Ponsel di saku Dion bergetar ketika dia sedang antre di loket tata usaha fakultas dengan map hijau berisi berkas pendaftaran toga, dan nama yang muncul di layar membuatnya hampir menjatuhkan map itu ke lantai.
Fanya.
Tidak ada foto profil, hanya huruf F di lingkaran abu-abu. Pesan pertamanya sejak hujan di pos polisi bekas terdiri dari dua baris: Kantin fakultas. Jam tiga. Kalau Kakak bisa.
Dion membaca pesan itu sampai layar redup sendiri. Ibu-ibu di belakangnya mendorong bahu dengan map. "Mas, maju, Mas. Antreannya jalan."
"Maaf, Bu." Dion maju satu langkah. Jemarinya yang mengetik terasa seperti milik orang lain. Dia menulis Bisa, menghapusnya, menulis Bisa, Dek, menghapusnya juga, lalu mengetik satu kata yang paling tidak berbahaya: Bisa. Kirim.
Balasan tidak datang. Dia tidak mengharapkannya. Dia hanya berdiri di antrean dengan jantung yang berdebar seolah baru dikejar anjing.
**
"Nya, rambutmu kebalik."
"Hah?"
"Poni. Poni kamu kebalik, kayak habis ditiup kipas angin rusak." Mawar berdiri di depan Fanya di depan cermin toilet fakultas, menggenggam sisir kecil seperti ahli bedah. "Diam. Jangan gerak. Kamu tuh mau ketemu orang yang kamu putusin, bukan mau ujian praktik ahli bedah."
"Aku nggak putusin dia, War. Aku cuma ... minta waktu."
"Lima minggu kamu nggak mau lihat layar kalau namanya muncul, itu bukan minta waktu. Itu mogok." Mawar menyisir satu helai, mundur, memiringkan kepala. "Oke. Sudah. Kamu kelihatan seperti orang yang sehat, yang sudah makan, dan yang tidak menangis semalam."
"Aku memang tidak menangis."
"Tadi pagi kamu menangis di kamar mandi rumah sakit karena kehabisan sabun. Aku dengar."
Fanya menatap cermin. Wajahnya lebih kurus daripada bulan lalu, tapi matanya jernih. "Aku takut, War."
"Takut dia berbohong lagi?"
"Takut aku maafin dia terlalu cepat." Suaranya pecah sedikit. "Aku nggak mau jadi orang yang ... luluh karena kangen. Kalau luluh, yang kupercaya itu perasaanku, bukan dia."
Mawar menaruh sisir di wastafel dan memegang dua bahu temannya. "Kalau gitu jangan luluh. Dengerin aja. Dengerin, tapi jangan nilai dulu. Sama kayak dosen penguji. Kamu nggak bisa ngasih nilai sebelum presentasinya selesai."
Fanya tertawa pendek, serak. "Dosen penguji."
"Tapi kalau dia mulai ngerayu, kamu bilang 'cukup' dan pergi. Aku nunggu di bangku dekat tiang."
"Kamu jangan nguping."
"Aku nggak nguping. Aku cuma kebetulan duduk di kantin sambil membaca majalah." Mawar mengambil sesuatu dari tasnya: majalah bekas, terbalik. "Lihat. Sangat natural."
**
Kantin fakultas sudah sepi jam tiga sore. Hanya dua meja terisi, mahasiswa yang tertidur di atas laptop dan Bu Kantin yang menyeka wajan dengan gerakan melingkar. Dion datang paling awal, duduk di meja paling pojok yang menghadap tiang, dan tak berani memesan apa-apa karena tangannya masih gemetar.
Dia mendengar langkahnya sebelum melihatnya. Sepatu kets yang menepuk lantai dengan ritme yang dia hafal. Lalu Fanya berdiri di seberang meja, memegang tali tas dengan dua tangan, rambut diikat tinggi, tanpa senyum tetapi tidak juga marah.
"Silakan duduk," kata Dion, berdiri setengah lalu duduk lagi. "Maksudnya, Dek ... maaf. Maksudku ... Fanya."
"Kakak boleh panggil seperti biasa." Fanya duduk. "Tapi tidak sekarang."
Bu Kantin datang membawa dua gelas teh tanpa dipesan, meletakkannya, dan pergi tanpa bicara. Mungkin dia pernah muda juga.
Hening lama. Di ujung kantin mahasiswa itu mengorok pelan.
"Aku cuma mau tanya satu hal," kata Fanya akhirnya. Suaranya datar, tetapi tangannya meremas tali tas sampai buku jarinya memutih. "Aku sudah dengar dari Tante, dari Om Aaron, dari Abang, dari Mawar. Aku sudah baca suratmu enam kali. Tapi semuanya lewat orang lain. Aku mau dengar dari Kakak sendiri."
"Tanya saja."
"Kakak mencintaiku," ucapnya pelan, "atau hanya merasa bersalah?"
Dion tidak langsung menjawab. Itu, kemudian dia tahu, mungkin satu-satunya hal yang dia lakukan benar siang itu. Dia melihat teh di depannya, uap tipis yang naik. Dia melihat tangannya sendiri. Lalu dia melihat Fanya.
"Aku nggak tahu bagaimana memisahkan dua-duanya hari ini," katanya. "Dan aku nggak mau berbohong supaya jawabanku kedengaran lebih bagus. Rasa bersalah itu ada, dan akan ada lama. Mungkin seumur hidup. Itu bagianku."
Fanya tidak bergerak.
"Tapi aku bisa bilang apa yang aku tahu. Waktu aku di rumah simbah dan nyalain mesin bareng Bapak, yang pertama kali aku pikirin bukan 'aku harus nebus dosa'. Yang aku pikirin, 'pengin Fanya lihat ini'. Waktu sidang, waktu Pak Sanusi nanya soal etika, waktu Aaron bilang diterima. Aku mau ngasih tahu kamu, bukan karena aku mau dimaafkan, tapi karena kamu orang pertama yang kupikirin." Dia menggenggam gelas supaya tangannya berhenti gemetar. "Itu bukan rasa bersalah, Fanya. Rasa bersalah nggak bikin orang pengin nunjukin hasil kerjaannya."
Mata Fanya berkaca-kaca, tapi dia menggigit bibir dan menahannya.
"Aku juga mau bilang satu hal lagi. Aku pernah janji sama kamu, nggak macam-macam sampai kita nikah. Aku melanggarnya di hari yang sama aku bilang itu. Aku nggak akan ngulang janji itu sebagai kata-kata, karena kata-kataku udah murah di matamu." Dion menarik napas. "Yang bisa aku kasih sekarang cuma bukti. Dan bukti itu butuh waktu."
Hening. Mahasiswa itu terbatuk dalam tidurnya.
"Aku sudah menolak Kak Refi," ujar Fanya akhirnya. "Di rumah sakit, di depan Mama. Bukan untuk Kakak. Supaya jelas."
"Aku tahu. Mawar bilang." Dion tersenyum tipis, penuh luka. "Aku nggak berhak lega, tapi aku tetap lega."
"Abang juga bilang?"
"Hari Sabtu, di kost. Dia datang minta maaf soal pukulan dan tenggat."
Fanya mengerjap. "Abang ... minta maaf?"
"Tiga kali dia bilang bukan hakim. Terus pulang tanpa menyentuh tehnya." Dion menunduk. "Teh yang tidak kusediakan, tapi tetap saja."
Untuk sepersekian detik sudut bibir Fanya bergerak ke atas, lalu dia memaksanya turun lagi. Sulit sekali menahan senyum di depan orang yang belum dimaafkan.
"Jangan." Fanya mengusap sudut mata dengan punggung tangan. "Maaf. Eh. Bukan, aku nggak mau minta maaf." Dia menggeleng, setengah tertawa getir. "Susah banget berhenti."
"Aku suka kamu yang begitu," kata Dion sebelum bisa menahan diri, lalu menutup mulut. "Maaf."
"Kakak yang minta maaf sekarang?"
"Aku baru belajar dari kamu."
Fanya menarik napas panjang, panjang sekali, lalu menegakkan punggung; putusannya sudah ditimbang.
"Aku belum bisa memaafkan Kakak. Aku nggak tahu kapan. Mungkin lama, mungkin ... aku nggak tahu." Dia menatap tepat ke mata Dion. "Tapi aku mau melihat. Aku mau lihat Kakak mengerjakan apa yang Kakak bilang. Bukan karena kasihan. Bukan karena kangen. Karena aku ingin tahu sendiri."
"Itu lebih dari yang pantas aku terima."
"Syaratnya satu." Fanya berdiri, menyandang tas. "Kakak tidak mendekatiku. Tidak mencariku di kampus, tidak ke rumah Abang, tidak telepon, tidak titip lewat Mawar."
"Iya."
"Aku nggak janji kapan."
"Aku tahu."
Fanya memandangnya sekali lagi, lama, seakan menyimpan sesuatu di benaknya untuk dibuka kemudian. "Jangan temui aku sampai aku yang memanggil."
Dion mengangguk. Dia berdiri, merapikan kursi dengan hormat, lalu berjalan menjauh dari meja itu tanpa menoleh. Di tiang kantin, sebuah majalah terbalik bergetar sedikit, dan seseorang di baliknya tersedu tanpa suara.