Zain mengetuk pintu kost Dion pukul tujuh kurang sepuluh, dengan kemeja bank yang sudah disetrika, tas kerja di bahu kiri, dan amplop cokelat setebal bantal kecil di tangan kanan.
Yang membukakan pintu bukan Dion. Jovian berdiri di ambang pintu dengan sikat gigi di mulut dan rambut seperti sarang burung, menatap amplop itu, menatap Zain, lalu menutup pintu lagi dan berteriak ke dalam kamar, "Ernest! Ernest, ada penagih utang! Bawa amplop segede itu!"
"Buka, Jov," terdengar suara Dion dari dalam. "Itu abang gue."
"Abang lu bawa uang segede itu pagi-pagi, Yon? Itu bukan abang, itu penyelundup."
Pintu terbuka lagi dengan agak malu-malu. Zain masuk sambil melepas sepatu, memandang kamar sempit itu dengan mata pegawai bank yang terbiasa menilai agunan: kasur lipat, dua tas ransel, setumpuk draf skripsi yang dijepit klip, dan di dinding sebuah kertas tulisan tangan berjudul DAFTAR YANG BELUM LUNAS. Di baris paling bawah, satu angka dicoret dua kali: Rp 47.000.000.
"Gue cuma sepuluh menit," kata Zain. "Duduk, Yon. Kalian bertiga, jangan nguping dengan terang-terangan."
Ernest, Jovian, dan Udin, yang sedari tadi memasang telinga di pintu kamar mandi yang terbuka tiga senti, serempak menjauh.
Zain duduk di tepi kasur lipat, meletakkan amplop di pangkuan Dion, dan mengeluarkan dari tas sebuah map plastik lain. Isinya selembar formulir bermeterai, sudah diketik rapi dengan dua kolom tanda tangan.
"Dua puluh lima juta," katanya. "Tabungan yang gue sisihin dari gaji sejak Emak sama Bapak bangkrut. Yang gue bilang ke lu waktu di kampung, bagian dari kesepakatan itu. Dulu gue siapin buat 'kalau lu jatuh beneran'. Gue pikir lu belum jatuh, gue salah. Lu udah jatuh dan bangun sendiri. Jadi ini buat modal bengkel."
Dion menatap amplop itu tanpa menyentuhnya. "Gue nggak mau ini jadi hadiah."
"Gue tahu. Makanya ada formulir." Zain mengetuk kertas itu. "Pinjaman modal usaha. Tanpa bunga, jatuh tempo kapan lu mampu, bukan kapan gue butuh. Gue ketik tadi malam di kantor, pakai format yang biasa gue kasih ke nasabah. Jangan senyum."
"Gue nggak senyum."
"Alis lu senyum."
Dion mengambil pulpen dari saku Zain dan menandatangani kolom peminjam dengan tangan yang tidak gemetar. Zain membubuhkan tandanya di kolom lain, menyobek lembar tembusan, dan menyodorkannya kepada adiknya. Sebelum Dion mengambilnya, dia menahan kertas itu sebentar.
"Satu lagi, Yon. Waktu lu lari dari rumah, gue berpikir lu bakal balik dalam seminggu. Gue nunggu sebulan. Gue nggak pernah bilang, tapi gue salah ngerti lu. Lu bukan anak yang butuh dipaksa mandiri. Lu butuh dipercaya."
"Itu bukan salah lu doang." Dion mengambil lembar tembusan. "Bapak sama Emak juga. Gue juga."
"Jangan bikin gue terharu pagi-pagi. Gue harus ke kantor." Zain berdiri, memakai sepatu dengan wajah yang jelas-jelas sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dia akui. Di ambang pintu dia berhenti. "Dan kalian bertiga, jaga adik gue. Kalau kalian bikin dia nyolong, gue bikin kalian nyicil."
"Siap, Bang!" jawab ketiganya.
Pintu menutup. Hening sebentar. Lalu Jovian bergumam, "Itu bank yang paling menyeramkan yang pernah gue temui."
Dion membuka amplop dan menghitung dua kali, tangannya agak kaku. Ernest, yang sudah lupa pura-pura tidak mendengar, merangkul bahunya dari belakang.
"Masuk rekening utang, Yon?"
"Bukan." Dion menggeleng. "Itu rekening buat Aaron, uangnya dari Sanny. Ini beda. Ini rekening bengkel." Dia menulis di buku catatan UTANG hitam itu, di halaman paling baru: PINJAMAN ZAIN, Rp 25.000.000, TANPA BUNGA, TIDAK BOLEH DIPAKAI UNTUK APA PUN KECUALI KAYU, MESIN, DAN UPAH.
"Gue buatin stikernya," tawar Ernest dengan wajah sungguh-sungguh. "BENGKEL, BOLEH DISENTUH TAPI HATI-HATI."
"Gue yang pegang," sahut Udin cepat, sebelum yang lain sempat berdebat soal siapa yang boleh menyentuh apa. Dia menarik amplop itu pelan dari tangan Dion dan menyimpannya di bawah bantal seperti pengantin baru yang paham arti kepercayaan. "Orang yang punya istri biasanya lebih jago nyimpen duit."
Tiga pasang mata menatapnya dengan skeptis, dan Udin menambahkan, "Siti yang ngajarin."
**
Kafe itu berada dua blok dari kampus Fanya, sempit dan harum kopi, dengan kursi kayu yang bergoyang tiap kali orang duduk. Fanya datang lebih dulu, memilih meja di pojok jendela, dan sudah menghabiskan setengah gelas teh susu ketika Aaron masuk, menunduk di ambang pintu karena kepalanya hampir menyentuh lonceng.
Sejak Aaron mengirim pesan semalam, Fanya sudah tiga kali mengganti pakaian. Akhirnya dia memakai kemeja polos yang sama seperti kemarin, karena dia ingin kelihatan seperti dirinya sendiri dan bukan seperti anak yang berusaha baik-baik saja.
Pesan Aaron kepada pelayan butuh waktu tiga kali pengulangan: air putih dingin, tanpa es. Pelayan itu menatapnya seperti menatap alien yang sopan.
"Terima kasih sudah datang, Fanya," katanya setelah duduk. "Bagaimana Papahmu?"
"Sudah di bangsal sejak Sabtu, Om. Dokter bilang paling cepat sepekan lagi pulang. Papah sudah minta nasi goreng." Fanya nyaris tersenyum. "Mama menolak."
"Papahmu orang baik. Tolong sampaikan, saya mendoakan beliau."
"Om yang minta. Aku yang harusnya terima kasih." Fanya meremas serbet. "Maaf. Aku tidak bermaksud ..."
"Kamu tidak perlu minta maaf, bahkan untuk hal itu." Aaron tersenyum samar. "Saya tidak lama. Ada satu hal yang saya mau sampaikan, dan setelah ini kamu bebas menganggapnya penting atau tidak."
Fanya menunggu.
"Dion datang kepada saya hari Minggu itu sendiri." Aaron mengatur gelas air di depannya supaya sejajar dengan tepi meja. "Dia menunggu di pos satpam dua jam. Dia membawa buku catatan asli, dan salinannya, supaya saya bisa menyimpan salah satunya. Sebelum saya bertanya apa pun, dia sudah bilang bahwa tidak ada yang memaksa. Dia tidak memakai nama Tante kamu sebagai tameng. Dan nama kamu, Fanya, dia yang sebutkan lebih dulu, saya tidak bertanya."
Fanya tidak bergerak.
"Saya tidak membelanya," lanjut Aaron. "Dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia sendiri mengakuinya. Saya hanya menyampaikan, karena saya pikir kamu berhak tahu bahwa laki-laki itu datang bukan karena ketahuan, melainkan karena dia memilih."
"Itu tidak menghapus dosanya, Om."
"Betul."
Jawaban itu begitu cepat dan begitu tenang sehingga Fanya sempat mengira dia salah dengar. "Betul?"
"Betul. Tidak menghapus. Tidak mengurangi. Tidak membuat kamu wajib melunak." Aaron menyentuh gelasnya, belum minum. "Saya tidak ke sini minta kamu memaafkan dia. Saya ke sini karena sepekan lebih lalu saya jadi orang yang paling tidak tahu apa pun di rumah saya sendiri, dan saya tidak mau kamu merasakan hal yang sama. Kamu boleh marah. Kamu boleh menghitung sendiri berapa lama. Saya hanya ingin kamu punya kebenaran lengkap, bukan separuhnya."
Di luar jendela, seorang tukang parkir meniup peluit dan sebuah truk kecil mundur dengan susah payah. Fanya memandangnya sampai truk itu lurus.
"Kirana tanya Kak Anya lagi tadi pagi," kata Aaron akhirnya, lebih pelan. "Saya bilang kamu sedang menyelesaikan sesuatu yang besar. Itu tidak bohong."
"Terima kasih, Om." Suaranya serak. "Salam buat Kirana."
Aaron berdiri, meletakkan uang di bawah gelas yang masih penuh, dan menunduk hormat. Sesudahnya dia pergi tanpa menoleh, dengan langkah orang yang sudah melepas sesuatu yang berat dan tahu masih ada yang lebih berat menunggu.
Fanya duduk sendirian. Teh susunya sudah dingin. Dia mengeluarkan ponsel, membuka kolom pencarian pada layar kontak, dan mengetik empat huruf: D-I-O-N. Kursor berkedip di ujung. Ibu jarinya melayang beberapa senti di atas tombol cari.
Dia menghapus keempat huruf itu satu per satu, lalu menatap layar yang kosong.