Tawaran itu keluar di dapur, pukul tujuh pagi, dengan cara yang kaku seperti orang yang mencoba memperbaiki sesuatu memakai alat yang salah.
'Kerja di bawah Mahesa,' kata Gilang. 'Divisi internal audit. Gaji jalan, perlindungan jelas. Kau di bawah payung saya, resmi. Soal kontrol — saya akui ada. Tapi tetap lebih aman daripada firma kecil yang tidak punya siapa-siapa.'
Kinara meletakkan cangkirnya. Bunyinya pelan, tapi Gilang menegakkan punggung mendengarnya.
'Saya tolak,' katanya.
'Kinara—'
'Saya bukan proyek pembersihan nama Bapak,' potong Kinara. 'Dan saya bukan karyawan yang bisa dikandangkan dengan slip gaji. Kalau nama saya nanti bersih karena saya bekerja di divisi milik suami saya, orang tidak akan bilang saya benar. Orang akan bilang saya dilindungi. Itu dua hal yang berbeda, dan cuma satu yang saya butuhkan.'
Gilang merasakan rahangnya mengeras. Ada bagian dari dirinya yang tersinggung — bagian yang selama bertahun-tahun terbiasa menawarkan sesuatu dan disambut ucapan terima kasih, bukan penolakan. Ia menahan bagian itu di tempatnya, sebagaimana yang dilatihnya berminggu-minggu terakhir.
'Saya hampir marah,' katanya akhirnya. 'Karena ditolak. Saya laporkan sekarang, biar tidak jadi bara di dalam.'
Kinara mengangguk sekali. 'Saya catat. Terima kasih sudah menahan.'
'Lalu maunya bagaimana?'
'Jalur independen,' kata Kinara. 'Saya cari kerja di luar, dengan nama saya sendiri. Dan saya minta akses wajar ke arsip yang relevan untuk membersihkan nama saya — lewat legal, bukan lewat atasan yang kebetulan suami saya. Bapak paham bedanya?'
'Saya paham bedanya,' kata Gilang pelan. 'Saya cuma tidak suka bedanya.'
'Itu wajar,' kata Kinara. 'Yang tidak wajar kalau ketidaksukaan Bapak jadi alasan mengubah bentuknya.'
Mereka diam. Di luar, tukang kebun menyalakan mesin pemotong rumput, lalu mematikannya lagi karena teringat jam.
'Saya takut kau menjauh,' kata Gilang. 'Itu jujur. Saya tidak akan menyabot apa pun. Tapi saya menawarkan kandang tadi, dan kau menolaknya, dan saya harus terima.'
'Bapak masih ingat kalimat sendiri di batu waktu itu?' tanya Kinara. 'Soal sasaran yang salah?'
'Ingat.'
'Mempekerjakan saya di bawah Bapak itu sasaran salah versi lembut,' kata Kinara. 'Kelihatannya menolong. Ujungnya sama: hidup saya diatur orang yang merasa berutang.'
Siang harinya, Reza menerima ringkasan percakapan itu dan mengangguk puas dengan cara yang tidak menyenangkan bagi atasannya.
'Bapak belajar,' katanya. 'Jangan tawarkan apa-apa lagi minggu ini.'
'Tidak,' kata Gilang. 'Saya urus angka saja.'
Surat permohonan akses arsip disusun oleh pengacara kecil yang disewa Kinara sendiri, lalu disunting Reza supaya tidak berbunyi seperti pengakuan dosa perusahaan. Ketika drafnya sampai ke tangan Kinara, ia membacanya dua kali dan berhenti di halaman terakhir.
'Ini masih bisa jadi kandang, cuma dari kertas,' katanya. 'Ada klausul laporan harian ke CEO. Cabut.'
'Itu untuk memantau kalau ada yang menghalangi akses—'
'Cabut,' ulang Kinara.
Gilang mencabutnya. Sebagai gantinya, ditulis laporan ringkas mingguan yang dikirim ke legal, bukan ke ruangannya.
Ada satu hal yang tidak diceritakan Gilang hari itu, dan baru ia ceritakan malamnya, karena ia sudah belajar bahwa yang tidak diceritakan selalu kembali dengan bunga.
'Bagian HR sudah menyiapkan slip tawaran resmi untukmu,' katanya. 'Diketik sebelum saya bicara denganmu pagi tadi. Saya sudah perintahkan hancurkan drafnya. Saya kabari supaya tidak ada yang menghidupkannya diam-diam.'
Kinara menatapnya lama. 'Saya minta salinan pembatalannya. Tertulis.'
'Besok pagi ada di mejamu.'
'Terima kasih,' katanya, dan untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, kata itu terdengar seperti benar-benar terima kasih, bukan sekadar penutup percakapan.
Salinan itu datang keesokan paginya. Kinara menyimpannya di kotak deposit bank bersama berkas-berkasnya yang lain. Gilang tidak pernah meminta melihat isi kotak itu, dan tidak pernah bertanya nomor kuncinya — dua hal kecil yang, kalau ditulis dalam daftar, mungkin terdengar sepele, tapi bagi perempuan yang selama tiga tahun tidak punya satu pun ruang yang tidak bisa dimasuki orang lain, artinya besar.
Ada hal lain yang harus diselesaikan sebelum surat itu keluar. Reza membawanya sendiri ke ruang makan, sore hari, dengan wajah orang yang tahu ia sedang membawa masalah.
'Bagian arsip minta nama penanggung jawab,' katanya. 'Kalau saya tulis nama Bapak, akses ini otomatis jadi milik CEO. Kalau saya tulis nama Bu Kinara, orang arsip akan tanya-tanya kenapa orang luar bisa minta.'
'Tulis nama pengacara saya,' kata Kinara. 'Dia yang mengajukan, dia yang bertanggung jawab. Saya cuma pemohon.'
'Itu akan memperlambat dua hari.'
'Dua hari lebih cepat daripada seumur hidup dianggap dilindungi suami,' kata Kinara.
Reza menulis, lalu berhenti sebentar. 'Boleh saya bicara di luar kapasitas sekretaris?'
'Silakan.'
'Cara Ibu menolak tawaran tadi pagi,' katanya, 'itu yang bikin kasus ini masih bisa dimenangkan. Kalau Ibu terima, semua bukti yang Ibu kumpulkan setelah itu jadi bisa dibilang dibuat orang dalam. Saya sudah lihat kasus begitu dua kali.'
Kinara tidak menjawab. Tapi malam itu ia menuliskan kalimat Reza di catatannya, di bawah baris tentang slip yang dibatalkan, seolah kalimat itu juga sejenis bukti.
Firma kecil itu menelepon di hari Kamis. Wawancara tahap dua. Kinara berangkat sendiri, tanpa sopir, dengan taksi yang dipesannya sendiri.
'Saya tidak akan tanya hasilnya,' kata Gilang sebelum ia berangkat.
'Bagus,' kata Kinara. 'Kalau Bapak tanya, saya akan merasa harus lapor. Kalau saya merasa harus lapor, saya sudah jadi karyawan Bapak tanpa slip.'
Ia pulang sore, lelah, dan hanya berkata satu kalimat: 'Prosesnya lanjut.'
'Selamat,' kata Gilang, lalu buru-buru menambahkan, 'selamat sebagai prosedur. Bukan pidato.'
Kinara hampir tersenyum. Hampir. 'Diterima sebagai prosedur.'
Malam itu ia menulis di catatannya, dengan huruf yang lebih rapi dari biasanya: tawaran kerja di bawah Mahesa ditolak; slip dibatalkan tertulis; akses arsip lewat legal, laporan mingguan, bukan harian; berangkat sendiri, pulang sendiri.
Di bawahnya, satu baris lagi, lebih pendek: bukan proyek.
Ia menutup buku catatan itu, mematikan lampu meja, dan tidur lebih cepat daripada malam-malam sebelumnya — bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada satu pun keputusan tentang hidupnya yang malam itu diambil orang lain.