"Jangan gerak, Yon. Dasi lu miring dua senti ke kiri."
Gilbert berdiri di atas bangku taman depan ruang sidang supaya setinggi leher Dion, dengan dua jari menjepit ujung dasi hitam pinjaman Udin dan wajah sekhusyuk orang menjinakkan bom. Senin pagi itu koridor fakultas masih lengang. Di ujung lorong, dua mahasiswa semester satu berhenti membuka kulkas minuman untuk menonton mereka.
"Gue bukan mau nikah, Gil," kata Dion.
"Sama aja. Sama-sama satu orang berdiri sendirian di depan sekumpulan orang yang bakal menilai dia seumur hidup."
"Itu bukan hiburan."
"Memang bukan. Itu fakta." Gilbert melepas jarinya dan turun dengan hati-hati. "Sudah. Lu kayak calon menteri."
Ernest menyodorkan sebotol air mineral, Jovian menyodorkan permen pelega tenggorokan yang bungkusnya sudah lecek, dan Udin, yang sudah lebih dari sebulan menjadi suami orang, membawa sesuatu di dalam plastik kresek: tiga potong roti isi buatan Siti dan secarik kertas bertuliskan tangan, Semoga lancar, Kak Dion. Jangan lupa makan.
Dion membaca kertas itu dua kali. Dua hari lalu dia mengira tidak akan ada seorang pun yang menulis sesuatu untuknya lagi.
"Makasih, Din."
"Jangan berterima kasih ke gue. Bilang ke Siti." Udin menepuk bahunya. "Dan Yon. Sabtu siang sampai Minggu kemarin lu nggak keluar kamar. Gue ke kamar lu, lu lagi ngetik. Itu bagus. Tapi jangan lupa ini bukan hukuman."
"Gue tahu."
"Lu yakin tahu?"
Ponsel Dion bergetar di saku. Satu pesan dari nomor Bapak, ditulis dengan huruf besar semua karena Bapak masih curiga huruf kecil itu pelit: DOA DARI BENGKEL. MESIN BAPAK NYALAKAN BIAR RAME. JANGAN GROGI. Di bawahnya, pesan kedua dari Emak, yang cuma berisi tiga tanda hati dan satu gambar ayam.
"Itu ayam apa?" Jovian mengintip.
"Ayam yang disimpan Bapak buat gue," jawab Dion, dan dia tersenyum, yang pertama sejak lorong rumah sakit itu, dan kali ini sampai ke mata.
Pintu ruang sidang terbuka. Seorang asisten dosen menyebut nama lengkapnya, Zayn Dion Krismeinda, dan Dion menarik napas satu kali sebelum melangkah masuk.
**
Ada tiga penguji di balik meja panjang. Di tengah dosen pembimbing perempuan paruh baya berkacamata tebal, yang tadi pagi sempat memberi tatapan kau-masih-hidup-rupanya. Di kirinya, seorang dosen berkumis tipis yang belum pernah Dion lihat, sibuk mencoret sesuatu. Dan di kanannya, dengan jas yang terlalu rapi untuk pukul sembilan pagi, Pak Sanusi.
Dion membuka presentasi dengan suara yang agak serak, lalu makin tenang di halaman keempat. Dia menjelaskan latar masalah, metode, dan temuan seperti seseorang yang sudah mengulanginya sendirian di kamar kost sambil menatap dinding. Dosen berkumis menanyakan dua hal tentang sampel, dan Dion menjawab dengan angka yang dia hafal. Ibu pembimbing hanya mengetuk meja satu kali di tengah jawaban, tanda dia puas. Dion belajar membaca ketukan itu dalam tiga puluh detik, seperti belajar bahasa asing langsung di tempat. Dua ketukan artinya ulangi. Satu artinya lanjut.
Lalu giliran Pak Sanusi. Dia berdehem terlalu keras.
"Saudara Dion. Saya ... saya tidak akan bertanya soal rumus." Dia membetulkan dasi yang sudah lurus. "Saya ingin bertanya soal etika. Bab lima Saudara menyebut kejujuran data sebagai syarat kesimpulan yang sah. Pertanyaan saya: dalam proses mengumpulkan data ini, apakah ada keputusan yang Saudara ambil karena kepepet, dan seandainya ada, apa yang Saudara lakukan?"
Ruangan seketika sunyi. Dosen berkumis mengangkat kepala. Ibu pembimbing menurunkan pulpennya pelan-pelan, sedang menimbang apakah pertanyaan itu pertanyaan penguji atau sesuatu yang lain.
Dion memandang Pak Sanusi. Pria itu menghindari matanya, memandang map di meja seakan ada tulisan penting di sana.
"Ada, Pak," jawab Dion.
Pak Sanusi mengerjap. "Ada?"
"Ada. Di bab tiga saya menghapus dua responden karena jawabannya terlalu aneh dan tidak cocok dengan hipotesis saya. Waktu itu saya pikir tidak ada yang akan tahu." Dion menegakkan punggung. "Satu minggu sebelum draf diserahkan saya sadar itu salah. Saya masukkan kembali, saya hitung ulang, dan hasilnya sedikit lebih jelek. Saya biarkan jelek. Itu yang tertulis di halaman lima puluh dua, Pak, di catatan kaki."
Dosen berkumis membalik ke halaman itu, membaca, dan mengeluarkan bunyi dari hidungnya yang sulit ditafsirkan. Ibu pembimbing mengambil pulpen lagi.
"Saya belajar," lanjut Dion lebih pelan, "bahwa jalan pintas selalu kelihatan seperti bantuan di awal. Biayanya baru ketahuan belakangan, dan biasanya jauh lebih besar dari yang dihemat. Saya masih membayar beberapa biaya itu sekarang, Pak. Tapi skripsi ini bukan salah satunya."
Pak Sanusi diam lama. Jakunnya naik turun. Ketika dia akhirnya bicara, suaranya berubah, tak lagi seperti dosen yang sedang menunjukkan wibawa. "Itu ... jawaban yang jujur. Cukup. Saya tidak punya pertanyaan lagi."
Tiga puluh menit kemudian Dion berdiri di lorong menunggu keputusan dengan tangan yang tak berhenti membuka-tutup. Pintu terbuka, Ibu pembimbing keluar dengan map di dada, memandangnya dari atas bingkai kacamata.
"Lulus dengan revisi. Seminggu. Yudisium Jumat depan, wisuda periode ini tiga minggu lagi." Dia berhenti, lalu menambahkan, hampir seperti keluhan, "Ini revisi paling ringan yang pernah saya tulis untuk mahasiswa yang pernah menghilang seminggu. Jangan kecewakan saya."
"Tidak, Bu. Terima kasih, Bu."
Belum sempat selesai, lorong pecah. Jovian melompat dari bangku sambil menjerit seperti penonton bola, Gilbert menangis tanpa sebab yang jelas, Ernest meninju udara tiga kali, dan Udin memeluk Dion dari belakang sampai tulang rusuknya berbunyi. Dua mahasiswa semester satu tadi bertepuk tangan tanpa tahu mengapa.
"Gue lulus," kata Dion, hampir tak percaya. "Gue lulus!"
"Lu lulus dengan revisi seminggu, tapi lulus!" teriak Ernest.
"Itu artinya lulus!" balas Jovian.
Pintu ruang sidang terbuka lagi dan Pak Sanusi melangkah keluar dengan tas jinjing. Dia melihat lima pemuda dalam kerumunan itu, berhenti mendadak, dan wajahnya memucat sampai cocok dengan dasinya.
Ernest menjadi sunyi lebih dulu. Dia mundur selangkah dari Dion, menegakkan badan, dan mengambil ponsel dari saku celana dengan gerakan yang jauh lebih serius daripada biasanya.
"Pak Sanusi. Sebentar."
"Saya ... saya ada rapat, Dik."
"Dua menit, Pak." Ernest membuka satu folder dengan nama "Tugas Kuliah Statistik", mengetuk satu berkas, mengangkat layar supaya Pak Sanusi dan Dion bisa melihat, lalu menekan ikon tempat sampah. Dia mengonfirmasi hapus. Membuka folder sampah. Menghapus lagi. "Selesai. Saya sudah tidak punya salinannya di mana pun. Cloud juga sudah."
Pak Sanusi menatap ponsel itu seakan dia tak mengerti.
"Saya malu, Pak," ucap Ernest, lebih pelan daripada yang pernah Dion dengar darinya. "Waktu itu saya menyebutnya gertakan. Sebenarnya itu pemerasan. Saya minta maaf. Saya cuma mau Bapak tahu saya sudah berhenti."
Lama sekali tak ada yang bicara. Lalu Pak Sanusi mengulurkan tangan, bukan kepada Ernest, tetapi kepada Dion, dengan canggung, jelas jarang melakukannya.
"Selamat, Saudara Dion. Nilai Anda ... sebenarnya tidak bisa saya ubah. Jadi aman."
Dion menjabat tangan itu. Tangan Pak Sanusi basah. "Terima kasih, Pak."
Dosen itu mengangguk dua kali dan pergi cepat-cepat dengan langkah yang hampir seperti lari. Di belakangnya Jovian berbisik, "Itu tadi pengampunan atau serangan jantung?"
"Jov!" desis Udin.
Dion tertawa. Pendek, lega, lalu berhenti sendiri. Dia memandang ujung lorong, tempat lantai putih berkilat memantulkan lampu. Di bayangannya ada satu orang yang seharusnya berdiri di sana dengan rambut diikat tinggi dan hampir pasti akan berkata, Selamat ya, Kak. Maaf kalau aku tidak bisa datang tepat waktu.
Dia mengerjap, dan lorong itu hanya lorong.
"Yon." Ernest menepuk punggungnya. "Ayo. Lu nangis di depan fakultas, nanti orang kira lu nggak lulus."