Sabtu pagi, dua hari sesudah hujan di pos polisi bekas, perjalanan dua jam dari kota ke rumah simbah terasa lebih lama dari biasanya, karena di jok belakang motor Dion duduk seseorang yang memegang jaketnya dengan dua jari saja, seolah takut disangka berpegangan.
"Peluk saja, Dek," kata Dion di lampu merah terakhir. "Nanti jatuh."
"Aku nggak akan jatuh."
"Jalan desa banyak lubangnya."
"Aku sudah pegang."
"Dua jari itu bukan pegang."
Fanya tidak menjawab. Tetapi di lubang pertama setelah gapura kampung, tangannya otomatis melingkar kuat di pinggang Dion, dan dia tidak melepaskannya sampai motor berhenti di depan rumah tua berhalaman luas dengan bangku bambu dan lampu bohlam lima watt yang dulu menemani Dion merokok sendirian pada malam-malam paling gelap dalam hidupnya.
Emak sudah menunggu di teras. Dia pasti mendengar derum motor dari ujung jalan, karena kerudungnya sudah tertata dan tangannya sudah terlipat di depan perut. Dia tidak menunggu Dion turun. Matanya langsung mencari yang di belakang.
"Ini Fanya, Mak," kata Dion pelan.
"Saya Fanya, Emak." Fanya turun dari motor, menyalami Emak dengan dua tangan, mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum. Maaf, saya ..." Dia berhenti, menggigit bibir, lalu tersenyum. "Terima kasih sudah mengizinkan saya datang."
Emak tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik Fanya ke dalam pelukan, pelukan seorang ibu yang sudah lama menyiapkan tempat di dadanya dan baru sekarang ada yang mengisinya. Napasnya mengi sedikit, bunyi yang dulu membuat seluruh rumah panik. Hari ini bunyi itu terdengar seperti orang menahan tangis bahagia.
"Kurus," kata Emak akhirnya, mengusap pipi Fanya. "Kamu kurus. Anak ini bikin kamu susah makan, ya?"
"Emak, itu saya yang ..."
"Pokoknya dia yang salah. Masuk. Emak masak ayam."
Dari warung seberang jalan terdengar teriakan yang bisa membangunkan seluruh kampung: "DIOOON!"
Bu Zubaedah berlari kecil menyeberang dengan daster bunga dan buku catatan tebal di dada. Di tangannya yang satu lagi tergenggam bolpoin merah, yang dia acungkan seperti pedang. Dion meraba saku dan mengeluarkan amplop yang sudah dia siapkan semalam.
"Bu, ini sisanya. Delapan ratus lima puluh ribu."
"Lunas?"
"Lunas."
Bu Zubaedah membuka bukunya di halaman paling belakang, halaman yang sudah menguning, penuh angka bertumpuk dengan tulisan tangan yang mengecil karena terlalu panjang. Dia mencari baris yang tepat dengan telunjuk. Seluruh teras menahan napas, termasuk seekor ayam yang kebetulan lewat.
Bolpoin merah itu turun. Satu coretan tegas dari kiri ke kanan, lalu satu lagi dari atas ke bawah membentuk silang besar, dan di bawahnya, dengan huruf kapital dan garis bawah dua kali: LUNAS.
"Ibu nggak mau nambah catatan lagi, siapa tahu nanti ada utang baru?" tanya Dion.
"Ibu sudah beli buku baru, tebal juga. Isinya kosong. Biar begitu terus." Bu Zubaedah menutup buku lama itu dengan bunyi plak, memandang Fanya dari atas ke bawah dengan mata penilai, dan berkata dengan nada seorang notaris: "Ini yang namanya Fanya? Cantik. Kalau cowok ini bikin kamu nangis lagi, bilang Ibu. Ibu punya buku, Ibu punya bolpoin merah."
"Ibu sudah mencoret utangnya," bisik Fanya kepada Dion. "Aku boleh pinjam bolpoinnya?"
**
Makan siang itu berjalan seperti perang kecil yang sangat lezat.
Emak menaruh sepiring ayam goreng di tengah meja kayu panjang, dan seketika dua tangan menyambarnya dari dua arah. Zain, yang kebetulan pulang dari kota akhir pekan itu tanpa memberi kabar, mengenakan kemeja kantor yang kancingnya sudah dibuka separuh. Dion, dengan jaket ojol masih menempel.
"Paha atas itu hak gue."
"Hak apa? Lu aja belum sholat."
"Gue abang lu, Yan."
"Gue yang bawa Fanya!"
"Gue yang jaga rumah sama Emak waktu lu ngilang!"
Keduanya memegang paha ayam yang sama dari dua ujung. Ayam itu menggantung di antara mereka seperti spanduk. Bapak, yang duduk di ujung meja, menyendok nasi tanpa melirik. Emak menatap langit-langit.
"Anak-anak," kata Emak datar. "Ada tamu."
Tidak ada yang melepas. Dari sudut meja, Fanya tertawa, tertawa lepas, tawa pertama yang Dion dengar sejak hari dia kehilangannya. Zain melirik. Dion melirik. Dalam satu detik yang sama, mereka sama-sama melepaskan paha ayam itu, dan ayam itu jatuh ke piring Fanya.
"Wah," kata Zain. "Hadiah."
"Hadiah," kata Dion.
Fanya menatap paha ayam di piringnya, menatap dua pria yang tiba-tiba kompak, dan berkata lembut: "Aku makan bareng-bareng saja. Tapi aku ambil yang sayap."
"Pintar," puji Bapak dari ujung meja. "Kamu tahu bedanya jago dan hakim. Hakim bagi dua."
Zain tersedak nasi. Dion menepuk punggungnya sambil tertawa. Tidak ada kata maaf antara mereka, tidak ada yang mengungkit pukulan, mobil merah, atau Jenifer. Hanya dua kakak-beradik berebut makanan seperti saat mereka masih berbagi satu kamar.
Selesai makan, Bapak mengajak Fanya duduk di teras dan menunjuk hamparan hijau di seberang jalan desa.
"Itu sawah simbah. Sekarang disewakan. Kamu tahu bedanya padi dan rumput, Nak?"
"Kalau belum berbuah, nggak tahu, Pak."
"Orang kota jujur juga." Bapak terkekeh. "Kebanyakan sok tahu. Padi itu merunduk kalau berisi. Rumput itu tegak terus walaupun kosong." Dia memandang jauh. "Bapak pernah jadi rumput, Nak. Tegak sekali, sampai ditebang. Anak Bapak itu sekarang belajar merunduk. Bapak senang."
Fanya tidak menjawab. Dia hanya menatap hamparan padi muda itu dengan mata yang bersinar.
**
Sore hari, matahari miring melewati celah pohon jati dan menyiram halaman belakang rumah simbah dengan warna madu. Bengkel kecil itu kini tidak lagi sepi. Pintunya terbuka lebar, di atasnya terpasang papan kayu panjang yang catnya masih basah: BENGKEL JATI SIMBAH. Di bawahnya, huruf lebih kecil: Pesanan Mebel & Kursi. Fanya berdiri lama menatap huruf-huruf itu.
"Siapa yang bikin?"
"Bapak yang gambar, Pak Karto yang pahat, aku yang cat." Dion menggaruk tengkuk. "Hurufnya miring."
"Bagus," kata Fanya. "Miring tujuh derajat."
Di dalam, bunyi gergaji dan bau serbuk kayu memeluk mereka. Pak Karto menengok dari balik meja kerja, mengangguk sopan kepada Fanya dengan satu anggukan hemat. Di sebelahnya, seorang pemuda kampung berkaus bolong sedang mengamplas kaki kursi dengan wajah penuh konsentrasi, lidah terjulur ke sudut bibir.
"Karyawan kedua," bisik Dion. "Dia anak Pak RT. Pak Karto yang ajari. Sudah tiga hari, belum ada jari yang hilang."
"Tiga pesanan baru," tambah Bapak dari bangku. Dia mengambil sebuah buku tulis bergaris dari rak dinding, sampulnya kusam, dan membalik halaman-halamannya. "Meja makan buat Bu Lurah, dua dipan buat keluarga di kecamatan, rak buku buat guru SD. Ini buku pesanannya."
Dia menutup buku itu. Dari saku kemejanya dia mengeluarkan seuntai kunci berkarat dengan gantungan kayu kecil bertuliskan DEVAN. Dia menyerahkan keduanya, buku dan kunci, ke tangan Dion, di depan Fanya, di depan Pak Karto, di depan pemuda yang berhenti mengamplas.
"Mulai sekarang kamu yang pegang," kata Bapak.
Dion memandang kunci itu. Dingin, berat, dan berbau minyak mesin.
"Pak ..."
"Jangan nangis di depan tamu." Bapak berbalik, menyembunyikan wajahnya di balik punggung. "Nanti Emak bilang Bapak yang bikin kamu cengeng."