. Kalau dibaca orang yang sedang marah, bisa jadi cerita yang berbeda.'
'Om tahu isinya?'
'Saya tahu zamannya,' kata Om, dan senyumnya melebar sedikit. 'Zaman itu banyak yang tanda tangan tanpa membaca. Termasuk almarhum ayah Gilang.'
Kalimat itu dijatuhkan dengan sangat rapi — pelan, seperti orang meletakkan gelas di meja kaca, tapi bunyinya terdengar sampai ke ruangan sebelah.
'Terima kasih sudah mampir, Om,' kata Kinara. 'Saya catat kunjungannya.'
'Kamu catat?'
'Semua tamu saya catat sekarang,' katanya. 'Termasuk yang datang untuk membantu.'
Om pergi tanpa menyalami.
Kinara menutup pintu, menyandarkan punggung ke daunnya, dan baru menyadari tangannya dingin. Ia menelepon Gilang dan menceritakan semuanya — termasuk kalimat tentang ayah, terutama kalimat tentang ayah.
Gilang mendengarkan tanpa memotong. Ketika Kinara selesai, ia hanya berkata, 'Terima kasih sudah tidak menyimpannya sampai malam.'
'Saya hampir,' aku Kinara. 'Saya sempat berpikir menunggu sampai Bapak pulang, supaya tidak mengganggu rapat.'
'Poin tujuh,' kata Gilang.
'Poin tujuh,' Kinara mengiyakan.
Setelah menutup telepon, Kinara duduk di meja ruang tamu dan menulis catatan kunjungan itu selengkap yang ia bisa: jam kedatangan, jam kepergian, kalimat yang diucapkan, urutan kalimatnya. Ia menuliskan juga hal yang tidak akan berarti bagi siapa pun kecuali dirinya sendiri — bahwa Om tidak sekali pun menyebut kata bukti, dan tidak sekali pun bertanya apakah Kinara bersalah.
Orang yang percaya seseorang bersalah biasanya bertanya. Orang yang tahu seseorang tidak bersalah biasanya tidak perlu.
Ia menyimpan rekaman itu di dua tempat, lalu mengirim satu salinan ke pengacara luar dengan satu baris keterangan: kunjungan tidak diminta, isi percakapan menyinggung almarhum ayah mertua saya.
Bibi masuk membawa teh yang tidak diminta, meletakkannya, dan berdiri sebentar di dekat meja.
'Bu,' katanya akhirnya, 'saya dengar dari dapur.'
'Saya tahu,' kata Kinara.
'Kalau nanti ada yang tanya jam berapa Om datang,' kata Bibi, 'saya ingat. Setengah empat lewat lima menit. Saya sedang menggoreng.'
Kinara menatapnya, lalu menuliskan itu juga di catatannya, di baris paling bawah, lengkap dengan nama Bibi sebagai saksi. Rumah ini pernah punya banyak orang yang melihat dan memilih tidak ingat. Sore itu, untuk pertama kalinya, ada yang menawarkan diri untuk ingat.
Pukul empat lewat, Reza mengirim pesan kepada keduanya sekaligus: selesai. tiga salinan. hash sudah dicatat. satu folder saya tandai prioritas.
Gilang membalas: apa isinya?
Reza: saya tidak baca semua. saya cuma lihat satu nama muncul berulang di jalur tanda tangan, dan satu catatan pinggir yang tulisannya bukan gaya orang kantor.
Gilang menatap layar itu lama sekali, di ruang kerjanya di lantai atas gedung, dengan kota yang mulai menyalakan lampunya di luar jendela. Ia mengetik satu pesan untuk Mira, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Belum. Bukan malam ini.
Ia tidak membuka folder itu di kantor. Ia menutup laptop, pulang lebih awal dari kebiasaan, makan malam bersama Kinara tanpa membicarakan satu pun berkas, lalu mencuci piringnya sendiri — hal kecil yang tidak tercantum di dua belas poin mana pun, tapi diperhatikan Kinara dan tidak ia komentari.
Baru setelah rumah sepi, setelah lampu ruang tengah dimatikan dan Kinara naik ke lantai atas, Gilang masuk ke ruang kerjanya, menutup pintu tanpa menguncinya, dan menyalakan laptop.
Folder yang ditandai Reza sore tadi menunggu di layar, dengan nama berkode dan tanggal yang tidak berarti apa-apa bagi siapa pun kecuali tiga orang.
Ia meletakkan jarinya di atas trackpad, lalu berhenti sebentar — mengingat kalimat Kinara di pintu ruang teknis kemarin, tentang membaca sendirian jam dua pagi dan memutuskan sendirian jam tiga.
Pintu ia biarkan tidak terkunci. Lalu ia membukanya.