Kakinya baru menyentuh anak tangga teras ketika pintu dapur terbuka lebih lebar dari sejengkal. Mama berdiri di sana dengan serbet di bahu dan wajah yang berusaha keras terlihat tidak sedang menguping.
"Permisi, Bu," kata Dion. Kata itu keluar tanpa dia rencanakan, dan dia kaget sendiri. Sejak Senin dia memanggil "Tante", dan lidahnya baru mengganti tanpa minta izin.
Mama menatapnya lama. Ada sesuatu yang berpindah di rahangnya, setengah ingin menegur, setengah ingin membiarkan. "Hati-hati di jalan," ujarnya pendek. "Jalan Sudirman macet kalau hujan."
Itu saja. Pintu dapur menutup. Dion keluar dari pagar dengan perasaan bahwa seseorang baru saja memberinya selembar kertas kosong dan menyuruhnya menulis sendiri.
Di lampu merah pertama, ponselnya bergetar di saku jaket. Dia menepi hanya karena takut terlalu gembira untuk menyetir.
Nomor yang sudah tersimpan, dengan foto profil yang kini bukan lagi huruf F di lingkaran abu-abu, melainkan seorang gadis mungil berdiri di depan pos kecil berlumut, tertawa pada seseorang di luar bingkai. Pesannya cuma satu baris.
Pos polisi bekas. Besok jam empat. Kalau Kakak bisa.
Dion membaca. Dion membaca lagi. Dia mengetik Bisa, lalu menghapusnya, lalu menulis Pasti bisa, lalu menghapusnya juga, sampai klakson mobil di belakang membuatnya hampir terjatuh dari motor. Pada akhirnya dia hanya menulis: Aku datang.
Di kost, Dion tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyodorkan layar ponselnya ke wajah Ernest.
Ernest membaca. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dua kali. Lalu dia melompat ke kasur, mengguncang bahu Jovian yang sedang tidur dengan mulut terbuka, dan berteriak seperti baru menang undian: "JOV! BANGUN! DIA MANGGIL! FANYA MANGGIL!"
"Siapa manggil?" Jovian terbangun dengan rambut berdiri.
"FANYA!"
"Oh." Jovian mengucek mata. "Kita menang?"
"Belum menang, Jov. Baru dapet kartu undangan."
"Itu menang." Jovian menepuk tangan dua kali, lalu tertidur lagi.
Dion duduk di tepi kasur, memandang pesan itu sampai ibu kost mengetuk dinding dan menanyakan apakah ada kebakaran.
**
Kamis, langit kota menunaikan janjinya.
Hujan turun sedari jam tiga, dan pada pukul empat kurang sepuluh Dion sudah berdiri di bawah atap pos polisi bekas yang bocor di sudut kiri, dengan jaket ojol hijau yang sudah lama tidak dia pakai tetapi entah kenapa pagi tadi dia ambil dari paku. Lumut di dinding pos masih sama. Bangku semen kecil di dalamnya masih sama. Hanya orang yang berdiri di situ yang berubah.
Pukul empat tepat, sebuah payung biru muncul di ujung jalan.
Fanya berjalan pelan, menghindari genangan satu per satu, rambutnya diikat tinggi seperti dulu, dan dia memegang payung biru itu, payung yang tertinggal di pos ini pada sore dia pergi dalam hujan. Dion menegakkan badan tanpa sadar. Dia ingin berlari menyongsong, ingin menunduk, ingin menghilang. Dia memilih tetap berdiri di bawah atap.
Fanya masuk, melipat payungnya, dan menaruhnya di bangku semen. Mereka berdiri berjarak dua langkah. Tetes air dari atap jatuh di antara mereka.
"Kakak datang," katanya.
"Aku bilang aku datang."
"Aku tahu. Tapi tadi malam aku menghitung berapa kali Kakak menulis dan menghapus pesan itu. Karena Kakak muncul 'mengetik' di layarku sampai tujuh kali."
Dion tertawa kecil, serak. "Delapan. Satu kali kecolongan."
Fanya menatap lantai pos. Kemudian dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil yang sudah kekuningan di tepinya. Dia mengulurkannya.
"Ini."
"Apa itu?"
"Ongkos ojek." Suaranya mantap, tapi matanya basah. "Yang dulu Kakak tolak, waktu pertama kali aku pesan ojek Kakak. Aku simpan. Aku nggak tahu kenapa. Waktu itu aku cuma ... nggak bisa menggunakannya."
Dion menerima amplop itu dengan dua tangan. Tebalnya tidak seberapa. Beratnya bukan di kertas.
"Waktu di kantin aku bilang akan melihat dulu," lanjut Fanya. "Dan sebelum ke sini aku harus jujur satu hal, karena aku yang membuat syarat dan aku yang harus bertanggung jawab. Jumat malam minggu lalu, aku ke kost Kakak."
Dion membeku.
"Aku pesan ojek karena mau memanggil Kakak. Aku sampai pas Tante Sashi sudah di teras. Aku berdiri di tangga samping. Aku dengar semuanya." Dia menarik napas. "Aku nggak ngintip. Maksudku, aku memang ngintip. Tapi aku nggak sengaja terlalu lama."
"Fanya ..."
"Kakak bilang 'saya tidak mau mengulang'. Kakak bilang itu waktu nggak ada yang melihat. Di tengah hujan. Di depan orang yang sudah bikin Kakak punya uang." Suaranya naik sedikit lalu turun lagi. "Dan Kakak menolak. Padahal itu gampang banget buat Kakak ambil." Dia menelan ludah. "Aku cuma ... mau lihat itu. Kakak milih. Itu aja."
Dion tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh begitu saja, panas di tengah dingin, dan dia tidak repot menghapusnya.
"Aku nggak bilang aku memaafkan semuanya," kata Fanya, mengusap sudut matanya sendiri dengan punggung tangan. "Aku nggak mau berbohong sama diri sendiri. Tapi aku mau mulai dari awal. Kita kenalan lagi. Tanpa kata maaf. Aku juga berhenti ngomong maaf, karena aku sadar aku terlalu sering ngomongnya kayak ..."
"Kayak itu kebiasaan."
"Kayak itu pengganti kata lain yang aku nggak berani bilang." Fanya mengulurkan tangan kanan. Kecil, dingin, sedikit gemetar. "Aku Fanya."
Dion menatap tangan itu. Sepanjang hidupnya dia sudah menerima banyak hal dari tangan perempuan, uang, kunci apartemen, ciuman yang tak pernah dia minta, dan tak satu pun terasa seberat jabat tangan ini.
Dia menyeka telapak tangannya pada celana, menjabat tangan itu dengan lembut, dan berkata dengan suara yang pecah:
"Dion. Aku ... saya belum punya apa-apa. Saya baru punya bengkel kecil, utang tiga puluh tujuh juta, dan Bapak yang bilang saya mirip dia. Saya janji satu hal. Saya akan terus jujur. Setiap hari. Sampai kamu bosan."
"Aku nggak akan bosan."
"Kamu belum tahu."
"Itu gunanya kenalan." Fanya melepas tangannya perlahan, dan sudut bibirnya naik dan dia tidak memaksa menurunkannya. "Bapak Kakak mirip Kakak waktu muda, atau Kakak mirip Bapak waktu muda?"
"Aku mirip Bapak."
"Berarti Bapak orangnya keras kepala."
"Banget. Kamu bakal suka."
Hujan mulai reda, tetes-tetes terakhir menggantung di tepi atap seng. Fanya mengambil payung birunya, menimbangnya sebentar, lalu menyodorkannya pada Dion.
"Ini buat Kakak. Dulu Kakak simpan buat aku, sekarang aku kasih Kakak simpan lagi." Dia menatap Dion lurus-lurus. "Dan ada satu syarat yang bukan syarat. Kakak harus bawa aku ke rumah simbah. Aku mau lihat bengkel itu. Aku mau ketemu Emak dan Bapak. Aku mau lihat kursi yang sandarannya miring tujuh derajat."
Dion menelan ludah dua kali sebelum suaranya mau keluar.
"Kamu mau lihat?"
"Kakak boleh panggil aku seperti biasa," kata Fanya pelan. "Sudah boleh."
"Dek," bisik Dion, dan itu kata yang paling berat sekaligus paling ringan yang pernah dia ucapkan seumur hidup.