Senin pagi, tepat ketika Dion sedang mengikat tali sepatu untuk berangkat ke kampus mengambil berkas wisuda, Jovian menerobos masuk ke kamar dengan mata bulat dan napas tersengal, seolah meteor baru jatuh di halaman.
"Yon. Ada tante-tante di bawah."
"Gue nggak mau denger kata 'tante-tante' lagi seumur hidup, Jov."
"Bukan yang itu! Ini yang lain! Pakai tas segede bantal, kacamata hitam, dan lihat gue kayak lihat tikus got." Jovian menelan ludah. "Dia nanya apa betul di sini kamarnya Zayn Dion Krismeinda. Lengkap, Yon. Pakai nama tengah."
Dion berdiri pelan. Dia tidak perlu bertanya lagi. Hanya satu orang di dunia yang bisa melafalkan namanya selengkap itu dengan nada seperti sedang membaca daftar tersangka.
Di teras, Mama Fanya duduk di ujung bangku kayu panjang, punggung tegak, tas bermerek diletakkan di pangkuan seperti perisai. Taksi daring yang mengantarnya masih menunggu di depan pagar dengan lampu hazard menyala. Ernest berdiri di pojok teras dengan sapu entah kenapa, wajahnya ingin menghilang. Gilbert bersembunyi di balik jemuran. Di meja tersaji teh dan sepiring pisang goreng, tanda bahwa Jovian sudah mencoba menjadi tuan rumah yang sopan dan gagal total karena pisang gorengnya dingin.
"Tante," sapa Dion.
"Duduk."
"Saya berdiri saja, Tante."
"Duduk, saya bilang." Mama membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih tebal. "Atau berdiri. Sama saja."
Dia menaruh amplop itu di meja, di sebelah pisang goreng, lalu mendorongnya dengan dua jari sampai berhenti di depan Dion. Gerakannya pelan, anggun, jelas sudah sering melakukan hal semacam ini.
"Di dalamnya ada cek. Dari dana pesta tunangan Fanya yang sudah saya sisihkan. Jumlahnya lebih dari yang bisa kamu hasilkan dari bengkel kampungmu sampai akhir tahun." Mama menatap Dion lewat kacamata hitamnya. "Ambil. Lunasi utangmu pada adik saya dan suaminya. Mulai usaha dengan modal yang layak. Dan jauhi Fanya."
Ernest menjatuhkan sapunya. Bunyi gedebuk itu sangat nyaring, dan tak seorang pun menoleh.
Dion memandang amplop itu. Dia tidak menyentuhnya. Dia ingat kata-kata Papah Fanya, ingat Aaron yang berkata uang itu bukan ukuran, ingat Bapak yang menyebut uang dari Sanny sebagai piutang, bukan rezeki. Dan dia tahu persis apa yang akan terjadi kalau tangannya bergerak.
"Tante," katanya, "saya tidak bisa terima."
"Kenapa? Kurang?"
"Bukan itu."
"Kamu takut dikira menjual diri lagi?" Mama melepas kacamatanya. Matanya merah di tepi, kentara kurang tidur. "Jangan berlagak punya harga diri di depan saya. Kamu sudah menjual diri pada adik saya, di bawah atap yang sama dengan keponakan saya. Saya mau tahu apa lagi yang masih kamu punya selain wajah."
Hening menimpa teras itu. Jovian menatap pisang goreng seolah itu benda paling menarik di dunia.
"Iya, Tante," kata Dion.
"Iya apa?"
"Iya, saya melakukannya." Dia tidak mengalihkan mata. "Saya menerima uang dari Bu Sanny, saya tahu apa artinya, dan saya melakukannya karena saya mau uang. Itu bukan salah siapa-siapa selain saya. Saya tidak cari alasan. Saya menyesal, dan saya tahu penyesalan tidak mengubah apa pun."
Mama diam. Rahangnya mengeras, tetapi tidak ada bantahan.
"Yang saya punya sekarang cuma dua," lanjut Dion pelan. "Catatan yang jujur, dan tangan yang bisa kerja. Catatan itu sudah saya serahkan ke Pak Aaron. Tangan ini sedang saya pakai di bengkel Bapak. Kalau saya terima cek Tante, catatan itu berhenti jujur, dan tangan ini berhenti bekerja. Saya tidak mau Fanya bersama orang seperti itu. Nanti Tante pun tidak mau."
"Kamu pikir kamu pantas untuk dia?"
"Tidak." Dion menggeleng. "Belum, mungkin tidak akan pernah sepenuhnya. Tapi saya tidak mau jadi layak karena dibayar. Kalau Tante minta saya pergi karena Fanya sendiri yang minta, saya pergi. Kalau karena cek, saya tidak bisa."
Raut Mama bergeser. Sangat tipis, seperti kaca yang baru retak sehelai rambut. Dia membuka mulut hendak membalas, tetapi suara motor yang berhenti kasar di depan pagar memotongnya.
"Mama."
Farish masuk lewat pagar yang terbuka dengan napas tersengal dan helm masih terpasang di satu tangan. Dia berdiri di anak tangga teras, memandang amplop, memandang Dion, dan memandang ibunya. Dari wajahnya jelas dia baru saja menempuh separuh kota dengan menyalip tiga lampu merah.
"Mama jangan begini."
"Kamu yang kasih alamatnya, Rish."
"Farish kasih karena Mama janji cuma bicara." Farish menarik napas. "Mama, Dion bukan orang yang Mama bayangkan. Farish juga pernah salah bayangkan dia."
"Dia memukulmu?"
"Farish yang pukul dia, di tangga parkiran kampus. Dia tidak membalas." Farish menunduk sejenak, menelan harga dirinya. "Dia datang sendiri, Mama. Tidak ada yang menyeret. Sebelum Farish pukul pun dia sudah mau bilang ke Fanya, dan dia memang bilang, di pos polisi, dan ditampar. Dia ngomong ke Om Aaron sendirian di dalam mobil, dengan buku catatan. Orang yang cuma mau uang tidak akan menyerahkan catatan yang bisa membuatnya dipenjara."
"Itu bukan alasan ..."
"Bukan alasan, Mama. Itu fakta." Farish memandang Dion sekilas, lalu kembali ke ibunya. "Farish dulu marah setengah mati. Sekarang Farish masih marah. Tapi Farish nggak bisa bohong: dia mengaku sendiri. Siapa yang mengaku sendiri tanpa dipaksa? Tidak banyak, Mama. Di rumah kita pun jarang."
Kalimat terakhir itu jatuh seperti batu ke kolam. Mama terhenyak. Seluruh tubuhnya, yang tadi tegak seperti tiang, sedikit menyusut.
Dia mengambil amplop itu kembali. Perlahan, dia memasukkannya ke tas, menutup kancing emasnya, dan berdiri.
"Antar saya ke taksi, Rish."
Di pagar, sebelum masuk ke taksi daring itu, Mama berhenti dan menatap ke jendela lantai atas kost, tempat gorden bergoyang seperti ada orang yang buru-buru mundur. Dia berkata tanpa menoleh, kepada siapa pun yang berminat mendengar: "Saya belum bilang setuju."
"Iya, Mama."
"Saya cuma bilang ... saya mendengar."
Taksi itu pergi. Farish tetap di tepi jalan sampai lampu belakangnya hilang, lalu berbalik dan mendapati Dion berdiri di teras dengan wajah seorang pria yang tak yakin apakah dia baru lolos atau baru kalah.
"Papah titip pesan," kata Farish datar. "Hari Rabu, jam empat sore, ke rumah. Beliau mau bicara denganmu. Jangan bawa genk."
"Bicara soal apa?"
"Saya juga tidak tahu. Beliau cuma bilang satu hal lagi." Sudut bibir Farish naik sebentar, lalu turun. "Pakai kemeja yang kamu cuci sendiri."
Dion memandang kemeja biru mudanya yang sudah dua kali dicuci di laundry koin, lalu memandang Farish. "Mama tahu kamu kasih tahu ini?"
"Mama belum tahu soal Rabu." Farish mengenakan helmnya. "Kalau Mama menang di rumah, kamu tidak perlu datang. Kalau Papah menang, kamu pasti dipanggil lagi. Bersiaplah untuk yang kedua."
Dia menyalakan motor, dan sebelum melaju menambahkan sesuatu yang tidak dia rencanakan: "Cek itu. Kamu benar-benar tidak tergoda?"
"Tergoda," jawab Dion jujur. "Tiga detik."
"Tiga detik itu cukup untuk orang jujur." Farish mengangguk sekali. "Sampai Rabu."
Dari balik jemuran terdengar suara Gilbert, kecil dan penuh kelegaan: "Gue nggak ikut."