Sabtu pagi, Farish menggoreng telur dan telurnya gosong untuk keempat kalinya.
"Abang."
"Hm."
"Itu sudah hitam."
"Itu memang warnanya." Farish membalik telur dengan spatula seperti membalik berkas perkara. Dia tidak menoleh. "Jam sepuluh mereka datang. Kamu yakin?"
"Yakin."
"Semalam kamu pulang basah kuyup jam sebelas dan tidak mau cerita dari mana. Pagi ini kamu bilang Tante dan Om Aaron mau datang. Abang cuma mau tahu satu hal." Farish mematikan kompor. "Kamu tidak sedang dipaksa siapa pun?"
"Tidak, Bang." Fanya menarik kursi, duduk, dan menatap piring berisi telur gosong itu dengan sayang. "Aku yang jawab 'jam sepuluh'. Aku sendiri."
Farish mengangguk satu kali, lalu menaruh telur gosong itu di depan adiknya dengan wajah orang yang baru sadar betapa sulitnya jadi satu-satunya penghuni dapur.
Pukul sepuluh kurang lima, sedan putih berhenti di depan gang buntu.
Aaron turun lebih dulu, dengan kemeja biru muda dan wajah yang kelihatan tidak tidur. Dia membuka pintu belakang dan menurunkan Kirana, yang memakai gaun kuning dan membawa boneka kelinci lusuh. Sanny keluar paling akhir. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tanpa riasan, dan matanya bengkak yang tidak bisa disamarkan bedak apa pun.
"Lima belas menit," kata Farish di ambang pintu, tanpa salam. "Itu bukan hukuman. Itu cuma batas."
"Cukup," jawab Aaron. "Terima kasih, Farish."
Ruang tamu rumah Farish sempit. Sofa dua tempat duduk, satu kursi plastik, satu meja yang kakinya diganjal buku. Sanny duduk di kursi plastik karena menolak sofa, Aaron berdiri di dekat pintu dengan Kirana di pelukannya, dan Fanya duduk di ujung sofa dengan lutut rapat.
Sanny tidak membuka dengan "maaf". Itu yang pertama Fanya perhatikan.
"Anya, Tante mau ceritakan satu hal, yang kamu belum tahu. Semalam Tante pergi ke kost Dion. Tante gedor pagarnya sampai dia keluar. Tante peluk dia dan mau cium dia." Suaranya datar, seolah membacakan putusan atas dirinya sendiri. "Dia melepaskan tangan Tante dan bilang tidak. Dia bilang dia mencintaimu. Tante ingin kamu tahu itu dari Tante, bukan dari orang lain, supaya tidak ada yang bisa bilang Tante menutupinya."
Fanya menggenggam ujung bajunya. Dia tidak berkata bahwa dia sudah tahu.
"Dan yang lain-lain?" tanyanya pelan.
"Yang lain-lain sudah Tante katakan di sini dua minggu lalu. Tante tidak akan mengulang supaya terdengar lebih menyesal." Sanny menarik napas. "Tante yang memulai. Tante tahu dia butuh uang, Tante tahu kamu menyayanginya, Tante tahu kamu keponakan Tante, dan Tante tetap melakukannya. Tidak ada alasan yang membuat itu lebih kecil. Tante tidak minta kamu memaafkan. Tante cuma minta kamu tahu bahwa Tante berhenti, dan bahwa Tante akan memperbaiki rumah Tante sendiri."
Hening panjang. Dari luar, tukang sayur lewat mengumumkan bayam dengan nada sumbang.
"Aku belum memaafkan Tante," kata Fanya akhirnya. Suaranya bergetar, tapi tidak patah. "Aku nggak mau berbohong. Tapi aku mendengar Tante. Hari ini aku mendengar."
"Itu lebih dari cukup."
"Dan aku nggak mau lagi dengar Tante minta maaf berkali-kali. Kalau Tante mau minta maaf, buktikan ke Om Aaron dan ke Kirana."
Sanny menunduk. Matanya basah, dan dia tidak menyembunyikannya.
"Kak Anya!"
Semua kepala menoleh. Kirana sudah turun dari gendongan Aaron dan berlari kecil melintasi lantai dengan boneka kelinci menggantung di satu tangan. Dia naik ke sofa tanpa permisi, merangkul leher Fanya dengan dua lengan gemuknya, dan menempelkan pipinya yang hangat ke pipi Fanya.
"Kak Anya kenapa lama nggak ke rumah? Kirana kangen. Kirana nunggu."
Dada Fanya mengembang lalu mengempis. Dia memeluk anak kecil itu, dan pertahanan yang dia bangun selama dua minggu lebih runtuh begitu saja, bukan dalam teriakan, hanya dalam air mata yang jatuh ke rambut Kirana.
"Kak Anya sibuk, Sayang. Tapi sekarang nggak."
"Kak Anya nangis?"
"Dikit."
"Kata Papa, kalau nangis boleh. Asal habis itu makan." Kirana melepaskan pelukan, memandang ke sekeliling ruang tamu, dan matanya jatuh pada seorang pria tinggi berotot dengan alis menukik yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. "Itu siapa?"
"Itu Abang. Namanya Abang Farish."
"Muka Abang galak."
Farish tidak bergerak. Kirana turun dari sofa dengan kelincinya, berjalan lurus ke arahnya tanpa takut, lalu menengadah. Dari saku gaunnya dia mengeluarkan sebuah bando kecil berhias pita merah muda dan mengulurkannya.
"Pakai. Biar nggak galak."
"Saya tidak ..."
"Pakai!"
Aaron menutup mulut dengan tangan, bahunya berguncang. Fanya menggigit bibir. Farish memandang ke langit-langit, seperti mencari bantuan ilahi, lalu membungkuk pelan-pelan dan membiarkan seorang anak tiga tahun memasang bando pita di rambutnya yang dipotong rapi. Hasilnya adalah pria dewasa berwajah garang dengan pita merah muda di atas telinga.
"Nah," kata Kirana puas. "Sekarang Abang cantik."
Sanny tertawa. Tawa kecil dan pecah, jujur, dan dia menutup mulut dengan punggung tangan seakan malu pada suaranya sendiri.
Lima belas menit sudah lewat tiga puluh ketika Aaron akhirnya menggendong anaknya pamit, dan tak seorang pun menyinggung batas waktu itu.
**
Mawar datang tepat setelah mobil putih itu menghilang, membawa martabak dan mata penuh rasa ingin tahu. Dia berhenti di ambang pintu ruang tamu, memandang Farish yang masih memakai bando pita merah muda, dan bahunya mulai bergetar menahan tawa.
"Jangan," kata Farish.
"Aku nggak bilang apa-apa."
"Kamu sedang memikirkannya."
"Aku sedang memikirkan betapa cantiknya itu." Mawar mengeluarkan ponsel, dan Farish melepas bando itu dengan kecepatan tangan seorang pesulap, lalu masuk ke dapur sambil menggerutu soal telur.
Di sofa, Fanya memeluk bantal dengan kedua tangan. "War. Aku mau cerita sesuatu, tapi kamu jangan teriak."
"Aku tidak pernah teriak."
"Waktu aku bilang aku butuh waktu, kamu teriak sampai tetangga keluar."
"Itu pengecualian. Cerita."
"Semalam aku ke kost Dion." Fanya menatap bantal. "Aku nggak masuk, nggak ketahuan. Aku cuma mau lihat apakah dua hari itu betulan dua hari. Dan ... Tante Sashi datang duluan, basah kuyup, dan dia mau cium Dion. Dion tolak. Tegas. Aku lihat dan dengar sendiri."
Mawar tidak teriak. Dia hanya menaruh martabak di meja sangat pelan.
"Terus?"
"Terus aku mundur. Aku pulang."
"Kamu nggak masuk?"
"Syaratnya, aku yang panggil dia. Bukan dia yang nyamperin aku. Dan bukan aku yang nyamperin dia tanpa dipanggil." Fanya tertawa getir. "Aneh ya. Aku bikin aturannya sendiri dan aku sendiri yang hampir melanggarnya."
"Nya." Mawar menggeser duduk, merangkul bahunya. "Kamu sudah tahu jawabannya, kan?"
"Belum." Fanya mengusap pipi. "Tapi aku tahu pertanyaannya sekarang lain."
Dari dapur terdengar suara ponsel Farish berdering. Dia menjawab, mendengarkan, dan sepuluh detik kemudian keluar dengan wajah seperti orang yang baru menerima tagihan listrik sebesar gaji.
"Mama," katanya pendek. "Katanya Mama mau minta alamat kost anak itu."