Senin pagi di halaman gedung wisuda, kerumunan toga hitam bergerak seperti segerombolan gagak yang sedang berfoto.
"Topiku miring," keluh Jovian untuk keenam kalinya. "Tali kuncirnya ke kiri atau ke kanan?"
"Ke kiri, Jov. Udah, lu jangan pegang lagi," sahut Ernest sambil membenahi jubahnya yang kelebihan kain. "Dan lu, Gil, jangan gigit kuncirnya. Itu bukan permen."
Gilbert melepas kuncir dari mulutnya dengan wajah bersalah. "Gue gugup."
Dion berdiri sedikit di samping mereka, toganya rapi, topinya lurus, dan matanya menyapu kerumunan keluarga yang menyemut di bawah tenda putih. Dia mencari satu wajah. Lalu mencari wajah lain. Lalu ketiganya sekaligus, dan dia berhenti bernapas.
Emak datang paling depan, memakai kebaya biru tua yang pasti dikeluarkan dari lemari paling bawah dan dijemur tiga hari. Di sampingnya Bapak, kemeja batik cokelat dan peci hitam yang sudah usang tetapi dikenakan seperti mahkota. Zain di belakang mereka, memegang kamera pinjaman yang tidak dia tahu cara kerjanya. Dan di sisi lain, Siti dengan perut yang sudah kentara menggandeng lengan Udin, serta Fanya, berkerudung krem, berdiri di samping Farish yang memakai kemeja terbaik dan ekspresi orang yang menghadiri sidang adiknya sendiri.
Dion berjalan menembus kerumunan. Dia tidak berlari, walau kakinya ingin. Emak menunggu dengan kedua tangan terkatup di depan dada, bibir bergetar.
"Mak."
"Yon."
Dion melepas topi toganya. Perlahan, dengan dua tangan, dia memasangkannya ke kepala Emak, di atas kerudung biru tua itu. Topinya terlalu besar, melorot sampai alis, dan Emak berdiri kaku seperti orang yang tidak tahu harus tertawa atau menangis.
"Emak nggak sekolah, Yon," bisiknya.
"Emak yang nyuruh aku tetap kuliah waktu toko sudah habis. Emak yang doain aku tiap malam." Suara Dion pecah. "Aku pulang, Mak, dengan tangan sendiri."
Emak tidak menjawab. Dia memeluk anak bungsunya sekuat tenaga yang masih dia punya, topi toga itu terjepit di antara mereka dan jatuh ke tanah, dan Bapak memungutnya dengan sabar sambil menyeka matanya lewat lengan baju.
"Jangan sampai ada yang injak," gumam Bapak. "Itu barang mahal."
Zain menjepret dan blitz-nya menyala sebelum dia sempat mengatur arah. Foto itu kelak menjadi foto paling tidak fokus, paling miring, dan paling mahal dalam sejarah keluarga mereka.
Fanya menunggu sampai pelukan itu selesai. Dia berdiri di jarak sopan, memegang setangkai bunga matahari yang dibungkus plastik bening, dan ketika Dion menoleh dia mengulurkannya dengan dua tangan.
"Selamat, Kak."
"Terima kasih, Dek." Dion menerimanya. Jemari mereka tidak bersentuhan, dan itu terasa benar. "Kamu nggak perlu repot."
"Tidak repot. Sumbangan Abang." Fanya melirik Farish di belakangnya. "Dia nawar sama tukang bunga dua puluh menit."
"Sepuluh," bantah Farish datar, lalu maju satu langkah dan mengulurkan tangan kanan. "Selamat, Dion."
"Terima kasih, Farish."
Mereka berjabat tangan sekali, kuat. Farish menahannya sedetik lebih lama dari yang perlu. "Panggilan yang lain belum waktunya," katanya pelan, sebelum Dion sempat berkata apa-apa. "Tapi kamu sudah dekat."
Zain menjepret lagi, dan kali ini fotonya fokus. Satu-satunya yang fokus sepanjang hari itu.
**
Upacara berakhir tengah hari. Di bawah pohon trembesi di sisi halaman, genk berkumpul membentuk setengah lingkaran dengan topi toga di tangan, menunggu sesuatu yang Dion belum tahu apa.
Ernest berdiri paling depan. Dia menggaruk tengkuk, mengusap hidung, mengusap tengkuk lagi, dan akhirnya berdeham keras sampai Fanya, yang sedang berdiri beberapa meter dengan Siti, menoleh.
"Fanya," kata Ernest. "Saya ... eh, aku ... Ernest. Aku mau ngomong sebentar."
Fanya menghampiri dengan alis bertanya. Ernest menarik napas dalam-dalam seperti hendak menyelam.
"Soal arisan. Idenya dari saya. Waktu itu saya pikir lucu, nama-nama dikocok, siapa kena dia cari tante-tante. Saya nggak mikirin ada perempuan beneran di ujung sana. Ada kakakmu, ada tantemu, ada kamu sendiri. Saya bukan mau pidato." Dia melirik Jovian, yang menggeleng cepat. "Saya cuma mau bilang, itu ide jelek dan saya yang salah. Itu aja."
Hening. Burung di pohon trembesi mendadak ribut.
Fanya menatap Ernest. Lalu wajahnya berubah, bibirnya naik, matanya melebar, dan keluarlah sesuatu yang sama sekali tidak diperkirakan siapa pun:
"Maaf, ya, Kak Ernest."
"Hah?"
"Maaf kalau Kak Ernest harus minta maaf ke aku. Pasti nggak enak. Terima kasih sudah mau ngomong, ya. Maaf, aku nggak bermaksud ... eh, terima kasih. Maaf. Terima kasih." Fanya menutup mulutnya dengan telapak tangan, pipinya memerah. "Tiga kali dalam satu kalimat. Aku sudah latihan padahal."
Hening satu detik. Lalu Jovian terbahak. Gilbert menyusul, tersedak kuncir toganya. Udin memegang perut. Ernest menatap sekeliling dengan ekspresi orang yang baru sadar dia memenangkan lotre tanpa membeli tiket, dan dia ikut tertawa, tawa yang akhirnya melepas sesuatu yang lama dia tahan di dada.
Dion memandang Fanya dari kejauhan, dan tiba-tiba dia ingat: kebiasaan yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali adalah kebiasaan itu juga.
**
Malam harinya, dapur rumah Papah berbau bawang goreng dan sisa sabun cuci piring. Mama sedang memotong cabai dengan gerakan yang terlalu rapi untuk orang yang tidak sedang gelisah. Fanya masuk membawa dua piring kotor dari ruang makan, menaruhnya di bak cuci, dan berdiri di samping ibunya tanpa disuruh.
"Wisuda tadi bagus?" tanya Mama tanpa menoleh.
"Bagus, Mama. Emak Dion pakai topi toganya, kebesaran."
"Mama lihat fotonya. Farish kirim." Pisau berhenti. "Anak itu menangis di depan umum."
"Iya."
"Mama tidak suka laki-laki yang menangis di depan umum." Mama menaruh pisau, mengusap tangan dengan serbet, dan akhirnya memandang anaknya. "Tapi Mama lebih tidak suka laki-laki yang tidak bisa menangis sama sekali."
Fanya tidak berani menyela.
"Dengar baik-baik karena Mama tidak akan mengulang." Suara Mama pelan, jauh dari nada yang biasa memenuhi rumah ini. "Mama takut miskin, Nak. Itu saja. Tidak ada alasan yang lebih bagus. Waktu usaha Papahmu goyah, Mama bukan memikirkan kamu bahagia atau tidak. Mama memikirkan berapa lama lagi kita bisa makan di restoran. Itu memalukan, dan Mama tahu."
"Mama ..."
"Farish cerita. Aaron cerita. Lelaki itu menyicil tiap sen, tidak mengeluh, tidak minta perpanjangan, bahkan waktu bengkelnya belum untung." Mama menggeleng pelan. "Mama tidak mengerti caranya. Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi pahit. Dia jadi ... bengkel."
Fanya tertawa kecil, basah.
"Mama belum merestui," lanjut Mama tegas, mengangkat satu jari. "Jangan salah paham. Tapi Mama mau melihat. Satu hal itu saja yang Mama bisa janjikan malam ini."
Fanya melingkarkan lengan ke pinggang ibunya dari samping. Mama kaku sedetik, dua detik, lalu tangannya yang masih beraroma cabai mengusap rambut anaknya, kikuk, lama tak melakukannya.
"Cuci tanganmu dulu," katanya akhirnya. "Bau bawang."