Ambulans datang dalam sebelas menit, dan sebelas menit itu terasa lebih lama daripada seluruh bulan lalu.
Jam-jam sesudah ambulans pergi habis untuk formulir, uang muka, dan menunggu. Sekarang pukul sembilan malam di IGD. Lantai berbau karbol, lampu neon berkedip pada satu sudut yang tak pernah diperbaiki, dan di balik tirai hijau di ujung ruangan seseorang sedang bekerja pada Papah dengan suara-suara pendek yang tidak dimengerti Fanya: "tekanan", "enzim", "pasang jalur". Dia duduk di kursi plastik biru dengan jaket kuliah yang masih berbau rumah Mama. Di sebelahnya Mama duduk tegak, tas di pangkuan, memandang tirai itu seperti memandang pintu surga yang belum tentu terbuka.
Sejak turun dari ambulans Mama hanya bicara kepada petugas pendaftaran, itu pun cuma nama dan tanggal lahir.
"Mama," panggil Fanya pelan. "Mau teh?"
"Tidak."
"Mama belum makan dari siang."
"Mama bilang tidak, Fanya." Mama menarik napas pendek. Gelang emasnya sudah dilepas dan digenggam di tangan kiri, entah sejak kapan. "Kamu pikir Mama bisa makan?"
Farish berdiri tak jauh dari tirai dengan tangan di saku, seperti satpam yang tidak tahu harus menjaga apa. Berjam-jam lalu dia menggendong ayahnya dari karpet ke ambulans bersama petugas. Sekarang bajunya masih kusut di bagian bahu.
Dari ujung lorong terdengar langkah cepat. Aaron muncul dengan Sanny di belakangnya, baru sempat datang setelah Kirana dititipkan. Mama menoleh, melihat adiknya, dan menegakkan punggung sampai terlihat sakit.
"Pulang, Sash."
"Mbak, aku ..."
"Pulang." Mama tidak menaikkan suara, dan justru karena itu semua orang di ruang tunggu menoleh. "Mbak tidak mau melihat muka kamu di tempat ini. Kalau Papah selamat, Mbak urus kamu. Kalau tidak ..." Kalimat itu menggantung, lalu jatuh tanpa ujung.
Aaron memegang siku istrinya. "Biar saya antar dia pulang, Mbak. Saya akan kembali sendiri. Untuk biaya, tolong izinkan saya ..."
"Tidak perlu," potong sebuah suara dari belakang.
Refi berdiri di ambang pintu IGD dengan kemeja yang dikancing sampai atas dan map plastik di tangan. Kacamata tipisnya sedikit berembun. Siapa pun belum memanggilnya. Fanya baru ingat Mama menelepon seseorang saat di ambulans, dua kalimat pendek, dan nama yang disebut itu bukan nama dokter.
"Tante, Fanya." Dia mengangguk. "Saya sudah bicara dengan bagian administrasi. Ayah saya kenal direktur rumah sakit ini, jadi kamar kelas satu disiapkan kalau dokter memutuskan Om dirawat. Uang muka saya urus. Tante tidak perlu memikirkan itu malam ini."
Semua diam. Aaron menarik tangannya dari siku Sanny, memberi anggukan kecil yang sopan kepada Refi, lalu membawa istrinya pergi sebelum Mama sempat membuka mulut lagi. Sanny menoleh dua kali. Sanny tak dibalas siapa pun.
"Terima kasih, Nak Refi," ucap Mama, dan suaranya malam itu akhirnya terdengar seperti suara manusia. "Terima kasih."
Fanya memandang lantai. Jangan terharu pada kebaikan yang juga merupakan tali. Pikir Fanya. Tapi dia juga tidak bisa membencinya. Refi sudah berjalan ke meja administrasi dengan langkah lurus orang yang tahu apa yang harus dikerjakan, dan itu yang paling menyebalkan: celah untuk membencinya pun tak ada.
Pukul sebelas, seorang dokter perempuan keluar dari balik tirai dengan masker diturunkan ke dagu. "Keluarga pasien yang datang dengan ambulans dari rumah?"
"Kami." Mama sudah berdiri sebelum nama itu selesai diucapkan.
"Serangan jantung ringan. Ada penyumbatan di satu pembuluh, tapi kami sudah menanganinya tepat waktu. Beliau sadar, stabil, dan akan diobservasi dulu. Besok kalau tidak ada perubahan, pindah ke bangsal." Dokter itu memandang Mama lama. "Ibu, saya tidak tahu apa yang terjadi di rumah tadi. Yang saya tahu, jantungnya butuh ketenangan. Jangan ada pertengkaran di dekat Bapak. Jangan ada beban pikiran yang diumbar di depannya. Ibu mengerti?"
Mama diam sebentar, lalu mengangguk. Fanya memperhatikan bahu wanita itu turun beberapa senti, dan tahu dia sedang menelan sesuatu yang rasanya pahit dan tidak punya nama.
Jam dinding menunjuk hampir tengah malam ketika perawat mengizinkan satu orang masuk. Mama berdiri lebih dulu. Di pintu dia menoleh, dan untuk sesaat Fanya mengira dia akan berkata sesuatu yang lembut.
"Kamu lihat sendiri akibatnya," kata Mama. "Kalau semua orang di rumah itu hanya mau menurut kata hatinya sendiri."
Pintu menutup. Fanya tidak membalas. Dia tahu kalimat itu dilempar bukan untuknya saja, tapi untuk Tante Sashi, untuk Dion, mungkin untuk Mama sendiri. Dia duduk lagi di kursi biru, dan Farish duduk di lantai bersandar ke dinding, menyelonjorkan kaki di jalan perawat sampai ditegur dua kali.
"Bang. Abang tidur dulu."
"Abang tidur kalau Papah sudah bisa mengomel lagi."
Satu jam kemudian, saat Farish akhirnya terlelap dengan dagu di dada, Fanya mengetik pesan pendek kepada Mawar dengan jempol yang terasa tebal: Papah serangan jantung. Sudah stabil. Jangan bilang siapa-siapa dulu ya, War. Pesan itu terkirim. Dia memandang layar sampai padam sendiri, lalu tidur sebentar dengan kepala di bahu bangku.
**
Mawar mengetuk pintu kost Dion pukul enam pagi dengan kepalan yang lebih mirip tinju daripada ketukan.
"Kak Dion! Bangun! Aku tahu kamu di dalam, motormu masih ada!"
Pintu terbuka. Dion berdiri dengan mata merah, kaus terbalik, dan rambut yang menolak bekerja sama. "War? Ada apa, ini hari Sabtu, belum jam ..."
"Papahnya Fanya masuk rumah sakit tadi malam." Mawar menyodorkan ponsel. Layarnya menampilkan pesan Fanya pukul satu dini hari, yang berakhir dengan permintaan jangan bilang siapa-siapa. "Aku nggak nyuruh kamu apa-apa. Aku cuma nggak bisa nyimpan ini sendiri. Rumah sakit yang dekat kampus itu, lantai tiga."
"Aku nggak boleh datang," kata Dion pelan.
"Memang nggak boleh." Mawar melipat tangan. "Tapi aku juga nggak bilang apa-apa tentang jam besuk. Selamat pagi."
Satu jam kemudian Dion berdiri di lobi lantai tiga dengan sekeranjang buah yang menghabiskan seluruh isi dompetnya hari itu. Apel, jeruk, pir. Dia menghitung isi dompetnya tiga kali, dan tiga kali pula penjualnya memandang jaket ojol hijau itu dengan iba. "Yang kecil saja, Mas, dua puluh ribu," tawar si penjual. Dion menggeleng. "Yang besar, Pak. Yang kalau ditaruh di meja, kelihatan ada yang peduli." Di tengah lorong ada perawat jaga di balik meja kaca.
"Selamat pagi, Sus. Titip ini. Untuk pasien serangan jantung yang masuk semalam, kamar observasi."
"Dari siapa, Mas?"
Dion menelan ludah. "Dari orang yang tidak perlu disebut namanya, Sus. Terima kasih."
Dia berbalik. Mulai menyusuri lorong menuju lift. Dan di ujung lorong, di depan pintu kamar yang bertuliskan OBSERVASI, berdiri seorang perempuan mungil dengan rambut diikat tinggi dan gelas teh plastik di tangan. Fanya.
Waktu seakan berhenti selama satu detik penuh. Mata Fanya lebih sembap dari yang Dion bayangkan. Bibirnya terbuka sedikit. Dia tidak menjerit, tidak menangis, tidak menyuruh pergi. Dia hanya menatap, mengenali wajah yang lama hilang tapi tidak tahu harus menaruhnya di mana.
Dion mengangguk. Satu kali, pelan, seperti pamit. Lalu dia membelok ke lift dan pintu logam itu menutup di belakangnya.
Fanya masih berdiri di sana ketika langkah berat berhenti di sampingnya. Farish memegang keranjang buah itu di dua tangan, pita merah mudanya miring.
"Perawat bilang seorang pria kurus pakai jaket hijau," kata Farish. "Tidak mau menyebut nama."
Fanya tidak menjawab.
"Abang taruh di kamar Papah."
"Kalau Mama tanya?"
"Abang bilang dari tetangga." Farish menimbang keranjang itu sebentar, lalu menatap lift yang sudah kosong. "Atau biar Papah yang bilang sendiri."
Dia berjalan ke pintu OBSERVASI sambil memeluk keranjang seperti membawa bayi orang lain. Di jari kelingkingnya masih menempel bekas selotip dari harga yang belum sempat dicabut: seratus empat puluh ribu rupiah. Fanya yang membacanya dari belakang, dan baru pada angka itu dia tahu sebesar apa Dion menukar harinya.