Empat bulan sesudah lamaran itu, pada pagi hari akad, halaman rumah Papah sudah dipenuhi kursi plastik, tenda putih, dan bau kopi, dan satu-satunya orang yang belum sarapan adalah calon mempelai laki-laki.
"Makan, Yon," kata Emak, menyodorkan sepiring nasi uduk. "Nanti lemas pas ijab."
"Nggak bisa, Mak. Perut gue lagi ... eh, perut Dion lagi muter."
"Muternya ke arah mana?" tanya Zain dari belakang, sambil memperbaiki kancing beskap adiknya. "Kalau ke kiri, itu gugup. Kalau ke kanan, itu mules."
"Kiri."
"Bagus. Berarti masih manusia."
Di pojok ruang tamu, Ernest berdiri di atas kursi dan membaca secarik kertas dengan suara berlatih. Jovian memegang kotak cincin dengan dua tangan, membawanya seperti bom waktu, sementara Gilbert berdiri di sampingnya memastikan Jovian tidak menjatuhkan, membuka, menghirup, atau menjilat apa pun. Udin duduk di bangku dekat pintu bersama Siti, yang kini memangku sebuah buntalan kain biru dengan wajah mungil dan mata terpejam.
"Dia tidur sejak subuh," kata Siti, ketika Dion mendekat. "Belum bisa komentar apa-apa."
"Bagus. Orang yang komentar itu cukup banyak di sini."
Dari arah halaman terdengar suara berat, hangat, dan sedikit kikuk: "Boleh saya gendong lagi?"
Eko Juniarto, lelaki kekar berbrewok yang dulu membuat satu rombongan lari ketakutan, melenggang masuk dengan batik dan peci, mengulurkan dua lengan besar seperti hendak menerima barang pecah belah. Siti menyerahkan bayi itu dengan senyum, dan Eko menggendongnya hati-hati, memiringkannya sedikit, lalu menatap wajah mungil itu dengan ekspresi orang yang sedang membaca surat cinta.
"Cucu pertama saya," dia memberi tahu Dion, tanpa ditanya, seolah itu satu-satunya fakta penting di dunia. "Lahir tiga minggu lalu. Saya sudah hafal bau kepalanya."
"Siti, makan dulu, Nak," panggil Bu Wulan dari pintu dapur, membawa piring, dan Siti pergi sambil tertawa, meninggalkan Eko dengan bayi yang tiba-tiba terlihat sangat kecil di antara tangannya.
Dion berdiri di tengah ruangan itu sebentar dan melihat semuanya sekaligus. Bu Zubaedah di pojok, memegang buku baru yang tebal, kosong. Pak Karto yang mengamplas pegangan tongkat tamu. Emak dan Bapak. Mama, yang berdiri di dekat pintu kamar pengantin dengan mata sudah merah sejak pagi. Dan di bagian belakang kerumunan, di tepi tenda, berdiri Aaron dengan Kirana di gendongan, dan di sampingnya, Sanny dengan kebaya sederhana dan wajah tenang. Dia tidak mendekat. Dion tidak mendekat. Cukup bahwa mereka ada di sana, sebagai bagian dari hari ini, bukan penghalang.
**
Pukul sembilan, penghulu duduk di hadapan meja rendah dengan buku nikah terbuka. Papah duduk di seberangnya, tegak, tangan terlipat, wajah seperti pahatan. Di kiri Dion, Zain dan Farish menjadi saksi. Di belakang, para tamu duduk bersila menahan napas.
Fanya duduk di balik tirai tipis di ruang sebelah, berkebaya putih dengan kerudung sederhana, didampingi Mawar yang sejak tadi menggigit bibir supaya tidak menangis duluan.
Penghulu menyebut nama Dion, lalu nama Fanya, lalu nama Papah. Papah menjabat tangan Dion. Telapak tangan Papah dingin dan kering, tapi pegangannya mantap.
"Ananda Zayn Dion Krismeinda," ucap Papah, dengan suara yang tidak gemetar sedikit pun. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Fanya Putri Nur Jameela, dengan mas kawin berupa uang tunai hasil kerjamu sendiri."
Dion menarik napas. Satu tarikan. Dia merasa seluruh ruangan ikut menarik napas bersamanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Fanya Putri Nur Jameela binti ..."
Sisanya meluncur dalam satu tarikan yang tidak putus: nama Papah, mas kawin, tunai, sampai ke kalimat terakhir yang dia ucapkan hampir tanpa sadar karena seluruh tubuhnya sudah memutuskan lebih dulu. Hening tiga detik, dan dalam hening itu terdengar suara Gilbert yang berbisik, "Satu napas, nggak putus."
"Bagaimana, para saksi?"
"Sah!" kata Zain dan Farish bersamaan.
"Sah!" seru seluruh ruangan.
Mama menangis. Bukan tangis kaget, bukan tangis marah. Dia menangis, bahunya bergetar, sambil memegang sapu tangan Papah yang diam-diam disodorkan tanpa kata. Papah menepuk punggung tangannya sekali, tegak, dan memandang lurus ke depan. Tetapi pelipisnya basah juga.
Fanya muncul dari balik tirai digandeng Mawar. Dion menatapnya dan seluruh persiapan kata yang sudah dia hafal semalam menguap. Dia hanya tersenyum.
Pidato Ernest dimulai sepuluh menit kemudian, di tenda, dengan mikrofon yang berdengung.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin yang berbahagia, dan Jovian yang masih serak sehabis duet." Ernest berdeham. "Saya diminta mewakili genk Rewo-Rewo. Dion itu, saudara-saudara, adalah teman yang pernah punya ide jelek. Saya yang punya idenya, dia yang menanggung. Itu kesalahan saya yang paling besar."
Hening sopan.
"Tapi di balik ide jelek itu ada satu rencana yang belum kami laksanakan," lanjut Ernest. "Dulu kami berjanji liburan ke Bali dari uang arisan. Arisannya batal. Namun kami sudah kumpulkan uang sendiri, jujur, dari tabungan masing-masing, sebulan dua puluh ribu, empat bulan. Hasilnya total delapan puluh ribu rupiah."
Tawa pecah. Gilbert menjatuhkan gelas plastiknya.
"Cukup untuk satu tiket bus ke Bali. Satu orang." Ernest mengangkat dagu. "Jadi bulan madu kalian, Bali dulu, kami menyusul sebulan setelahnya, pakai uang yang lebih banyak. Itu janji!"
Sorak, tepuk tangan, dan di tengah-tengah itu terdengar suara Jovian yang berbisik kepada Mawar bahwa kuenya sudah dipotong dan dia belum dapat bagian, dan Mawar yang menyodorkan potongan miliknya tanpa menoleh. Di ujung meja, Gilbert dengan raut tragis menyerahkan selembar uang empat puluh ribu kepada Ernest.
**
Hujan turun pukul sebelas, tanpa pemberitahuan.
Bukan hujan musim hujan yang berhari-hari. Hanya gerimis, tiba-tiba, dari langit yang sebetulnya cerah, seperti seseorang di atas sana lupa mematikan keran. Para tamu mengangkat wajah dengan heran. "Kok hujan, di bulan begini?" Bu Zubaedah berseru, menutupi kepala dengan buku catatan barunya. "Pertanda baik, Bu! Pertanda baik!" Emak membalas dari bawah tenda, dan seisi halaman riuh berlari mencari tempat berteduh.
Dion menarik tangan Fanya. Mereka berlari kecil ke serambi samping, di bawah atap genting yang menjorok, dan berdiri berdampingan memandang butiran air yang menyala keemasan di bawah matahari.
"Hujan lagi," kata Fanya, terengah. "Kakak yang pesan?"
"Aku nggak sebegitu hebat." Dion tertawa. "Tapi kalau hujan ini datang tiap kali ada hal penting, aku nggak keberatan."
Dia merogoh ke dalam beskapnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dengan sampul biru muda, kancing sudutnya sedikit lecet. Buku itu bukan buku UTANG yang hitam dan kumal, yang kini tersimpan di laci bengkel sebagai pengingat. Dia menyerahkannya ke tangan Fanya.
"Apa ini?"
"Buku catatan. Yang baru."
Fanya membuka halaman pertama. Tidak ada daftar angka. Tidak ada kolom pinjaman. Hanya satu baris tulisan tangan Dion yang miring ke kanan, sebuah tanggal, dan di sebelahnya dua kata: Cafe lesehan.
"Itu hari kita jadian," kata Dion pelan. "Malam hujan, tikar lesehan, motor matic, dan kamu bilang I love you pakai suara kecil sekali. Itu satu-satunya hal yang mau kucatat. Sisanya ..." Dia menggaruk tengkuk. "Sisanya kita isi sama-sama. Kalau kamu mau."
Fanya menatap halaman itu. Lalu dia menatap Dion, dan senyum yang selama berminggu-minggu dia tahan akhirnya mengalir penuh, tanpa sisa.
"Aku mau," katanya. "Dan aku tidak akan minta maaf kali ini."
"Kenapa?"
"Karena tidak ada yang perlu dimaafkan lagi."
Hujan berhenti sama mendadaknya dengan dia datang, dan di balik mereka, halaman yang tadi riuh mulai terdengar tawa dan dentingan gelas. Dion menggenggam tangan Fanya. Dari tengah halaman, mikrofon pinjaman dari musala itu menyala lagi dengan bunyi nging yang sudah dikenal semua orang, dan suara Ernest menggelegar: "Hadirin! Yang barusan itu sah dan disaksikan langit! Bali tinggal menunggu tanggal!" Tawa meledak dari ujung ke ujung tenda. Fanya menyandarkan kepala ke bahu Dion dan tidak lagi menahan senyumnya.
TAMAT