Pukul tujuh pagi Fanya mendorong pintu bangsal dengan mata sembap dan satu keputusan yang matang semalam, di antara bunyi mesin-mesin yang berdengung tanpa henti: hari ini dia berhenti mengangguk.
"Papah, jangan makan pakai tangan kiri," tegur Farish dari kursi di sudut, yang sedang memakan jeruk Papah dengan tangan kiri sendiri. "Kata dokter, tangan kiri harus istirahat."
"Tangan kiri Papah istirahat dari tadi. Tangan kanan yang kerja." Papah menyendok bubur dari mangkuk plastik dengan wajah tersiksa, dipaksa makan makanan bayi. Kulitnya masih pucat, infus menempel di punggung tangan, tapi matanya sudah kembali cerewet. "Bubur ini nggak ada rasanya, Rish. Kamu cicip."
Farish mencicip dengan hati-hati. "Ada. Rasa harapan."
"Harapan siapa?"
"Harapan perawat supaya Papah cepat pulang."
Fanya tertawa, pendek, dan itu terasa seperti membuka jendela di ruangan pengap. Dia meletakkan tas, mencium tangan Papah, dan mengambil bangku. Di meja samping tempat tidur ada keranjang buah dengan pita merah muda yang sudah layu, separuh apel dan jeruknya sudah hilang. Papah baru saja memotong sebuah pir dengan pisau kecil, dan sedang mengunyahnya pelan-pelan dengan wajah sangat puas.
"Pir ini enak," kata Papah. "Matang. Yang beli pasti memilih satu-satu."
Fanya dan Farish bertukar pandang. Farish buru-buru memasukkan satu juring jeruk ke mulut supaya tidak harus menjawab apa-apa.
"Perawat bilang," lanjut Papah, tanpa menoleh, "pria kurus, pakai jaket hijau. Tidak mau sebut nama."
"Papah ...," mulai Fanya.
"Papah tidak bertanya apa-apa." Papah menggigit pir lagi. "Papah cuma bilang pir ini enak."
Dia tersenyum kecil dan menyodorkan satu potong ke arah Fanya. Fanya menerimanya, menahannya di tangan sampai terasa dingin, dan tidak berani memakannya.
Mama masuk sepuluh menit kemudian dengan tas, map administrasi, dan bau parfum yang jelas dia pakai untuk menutupi malam tanpa tidur. Dia mencium kening Papah, mengerutkan dahi melihat mangkuk yang masih separuh isi, lalu memberi isyarat pada Fanya dengan satu gerakan dagu. Keluar.
**
Lorong rumah sakit itu panjang dan terlalu terang. Dua kursi besi berderet di bawah poster cuci tangan, dan di ujungnya Refi berdiri bersandar ke dinding, memegang dua gelas kopi dari mesin otomatis. Dia menegakkan badan begitu melihat Mama, lalu menyodorkan satu gelas.
"Terima kasih, Nak Refi." Mama menerimanya, tak meminumnya. Dia menatap Fanya. "Duduk."
"Aku berdiri saja, Mama."
"Duduk, Fanya."
"Aku berdiri."
Mama menarik napas melalui hidung. Di bawah matanya ada kantung gelap yang tidak bisa ditutup bedak. Enam hari lalu dia menampar adiknya sendiri di ruang tamu, dan sejak itu tak seorang pun berani bertanya apakah dia sempat makan. "Baik. Dengar. Dokter bilang Papahmu butuh ketenangan. Ketenangan itu apa? Ketenangan itu artinya tidak ada yang mengancam dari luar. Bank. Penagih. Surat-surat bertanda merah. Semua itu selesai kalau pertunangan kalian jadi dengan keluarga Nak Refi, minggu depan. Kita majukan, tidak perlu menunggu sampai bulan depan. Papahmu pulang dari rumah sakit ke rumah yang tenang."
Fanya memandang Refi. Dia menunggu pria itu berkata sesuatu: mengoreksi, menolak, meminta Mama berhenti. Refi hanya menatap lantai.
"Mama," kata Fanya, "aku tidak akan bertunangan dengan Kak Refi."
Refi tidak terkejut. Itu yang paling aneh. Dia hanya menutup mata sebentar. Kemungkinan ini sudah lama dia hitung.
"Kamu bilang apa?" tanya Mama.
"Aku bilang tidak. Bukan karena Kak Refi tidak baik. Kak Refi baik, sangat baik. Aku cuma tidak mencintai Kak Refi, dan itu bukan sesuatu yang bisa aku bayar dengan keadaan rumah ini." Suaranya gemetar, tapi tidak mundur. "Maaf, Mama. Tapi aku tidak bisa."
"Kamu meminta maaf sambil menolak?" Mama tertawa kering. "Kamu pikir sopan santun menyelamatkan Papahmu dari bank?"
"Tidak, Mama. Tapi aku sudah pernah menyelamatkan sesuatu dengan cara berbohong, dan hasilnya hampir sama buruknya." Fanya menelan ludah. "Aku bohong ke Mama sebulan lalu tentang siapa perempuan itu, supaya rumah ini tenang. Mama lihat sendiri apa yang terjadi di ruang tamu. Papah rubuh bukan karena kejujuran, Mama. Papah rubuh karena rumah ini terlalu lama menyimpan banyak hal yang tidak ada yang berani bilang."
Mama menatapnya seperti menatap orang asing berwajah anaknya.
"Kamu berani menyalahkan Mama?"
"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku cuma tidak mau menambah satu rahasia lagi di rumah itu, yang namanya pertunangan." Fanya mengangkat dagu. "Itu bukan jawabanku untuk Kak Refi saja. Itu jawabanku untuk semuanya."
"Kalau kamu menolak, Papahmu tidak selamat dari bank, Fanya. Itu faktanya. Mama sudah hitung, sudah ke sana, sudah ..." Mama berhenti, membuang pandangan. "Kamu pikir Mama mau menjual anak sendiri? Mama mau menyelamatkan rumah yang kita punya."
"Rumah itu bukan nyawa Papah, Mama."
"Kamu pikir kamu tahu apa tentang nyawa?" Nada Mama naik. "Kamu kerja di kasir toko buku tiga sore seminggu, dan kamu pikir itu cukup membayar bunga bank?"
"Aku akan cari tambahan. Aku bisa bekerja sambil kuliah." Fanya menghirup napas. "Aku jual laptopku kalau perlu. Aku pernah dengar ada beasiswa karyawan. Aku akan ..."
"Kamu akan, kamu akan, kamu akan!" Mama menutup mulut dengan tangan, lalu menurunkannya lagi. "Selalu begitu. Anak yang tidak pernah melihat dunia. Kamu pikir cinta bisa dimakan?"
"Aku tidak dijual, Mama!"
Teriakan itu memantul di lorong. Seorang perawat yang mendorong troli obat berhenti, mengangkat telunjuk ke bibir, dan berbisik tegas, "Ibu, tolong pelan-pelan. Pasien jantung di kamar ujung."
Mama memerah sampai ke telinga. Dia mengatupkan bibir. Refi, yang sejak tadi tak bicara, melangkah setengah langkah ke depan.
"Tante, boleh saya bicara?"
"Nak Refi, ini urusan keluarga ..."
"Saya tahu. Karena itu saya ingin bicara dengan jujur, sekali ini saja." Dia menyentuh bingkai kacamatanya. "Fanya, saya tidak menagih apa pun dari kamu. Saya sudah bilang itu, dan saya ulangi. Kalau Om perlu bantuan, saya akan cari jalannya, bukan dengan cincin. Saya tidak mau jadi alasan kamu merasa terjebak."
Mama menoleh cepat, wajahnya antara tak percaya dan terhina. "Refi, kamu ..."
"Maaf, Tante. Tapi saya lebih suka salah sekarang daripada benar tapi dibenci seumur hidup oleh istri saya sendiri."
Mama membuka mulut dan tidak ada yang keluar. Fanya belum pernah melihat Mama kalah berdebat dengan orang yang disiapkannya sebagai menantu.
Hening yang janggal turun. Fanya merasakan matanya memanas, bukan karena sedih, melainkan karena dia tak tahu harus berterima kasih kepada siapa. Dia membuka mulut untuk mengucapkan kalimat apa pun yang bisa menyelamatkan situasi ini.
"Fanya."
Suara itu datang dari belakang mereka, serak dan pelan, seperti selimut tipis yang ditarik menutupi bahu. Papah berdiri di ambang pintu bangsal, bersandar pada tiang infus yang dia dorong sendiri sampai lorong. Piyama rumah sakitnya longgar di badan, dan satu tangannya berpegangan pada kusen.
"Pah!" Mama menyambar, separuh marah separuh takut. "Kenapa turun dari tempat tidur? Dokter bilang ..."
"Dokter juga bilang jangan ada yang berteriak di lorong." Papah memandang istrinya dengan sorot yang sudah lama tak Fanya lihat, lembut dan keras sekaligus. "Papah dengar semuanya, Ma. Dari bantal. Pintunya tipis."
Dia melepaskan kusen, menyeret tiang infus selangkah, dan mengulurkan tangannya yang kurus.
"Fanya," ulangnya. "Kemari, Nak. Papah mau bicara."