Sanny tidak berdiri ketika pagar terbuka. Dion berlutut di paving basah, menyampirkan handuk ke bahunya, lalu menariknya bangun dengan memegang siku saja, sopan, sejauh yang bisa dilakukan dua orang yang basah kuyup di bawah hujan deras.
"Ke teras, Tante. Pelan-pelan."
Mereka berjalan sepuluh langkah yang rasanya sepanjang jalan tol. Di teras, atap seng menahan hujan dan menggantinya dengan bunyi tak-tak-tak yang memusingkan. Ernest berdiri di ambang pintu, sapunya terangkat setengah, wajahnya campuran antara siap berperang dan siap pingsan.
"Nest, hape gue," kata Dion tanpa menoleh. "Di toples."
"Yang di toples kerupuk?"
"Yang di toples kerupuk."
Ernest menghilang ke dalam, dan dari kamar terdengar bunyi toples dipelintir, lalu umpatan kecil karena tutupnya licin berminyak. Dion menarik napas, menaruh jarak satu lengan di antara dirinya dan Sanny, dan menunggu perempuan itu berhenti menggigil.
"Terima kasih," kata Sanny akhirnya. Giginya beradu. "Kamu masih baik."
"Saya cuma nggak mau Tante sakit."
"Sama saja."
"Beda, Tante."
Sanny menunduk menatap handuk di bahunya, lalu mengangkat wajah. Dalam cahaya lampu teras yang kuning dan kedip-kedip, dia kelihatan jauh lebih tua dari tiga puluh lima. Tidak ada genit di sana, tidak ada suara serak yang dulu dia pakai untuk menggoda. Yang tersisa hanya seorang perempuan yang terlalu lama kesepian dan kini kehabisan tempat bersandar.
"Aku cuma butuh dipeluk satu kali," katanya pelan. "Satu kali, Dion. Habis itu aku pulang, aku janji."
"Tante, jangan."
Tetapi dia sudah maju. Kedua lengannya melingkar ke leher Dion dengan tenaga orang yang baru menyerah, tubuhnya yang dingin menempel, dan wajahnya naik, bibirnya mencari. Dion mundur selangkah, tetapi punggungnya sudah hampir menyentuh dinding teras. Dia melepaskan kedua tangan itu dengan memegang pergelangannya, tegas, tidak kasar, dan menahannya tetap di antara mereka.
"Saya tidak mau, Tante."
"Dion ..."
"Saya tidak mau." Suaranya tidak keras, tetapi tidak ada celah di dalamnya. "Saya mencintai Fanya dan saya tidak mau mengulang. Bukan karena Tante jahat. Karena ini salah, dulu salah, sekarang juga salah. Dan saya sudah berhenti menjadi orang yang bilang tidak mau tapi tetap mau."
Sanny diam. Lalu bahunya runtuh, pelan, seperti tali yang akhirnya putus setelah ditarik bertahun-tahun. Dia tidak melawan ketika Dion melepas pergelangannya. Dia hanya menutup muka dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara, di antara bunyi tak-tak-tak atap seng.
"Maaf," katanya dari balik jemari. "Maaf. Aku tidak tahu kenapa aku begini."
"Saya tahu Tante capek. Tapi Tante harus ngomong ke Pak Aaron, bukan ke saya."
Ernest muncul dengan ponsel yang berkilap minyak kerupuk. Dia menyodorkannya ke Dion dari jarak sepanjang tangan seperti menyerahkan bom, sambil mengerjap keras supaya tidak tampak mendengar apa-apa. Dion menggulir kontak, menemukan nama itu, dan menekan panggilan. Dering pertama belum selesai ketika suara berat itu menjawab.
"Dion."
"Pak Aaron, maaf mengganggu. Bu Sanny di depan kost saya. Dia basah, dia baik-baik saja, tapi dia tidak mau pulang. Bapak bisa jemput?"
Hening sebentar. Lalu Aaron berkata, dengan nada yang bahkan tidak terkejut, nada orang yang sudah menduga: "Saya sudah di jalan. Tadi saya lihat mobilnya tidak ada di garasi. Dua puluh menit. Tolong jangan biarkan dia sendiri."
"Tidak, Pak."
"Terima kasih."
Dua puluh menit itu berlangsung seperti dua jam. Dion duduk di bangku kayu panjang di ujung teras, Sanny di ujung satunya, dan di antara mereka Ernest menaruh secangkir teh panas, tanpa kata, lalu menyelinap pergi sambil menyeret sapunya. Sanny menggenggam cangkir itu dengan dua tangan.
"Kirana sudah tidur?" tanya Dion, karena diam terlalu berat.
"Belum. Dia nunggu Mama pulang. Dia tidak mau tidur kalau Mama belum cium keningnya." Sanny menghirup uap teh. "Tiga tahun, dan dia sudah hafal kapan aku bohong. Tadi dia bilang, 'Mama, mukamu kayak habis nangis tapi bilangnya nggak'."
"Anak kecil memang begitu."
"Aku mau jadi Mama yang tidak perlu dibohongi." Suaranya serak. "Dion, kamu bilang sesuatu ke Fanya tentang aku, kalau ketemu?"
"Saya nggak boleh ketemu Fanya, Tante. Dia yang belum mau."
"Oh." Sanny memandang ke hujan. "Aku sudah minta maaf padanya di rumah Farish. Dia dengar. Tapi aku tahu kata 'maaf' dari aku tidak ada harganya di telinga dia."
"Bukan nggak ada harganya. Cuma belum waktunya." Dion mengaduk-aduk kata-katanya sendiri dan memilih yang paling sederhana. "Tante nggak usah ngejar. Kalau Tante ngejar, dia bakal lari. Fanya itu kalau didesak malah minta maaf duluan, padahal dia nggak salah. Biarkan dia punya waktu."
Sanny tersenyum samar sekali malam itu, senyum yang jujur dan getir. "Kamu kenal dia dengan baik."
"Belum cukup baik, Tante. Kalau cukup baik, saya nggak bakal bikin dia nangis."
Ketika lampu sorot sedan putih menyapu pagar, Aaron turun tanpa payung. Dia melepas jaketnya di tengah hujan, menyampirkannya ke bahu istrinya tanpa bertanya, dan memapahnya ke mobil. Sebelum menutup pintu penumpang, dia menunjuk mobil merah yang masih miring di mulut gang. "Besok pagi saya suruh orang ambil," katanya. Lalu dia berbalik dan menatap Dion sebentar.
"Terima kasih."
Dari balik pintu mobil yang setengah terbuka, Sanny berbisik, "Aku tidak pantas dijemput."
"Pantas atau tidak, Kirana tanya kamu dari tadi," kata Aaron lembut, dan menutup pintu.
Hanya itu. Mobil putih itu menghilang ke ujung gang, dan Dion berdiri sendirian di teras dengan kemeja basah, tangan masih gemetar, dan sebuah perasaan aneh: tidak lega, tidak bangga, hanya bersih.
**
Fanya berdiri di mulut tangga samping, tempat tangga besi ke lantai atas kost menempel di dinding, dengan payung hitam Farish yang sudah tidak berguna lagi karena roknya basah sampai lutut. Ojeknya sudah pergi sepuluh menit lalu. Dia datang tepat ketika Dion sedang melepaskan pergelangan tangan seorang perempuan yang sangat dia kenal, dan dia mendengar semuanya.
Saya mencintai Fanya dan saya tidak mau mengulang.
Dia tidak mundur karena marah. Dia tidak berlari karena terluka, meski ada kedua-duanya di dadanya, saling berebut. Dia mundur karena tahu, dengan kejernihan yang tiba-tiba, bahwa ini bukan adegan yang dia pantas ganggu. Dion tidak tahu dia ada di situ. Tidak ada penonton, tidak ada yang bisa dia pamerkan. Dan itulah yang membuat kalimat tadi berbobot.
Dia berjalan ke mulut gang dengan pelan, supaya sepatunya tidak berbunyi, dan baru berhenti ketika lampu teras kost sudah jadi titik kuning kecil di belakang punggungnya. Di bawah tiang listrik, dia berdiri tanpa tahu mau ke mana. Payung hitam itu dia tutup, dan dia membiarkan hujan jatuh ke rambutnya.
Ponselnya bergetar. Nomor yang belum tersimpan.
Ini Aaron. Maaf mengganggu malam-malam. Besok pagi Sanny ingin bicara denganmu. Dia tidak akan membela diri. Kamu boleh menolak, dan saya tidak akan memaksa.
Fanya membaca pesan itu dua kali. Lalu dia menoleh sekali saja ke arah gang, ke arah lampu kuning kecil itu, dan mengetik balasan dengan jari yang akhirnya berhenti gemetar.
Jam sepuluh. Di rumah Abang.