Reza meletakkan folder di meja Gilang siang itu. 'Bara Wijaya. Kini direktur di kelompok lain. Sukses. Bersih permukaan. CSR. Foto senyum. Di bawah: transaksi lama yang berbau, belum cukup pidana. Lo baca. Lalu lo tidak jalan ke kantornya dengan legal sebagai preman.'
Gilang membaca. Rahang. Hampir menyusun tim 'tekanan bisnis' — klasik. Tangan ke telepon. Reza cabut telepon dari jangkauan. 'Audit, jangan preman. Lo hampir. Saya rem. Kinara gali jejak takut; lo jangan bakar saksi dengan perang terbuka. Banding file. Kumpulkan. Kalau lo serang kasar sekarang, Bara lari atau Om pakai lo sebagai anak dendam buta lagi.'
Gilang tinju meja pelan. 'Saya hampir. Ditahan. Laporkan ke Kinara. Sticky: *Bara bersih permukaan. jangan preman. audit. hampir serang — rem Reza.*'
Sore di mansion Gilang jujur. 'Reza trace. Bara sukses. Saya hampir serang kasar. Ditahan. Audit, bukan preman. Maaf prosedur hampir. Bukan maaf dosa.'
Kinara mengangguk tajam. 'Bagus ditahan. Kalau Bapak preman, sumber takut saya hilang. Rumus kejam+bodoh naik lagi. Rem preman = permanen untuk kepercayaan audit. Hafal?'
'Hafal. Permanen audit. Tidak ke kantor Bara. Tidak telepon. Reza jalur. Saya angka.' Kinara: 'Saya lanjut email rekan takut — lembut. Tidak sebut Bapak. Tidak sebut Om. Box aman.' Gilang: 'Baik. Zona. Sabot tidak. Cage tidak.'
Malam Reza kirim: `Bara ada acara industri minggu depan. Lo jangan datangi sebagai perang. Kalau ketemu — dingin, bukan mesra, bukan ancam.` Gilang teruskan ringkas ke Kinara. Kinara: 'Saya mungkin kena sapa. Saya siap. Bapak di sisi — dingin OK. Mesra palsu tidak. Ancam tidak. Hafal?' Gilang: 'Hafal. Dingin. Bukan trophy bela. Bukan preman. Payung bukan tebus — masih. Di batu kemarin — goyah masih. Kalau benar — masih.' Mereka air. Kamar terpisah. Pedang tetap di sarung. Cukup — folder sukses permukaan yang tidak dijawab dengan tangan kasar, dan rem Reza yang menang sebelum perang membuka portal.
Gilang menulis daftar larangan preman di kertas: tidak datangi kantor Bara; tidak telepon; tidak tekan vendor Bara; tidak sewa preman; tidak portal; tidak pakai Kinara sebagai umpan. Paraf. Kasih Reza. Kinara minta baca daftar — diberi. 'Bagus tertulis. Saya tambah: tidak intimidasi sumber takut saya.' Gilang tambah. Paraf lagi.
Kamis trace dapat foto Bara di CSR — senyum. Gilang mual beda dari mual ayah: mual ingin menghancurkan wajah itu. Reza: 'Tulis mual. Jangan bertindak.' Gilang tulis. Laporkan ke Kinara. Kinara: 'Mual boleh. Preman tidak. Saya juga mual — dia yang dorong atas. Kita audit. Acara industri — siap dingin. Tidak ancam. Tidak mesra.' Gilang: 'Dingin. Rumus. Batu. Kalau benar. Gigit.' Malam folder ditutup. Pedang tidak dihunus. Audit menang hari itu.
Senin Bara masih CSR di berita; Gilang tidak komentar publik. Kinara tidak komentar. Daftar larangan preman di scan ke legal tepercaya sebagai rem internal. Tangan gatal berkurang seinci karena tertulis. Audit. Dingin. Tidak datangi.
Sumber takut Kinara dapat cuplikan tambahan; masuk box; Reza lihat; Gilang tidak preman. Rumus mengingatkan.
Daftar larangan preman ditempel di sisi dalam laci Gilang — bukan di dinding publik. Kinara foto untuk notes. Sabtu Gilang hampir 'kebetulan' lewat gedung Bara; Reza lacak GPS dinas; telepon: 'Putar balik. Audit.' Gilang putar. Laporkan ke Kinara malu. 'Hampir preman jalan. Ditahan Reza. Permanen audit.' Kinara: 'Permanen. Terima kasih balik. Cuplikan bertambah — masuk box. Tidak sebar.' Minggu folder CSR Bara ditutup. Dingin. Tidak ancam. Acara industri minggu depan diingat sebagai ujian muka, bukan medan hunus. Rumus dan batu mengingatkan: salah sasaran lebih mudah dari benar sasaran. Gigit. Angka. Tidur.
Daftar larangan preman dibaca nyaring sekali oleh Gilang di depan Reza sebagai sumpah prosedur. Kinara hadir; angguk. GPS putar balik jadi bukti rem. Folder CSR ditutup. Cuplikan masuk box. Tidak datangi. Tidak telepon. Audit. Dingin. Acara industri menunggu tanpa hunus.
Daftar larangan preman dibaca nyaring sekali oleh Gilang di depan Reza sebagai sumpah prosedur. Kinara hadir; angguk. GPS putar balik jadi bukti rem. Folder CSR ditutup. Cuplikan masuk box. Tidak datangi. Tidak telepon. Audit. Dingin. Acara industri menunggu tanpa hunus.
Reza mengadakan simulasi singkat: 'Kalau lo ketemu Bara di lift, bilang apa?' Gilang: 'Tidak bilang perang. Angguk. Keluar.' Kinara: 'Saya: tidak akui dosa palsu. Tidak ancam. Tidak minta maaf pada dia.' Simulasi cukup. Folder ditambah satu lampiran bank lama; belum cukup pidana; cukup untuk tidak merasa gila. Gilang hampir meneruskan lampiran ke Om — ditahan. 'Om agenda. Simpan.' Kinara: 'Simpan. Box. Rem tertulis hidup. GPS balik — bagus. Ulangi hampir preman = catatan merah kepercayaan audit.' Gilang: 'Merah. Hafal. Angka. Dingin. Tidak datangi. Tidur terpisah. Rumus. Batu. Kalau benar.' Pintu. Preman kalah berkali di kepala sebelum kalah di jalan.
Kinara menambahkan satu baris di daftar larangan: tidak memakai nama Bara di resepsi sebagai gosip. Gilang paraf. Reza simpan. Malam mereka sebut rem preman sekali lagi di dapur air — bukan pidato, checklist. Tidur terpisah. Pedang tetap sarung. Audit menang hari itu tanpa berita. GPS tidak ke gedung itu lagi. Folder CSR tertutup. Cuplikan aman di box. Gigit. Angka. Dingin. Rem hidup.