Jumat sore, rombongan keluarga Dion berdiri di depan pintu depan rumah orang tua Fanya, dan Bapak, lelaki yang selalu menang berdebat dengan siapa saja kecuali Emak, lupa cara membuka mulut.
"Pak," bisik Emak di sampingnya. "Salam."
"Bapak tahu."
"Kalau tahu, ya salam."
"Bapak lagi menyusun kalimat."
"Kalimatnya sudah Emak tulis di kertas, di saku batikmu."
Bapak merogoh saku, mengeluarkan kertas lipat yang sudah lecek, menatapnya dengan kening berkerut, lalu mengembalikannya. "Bapak lupa kacamata."
Di belakang mereka, Zain mengangkat nampan hantaran dengan wajah serius, seolah nampan itu berisi bom. Jovian membawa kotak kue yang sepanjang jalan sudah dia peluk seperti bayi. Ernest dan Gilbert membawa buah, Udin membawa bunga, dan Pak Karto, dengan batik yang kancingnya terpasang satu lubang bergeser, membawa sesuatu yang dibungkus kain: sebuah bangku jati kecil, hadiah dari bengkel.
Dion berdiri paling depan dengan kemeja biru muda yang dicuci sendiri, kali ini disetrika oleh Emak dengan ketelitian yang membuat kerahnya bisa memotong roti. Dia menarik napas, mengetuk pintu dua kali, dan mengucap salam dengan suara yang hanya gemetar sedikit.
Pintu terbuka. Farish berdiri di sana, memakai batik biru tua dan wajah yang berusaha serius. "Waalaikumsalam. Silakan masuk."
Ruang tamu sudah ditata. Sofa-sofa digeser ke dinding, karpet digelar, dan di salah satu kursi duduk Papah, tegak dan rapi, dengan peci hitam dan batik cokelat. Mama duduk di sebelahnya, punggung sekaku papan, dengan tangan terlipat di pangkuan. Di sudut, di sofa yang paling jauh, duduk seorang pria berkacamata tipis dengan sebuah tanaman kecil di pangkuan.
"Kak Refi?" bisik Dion pada Zain.
"Tamu," jawab Zain pelan. "Katanya nggak mau jadi yang absen."
Setelah semua duduk, Farish berdeham, berdiri, dan mengambil kertas dari sakunya. "Atas nama keluarga, saya mewakili pihak perempuan. Silakan, rombongan dari pihak laki-laki menyampaikan maksud kedatangannya."
Bapak berdiri. Dia memandang semua orang di ruangan. Dia memandang Mama. Dia memandang kertas di tangannya yang kini terbalik.
"Assalamualaikum. Terima kasih sudah ... eh. Kami datang dari kampung yang jauh. Dua jam. Dengan motor." Dia berhenti. "Dan ojek. Dan Bapak ... saya ... saya mau bilang bahwa anak saya ..."
"Pak," bisik Emak lagi.
"Bapak lagi nyari katanya."
"Nyari di tempat yang salah."
Seisi ruangan menahan tawa. Mama menatap langit-langit. Papah memejamkan mata sebentar, bahunya bergerak sedikit, dan ketika membuka mata dia berkata lembut: "Silakan, Pak. Pelan-pelan saja."
Bapak menarik napas. Dia menaruh kertas itu di meja, meluruskan bahu, dan akhirnya bicara dengan suara yang berubah, bukan lagi suara orang gugup, melainkan suara pemilik toko mebel yang dulu memimpin banyak tukang. "Pak, Bu. Anak saya Dion pernah melakukan kesalahan besar. Kalian semua tahu, dan saya tidak akan menyembunyikannya. Tapi anak saya juga satu-satunya yang berdiri paling jauh dari rumah ini dan akhirnya memilih berjalan balik, dengan kaki sendiri. Kami datang melamar Nak Fanya. Bukan karena kami pantas. Karena anak kami ingin berusaha pantas."
Hening. Lalu Papah mengangguk.
"Pihak perempuan menerima maksud kedatangan Bapak," kata Farish, membaca dari kertasnya dengan suara agak serak. "Dengan catatan, keputusan akhir ada pada yang bersangkutan."
Mama tidak bicara. Ketika Emak menyodorkan baki berisi buah-buahan kepadanya, dia menerimanya dengan dua tangan, kaku, dan berkata satu kalimat: "Terima kasih, Bu. Silakan dicicipi suguhannya." Hanya itu, dan itu jauh lebih banyak daripada yang pernah berani Dion harapkan darinya.
Emak, yang duduk bersila di karpet dengan sopan dan canggung, menggenggam tangan Mama sebentar dan buru-buru melepasnya. "Maaf, Bu. Tangan saya kasar. Kebanyakan ngurus dapur sama kebun belakang."
"Tangan saya kebanyakan di dapur," balas Mama, kaku tetapi tidak dingin. "Farish cerita Ibu punya asma. Masih sering kambuh?"
"Kalau kebanyakan senang, Bu. Kayak hari ini."
"Kalau begitu hati-hati hari ini."
"Insya Allah, Bu. Kalau kambuh, saya sudah bawa obat dan anak bungsu saya jago lari ke warung."
Mama nyaris tersenyum. Nyaris. Dia menyembunyikannya di balik gelas teh.
Papah menoleh pada Refi. "Nak Refi, kamu tidak mau bilang apa-apa?"
Refi berdiri sambil memeluk tanamannya. "Selamat, Om. Selamat, Dion." Dia memandang Fanya yang duduk di sebelah ibunya, tersenyum kecil, dan melanjutkan: "Saya sudah lihat laporan usaha Om bulan ini. Sehat. Kecil, tapi sehat."
"Bertahan," koreksi Papah ringan. "Lebih kecil, tapi bertahan. Itu cukup bagi orang tua."
**
Di teras samping, di bawah pohon belimbing yang sama tempat Papah menilai Dion minggu lalu, Fanya duduk di bangku dengan kebaya sederhana warna biru langit. Dion berdiri di depannya, tidak duduk, karena lututnya tidak bisa diajak kompromi.
"Delapan hari," kata Fanya. "Dari pos polisi bekas sampai sini."
"Aku tahu. Cepat."
"Menurut orang lain. Menurutku, aku sudah mengenal Kakak berbulan-bulan, dengan cara yang aneh." Fanya tertawa pelan. "Aku cuma butuh delapan hari untuk memutuskan bahwa aku mau terus mengenal."
Dion merogoh saku kemeja dan mengeluarkan kotak kecil dari beludru biru. Dia membukanya. Cincin emas tipis, polos, tanpa permata, sederhana sampai nyaris malu-malu.
"Ini bukan dari uang Sanny. Bukan dari uang siapa pun. Aku beli dari uang muka pesanan kafe." Dia menatap cincin itu, bukan Fanya. "Aku tahu ini kecil. Mama kamu mungkin mengharapkan cincin yang lebih dari ini."
"Kak ..."
"Aku nggak bisa janji kaya. Aku bisa janji kerja. Aku bisa janji jujur, bahkan waktu jujurnya jelek. Dan aku bisa janji kalau suatu hari aku goyah, aku bilang ke kamu dulu." Suaranya turun. "Itu semua yang kupunya. Aku tahu itu nggak banyak."
Fanya menatap cincin itu lama. Kemudian dia mengangkat tangan kirinya.
"Itu cukup."
"Fanya, aku ..."
"Itu cukup, Kak." Dia tersenyum, dan matanya basah. "Kakak ingat? Aku pernah bilang aku naik angkot supaya berbagi rezeki. Kakak pikir aku mau cincin besar?"
Dion memasangkan cincin itu dengan jemari yang tidak bisa diam. Cincin itu sedikit longgar, dan Fanya menertawakannya, mengepalkan jari supaya tidak jatuh. "Nanti kecilin di tukang emas."
"Aku yang antar."
"Kakak yang antar."
**
Ketika mereka kembali ke ruang tamu, Papah sudah berdiri di tengah ruangan dengan tongkat kecil di tangan, dan semua kepala menoleh. Jovian dan Mawar, yang kebetulan berdiri bersebelahan di dekat jendela, sama-sama berhenti berbicara, saling melirik, lalu cepat-cepat memandang arah berlawanan. Di belakang mereka, Ernest dan Gilbert saling menyikut dan berbisik: "Dua puluh ribu, dia yang mulai."
"Empat puluh, Mawar."
"Sepakat."
Papah mengetukkan tongkat sekali ke lantai. "Lamaran bukan akad. Saya tidak mau anak saya menikah di tengah utang yang menggantung di pesta, entah milik siapa. Saya mau Dion punya waktu supaya bengkelnya punya pesanan tetap, dan usahanya berdiri tanpa belas kasihan siapa pun. Saya mau Fanya punya waktu mengenal calon suaminya tanpa tergesa. Empat bulan cukup."
Dia memandang Dion, lalu Fanya, lalu Mama, yang tidak menolak, hanya mengangguk perlahan.
Papah menepuk meja.
"Akad hari Sabtu, empat bulan lagi. Dan hujan tidak boleh jadi alasan menunda."