Lampu ruang kerja masih menyala pukul sebelas malam, dan Sanny berdiri di depan pintunya dengan tangan terangkat tiga kali tanpa pernah benar-benar mengetuk.
Seharian suaminya tidak pulang sebagai orang yang dua hari lalu dia jemput di bandara. Aaron pulang menjelang siang dari portal kompleks, mengangguk kepada Pak Mamat, naik tangga tanpa menyapa siapa pun, mengunci pintu kamar kerja, dan baru keluar sore hari untuk membawa Kirana ke taman, sesuai janjinya. Di taman dia mengayun anak itu di ayunan, membelikannya es krim rasa stroberi, dan tersenyum tiap kali Kirana menoleh. Sanny menyaksikan semuanya dari bangku jauh, seperti menonton film yang sudah dia tahu akhirnya buruk.
Pintu terbuka sendiri. Aaron berdiri di baliknya, kemeja digulung sampai siku, wajah yang tidak marah dan tidak ramah.
"Aaron ..."
"Dia datang tadi pagi," kata Aaron.
Sanny tidak perlu bertanya siapa. Lututnya hampir menyerah, tetapi dia menahannya dengan bersandar pada kusen. "Dia bilang apa?"
"Semuanya. Angka, tanggal, barang. Dan satu nama yang tidak ada di catatannya, tapi ada di wajahnya." Aaron menatapnya tanpa berkedip. "Dia sudah membayar seratus sebelas juta ke rekening saya. Saya lihat sendiri uangnya masuk."
"Dia pembohong, Aaron, dia ..."
"Jangan." Hanya satu kata, tetapi nadanya membuat Sanny menelan sisa kalimatnya. "Saya lelah, Sanny. Saya baru menempuh dua puluh jam perjalanan dan dua hari membaca hal yang tidak ingin saya baca. Besok pagi, sesudah Kirana berangkat. Di sini. Hanya kita."
Pintu menutup lagi. Sanny berdiri di koridor dalam gelap sampai kakinya kesemutan.
**
Senin pagi, pengasuh membawa Kirana naik mobil kecil menuju kelompok bermain. Anak itu melambai dari jendela dan berteriak "Dadah, Papa!" dan Aaron membalas sampai mobil itu hilang di tikungan. Lalu dia menutup pintu depan, dan suara klik pintu itu terasa seperti ketukan palu.
Sanny sudah duduk di ruang kerja ketika Aaron masuk. Dia memilih kursi di sisi meja, bukan di balik meja. Sebuah gelas teh dingin di tangannya, sama sekali tak disentuh.
"Saya tidak akan berteriak," kata Aaron, duduk di seberangnya. "Saya mau kamu bicara. Apa saja. Saya hanya akan mendengar."
Sanny menatap gelas itu lama. Lalu tiba-tiba dia tertawa, pendek dan getir. "Kamu mau dengar? Setelah tiga bulan sekali, setelah satu minggu pulang dan sebulan menghilang dengan alasan kerja? Sekarang kamu mau dengar?"
"Ya."
"Kamu tahu apa yang kulakukan tiap malam?" Suaranya naik, pecah di tengah. "Aku memandangi langit-langit. Aku mengajak Kirana tidur supaya ada yang bernapas di sebelahku. Aku mengisi hari dengan arisan, spa, belanja, apa saja supaya aku tidak sempat memikirkan bahwa suamiku punya rumah lain di benua lain. Kamu menelepon, kamu tanya Kirana sudah makan? Kamu tanya aku? Tidak. Kamu tanya Kirana."
"Itu tidak benar."
"Itu benar! Tiga bulan sekali, Aaron! Anak kita berumur tiga tahun, dan dia tidak mengenali suaranya sendiri kalau kamu menelepon pagi hari. Aku bukan istri, aku pengawas rumah!"
Aaron tidak menyela. Dia mendengar semuanya sampai Sanny kehabisan napas, sampai tangannya yang memegang gelas gemetar, sampai air teh bergoyang membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Hening panjang. Lalu dia menarik napas dan berkata dengan nada yang lebih lirih daripada yang pernah Sanny dengar darinya:
"Kamu benar."
Sanny berkedip. "Apa?"
"Kamu benar. Itu salah saya." Aaron mengusap wajahnya, perlahan, dan Sanny melihat uban halus di pelipisnya yang tidak pernah dia sadari. "Saya mengejar pekerjaan karena pekerjaan mudah diukur. Target, angka, hasil. Pernikahan tidak. Saya pikir kalau saya mengirim cukup uang, kalau saya pulang cukup sering, kamu akan tahu saya menyayangi kamu. Saya tidak pernah bertanya apakah itu cukup."
Sanny menutup mulut dengan punggung tangan. Air matanya jatuh tanpa suara.
"Tapi, Sanny." Aaron memajukan badan, menaruh kedua siku di lutut. "Itu bagian saya. Yang kamu lakukan dengan anak itu adalah bagian kamu. Dua hal ini tidak saling menghapus. Saya tidak bisa menghukum diri saya sendiri untuk menutupi kesalahan kamu, dan kamu tidak bisa menyalahkan saya untuk menutupi kesalahan kamu."
"Aku tahu."
"Kamu tahu siapa yang paling terluka dari semua ini?"
Sanny mengusap pipi. "Kamu."
"Bukan saya." Aaron menggeleng. "Fanya."
Nama itu jatuh ke ruangan seperti gelas pecah. Sanny membuka mulut, tidak ada suara.
"Dia keponakan kamu. Dia pacar anak itu sebelum kamu, dan kamu mengenali dia di hari akad Udin, bukan?" Aaron tidak bertanya, dia menyatakan. "Dia tahu sejak dua minggu lalu, dan dia pindah dari rumah ini tanpa menyebut nama kamu, bahkan kepada saya. Anak sembilan belas tahun, yang melindungi tantenya dengan bohong yang buruk, supaya anak saya tidak kehilangan ibunya."
"Aaron, aku tidak bermaksud ..."
"Saya tahu kamu tidak bermaksud. Itu bukan alasan." Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan memandang halaman tempat Kirana biasa berlari. Tanpa menoleh, dia menambahkan:
"Dion bilang kamu datang ke kampusnya dan berteriak bahwa dia memeras kamu."
Sanny menunduk. "Iya."
"Itu tidak benar."
"Tidak."
"Terima kasih sudah mengakuinya." Aaron berhenti sebentar. "Itu satu-satunya hal pagi ini yang membuat saya berpikir masih ada yang bisa diselamatkan di antara kita."
"Saya sudah memutuskan beberapa hal. Pertama, saya tidak kembali ke Amerika. Kantor di sana akan saya serahkan, atau saya kelola dari sini. Saya akan menetap di Indonesia. Apakah kamu menerimanya atau tidak, Kirana akan punya ayah di rumah."
"Aaron ..."
"Kedua. Saya tidak akan menceraikan kamu hari ini." Dia menoleh. "Bukan karena saya memaafkan. Saya belum tahu apakah saya bisa. Tapi saya tidak akan mengambil keputusan sebesar itu sebelum semua orang yang berhak tahu, tahu."
Sanny memejamkan mata.
"Ketiga." Suara Aaron menjadi lebih pelan, dan justru karena itu lebih keras. "Hari ini Senin. Saya beri kamu waktu sampai Kamis. Kamu bicara dulu kepada Fanya. Dia yang paling terluka, dan dia berhak mendengar dari mulut kamu sendiri, bukan dari saya, bukan dari orang lain. Sesudah itu kepada kakakmu. Ibunya Fanya."
"Mbak ... dia akan ..."
"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang akan dia lakukan? Saya tahu. Tapi kamu yang akan menanggungnya." Aaron berhenti sebentar. "Dan kalau sampai hari Kamis kamu belum bicara, saya yang akan bicara. Kepada Fanya. Kepada kakakmu. Dengan semua catatan yang ada di meja ini."
Sanny menatap suaminya. Mata mereka bertemu, dan dia tidak menemukan apa pun di sana yang bisa dijadikan tameng.
Sanny tidak menjawab. Dia hanya mengambil satu lembar catatan dari tumpukan di meja, membacanya tanpa melihat isinya, lalu menaruhnya persis di tempat semula.