Senin pagi, meja makan itu tidak menyajikan sarapan. Yang tersaji hanya dua map, satu pulpen, dan dua gelas air putih yang tidak disentuh siapa pun sampai pukul delapan lewat.
Kinara duduk lebih dulu. Ia sudah membaca daftar itu tujuh kali sejak Sabtu, dan tujuh kali pula ia menahan diri untuk tidak melunakkan satu kalimat pun. Setiap kali ia tergoda mengganti kata harus menjadi sebaiknya, ia mengingat kalimat yang paling sering ia dengar di rumah ini selama tiga tahun terakhir: nanti kita bicarakan lagi. Kalimat itu tidak pernah punya kelanjutan. Kalimat itu hanya cara sopan untuk menunda sampai orang yang dirugikan lelah sendiri dan berhenti menagih.
Gilang datang tepat waktu, tanpa membawa ponsel. Itu hal kecil yang Kinara catat diam-diam, bukan karena terharu, melainkan karena ia sedang belajar mencatat tindakan dan berhenti menghitung janji.
'Saya baca semuanya,' kata Gilang. 'Dua kali.'
'Poin empat,' kata Kinara. 'Baca keras.'
Gilang menurut. 'Saya tidak akan menyebut nama istri saya dalam rapat, keterangan pers, atau percakapan keluarga, sebagai bukti bahwa saya orang baik.'
'Itu yang paling sering Bapak langgar,' kata Kinara. 'Bukan karena jahat. Karena gampang. Nama saya murah dipakai untuk menutup rapat yang alot.'
Gilang tidak membantah. Dulu ia akan membantah dengan kalimat panjang tentang niat baik dan situasi sulit, tentang bagaimana orang di ruang rapat hanya mengerti bahasa keluarga. Kali ini ia hanya menandatangani kolom di sebelah poin empat, lalu menuliskan tanggalnya.
Mereka berjalan pelan melewati dua belas poin. Beberapa mudah: tidak ada lagi berkas rumah tangga yang dibawa Om ke ruang keluarga tanpa diminta; tidak ada lagi kunci cadangan yang beredar tanpa daftar; tidak ada lagi wawancara mendadak yang diterima atas nama keduanya. Beberapa poin membuat ruangan itu sunyi lebih lama dari yang nyaman.
'Poin sembilan,' kata Kinara. 'Kalau saya diperiksa lagi — internal, eksternal, apa pun — Bapak tidak masuk ruangan untuk membela saya.'
'Itu yang paling tidak masuk akal,' kata Gilang pelan.
'Itu yang paling penting,' balas Kinara. 'Setiap kali Bapak masuk membela, orang di luar berhenti mendengar bukti saya. Mereka cuma dengar suami menyelamatkan istri. Dan orang seperti Bara paling suka cerita itu — dia tidak perlu membantah bukti saya kalau ada versi yang lebih enak diceritakan di lorong.'
Nama itu jatuh di meja seperti kunci yang diletakkan terlalu keras. Gilang menatap gelas airnya. Ada bagian dari dirinya yang ingin menjelaskan bahwa melindungi adalah satu-satunya cara ia tahu untuk mencintai; bahwa ayahnya mengajarkan itu dengan keras dan tidak pernah ia gugat sekali pun. Tapi ia sudah berjanji, di ruang latihan dua pintu itu, bahwa ia akan berhenti menjelaskan dan mulai memilih.
Ia menandatangani poin sembilan.
'Ada satu lagi,' kata Kinara. Ia mengeluarkan selembar kertas dari map yang lebih tipis. 'Ini bukan poin. Ini pemberitahuan.'
Gilang membacanya. Timeline itu — dua puluh empat halaman, disusun pada malam-malam ketika mereka tidur di kamar terpisah — sudah masuk ke kantor pengacara luar sejak Sabtu sore. Bukan ke legal internal. Bukan lewat Om. Ke firma yang selama ini hanya dipakai perusahaan untuk kontrak sensitif.
'Saya tidak minta izin,' kata Kinara.
'Saya tidak akan minta itu ditarik,' kata Gilang.
Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, keduanya diam tanpa merasa harus buru-buru mengisi diamnya.
Pukul sembilan lewat, ponsel di meja dapur bergetar. Mira, dari kantor audit yang biasa dipakai perusahaan untuk pekerjaan yang tidak boleh bocor.
'Saya angkat di sini,' kata Gilang, dan menekan tombol pengeras suara — hal yang tiga bulan lalu tidak pernah ia lakukan di dekat istrinya.
'Jadwal sesi lanjutan komite sudah keluar,' kata Mira tanpa basa-basi. 'Selasa, sebelas siang. Dan ada satu hal yang perlu Anda tahu sebelum saya tulis di berita acara: permintaan pemeriksaan lanjutan ini tidak datang dari komite.'
'Dari siapa?'
'Dari memo internal yang disiapkan sekretariat,' kata Mira. 'Saya tidak bisa menyebut nama sebelum saya pegang salinannya. Tapi saya bisa bilang ini: yang meminta bukan orang yang duduk di komite.'
Kinara menulis satu baris di notesnya, dan menggarisbawahinya dua kali.
Menjelang siang, Reza datang membawa map ketiga yang tidak diminta siapa pun. Ia meletakkannya di ujung meja, jauh dari dua map perjanjian, seolah tahu benda itu tidak boleh mencampuri urusan yang sedang berlangsung.
'Bukan sekarang,' kata Gilang.
'Bukan sekarang,' Reza setuju. 'Tapi sore ini.'
'Apa isinya?'
'Sesuatu yang saya temukan waktu membersihkan akses lama,' kata Reza. 'Server afiliasi yang katanya sudah mati tiga tahun lalu. Ternyata belum mati. Cuma tidak ada yang mau membayar tagihannya, jadi tidak ada yang mau mengaku memilikinya.'
Kinara mengangkat wajah. 'Afiliasi yang mana?'
'Yang namanya muncul di halaman sebelas timeline Ibu,' kata Reza. 'Yang direkturnya waktu itu masih Bara.'
Kinara tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup map perjanjian, merapikan sudutnya, dan menandatangani kolom terakhir dengan tangan yang — kalau diperhatikan betul — bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya.
Dua belas poin. Dua tanda tangan. Tidak ada pelukan, tidak ada kue, tidak ada foto.
'Besok kita mulai jalankan,' kata Kinara.
'Hari ini,' kata Gilang. Ia mendorong map milik Reza sedikit menjauh dengan ujung jari. 'Poin sepuluh: saya tidak membaca berkas yang menyangkut nama Ibu tanpa Ibu tahu. Kalau isi map itu menyangkut nama Ibu, saya buka sore ini, dan Ibu tahu sekarang.'
Kinara menahan sesuatu di wajahnya. Bukan senyum. Sesuatu yang lebih hati-hati daripada senyum.
'Catat waktunya,' katanya kepada Reza. 'Jam berapa map itu dibuka, siapa yang hadir, siapa yang tidak.'
Reza mengeluarkan notes kecil dan menulis, tanpa bertanya kenapa.
Di luar, hujan turun sebentar lalu berhenti, dan halaman rumah itu kembali kering seperti tidak pernah terjadi apa-apa — kebiasaan lama rumah ini, yang baru sekarang disadari Kinara sebagai kebiasaan, bukan kebetulan.