Papah tidak mau duduk di kursi roda yang diantar perawat. Dia berjalan sendiri, satu tangan di tiang infus dan satu tangan di bahu Fanya, sampai ke bangku besi di ujung lorong yang menghadap jendela besar dan pohon mangga di halaman bawah. Mama mengikuti dua langkah di belakang, lalu berhenti ketika Papah mengangkat telapak tangan tanpa menoleh.
"Ma. Biar Papah bicara berdua dulu."
"Pah, tapi ..."
"Ma."
Mama menutup mulut. Refi mengangguk sopan kepada Papah, menyentuh siku Mama pelan, dan membawanya menjauh ke arah mesin kopi. Dari ujung mata Fanya melihat Mama masih menoleh ke belakang tiga kali sebelum menghilang di tikungan.
Di dekat mesin kopi, Mama menekan tombol yang salah dan mengeluarkan minuman cokelat panas yang tidak dia inginkan. "Nak Refi, maafkan Fanya. Dia sedang ... dia memang keras kepala dari kecil."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Tante." Refi mengambil gelas itu dari mesin dan menyodorkannya. "Tante sudah dua hari tidak makan teratur, kan? Cokelat panas ini lumayan."
Mama menerimanya sambil memandang pemuda itu seperti baru melihat bahwa dia bukan proposal bisnis.
Papah duduk dengan susah payah, seolah tulang-tulangnya baru dipasang kembali dan belum sepenuhnya kencang. Dia menarik napas panjang, lalu memandang pohon mangga itu cukup lama.
"Papah tidak bisa menunggu sampai pulang untuk bilang ini," katanya. "Siapa tahu nanti tidak sempat."
"Papah, jangan bilang begitu."
"Dengar dulu." Dia menepuk punggung tangan Fanya. "Usaha Papah hancur bukan karena nasib, Nak. Papah serakah. Papah mau cepat besar, mau punya cabang di mana-mana, mau Mama bisa pakai gelang yang lebih tebal. Papah pinjam ke tempat yang bunganya mencekik, dan waktu hitungannya meleset Papah menutup lubang itu dengan lubang yang lain." Dia tersenyum getir. "Itu salah Papah. Bukan salah kamu. Dan bukan alasan untuk menukar anak Papah dengan jaminan."
Fanya menggigit bibir. Dia ingin bilang sesuatu, apa saja, tapi tenggorokannya terlalu sempit.
"Mama kamu itu tidak jahat," lanjut Papah. "Dia takut. Dulu dia diajari kalau tidak punya uang itu hina, dan waktu Papah jatuh, dia tidak tahu caranya tidak takut." Papah berhenti, batuk pendek. "Tapi takut itu bukan alasan menjual anak, Nak. Jangan pernah izinkan siapa pun bilang begitu, termasuk Papah."
"Papah tidak pernah bilang begitu."
"Papah tidak menolaknya juga, lima bulan terakhir." Mata Papah berkaca-kaca. "Diam itu juga ikut menjual."
Angin menggerakkan daun mangga di bawah. Seorang anak kecil di halaman menjerit-jerit mengejar burung merpati yang tidak tertarik.
"Papah," kata Fanya pelan. "Soal pir tadi."
Papah tertawa kecil, lalu menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Orang tua boleh menebak, kan? Anak muda yang waktu itu mencuci sendiri kemejanya sebelum makan malam di rumah Tantemu. Papah dengar apa yang Tantemu bilang di ruang tamu. Papah dengar semuanya, Nak, dan itu bukan hal yang bisa Papah anggap kecil."
Fanya menunduk.
"Papah tidak membelanya. Dia salah, dia sendiri bilang begitu, dan salahnya bukan kecil. Tapi kalau harus memilih, Papah pilih yang jujur." Dia mengangkat dagu Fanya dengan satu jari yang kurus. "Yang sempurna itu bisa dibeli, Nak."
"Aku belum tahu apa dia jujur, Papah."
"Betul. Karena itu jangan terburu-buru. Tapi juga jangan menutup mata cuma karena takut." Papah menyandarkan punggung. "Itu saja. Sekarang Papah mau tidur. Dan kalau Mama tanya, bilang Papah menyuruhmu makan."
**
Jumat sore, Refi datang lagi dengan kemeja yang sama, kali ini membawa map biru dan sebuah buket kecil yang jelas dipilih orang yang tidak biasa membeli bunga.
Mama menyambutnya di pintu bangsal dengan senyum yang terlalu lebar, tapi Refi tidak membalasnya. Dia mengangguk, mendekati tempat tidur Papah, dan berdiri tegak seperti anak sekolah di depan kepala sekolah.
"Om, saya tidak datang untuk menyulitkan Om atau Tante. Saya datang dengan tawaran, dan Om bebas menolak." Dia meletakkan map di meja. "Ayah saya punya skema pembiayaan usaha kecil. Ada jaminan, ada bunga wajar, ada jadwal angsuran yang bisa dinegosiasikan. Urusan ini terpisah dari pernikahan, juga terpisah dari Fanya. Saya sudah bilang ke Ayah, dan Ayah setuju. Ini murni urusan bisnis dua orang yang sudah lama saling kenal."
Papah memandang map itu, memandang Refi, memandang istrinya. "Nak Refi. Om tidak bisa membalas kebaikan ini dengan anak Om."
"Memang tidak perlu, Om." Refi tersenyum samar. "Ini bukan kebaikan. Ini pinjaman. Ada tanda tangan, ada bunga, ada tanggal jatuh tempo. Kalau terlambat, Ayah saya akan menelepon seperti bank lain. Bedanya, dia menelepon dengan sopan."
Papah tertawa, terbatuk, dan tertawa lagi. Mama berdiri kaku di dekat jendela. Dia menatap map itu, menatap punggung Refi yang tegak, menatap suaminya, dan dia, yang biasanya punya jawaban untuk segala hal, kali ini tak punya satu kalimat pun.
"Om pikirkan dulu," kata Papah akhirnya. "Setelah pulang dari sini. Terima kasih, Nak."
Refi mengangguk dan pamit. Di ambang pintu dia menoleh sekilas ke arah Fanya yang duduk di bangku, lalu keluar tanpa kata.
Ketika pintu menutup, Mama akhirnya bicara, pelan, tanpa menatap siapa pun. "Jadi sekarang Mama yang kelihatan jahat."
"Mama tidak jahat," jawab Fanya. "Mama cuma takut. Papah yang bilang."
Mama memutar kepala, memandang suaminya yang pura-pura sudah tidur dengan mata terpejam rapat dan senyum yang sama sekali tidak meyakinkan, lalu mendengus. Bunyinya hampir seperti tawa. Hampir.
**
Malam itu, setelah Mama pulang ke rumah dan Farish mengambil giliran jaga di bangsal, Fanya duduk di tangga darurat rumah sakit dengan ponsel di lutut. Sepi. Lampunya hanya sebuah bohlam kuning yang berdengung.
Dia membuka pengaturan, membuka daftar kontak yang diblokir. Hanya ada satu nama di sana. Dia memandangnya cukup lama, lalu menekan layarnya dengan ibu jari yang terasa bukan miliknya.
Buka blokir?
Ya.
Tanpa bunyi, tanpa getar, nama itu hanya berpindah ke daftar biasa, seolah tak pernah dipindahkan ke mana-mana. Fanya membuka profilnya. Foto di sana: motor matic kecil berdebu parkir di depan pintu kayu yang terbuka lebar, cahaya sore jatuh miring di atas ambangnya. Status kosong. Terakhir dilihat: tadi sore.
Dia tidak mengetik apa pun. Dia mengeluarkan selembar kertas bergaris dari saku jaket, yang sudah dilipat dan dibuka begitu sering sehingga lipatannya hampir putus, lalu membacanya sekali lagi di bawah bohlam. Tiga kalimat. Dia hafal semuanya.
Kalimat ketiga: dia akan diam, kecuali Fanya yang memanggil lebih dulu.
Fanya menyimpan kertas itu kembali, menyimpan ponsel ke saku, dan duduk lama sambil memeluk lutut di tangga yang dingin. Pintu darurat di atasnya berderit.
"Di sini kamu." Farish turun dua anak tangga dengan kantong plastik berisi dua bungkus nasi. Dia melihat ponsel yang sudah disimpan, melihat mata adiknya, dan tidak bertanya. "Papah nyariin. Pirnya habis, katanya. Minta lagi."
"Pir?" Fanya mengusap pipi dengan lengan jaket. "Dia kan baru dikasih tadi siang."
"Katanya yang kemarin bagus. Dia mau yang sama." Farish duduk di sebelahnya, menyodorkan sebungkus nasi. "Besok kamu yang beli. Pilihin satu-satu."