Sepanjang jalan di taksi daring, Farish memeriksa ponselnya sebelas kali dan Fanya menghitung rumah-rumah di kiri jalan supaya tidak menghitung detik. Dua-duanya gagal. Waktu taksi berhenti di depan pagar hitam yang catnya mulai mengelupas, Farish mengulurkan uang tanpa mau menerima kembalian, lalu berdiri lama di trotoar seperti orang yang ragu masuk ke kandang sendiri.
"Abang takut sama Mama?" tanya Fanya.
"Abang takut sama Mama kalau Mama sedang benar." Farish menarik napas. "Hari ini Mama belum tentu benar. Itu yang bikin Abang lebih takut."
Mama membuka pintu sebelum Farish sempat mengangkat tangan untuk mengetuk, dan hal pertama yang dia lakukan adalah memeriksa jam di pergelangan kirinya, bukan memeluk anak perempuannya.
"Jam dua belas lewat sepuluh. Mama bilang jam dua belas." Pandangannya naik-turun pada Fanya, mencatat rambut yang hanya diikat, jaket kuliah yang pudar, dan sepatu yang jelas bukan sepatu baru. "Kamu kurus. Tinggal sama abangmu itu kamu makan apa, mi instan?"
"Telur dadar, Mama. Kadang pakai bawang," jawab Fanya.
"Pantas." Mama mendecak. "Sudah kamu pikirkan soal Refi? Bulan ini Papahmu harus ketemu bank lagi, dan Mama tidak mau mendengar alasan 'belum siap'."
"Ma," kata Papah dari ruang tengah, lemah. "Anaknya baru masuk pintu."
"Justru karena baru masuk, biar langsung tahu rumah ini lagi berdiri di atas apa."
"Kalau mau pulang, pulang saja. Rumah ini tidak ke mana-mana." Mama berbalik masuk, lalu berseru ke ruang tengah. "Pah, anak-anak sudah datang!"
Ruang tamu rumah itu masih seperti terakhir kali Fanya ingat, lengkap dengan lemari kaca berisi piala-piala bola Papah yang jarang dilap dan sofa beludru yang terlalu mahal untuk diduduki. Papah duduk di ujungnya dengan sarung kotak-kotak, memegang remote tanpa menyalakan televisi. Badannya sudah sangat kurus, jauh dibanding foto di dinding. Dia terbatuk dua kali, mengangkat tangan sebagai tanda tidak apa-apa, dan tersenyum kepada Fanya dengan seluruh wajahnya.
"Nak."
"Papah." Fanya memeluknya lama dari samping. Bau minyak angin dan sabun murah, bau yang selalu menenangkan.
Di meja sudah ada kue lapis legit dalam kotak impor dan teh yang diseduh dengan teko mahal. Farish mengambil sepotong tanpa permisi, dan Mama memelototinya seakan dia mengambil perhiasan.
"Itu untuk tamu."
"Tamu siapa, Mama?"
"Tantemu mau datang. Katanya ada yang penting." Mama mengibaskan tangan. "Pasti soal Kirana. Atau soal rumah, Aaron itu kan sudah lama tidak ..."
Bel berbunyi. Farish berhenti mengunyah. Fanya merasakan tangan Papah di punggungnya mengeras sedikit, entah karena batuk atau karena sesuatu yang lain.
Aaron dan Sanny masuk bersama. Mama langsung menyambut, mencium pipi adiknya dengan cipika-cipiki cepat, dan mengerutkan dahi. "Sash, kamu kurus sekali. Kamu sakit?"
"Tidak, Mbak." Sanny tidak mau duduk. Dia berdiri di tengah ruangan, di antara sofa dan meja kaca, dengan tas di dua tangan seperti perisai. "Mbak, Mas. Aku mau cerita. Tolong dengar sampai habis. Setelah itu terserah apa yang Mbak lakukan."
Mama menaikkan sebelah alis. "Kalau soal uang, Sash, Mbak sudah bilang, kita sedang susah."
"Bukan uang."
Lalu Sanny bercerita. Tanpa pembukaan, tanpa alasan.
"Namanya Dion. Umurnya dua puluh satu." Suaranya tidak naik dan tidak turun. "Aku bertemu dia di tempat gym beberapa bulan lalu. Aku yang mendekati dia, Mbak, bukan dia. Lalu apartemen. Lalu uang."
Papah menutup mata. Mama tidak bergerak.
"Aku tahu dia pacar Fanya sejak malam sebelum akad Udin, dari foto di ponsel Fanya. Paginya aku berdiri di bawah tenda pink dan pura-pura baru pertama kali melihat dia." Sanny menelan ludah. "Aku tahu, dan aku diam. Itu salahku. Bukan salah Fanya."
Dia tidak memperhalus satu kata pun.
Ruangan hening.
Mama berdiri perlahan. Wajahnya tidak berubah ke merah atau pucat, hanya mengeras.
"Kamu bilang apa?"
"Dia ... orang yang Fanya ..."
"Pacar Fanya." Mama mengucapkannya satu suku kata demi satu suku kata. "Anak ojek itu. Satpam club malam itu. Yang duduk makan di rumahmu dan dengan sopan bilang 'terima kasih, Tante.' Dan kamu, Sashi, adikku sendiri, yang tidur dengan ..." Dia berhenti. Menoleh pada Fanya. "Kamu tahu?"
"Aku tahu sejak Dion cerita sendiri, Mama. Di hari aku pergi dari rumah Tante."
"Kamu bilang tidak tahu siapa perempuannya."
"Aku bohong." Fanya menggenggam tepi jaketnya. "Aku tidak mau Mama tahu. Aku tidak mau Mama menyalahkan Tante di depan Kirana."
"Menyalahkan." Mama tertawa kecil, tak ada senang di dalamnya. Lalu dia melangkah, tiga langkah lebar yang membuat gelang emas di tangannya bergemerincing, dan sebelum siapa pun sempat bergerak, telapak tangannya mendarat di pipi Sanny.
Plak. Bunyinya lebih keras daripada yang bisa ditahan ruangan itu.
Fanya menutup mata sepersekian detik. Dia pernah menampar orang di pos polisi bekas, di bawah hujan, dan masih ingat bunyinya. Bunyi ini sama, hanya lebih tua. Tak ada satu pun orang di ruangan ini yang merasa menang.
Sanny tidak mengelak. Kepalanya terayun ke samping, rambut sanggulnya longgar satu helai, lalu dia menegakkan lagi punggungnya. Tidak menyentuh pipi. Tidak membalas.
"Mbak ...," bisik Aaron, maju satu langkah. "Saya sudah tahu semuanya sejak Sabtu lalu. Saya yang menyuruh Sanny datang hari ini."
"Kamu sudah tahu, dan kamu tidak marah?"
"Saya marah, Mbak. Hanya saja marah saya bukan untuk dilampiaskan di ruang tamu ini."
"Jangan ikut campur." Mama menunjuknya tanpa menoleh. "Kamu suami macam apa, Aaron? Biarkan istri ditinggal tiga bulan sekali sampai dia mencari pengganti ..."
"Mbak, itu bagian saya," potong Aaron, pelan. "Kita bicarakan nanti. Saya akan mendengar semuanya. Tapi bukan sekarang."
"Kamu!" Mama kembali menghadap Sanny, napasnya memburu. "Dia anak laki-laki, Sash. Mahasiswa. Dua puluh satu tahun. Kamu tiga puluh lima. Kamu tante dari pacarnya! Dan dia ..." Mama menarik napas dalam sampai pundaknya naik. "Anak itu. Pemuda tak tahu malu itu. Satpam, ojek, dan sekarang peliharaan perempuan bersuami! Dia mengambil uang kamu, mengambil anakku ..."
"Mama," ucap Farish.
"... mengambil anakku untuk dibuat main-main, dan aku, aku yang mengundangnya makan malam! Aku yang membiarkannya duduk di meja Sashi dan bilang 'bekerja itu bukan hinaan' ..."
"Itu Papah yang bilang, Mama," kata Fanya lirih.
"Diam, Fanya!"
"Ma." Suara Papah. Rendah dan serak. Remote itu sudah jatuh dari tangannya. "Sudah ... Ma ... jangan di depan ..."
Mama tidak mendengar. Dia berbalik menghadap adiknya lagi, mengangkat tangan sekali lagi, dan Aaron bergerak hendak menghalangi. Saat itulah Fanya melihat wajah Papah.
Warnanya sudah berubah. Bibirnya abu-abu. Tangan kanannya menekan dada, jari-jari menggali kain sarung kotak-kotak itu seperti ingin merobeknya, dan matanya mencari Fanya, bukan Mama, bukan siapa pun.
"Papah?"
Papah membuka mulut. Tidak ada suara keluar. Tubuh kurus itu condong ke depan, melewati tepi sofa beludru, dan jatuh pelan ke arah karpet.
"Papah!"
Farish yang paling cepat. Dia menyambar bahu ayahnya sebelum kepala itu menyentuh karpet, membaringkannya miring, dan menyobek kancing kemeja di leher dengan tangan yang tiba-tiba tidak gemetar sedikit pun. Aaron sudah memegang ponsel di telinga dan menyebut alamat rumah itu dengan suara orang yang terbiasa memberi alamat di keadaan genting. Fanya berlutut di sisi kepala Papah, menggenggam tangan yang dingin dan basah itu, dan hanya bisa mengulang "Pah, Pah, Pah" seperti anak kecil yang baru belajar satu kata.
Sanny berdiri membeku dengan satu pipi merah. Mama tidak lagi berteriak.
"Pah ...," katanya, jauh lebih kecil, kepada tubuh yang tidak menjawab. Gelang emasnya berhenti bergemerincing. "Aku belum selesai bicara, Pah," bisiknya.