Dua hari penuh Dion menaati syarat Fanya, dan dua hari penuh pula dia menyiksa dirinya sendiri dengan cara yang sangat rapi. Rabu malam dia mengetik empat belas pesan untuk Fanya, menghapus semuanya, lalu mengetik lagi. Kamis dia hampir mengirim satu, hanya berisi kata "Hujan", dan jempolnya berhenti satu milimeter dari tombol kirim.
Jumat sore Ernest kehabisan kesabaran.
"Sini hape lu."
"Buat apa?"
"Buat gue sita. Lu itu kayak orang puasa yang nyium bau sate." Ernest merampas ponsel itu dari tangan Dion, membawanya ke pojok kamar kost, dan memasukkannya ke dalam toples kerupuk kosong. Tutupnya dia pelintir rapat-rapat. "Besok pagi gue balikin. Ini demi kebaikan lu, demi kebaikan Fanya, dan demi kebaikan jempol lu yang gatel."
"Itu toples kerupuk gue, Nest."
"Sekarang toples kerupuk itu penjara."
Jovian, yang tengkurap di kasur sambil makan mi instan mentah, mengangkat tangan. "Gue jadi sipirnya."
"Mulai sekarang kalau Dion pegang hape, lu teriak 'pelanggaran'."
"Pelanggaran!" teriak Jovian, padahal Dion cuma mengambil gelas.
"Belum, Jov. Nanti."
"Oh. Oke. Pelanggaran nanti."
"Lu jadi sipir? Lu aja nggak bisa jaga kue!" Ernest menyahut, lalu keduanya berdebat soal itu sampai lewat magrib. Di luar jendela, langit yang dari tadi mendung akhirnya menumpahkan isinya. Hujan jatuh miring, deras, dan Dion memandangnya dengan perasaan bahwa hujan di kota ini selalu punya urusan dengan hidupnya.
**
Di rumah Farish yang ujung gangnya buntu, Fanya duduk di kasur kamar tamu dengan ponsel di pangkuan dan layar menyala di akun Bengkel Jati Simbah.
Unggahan terbaru muncul tiga jam lalu. Foto sebuah kursi jati yang belum diamplas, dengan satu garis pensil miring di sandarannya. Keterangannya pendek saja: Sandaran miring tujuh derajat. Katanya biar yang duduk betah, bukan cuma yang beli. Kata Bapak.
Fanya membaca keterangan itu sampai hafal. Dua hari ini dia menunggu dirinya sendiri merasa menyesal sudah menetapkan syarat, dan ternyata yang datang justru perasaan lain: ingin tahu. Bapak. Dion menulis "Bapak" dengan huruf besar di awal, seperti menulis nama orang yang dia hormati.
Dia ingat majalah terbalik di kantin dan tersedunya Mawar di baliknya. Dia ingat tangannya sendiri yang gemetar di tali tas. Dia ingat Dion yang tidak memohon, dan itu mengganggunya lebih daripada kalau Dion memohon. Orang yang memohon gampang dijawab. Orang yang hanya berkata jujur, lalu berjalan pergi, meninggalkan pertanyaan yang harus dijawab sendiri.
Dari ponsel yang bersandar di botol sampo, panggilan video Mawar menyala sendiri dan suaranya melengking: "Nya, jadi kamu mau datang atau mau menatap kursi sampai subuh?"
"Aku mau lihat dulu."
"Lihat apa?"
"Apakah dua hari itu betulan dua hari," kata Fanya. "Bukan dua hari yang ditahan-tahan."
Mawar tidak menjawab. Layarnya menampakkan seseorang yang berusaha keras tidak tersenyum.
Pintu kamar diketuk. Farish menyodorkan kepala. "Kamu mau ke mana pakai jaket?"
"Keluar sebentar."
"Hujan, Nya."
"Aku tahu."
"Abang antar."
"Jangan." Fanya berdiri, menarik ritsleting jaketnya sampai ke dagu. "Aku mau sendiri. Aku pesan ojek saja."
Farish memandangnya lama, rahang mengeras, lalu melemas sendiri. Dia sudah belajar sesuatu dua minggu ini: adiknya yang selalu minta maaf itu ternyata kalau sudah memutuskan, keras kepalanya turunan keluarga. "Bawa payung. Bukan payung biru, yang itu masih di Mawar. Yang hitam di belakang pintu."
**
Pukul setengah sepuluh, ketika Jovian sudah tertidur dengan mi mentah masih di mulut, pagar kost digedor.
Bukan ketukan. Gedoran. Besi pagar berderak, dan di antara suara hujan terdengar seseorang memanggil sebuah nama dengan suara serak yang Dion kenal lebih baik daripada yang dia mau.
"Dion! Dion, buka! Aku cuma minta semenit!"
Ernest meloncat dari lantai seperti disetrum. Dia mengintip lewat celah gorden, lalu mundur dengan wajah pucat. "Yon. Ada hantu. Hantu perempuan, basah, rambutnya nempel semua di muka."
"Itu bukan hantu."
"Lebih parah?"
"Sanny."
Ernest menelan ludah. "Jangan dibuka. Yon, dengar gue. Lu nggak boleh buka. Ini bagian film yang kalau pintunya dibuka, nanti ada tragedi dan kita semua masuk berita."
"Gue nggak mau buka."
"Bagus."
Dion menyambar kunci gembok dari paku di dinding, lalu berubah pikiran dan menaruhnya kembali. Dia turun ke teras kost tanpa alas kaki dan berdiri di balik pagar yang tergembok. Dia melihat mobil merah menyala itu terparkir miring di mulut gang, lampu hazard-nya berkedip kuning di genangan air. Sanny berdiri di depan pagar tanpa payung, tanpa mantel, dengan gaun tipis yang sudah menempel di badan dan riasan yang luntur sampai ke dagu. Tangannya mencengkeram besi pagar, buku-buku jarinya biru.
"Tante pulang," kata Dion. Suaranya lebih tenang daripada perasaannya. "Pak Aaron pasti nyariin."
"Dia tidur di kamar tamu. Sejak Selasa." Sanny tertawa, tawa yang tidak punya tenaga. "Kirana tanya kenapa Mama dan Papa tidak makan di meja yang sama. Aku nggak bisa jawab, Dion. Aku cuma bisa nyetir."
"Dari mana Tante tahu kost saya?"
"Dari kertas pernyataanmu. Alamatmu ada di sana. Aaron menaruhnya di meja kerja." Dia menempelkan dahinya ke besi pagar. "Aku cuma mau lihat kamu. Aku mau dengar kamu bilang kamu tidak membenciku."
Dion menarik napas. Di belakangnya, pintu kost terbuka sedikit dan Ernest menyembul dengan sapu di tangan, sapu yang dia genggam seperti pedang. Senjata yang buruk, tetapi niatnya mulia.
"Saya nggak benci Tante," kata Dion. "Tapi saya nggak akan buka pagar ini. Tante pulang, sekarang, ya. Saya telepon taksi."
"Aku nggak mau pulang!"
Telapak tangannya memukul besi, sekali, lalu terkulai. "Aku tahu aku tidak berhak. Aku tahu semua yang kamu bilang ke Aaron. Aku baca kertasnya sampai halaman terakhir, Dion, sampai bagian kamu menulis 'saya tahu itu salah dan tetap melakukannya'. Kamu menulis itu untuk dirimu sendiri. Tidak ada satu kalimat pun yang menyalahkan aku. Itu yang membuatku tidak tahan."
"Tante." Dion menggeleng. "Itu bukan hal yang bisa saya bantu dari sini."
"Lalu siapa yang bisa?"
Dion tidak punya jawaban untuk itu.
Gedorannya makin keras. Lampu teras rumah sebelah menyala, lalu lampu di lantai atas kost, dan sebuah jendela terbuka. Seseorang berseru menanyakan ada apa. Sanny tidak peduli. Dia merosot pelan-pelan di balik pagar sampai duduk di atas paving yang tergenang, bahunya berguncang, hujan menimpanya tanpa ampun, dan suaranya jadi tangisan yang tidak lagi berbentuk kata.
"Yon," bisik Ernest dari belakang. "Dia bisa sakit. Ini hujan, Yon."
Dion berdiri kaku. Dia membayangkan suara Fanya di kantin dua hari lalu, dan syarat yang tidak dia langgar sedikit pun. Dia membayangkan juga seorang perempuan yang menggigil sendirian di depan pagar orang, dengan seorang anak tiga tahun yang menunggu di rumah.
Kalau aku biarkan dia begini sampai sakit, aku bukan lebih bersih dari yang dulu. Aku cuma lebih pengecut. Batin Dion.
Dia mengambil lagi kunci gembok dari paku di dinding. Ibu kost sudah muncul di ujung tangga dengan daster dan rol rambut, mengangkat satu alis ke arah Dion, dan alis itu berarti: urus, atau saya yang urus dengan cara saya.
"Nest, ambil handuk. Yang paling besar."
"Lu gila?"
"Gue nggak bakal masuk ke mana-mana," kata Dion, dan memutar kunci. "Gue cuma mau dia berhenti kedinginan."
Pagar berderit terbuka, dan hujan menelan mereka berdua.