Rabu pagi, Udin muncul di pintu bengkel dengan helm yang belum dilepas dan tas selempang yang dipeluk di dada seperti bayi.
"Din? Lu nggak kuliah?"
"Kan udah wisuda, Yon." Udin melepas helm, meraba rambutnya yang lepek, dan berdiri kikuk di antara serbuk kayu. "Gue ke sini mau ngomong. Boleh di luar?"
Mereka duduk di bangku bambu di bawah pohon jambu belakang rumah. Udin membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang diikat karet gelang. Dia menaruhnya di pangkuan Dion tanpa suara.
"Dua puluh juta."
Dion menatap amplop itu. "Din. Kan lu udah nyicil tiap bulan. Sisanya santai aja."
"Bapak gue jual sepetak sawah." Udin menunduk. "Yang di pinggir kali, bukan yang besar. Gue protes, gue bilang Pak, jangan, itu sawah warisan. Bapak jawab, 'Utang budi nggak bisa dijual, Din. Tapi utang uang harus dibayar. Dion nolongin lu waktu lu hampir kehilangan bini sama anak. Jangan biarin dia nombokin hidup orang sambil dirinya sendiri tenggelam'." Suaranya serak. "Bu Rohana nangis semalam. Tapi dia bilang setuju."
Dion tidak sanggup membuka mulut.
"Jangan ditolak, Yon. Siti bilang kalau lu tolak, gue disuruh tidur di teras."
"Kontrakan lu kan bocor di satu sudut."
"Makanya." Udin tertawa kecil. "Kalau sampai tidur di teras, gue ketemu air dua kali."
Dion meraih amplop itu. Tangannya berat, bukan karena uang, melainkan karena sebuah kehormatan yang tak bisa dia balas dengan kata-kata. "Gue catat," katanya. "Bukan buat nagih. Buat ingat."
"Ingat apa?"
"Ingat bahwa gue pernah ditolong orang tanpa gue minta."
**
Pukul dua belas siang, di depan rumah nomor sembilan belas blok C, satpam bernama Pak Mamat melambaikan tangan dari pos tanpa menahan Dion sedikit pun. Dia hanya mengacungkan jempol dan berseru bahwa sinetron semalam tamat.
Aaron menerimanya di ruang kerja. Meja kayu besar, rak penuh map, dan di sudut sebuah gambar crayon yang jelas karya anak tiga tahun: matahari ungu, rumah miring, dan tiga orang bergandengan.
"Duduk," kata Aaron.
Dion meletakkan dua amplop di meja, yang cokelat dan yang putih. Dua puluh juta dari Udin, tujuh belas juta dari kas bengkel: uang muka tiga pesanan baru ditambah pelunasan lemari Bu Zubaedah. "Tiga puluh tujuh juta, Pak. Pas. Saya sudah hitung tiga kali."
"Saya percaya kamu sudah hitung tiga kali." Aaron tidak menyentuh amplop itu. Dia mengambil selembar kertas dari laci, formulir tanda terima yang sudah diketik rapi, dan menggeser pulpen. "Tanda tangani di sini. Sebagai yang menyerahkan."
Dion menandatangani. Aaron menandatangani di sebelahnya, lalu membubuhkan cap kecil di sudut kertas. Seluruh gerakan itu memakan waktu sepuluh detik. Seluruh kerusakan yang tertulis di kertas itu butuh dua bulan lebih untuk dibereskan.
"Lunas," kata Aaron. "Seratus tujuh puluh dua juta. Per hari ini tidak ada yang kamu utang kepada saya."
Ada sesuatu yang bergerak di dada Dion, pelan, seperti pintu besar yang terbuka setelah lama macet. Dia menunduk.
"Terima kasih, Pak. Dan ... saya masih ..."
"Saya tahu." Aaron berdiri, mengitari meja, dan menepuk bahu Dion sekali, mantap, seperti seorang laki-laki yang menyampaikan sesuatu tanpa menambah kata. "Kamu bukan orang yang saya bayangkan waktu pertama baca surat kamu. Saya pikir kamu akan membela diri. Kamu justru menulis semua kesalahanmu dengan huruf tegak."
"Itu cuma tulisan, Pak."
"Tulisan yang butuh keberanian." Aaron memandang ke arah pintu. "Dia minta hadir, kalau kamu tidak keberatan. Saya tidak memaksa."
Sanny berdiri di ambang pintu ruang kerja dengan kemeja rumah dan wajah tanpa riasan. Di belakang kakinya, Kirana mengintip dengan boneka kelinci. Sanny tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Dion, satu tatapan lurus, dan mengangguk sekali, kecil sekali, menutup satu catatan di dalam hatinya. Dion balas mengangguk. Itu saja.
"Kak Dion bawa mainan?" tanya Kirana dari balik kaki ibunya.
"Kak Dion bawa kayu, Sayang," kata Dion. "Nanti Kak Dion bikinin kursi kecil."
"Warna pink?"
"Warna kayu."
"Hmm." Kirana berpikir serius. "Ya sudah, tapi pitanya pink."
**
Di jalan pulang, di warung pinggir jalan raya yang menjual es teh dan gorengan, Dion berhenti dan menelepon nomor yang sudah dia hafal. Dering kedua, suara itu menjawab.
"Kakak."
"Lunas, Dek."
"Aku tahu. Om Aaron barusan kirim pesan." Ada jeda, dan dia bisa mendengar Fanya tersenyum. "Berarti sekarang Kakak nggak punya utang ke siapa-siapa?"
"Ke Zain dua puluh lima juta. Ke Udin, utang ingatan. Ke Bu Zubaedah, nol, dan dia sudah beli buku baru."
"Ke aku?"
Dion menatap es tehnya yang mengembun. "Ke kamu, satu payung biru."
"Itu bukan utang. Itu kuserahkan."
"Kalau gitu aku utang yang lain," katanya pelan. "Kujaga seumur hidup."
Fanya diam. Lalu terdengar suara kecil, napas yang ditahan, dan dia berkata, nyaris berbisik: "Kakak pulang ke bengkel dulu. Cerita ke Emak dan Bapak. Aku tunggu kabar."
**
Sore hari, Dion tiba di bengkel dengan jaket berdebu dan telinga berdengung. Dia berniat langsung menyerahkan kabar baik kepada Bapak, tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu.
Di bangku panjang, di antara rak kursi setengah jadi dan karung serbuk kayu, duduk Mama Fanya dengan tas pangkuan, memakai sepatu hak tinggi yang kini penuh debu merah, dan rambut sanggul yang sedikit miring karena angin desa. Di sebelahnya Emak menyajikan teh dalam gelas bening dan sepiring singkong goreng, dengan wajah seorang tuan rumah yang sudah memutuskan untuk tidak bertanya apa pun sampai tamunya siap.
"Tante ... Bu," ucap Dion tergagap. "Ibu ke sini naik apa?"
"Bus antarkota dan ojek." Mama menyipitkan mata. "Ojeknya melewati sepuluh lubang. Saya hitung."
Emak menunduk, bahunya berguncang menahan tawa. Bapak, yang berdiri di pojok memegang kayu, pura-pura menyibukkan diri dengan pensil telinganya.
Mama berdiri, mengusap debu dari rok, dan berjalan pelan mengelilingi bengkel. Dia menyentuh kaki kursi yang belum diamplas, mengusap permukaan lemari melati yang sudah jadi, dan duduk di sebuah kursi percobaan dengan sandaran miring. Dia diam lama.
"Kenapa miring?"
"Tujuh derajat, Bu. Supaya yang duduk betah satu jam tanpa pegal. Itu hitungan Bapak."
"Hmm." Mama menyentuh sandaran, lalu menyandarkan punggungnya perlahan. "Nyaman."
Tidak ada yang bicara. Bapak menahan senyum di balik bahu. Emak menatap Dion, dan Dion menatap lantai.
"Saya datang sendiri," kata Mama akhirnya, kali ini tanpa menoleh. "Bukan karena Papah menyuruh. Bukan karena Fanya. Saya mau melihat tempat kamu bekerja, supaya saya tidak bicara dari kepala yang kosong."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih dulu." Mama berdiri, merapikan tasnya. Sebelum melangkah ke pintu dia berhenti tepat di depan Dion, mendongak sedikit. "Kalau kamu mau datang melamar Fanya, kamu boleh masuk ke rumah itu lewat pintu depan. Bukan lewat samping. Bukan lewat belakang. Pintu depan, dengan salam, pakai kemeja yang kamu cuci sendiri."
Dion membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.
"Dan bawa Emak dan Bapakmu," tambah Mama, sambil berjalan keluar dengan hak yang tersangkut lubang di tanah. "Saya mau kenalan dengan orang-orang yang membuat kamu seperti ini."