Rabu siang, Mama mengaduk sayur di dapur selama dua puluh menit padahal sayurnya sudah matang sejak tadi.
Papah memperhatikannya dari kursi ruang makan, mengenakan sarung dan baju koko yang kini kelihatan kebesaran di badannya. Empat hari sejak pulang dari rumah sakit, dia sudah belajar berjalan pelan di rumah sendiri. Di meja di depannya tergeletak map cokelat tebal yang dia tidak sentuh sejak pagi, seakan map itu bisa menggigit.
"Ma."
"Hm."
"Sayurnya sudah jadi."
"Aku tahu." Mama mematikan kompor dengan gerakan keras. "Aku cuma tidak mau ada di ruang tamu waktu anak itu datang."
"Refi yang datang jam dua, Ma. Bukan Dion."
"Aku tahu, Pah." Mama berbalik, menyeka tangan di serbet. Dia tidak menyebut nama Dion sejak Senin, dan sejak Senin pula dia lebih banyak menatap panci daripada orang. "Aku cuma ingin Papah tahu aku masih keberatan."
"Papah tahu."
Pukul dua tepat, bel pagar berbunyi. Refi masuk dengan kemeja putih rapi, kacamata tipis, dan sebuah tas kulit berisi dokumen. Dia menyalami Papah dengan dua tangan, mengangguk hormat kepada Mama yang berdiri kaku di pintu dapur, dan duduk di sofa dengan punggung yang terlalu lurus, sesekali menyentuh bingkai kacamatanya.
"Om, ini berkas yang kita bicarakan di rumah sakit." Refi membuka tasnya. "Pinjaman usaha, bunga wajar sesuai skema ayah saya, jaminan berupa mesin-mesin usaha Om. Rumah tidak masuk. Tenor lima tahun. Dan, saya perlu menegaskan ini di depan Tante juga ..." Dia menoleh ke Mama, gugup tapi tegas. "Tidak ada satu pun pasal yang menyangkut Fanya. Tidak ada syarat pernikahan, tidak ada syarat pertunangan. Saya sudah periksa tiga kali. Kalau Om tidak percaya, silakan dibaca."
Papah mengambil berkas itu. Dia membacanya halaman demi halaman dengan kacamata baca di ujung hidung, bibir bergerak pelan, jari menelusuri tiap pasal. Mama berdiri di pintu dapur, dua tangan terkatup di depan perut. Jam dinding berdetak. Dari luar terdengar bunyi tukang bakso yang memukul mangkuknya.
"Usaha saya akan diperkecil," kata Papah tanpa mengangkat kepala. "Dua dari empat bagian saya lepas. Karyawan berkurang."
"Itu syarat dari saya, Om. Supaya cicilannya masuk akal."
"Bagus." Papah membalik halaman terakhir. "Saya senang ada yang menyuruh saya mengecil. Selama ini yang bilang 'ayo, tambah lagi' kebanyakan orang yang tidak ikut menanggung."
Dia meraih pulpen. Tangannya, yang beberapa minggu lalu gemetar memegang tiang infus, kali ini mantap. Dia menandatangani halaman demi halaman, berkali-kali, sampai tinta di ujung pulpen nyaris habis. Mama tidak bicara. Dia hanya menatap tanda tangan itu seperti menatap suaminya melepas sesuatu yang selama bertahun-tahun mereka genggam bersama.
"Selesai," kata Refi, merapikan berkas dengan hormat. "Saya juga ingin bilang, Om, Tante, saya tidak berharap Fanya jadi apa-apa saya. Saya sudah lama tahu itu. Tapi saya juga tidak mau ayah saya, atau siapa pun, memakai uang sebagai tali."
Setelah Refi pamit, rumah itu sunyi cukup lama untuk membuat jam dinding terdengar seperti palu.
"Papah tanda tangan begitu saja?" Suara Mama datar, bergetar di tepinya.
"Papah tanda tangan setelah baca semuanya."
"Itu uang orang yang kita harapkan jadi besan."
"Itu uang orang yang bilang dia bukan besan, Ma." Papah melepas kacamata baca. "Dengar. Papah hampir mati karena marah pada keadaan, dan Mama hampir menjual anak kita karena takut pada keadaan yang sama. Dua minggu lalu kita berdiri di lorong rumah sakit, dan Fanya bilang 'aku bekerja sambil kuliah' dengan suara gemetar. Kita punya dua pilihan, Ma. Terus menjual anak kita, atau terima bahwa kita jatuh."
"Saya tidak menjual ..."
"Mama menjual." Papah tidak berteriak. Justru karena itu kalimatnya lebih tajam. "Papah juga. Kita berdua. Dan Papah sudah tidak mau."
Mama mengatupkan rahang. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, seperti orang yang baru sadar sudah lama berjalan dengan sepatu terbalik. Dia berbalik, berjalan pelan ke kursi di ujung meja makan, dan duduk.
Puluhan tahun menikah, dan itu kemenangan pertama Papah yang bisa dia ingat. Mama tidak menyebutnya kalah. Dia hanya diam, dan diam itu adalah tanda tangan lain.
**
Pukul empat kurang lima, Dion berdiri di depan pagar rumah itu dengan kemeja biru muda yang dia cuci sendiri. Dia sudah mengecek tiga kali bahwa kancing tengahnya terpasang benar. Dia belum pernah merasa selutut ini sejak sidang skripsi.
Papah menerimanya di teras belakang, di bawah pohon belimbing, bukan di ruang tamu. Mama tidak ikut duduk. Dia sibuk di dapur, dengan pintu yang terbuka hanya sejengkal, cukup lebar untuk telinga.
"Duduk, Nak."
"Terima kasih, Om."
Papah menatapnya lama. Tidak ada kecurigaan di sana, hanya penilaian pelan, seperti pemilik toko yang menimbang kayu sebelum membeli.
"Saya akan tanya tiga hal. Kamu jawab apa adanya. Kalau jawabannya jelek, saya lebih suka jelek daripada manis."
"Baik, Om."
"Satu. Kenapa kamu mengaku? Kamu bisa saja diam. Fanya tidak tahu, Farish belum tahu pasti."
Dion menelan ludah. "Karena saya sudah menyimpan dua dunia terlalu lama, Om. Dan karena orang yang saya sayangi pantas mendengar dari mulut saya, bukan dari foto di tangan abangnya."
"Dua. Sisa utangmu pada Aaron?"
"Tiga puluh tujuh juta, Om. Tanpa bunga. Rencana saya lunas dua minggu lagi."
"Dari mana?"
"Dari bengkel, Om. Pesanan kafe, pesanan lemari, pesanan baru. Dan sebagian dari teman yang pernah saya bantu."
Papah mengangguk pelan. "Tiga. Kalau suatu hari kamu jatuh lagi, kalau uang seret dan Fanya capek, kamu akan melakukan apa?"
Dion terdiam. Itu pertanyaan yang tidak punya jawaban manis, dan dia tahu Papah tahu.
"Saya tidak bisa janji tidak akan tergoda lagi, Om," katanya akhirnya, lirih. "Orang yang bilang tidak akan tergoda biasanya belum pernah tergoda. Tapi saya janji satu hal: kalau saya goyah, saya akan bilang ke Fanya duluan. Sebelum uangnya masuk. Bukan sesudah."
Dari dapur terdengar bunyi panci diletakkan terlalu keras.
Papah tersenyum samar, senyum pertama yang Dion lihat di wajah pria itu. Dia berdiri, perlahan, bertumpu pada sandaran kursi, lalu berjalan ke tepi teras dan menatap pohon belimbing yang buahnya mulai menguning.
"Bekerja itu bukan hinaan, kamu tahu. Saya bilang begitu waktu makan malam dulu, saat istri saya menghina pekerjaanmu. Sekarang saya bilang yang lain." Dia menoleh. "Kamu boleh menemui Fanya. Di bawah mata saya, di rumah ini. Kalau dia mau. Itu keputusan dia, bukan keputusan saya, dan bukan keputusan siapa pun di rumah ini."
"Om ..."
"Jawabannya ada pada anak saya." Papah menepuk bahunya sekali, ringan, bukan bahu seorang mertua tapi bahu seseorang yang memutuskan untuk percaya sedikit. "Tapi pintu rumah ini tidak lagi saya kunci untukmu."