Tiga hari yang Aaron berikan habis pada Kamis sore, dan Fanya dapat giliran pertama karena kata Aaron, dialah yang paling terluka, bukan yang paling kuat.
Bel rumah Farish berbunyi dua kali, pendek-pendek, sopan sekali. Fanya sedang mengupas bawang di dapur sempit itu. Satu-satunya sayur di kulkas Abang adalah sisa wortel yang sudah melengkung, jadi malam ini menunya telur dadar lagi, dengan bawang sebagai pengganti rasa percaya diri.
"Biar Abang yang buka," kata Farish dari ruang tamu. Lalu hening. Terlalu hening untuk tamu biasa.
Fanya melongok. Di ambang pintu berdiri Om Aaron dengan kemeja abu-abu yang disetrika rapi, dan di sebelahnya Tante Sashi. Blus putih, rambut disanggul sederhana, tanpa lipstik. Wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dibanding waktu menurunkan Kirana dari mobil dulu.
"Tante," ucap Farish. Datar. Tidak mempersilakan masuk, tidak juga menutup pintu.
"Kami mau bicara dengan Fanya, Farish," kata Aaron pelan. "Kalau kamu mau duduk bersama kami, silakan. Saya malah berharap begitu."
Farish menoleh ke arah dapur. Fanya meletakkan pisau, mengelap tangan di celana, dan mengangguk satu kali. Pintu pun terbuka lebar.
"Maaf, rumahnya berantakan," kata Fanya spontan, lalu menggigit bibir. Kebiasaan jelek, ini bahkan bukan salahku. Batin Fanya. "Silakan duduk, Om. Tante."
Teh disajikan Farish dalam gelas bekas selai karena gelas yang bagus tinggal dua dan keduanya sudah dipakai kakaknya sendiri entah kapan. Aaron menerima gelas itu dengan dua tangan dan berkata terima kasih seolah itu porselen. Sanny tidak menyentuh gelasnya. Dia duduk di ujung sofa dengan punggung tegak dan tangan terlipat di pangkuan, memandang Fanya seperti orang yang sudah menghafal kalimat, lalu lupa semuanya begitu pintu terbuka.
"Anya," katanya akhirnya. Suara serak itu tidak serak seperti biasa. Lebih pecah. "Tante tidak akan mulai dengan 'tapi'."
Fanya tidak menjawab.
"Tante tahu siapa pacar kamu sejak Jumat malam sebelum akad Udin. Kamu menunjukkan fotonya di dapur sambil tertawa, dan Tante lihat wajah itu, dan Tante tahu. Tante tidak bilang apa-apa. Besok paginya Tante berdiri di tangga memakai kebaya hijau dan membiarkan kamu memperkenalkan dia kepada Tante seakan-akan kami belum pernah bertemu." Sanny menarik napas yang bergetar. "Itu keputusan Tante. Bukan salah Dion, bukan salah kamu, bukan salah siapa pun."
Fanya ingat foto itu. Ingat tawanya sendiri di dapur, adonan kue di ujung jari, dan Tante yang berkata "Oh, ya?" sambil memegang ponsel agak lama. Waktu itu dia mengira Tante cuma kagum pada lesung pipi pacarnya. Dasar bodoh, pikir Fanya, bahkan sekarang pun hal paling mengganggunya adalah betapa jelas semuanya kalau dilihat mundur.
"Tante yang menahan dia," lanjutnya. "Dia minta berhenti. Tiga kali di depan Tante, mungkin empat. Tante bilang akan membongkar semuanya kalau dia pergi. Dia tidak pernah menyentuh Tante lagi setelah tahu siapa kamu, Anya. Dia mengembalikan uang yang Tante kasih, dan Tante yang menolak menerimanya. Tante ingin kamu tahu itu bukan untuk membela dia. Tante mengatakannya karena itu kenyataan."
Di kursi plastik dekat pintu, Farish menahan napas lewat hidung, panjang, seperti orang yang menghitung sampai sepuluh dan baru sampai tujuh.
Aaron meletakkan gelasnya. "Saya ingin menambahkan satu hal, Fanya. Saya sudah tahu semuanya sejak Sabtu lalu, dan kamu berbohong kepada saya di rumah. Saya tidak marah soal itu. Kamu berusaha melindungi tantemu dan anak saya, dan itu bukan dosa." Dia berhenti sebentar. "Tapi kamu tidak perlu lagi menanggung ini sendirian. Apa pun yang muncul dari urusan ini, utang, nama baik, omongan orang, kabar yang sampai ke kampus kamu, itu saya yang pikul. Bukan kamu. Bukan Dion lebih dari yang sudah dia bayar."
"Utang apa, Om?"
"Yang dia kembalikan kepada saya Minggu lalu." Aaron menatapnya lurus. "Seratus sebelas juta, dan sebuah kotak. Sisanya dia cicil."
Aaron mengusap wajah. "Satu lagi. Kirana bertanya tiap malam kapan Kak Anya pulang. Saya bilang Kak Anya sedang sibuk kuliah. Saya tidak tahu sampai kapan alasan itu bertahan, dan saya tidak mau berbohong kepada anak saya lebih lama daripada yang perlu."
Fanya menunduk. Jadi Dion benar-benar melakukannya, atau begitulah kata orang-orang yang kini berusaha jujur kepadanya. Fanya belum memutuskan percaya yang mana. Di pangkuannya jari-jarinya saling mencengkeram. Tidak ada yang bicara. Di luar, motor tukang sate lewat dan bel dagangannya terdengar seperti ejekan.
"Tante," katanya. Dia mengangkat wajah. Matanya kering. "Ini untukku? Atau untuk Kirana?"
Sanny tersentak. Aaron tidak.
"Maksud Fanya?" tanya Sanny, nyaris berbisik.
"Tante datang minta maaf karena Tante merasa bersalah kepadaku, atau karena kalau aku diam, rumah Tante selamat dan Kirana tetap punya mama?" Suaranya tidak naik sedikit pun. "Dua-duanya boleh. Aku cuma mau tahu yang mana duluan."
Lama. Jam dinding yang Farish beli di pasar loak berdetak terlalu keras.
"Dua-duanya," kata Sanny. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia tidak menyekanya. "Dan Tante tidak bisa bilang mana yang duluan. Kalau Tante bilang untuk kamu saja, itu bohong. Tante sudah cukup berbohong."
Fanya mengangguk perlahan. Jawaban itu menyakitkan, tapi tidak bisa dia bantah.
"Aku belum bisa memaafkan Tante," ujarnya. "Aku belum tahu kapan. Tapi aku dengar. Terima kasih sudah datang sendiri." Dia terdiam, lalu menambahkan lirih, "Maaf, aku tidak ada jawaban yang lebih baik."
"Jangan minta maaf, Anya." Suara Sanny retak. "Kamu yang paling tidak boleh."
Fanya baru sadar tangan Tante Sashi gemetar. Kuku-kukunya, yang biasanya merah menyala dan runcing seperti senjata, kini dipotong pendek dan polos. Entah sejak kapan. Dia ingin merasa menang melihatnya, dan tidak bisa. Yang dia rasakan cuma capek, capek yang tua sekali untuk anak sembilan belas tahun.
"Om Aaron," katanya, tanpa menoleh. "Kirana jangan dibohongi lama-lama. Tapi jangan juga diceritakan sekarang."
"Saya mengerti," jawab Aaron. "Terima kasih, Fanya."
Farish mendengus dari kursinya, pendek, antara lega dan jengkel. Mungkin dia sendiri tidak tahu yang mana.
**
"Cukup, Tante."
Farish sudah berdiri. Tinggi badannya memenuhi ruang tamu mungil itu, dan rahangnya mengeras. Suaranya tetap pelan, dan justru itu yang membuat Aaron ikut berdiri.
"Saya tahu Tante datang dengan niat baik," katanya. "Saya tahu juga Tante sudah bilang yang benar. Tapi adik saya sudah dengar semua yang perlu dia dengar hari ini, dan saya tidak mau dia disuruh memilah perasaan di rumah yang atapnya saya yang bayar. Silakan pulang."
"Rish ..."
"Pulang, Tante."
Aaron menyentuh siku istrinya. Sanny bangkit, memandang Fanya sekali lagi dengan tatapan yang ingin menyentuh tapi tidak berani. Di ambang pintu dia berhenti.
"Besok siang Tante ke rumah Mbak," ucapnya tanpa menoleh. "Tante yang cerita sendiri. Tante beri tahu kamu sekarang supaya kamu tidak mendengarnya dari orang lain. Kalau kamu mau hadir, Tante tidak akan melarang. Kalau tidak, Tante juga mengerti."
Aaron mengangguk sopan pada Farish, pada Fanya, lalu menutup pintu pelan dari luar. Sedan itu menyala dan menjauh. Tinggal bau bawang di dapur dan tiga gelas teh di meja, satu belum diminum sama sekali.
Farish menjatuhkan diri ke sofa dan menutup muka dengan dua tangan. "Abang hampir lupa cara bernapas."
"Kelihatan," kata Fanya. Dia mengambil gelas yang tak disentuh Sanny dan mengosongkannya ke wastafel. Tangannya baru gemetar sesudah air mengalir. "Bang."
"Hm."
"Jam berapa Mama biasa selesai arisan hari Jumat?"
Farish menurunkan tangan. Dia menatap adiknya lama, lalu menatap dapur, lalu telur dadar yang belum jadi. "Kamu masih mau masak?"
"Masih. Orang patah hati tetap harus makan, Bang." Fanya mengambil pisau lagi. "Bawangnya sudah terlanjur dikupas."
Farish hampir tersenyum. Hampir. Lalu dia bertanya sekali lagi. "Kamu mau datang?"
"Aku mau lihat Mama waktu mendengarnya." Fanya mematikan keran. "Dan aku mau Mama lihat aku."