Pukul setengah tujuh Sabtu pagi, ketukan di pintu kost Dion terdengar tiga kali, tertata, seperti ketukan seseorang yang sudah bergulat dengan dirinya sendiri sepanjang jalan.
Ernest yang membuka. Dia mengintip dari celah pintu dan langsung menutupnya lagi.
"Yon," bisiknya, "Farish."
"Farish yang mana?"
"Farish yang nonjok lu."
Hening setengah detik. Lalu Jovian, yang tidur di lantai dengan selimut menutupi kepala, bangkit seperti zombi dan menyambar penutup penanak nasi dari rak. "Perisai!" bisiknya, mengangkat penutup itu seperti tameng gladiator. Gilbert merangkak masuk ke kolong meja.
"Kalian ngapain?" tanya Dion dari kasur lipat.
"Berjaga-jaga!"
Dion menghela napas dan membuka pintu sendiri. Farish berdiri di sana dengan jaket gelap, dua tangan kosong di sisi badan, dan wajah yang sudah tidak sama seperti di tangga parkiran: lebih lelah, lebih jujur.
"Boleh saya masuk?"
"Silakan."
Farish masuk dan berdiri di tengah kamar. Dia memandang Jovian dengan penutup penanak nasi, Gilbert di bawah meja, Ernest yang buru-buru melipat selimut seolah itu bisa membuatnya kelihatan sopan. Salah satu sudut mulutnya naik, hampir tak terlihat.
"Saya cuma mau bicara dengan Dion. Lima menit."
Mereka menghilang dalam hitungan detik. Pintu menutup, dan dari baliknya terdengar bisik-bisik yang sama sekali tidak berbisik.
Mata Farish jatuh pada dinding. Pada kertas tulisan tangan berjudul DAFTAR YANG BELUM LUNAS, dan angka Rp 47.000.000 yang dicoret dua kali. Di sebelahnya ada tas ransel Dion yang sudah penuh, dengan sepotong kayu jati sisa menyembul dari ritsleting. Farish menatap kayu itu sebentar lalu mengalihkan pandangan, seperti melihat sesuatu yang bukan miliknya.
"Saya minta maaf," katanya.
Dion mengerutkan dahi. "Untuk apa?"
"Untuk pukulan di tangga parkiran. Untuk tenggat sampai Rabu. Untuk ancaman akan menghancurkan kamu." Dia menatap lurus. "Kamu bukan orang suci. Kamu salah, dan akan terus membayarnya. Tapi cara saya menghukum kamu itu salah. Saya bukan hakim. Dan waktu saya bertindak, saya belum tahu kamu tidak berbohong soal Adelia."
"Tidak perlu." Dion duduk di tepi kasur. "Saya pantas dapat lebih."
"Pantas atau tidak, itu bukan hak saya menentukan. Hukumanmu bukan dari saya. Itu urusan Fanya." Farish memasukkan tangan ke saku. "Dan Aaron, dan Papah saya kalau dia mau. Saya cuma kakak yang marah."
"Pukulan itu membuat saya berhenti menunda," kata Dion. "Kalau tidak dipukul, mungkin saya masih menunggu sampai Fanya tahu dari orang lain."
"Itu bukan alasan saya meninju." Farish nyaris tersenyum. "Tapi terima kasih sudah menjadikannya berguna."
Dari balik pintu terdengar benda jatuh, lalu bisikan: "Sstt!"
"Satu lagi." Farish menatap lantai. "Papah bilang pirnya enak."
Dion membeku. Farish tidak menunggu tanggapan.
"Cuma itu pesannya." Dia berbalik ke pintu. "Kamu mau ke kampung hari ini?"
"Iya."
"Hati-hati. Sore nanti hujan."
"Terima kasih, Pak Farish." Dion ragu sebentar, lalu memberanikan diri. "Boleh saya tanya satu hal? Tentang Fanya."
"Tidak." Farish menjawab cepat, tapi tidak keras. "Bukan karena saya melarang. Kalau kamu mau tahu tentang dia, itu urusan kamu dengan dia, bukan lewat saya."
Dion mengangguk pelan. Jawaban itu lebih adil daripada yang pantas dia terima.
Farish berhenti dengan tangan di gagang pintu. "Cukup Farish saja." Dia menoleh sedikit. "Belum waktunya yang lain."
Pintu terbuka dan tertutup. Kamar sunyi tiga detik. Lalu kepala Ernest muncul di balik pintu seperti jamur setelah hujan.
"'Belum waktunya yang lain,'" ulangnya. "Itu maksudnya apa?"
"Maksudnya 'Abang', Bego," bisik Gilbert dari kolong meja, suaranya serak oleh debu. "Dia nunggu waktunya lu boleh manggil dia Abang."
"Terus kenapa dia bilang 'belum'?"
"Karena lu belum lunas, Yon." Jovian meletakkan penutup penanak nasi ke kepalanya seperti helm. "Lu masih punya empat puluh tujuh juta. Itu aja intinya."
Dion tertawa, kecil, dan buru-buru menutup muka dengan tangan karena matanya basah lagi. Entah kenapa pagi itu apa saja bisa membuatnya begitu.
**
Pukul sepuluh, Adelia datang terlambat dua puluh menit ke kafe di gang belakang kampus. Farish sudah memesan dua gelas teh yang sekarang dingin tanpa pernah disentuh.
Dia memakai blus merah muda dan kacamata hitam yang tidak perlu, rambutnya terurai rapi. Senyum yang dia bawa dari pintu sampai meja sudah dilatih, manis dan sedikit manja, senyum yang selama ini membuat Farish rela menunggu.
"Maaf ya, Sayang, macet. Kok kamu tumben ngajak di sini, bukan di tempat biasa? Aku kangen, lho. Kamu nggak balas pesanku dua hari ..."
"Duduk, Adel."
Adelia berhenti. Nada itu bukan nada yang biasa. Dia menarik kursi dan duduk perlahan, melepas kacamatanya, lalu menyadari bahwa Farish tidak tersenyum dan tidak memegang tangannya.
"Kenapa?"
Seorang pelayan datang membawa menu, membaca suasana dengan sangat cepat, lalu mundur sambil membawa menunya seperti membawa bom yang batal meledak. Farish bahkan tidak menoleh.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku jaket, membuka satu gambar, dan meletakkan benda itu di tengah meja dengan layar menghadap Adelia. Tangkapan layar sebuah percakapan: ada nama Dion, ada angka Rp 10.000.000, ada kalimat Sabtu malam jam sembilan, atau fotonya sampai ke Farish.
Wajah Adelia tidak berubah. Itu yang paling mengerikan. Hanya tangannya yang menegang di pangkuan.
"Dari mana kamu dapat itu?"
"Dari orang yang memotretnya waktu kamu lupa mematikan layar." Farish bicara pelan, seperti membacakan hasil laboratorium. "Kamu memeras Dion. Kamu mengirim foto itu kepadaku sebagai ancaman, dan kamu duduk di depanku malam itu dengan wajah menyesal sambil bilang 'aku cuma pengen kamu tahu kebenarannya'."
"Itu salah paham, Rish. Aku cuma ..."
"Jangan bohong lagi." Farish mengangkat satu tangan. "Aku tidak minta penjelasan. Aku minta kamu mendengar. Waktu foto itu datang, aku hampir membunuh seseorang. Aku meninju orang yang tidak melawan. Dia berdiri, mengaku, dan masih sempat menyebut namamu sebagai pemeras. Waktu itu kukira itu pembelaan murahan." Dia menelan sesuatu. "Ternyata dia yang jujur. Aku yang buta."
"Dia pembohong! Dia tidur dengan tantemu, dia ..."
"Itu benar. Dan dia akan terus membayar mahal untuk itu. Tapi itu tidak membuat kamu bersih."
"Aku bisa jelaskan soal Dion. Dia yang menggodaku dulu ..."
"Dia menolakmu. Itu bukan menggoda, Adel. Itu menolak." Farish menggeser ponsel itu satu senti ke arahnya. "Aku mencintaimu dulu, atau kukira begitu. Aku tidak tahu apakah aku mencintai orang yang kamu pura-purakan atau kamu yang sebenarnya. Yang jelas, aku tidak bisa terus bersama seseorang yang memeras orang lain lalu menjadikanku pemukulnya."
Air mata Adelia datang, bening, tepat waktu. Farish tahu persis air mata itu bisa dikeluarkan dan ditahan sesuka hati. Dulu dia pernah kalah oleh air mata semacam ini.
"Aku sayang kamu, Rish. Beneran. Aku cuma kesal, aku cuma ..."
"Kamu kesal, lalu kamu memeras orang." Farish menggeleng. "Itu bukan kesal. Itu sifat."
"Kamu cuma cari alasan karena adikmu ..."
"Aku cari alasan sejak sebulan lalu." Farish berdiri. "Dan akhirnya ketemu. Kita selesai."
Dia meletakkan selembar uang di bawah gelas teh dan berjalan keluar. Di belakangnya terdengar kursi bergeser keras, lalu suara Adelia melengking: "Kamu akan menyesal, Farish!"
Di ambang pintu dia berhenti sebentar dan menjawab, tidak keras, tidak menoleh.
"Mungkin. Tapi bukan karena kamu."
Kabar itu sampai ke fakultas Senin pagi, dibawa Mawar seperti membawa roti panas: Adelia mengajukan surat pindah kampus. Syahnaz berdiri mematung di koridor dan tidak membalas satu pun pesan.