Hujan Sabtu sore benar-benar turun, persis seperti ramalan Farish, dan Dion masih menyimpan bekasnya: sepatu yang belum kering sepenuhnya, jaket ojol hijau yang tergantung di paku dekat mesin bubut, dan batuk kecil yang dia sembunyikan dari Emak.
Senin pagi itu atap bengkel meneteskan sisa air ke ember bekas cat, tik, tik, tik, mengiringi bunyi pahat Pak Karto yang sedang menyelesaikan kaki lemari Bu Zubaedah. Dion duduk di bangku pendek dengan ponsel di tangan, dan baru saja membaca pesan masuk di akun Bengkel Jati Simbah untuk ketiga kalinya.
"Pak," panggilnya.
Bapak, yang sedang meminyaki roda gerinda dengan wajah orang bertemu teman lama, mendongak. "Hm?"
"Ada yang pesan."
"Pesan apa? Lemari lagi? Bu Zubaedah mau tambah satu buat anaknya?"
"Dua puluh kursi dan lima meja. Buat kafe baru di dekat kampus. Pemiliknya kenalan om Gilbert, katanya lihat foto lemari Bu Zubaedah dan suka motif melatinya." Dion menelan ludah. "Mau jadi tiga minggu."
Bapak berhenti meminyaki. Pak Karto berhenti memahat. Untuk beberapa detik, di bengkel itu hanya terdengar tik, tik, tik dari ember.
"Dua puluh," ulang Bapak.
"Kursi. Ditambah lima meja."
"Tiga minggu."
"Iya, Pak."
Bapak meletakkan kain minyak. Dia menatap Pak Karto, dan Pak Karto menatap balik dengan raut yang tidak berubah sedikit pun, tenang seperti air di sumur tua. "Bisa, Pak Devan," katanya pelan. "Asal kayunya cukup dan tidak ada yang pura-pura sakit."
"Kayu jatinya ada, Pak. Sisa dari gudang lama masih banyak." Dion berdiri. "Dan uang muka lima belas juta mereka kirim hari ini."
Bapak berdiri juga, lebih pelan, tapi punggungnya tegak. Dia berjalan ke dinding tempat pensil tukang tergantung berderet, memilih satu, lalu menyelipkannya di telinga seperti yang dulu dia lakukan di toko mebelnya yang besar. Gerakan itu begitu otomatis sampai Dion nyaris tidak percaya melihatnya.
"Gambar dulu, Yon. Ukurannya berapa, modelnya bagaimana. Bapak mau lihat sebelum kita sentuh satu pun kayu."
Dion menggambar di buku tulis bergaris sambil duduk berdempetan dengan Bapak di bangku panjang, dan dalam sepuluh menit buku itu sudah dicoret-coret dua tangan. Bapak mengambil pensilnya, mencoret sandaran kursi yang dibuat Dion tegak lurus, dan menggantinya dengan garis yang sedikit miring ke belakang.
"Tujuh derajat. Biar orang duduk satu jam nggak sakit punggung. Pembeli nggak akan sadar kenapa kursimu nyaman, tapi mereka bakal balik."
"Bapak ngomong kayak profesor."
"Bapak ngomong kayak orang yang dulu punya toko." Bapak tersenyum tipis, matanya tetap di kertas. "Puluhan tahun, Yon. Bapak nggak pernah belajar itu di kuliah. Dari salah, dari orang komplain, dari punggung Bapak sendiri."
Dion memandang goresan pensil itu seakan sedang membaca surat dari seseorang yang dia kira sudah lama berhenti menulis.
Sore itu bengkel berbau serbuk kayu dan teh panas. Menjelang magrib, dari arah jalan desa terdengar bunyi tiga motor yang tidak biasa, knalpot yang terlalu keras untuk jalan sekecil itu, dan sorak yang tidak mungkin berasal dari orang normal.
"DIOOON! Kami datang membawa bala bantuan!"
Ernest turun dari motor dengan helm masih menutup separuh wajah, diikuti Jovian yang membawa kardus mi instan dan Gilbert yang membawa tas kerja, entah mengapa. Udin turun terakhir dengan sebuah rantang dari Siti.
"Kami nginap," kata Ernest, mengangkat dagu seperti orang yang baru memenangi lotre. "Kami libur, skripsi udah kelar, dan kami punya sejuta keterampilan."
"Dan bawa mi instan," tambah Jovian, mengangkat kardusnya dengan dua tangan. "Itu kontribusi utama."
"Kalian tidur di mana?" tanya Bapak.
Empat pasang mata menoleh ke tumpukan karung bekas di pojok bengkel, lalu ke lantai berdebu, lalu ke Bapak dengan tatapan anak anjing.
"Silakan," kata Bapak, mengalah. "Tapi pagi-pagi bangun, ya. Ayam Bapak nggak sabar."
"Tadi katanya sejuta keterampilan," kata Bapak dari pintu bengkel. "Apa saja?"
Ernest berpikir. "Menempel stiker, Pak."
**
Dua jam kemudian, terbukti bahwa sejuta keterampilan itu sebagian besar adalah keterampilan menghalangi pekerjaan.
Gilbert dititipi tugas paling aman: memegang papan agar tidak bergeser selagi Pak Karto menggergaji. Begitu mesin gergaji menyala, dia menjerit, melepas papan, dan melompat ke belakang tumpukan karung beras. Papan itu jatuh tepat di jempol kakinya.
"Aduh, aduh, Pak Karto, tolong, aku mau mati!"
"Itu papan, Mas Gilbert," kata Pak Karto, tanpa menoleh. "Bukan gergaji."
Jovian ditugasi mengampelas kaki kursi dan hanya berhasil mengampelas lengan baju sendiri sampai berlubang. Udin, yang paling alim dan paling tenang, ternyata punya tangan yang tidak buruk; dia mengukur kayu dengan sabar, membuat Pak Karto mengangguk sekali, penghargaan tertinggi yang dia berikan.
Ernest bertugas merakit satu kursi percobaan. Dia duduk di atasnya untuk menguji kekuatan dan, tepat ketika dia berkata "Lihat, kokoh!", salah satu kaki lepas, dan kursi itu menelannya separuh badan, mengurungnya dengan sandaran dan dudukan dalam posisi yang tak mungkin dijelaskan.
"Tolong," katanya, dari dalam kursi. "Gue ... terjepit."
Bu Zubaedah, yang kebetulan melintas membawa gorengan sebaskom, berhenti di ambang bengkel dan tertawa sampai pinggangnya berguncang. "Yon, ini bengkel apa sirkus? Kalau begini terus, lemari Ibu jadi atau tidak?"
"Jadi, Bu!" jawab Dion sambil menarik tangan Ernest. "Minggu depan, janji!"
"Kalau lemari Ibu patah, kamu ganti dengan satu kursi. Tapi jangan yang itu." Dia menunjuk kursi yang baru saja memenjarakan Ernest. "Ibu nggak mau duduk di kursi yang lebih jago makan orang daripada nahan orang."
Tawa pecah di seluruh bengkel, bahkan Pak Karto menarik sudut bibirnya sedikit.
Larut malam, ketika genk sudah tergeletak di atas tumpukan karung dengan sarung pinjaman, dan Pak Karto sudah pulang berjalan kaki membawa senter kecil, Dion duduk sendirian di bangku depan dengan ponsel di tangan. Layarnya menampilkan notifikasi bank: uang muka dari pemilik kafe sudah masuk, lima belas juta rupiah. Dia membuka kolom transfer, mengetik nomor rekening yang sudah dia hafal dari mobil sedan itu, lalu menekan sepuluh juta.
Pesan konfirmasi muncul. Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar: Aaron.
Diterima. Terima kasih sudah tepat waktu.
Dion membaca dua kalimat itu berkali-kali, bukan karena panjang, melainkan karena nadanya. Empat puluh tujuh juta sampai Sabtu kemarin masih angka di dinding kamar kost; sekarang tinggal tiga puluh tujuh, dan ada nama yang bisa dia centang. Tidak ada pujian, tidak ada pengampunan. Hanya sebuah catatan, tepat seperti yang pantas, dan itu justru yang membuat dadanya longgar.
Langkah kaki terdengar di belakang. Bapak datang dengan dua cangkir teh dan duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa, menyodorkan satu cangkir. Mereka minum bersama dalam diam, memandang halaman gelap di depan bengkel dan lampu kuning rumah simbah yang menyala di kejauhan.
"Cicilan pertama?" tanya Bapak akhirnya.
"Iya, Pak. Sepuluh juta."
"Dari uang kerja?"
"Dari uang muka kafe. Uangnya bukan pinjaman, Pak. Hasil bengkel."
Bapak mengangguk lambat. Dia menyeruput tehnya sebelum berkata, dengan suara yang agak aneh, seperti kata-kata yang tersangkut lama di tenggorokan:
"Kamu mirip Bapak waktu muda."