Gilang ke makam ayah pagi hari kerja — bukan ritual menang, bukan laporan Bara. Kinara opsi: ikut mobil parkir jauh, atau rumah. Dia pilih rumah. 'Saya tidak jadi saksi teater di batu. Bapak bilang ke tanah sendiri. Saya di sini. Audit. Hafal?'
'Hafal. Rumah. Terima kasih opsi,' kata Gilang. Bunga roadside kecil — bukan florist perusahaan. Batu. Nama. Tanggal. Panas. Dia berdiri lama. Sumpah lama goyah di lidah.
'Ayah,' bisiknya tanpa rekaman, tanpa Kinara di siku, tanpa Om. 'Aku berhenti memakai orang yang salah untukmu. Aku masih marah pada yang merusak. Aku mual kalau kau ikut main angka. Aku tidak mencuci dosamu di portal hari ini. Aku juga tidak menghukum Kinara sebagai ganti rugi. Aku minta aku tidak lebih busuk. Bukan laporan menang. Aku hidup. Maaf terlambat — ke arah yang salah. Sumpah dendam… goyah. Aku tidak cabut semua. Aku cabut sasaran yang salah.'
Tidak ada jawaban. Air seinci ditahan, lalu dibiarkan tanpa usap teater. Dia meletakkan bunga, napas, balik.
Di rumah Kinara sudah di dapur dengan air, tidak menginterogasi muka. 'Selesai?'
'Selesai,' kata Gilang, duduk, tidak menyalakan pidato. 'Saya bilang ke batu: tidak memakai orang salah. Sumpah goyah. Hidup. Tidak minta kamu usap. Tidak bawa bunga ke meja sebagai bukti tobat. Sticky: *bukan menang. jangan busuk. sasaran salah dicabut. Kinara rumah — opsi.*'
'Dicatat,' kata Kinara. 'Makam ≠ tunduk saya. Bapak ke batu — hak. Saya tidak dinaikkan sebagai saksi. Kerja. Bara — lembut. Rumus kemarin — masih. Kejam+bodoh — masih di meja kalau Bapak relapse sasaran.'
'Tidak relapse sasaran,' kata Gilang. 'Gigit. Reza. Angka sore. Kamar. Jarak.' Dia tidak ke kantor dulu; mandi; ganti; baru berangkat. Reza di lift: 'Muka lo lebih ringan seinci. Jangan spoil batu.' Gilang: 'Fokus. Tidak spoil.' Siang Om fishing: 'Ke makam?' Gilang: 'Bukan topik.' Mute. Sore Kinara: 'Om?' Gilang: 'Dipotong. Tidak libatkanmu. Batu — selesai tanpa piala.' Kinara: 'Baik. Mi? Bukan tebus.' Gilang: 'Mi. Bukan tebus. Payung di rak. Badan bukan bayar. Kalau benar… masih. Di batu saya tidak bilang ayah suci. Saya bilang saya tidak lebih busuk.' Cukup — sumpah yang goyah di tanah, dan istri yang memilih rumah daripada jadi saksi teater.
Di perjalanan pulang dari makam Gilang tidak menyalakan berita. Radio mati. Di pantat kaca spion tidak ada konvoi. Kinara di rumah menulis PR audit, bukan menunggu muka basah. Saat Gilang masuk, dia sudah siapkan air — bukan teh tebus. 'Minum. Mandi. Kerja. Jangan pidato batu ke saya.' Gilang patuh.
Reza sore: `Lo ke batu. Bagus tidak bawa istri sebagai saksi. Om fishing — lo sudah mute. Bara trace lanjut.` Gilang: `Fokus. Sasaran salah dicabut. Rumus hidup.` Malam Kinara: 'Kalau Bapak relapse ke sasaran saya — saya anggap sumpah di batu dusta. Hafal?' Gilang: 'Hafal. Dusta batu = perang rumah. Tidak. Payung di rak. Mi bukan tebus. Sofa kalau mual — OK. Tidak usap.' Kinara: 'Tidak usap. Opsi rumah kemarin — saya puas tidak ke batu. Kerja.' Mereka jarak. Sumpah goyah tidak diganti sumpah baru yang meminta darah. Hanya hidup yang diucap ke tanah dan dibawa pulang tanpa piala.
Bunga roadside tidak masuk vas rumah. Gilang buang tangkai di luar. Kinara lihat; angguk. Tidak altar. Sumpah goyah tidak perlu vas. Siang angka. Sore mi. Malam jarak. Sasaran salah tetap dicabut di sticky tiap lampu merah.
Kinara tidak minta cerita lengkap batu. Ringkas cukup. Hormat duka tanpa jadi saksi. Rem relapse sasaran — diucap dua kali.
Setelah batu Gilang mencuci tangan di wastafel makam umum — prosedural, bukan teater. Di mobil dia hampir putar balik minta Kinara datang 'hanya di gerbang' — ditahan; opsi rumah sudah dipilih. Sticky: jangan tarik saksi belakangan. Di kantor dia lebih singkat ke staf; Reza jaga. Sore Kinara menyerahkan ringkas cuplikan tanpa drama. 'Bukan piala batu. Kerja.' Gilang: 'Kerja. Goyah sumpah — masih. Sasaran salah — cabut. Bunga tidak masuk rumah — sudah. Mi. Bukan tebus. Sofa kalau mual.' Malam mual datang; sofa; selimut dari ambang — prosedur. Kinara: 'Tidak usap. Batu selesai. Hidup.' Gilang: 'Hidup. Kalau benar — masih. Rumus — masih. Preman — tidak.' Tidur. Makam tidak meminta istri; rumah tidak meminta pidato.
Gilang mencuci sisa tanah dari sepatu di belakang rumah, bukan ritual. Kinara tidak menonton. Bunga tidak masuk vas. Sumpah goyah cukup di kepala. Radio mati di mobil kemarin jadi kebiasaan seinci. Hidup tanpa piala. Mi bukan tebus. Sofa boleh. Usap tidak. Sasaran salah tetap cabut.
Gilang mencuci sisa tanah dari sepatu di belakang rumah, bukan ritual. Kinara tidak menonton. Bunga tidak masuk vas. Sumpah goyah cukup di kepala. Radio mati di mobil kemarin jadi kebiasaan seinci. Hidup tanpa piala. Mi bukan tebus. Sofa boleh. Usap tidak. Sasaran salah tetap cabut.
Selasa setelah makam Gilang menolak undangan media internal 'human interest CEO'. 'Bukan topik rumah.' Reza puas. Kinara mendapat akses arsip mingguan pertama — duduk di ruang legal netral, bukan di kantor suami, mencatat tanpa dibuntuti. Gilang pantau jauh dari laporan Reza saja. Sore Kinara: 'Akses jalan. Tidak cage. Batu kemarin — saya tidak minta cerita panjang. Ringkas cukup. Sasaran salah cabut — saya cek dari tindakan preman nol.' Gilang: 'Nol. Goyah masih. Kalau benar masih. Rumus masih. Mi. Bukan tebus. Kamar. Jarak. Sofa kalau mual — tanpa usap.' Kinara lempar selimut prosedur ke sofa ruang kerja sebelum tidur. 'Prosedur. Hidup. Tidak piala.' Gilang: 'Tidak piala. Tidur.' Rem batu dan rem badan dan rem preman duduk satu daftar tanpa vas bunga.