Aaron tidak menyalakan mesin. Dia mengunci pintu, menurunkan sandaran kepala sedikit, dan membiarkan sunyi di dalam sedan itu berlama-lama sampai Dion mendengar detak jantungnya sendiri.
"Tunjukkan catatannya."
Dion mengeluarkan map plastik dari tas dengan dua tangan, menyerahkannya, dan menarik tangannya kembali ke pangkuan. Aaron membuka buku catatan hitam bertuliskan UTANG yang sudah lusuh itu, lalu halaman-halaman salinan rapi di sebelahnya. Dia membaca tanpa suara. Jemarinya sesekali berhenti di satu baris, mencocokkannya dengan angka di ponselnya, lalu bergerak lagi.
Lima menit. Sepuluh. Dion menghitung rambu lalu lintas di seberang jalan untuk menahan diri tidak bicara.
"Dua puluh juta, dua puluh juta," Aaron akhirnya membaca pelan. "Barang. Pengembalian ganda tiga puluh juta. Saya lihat transfer itu di rekening kita." Dia menutup buku. "Kamu menulis semuanya sebagai pinjaman."
"Sejak hari pertama, Pak."
"Kenapa?"
"Karena saya tahu itu bukan hak saya." Dion menelan ludah. "Saya mau bilang saya menulisnya karena saya orang baik. Tapi itu bohong. Saya menulisnya karena saya takut dicap pencuri, dan karena saya ingin ada alasan di kepala saya untuk menenangkan diri."
"Saya menerima surat dan kardus ini kemarin. Kamu datang hari ini." Aaron menatap jendela depan. "Dua hari sejak saya mendarat. Kenapa kamu menunggu?"
"Karena Bapak baru pulang, Pak. Sudah tiga bulan Bapak tidak bertemu anak Bapak." Dion memilih katanya hati-hati. "Kalau saya datang Jumat malam, yang akan Bapak ingat dari kepulangan itu hanya saya. Saya mau Bapak sempat memeluk Kirana dulu. Tidur di rumah sendiri. Bernapas."
"Kamu pikir dua hari cukup untuk itu?"
"Tidak, Pak. Tapi lebih lama lagi itu sudah pengecut."
Aaron menoleh. Matanya benar-benar menatap Dion lama, dan Dion membalas tatapan itu meski tengkuknya basah. "Apakah ada paksaan?"
"Maaf?"
"Apakah istri saya memaksa kamu? Mengancam, menjebak, apa pun." Nada Aaron datar, hati-hati, seperti seseorang yang menyentuh luka dengan ujung jari. "Saya ingin tahu persis. Jangan memperhalus."
Ini jalan keluar. Dion tahu itu. Satu kata, ya, dan seluruh beban bisa berpindah ke perempuan yang sudah berkali-kali berteriak di depan fakultas. Aaron mungkin bahkan akan percaya. Dia memikirkan wajah Sanny di tangga, matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak ada yang memaksa, Pak."
"Tidak ada."
"Saya tahu itu salah dan saya tetap melakukannya karena uang. Keluarga saya bangkrut. Saya merasa harga diri saya bisa dibayar, dan saya mau." Dion menarik napas. "Setelah beberapa lama, Ibu Sanny memang mengancam akan bilang ke Pak Aaron kalau saya pergi. Itu salahnya. Tapi mulai dari awal, itu pilihan saya sendiri. Salah saya lebih dulu."
Aaron memandangnya lagi, lalu membuang pandangan ke jendela. Rahangnya bergerak, hanya sekali.
"Saya tidak akan memukul kamu," katanya. "Kamu mungkin berpikir saya akan melakukannya. Kamu mungkin berpikir kamu pantas."
"Saya pikir begitu, Pak."
"Mungkin kamu memang pantas. Tapi saya tidak akan." Aaron mengusap wajah dengan satu tangan. "Ada yang lain? Orang lain yang tahu?"
Dion mempertimbangkan sebelum menjawab. "Ada satu, Pak. Yang paling terluka." Dia menggenggam lututnya. "Fanya. Keponakan Bapak."
Sunyi turun lagi, jauh lebih berat. Aaron tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah, tetapi tangannya yang memegang buku catatan perlahan mengepal sampai sampul stiker kuning itu berkerut.
"Fanya," dia mengulang.
"Dia pacar saya, Pak. Saya mengencani dia lebih dulu, sebelum saya bertemu Ibu Sanny, sebelum saya tahu mereka keluarga. Ketika saya tahu, saya terlalu pengecut untuk mengaku. Dia baru tahu dua minggu lalu, dari saya. Dia sudah pergi."
"Pindah ke rumah abangnya."
"Iya, Pak."
"Dan dia berbohong kepada saya kemarin supaya saya tidak tahu." Aaron menutup mata. Lama. Ketika membukanya lagi, suaranya masih tenang, tetapi sesuatu di dalamnya sudah retak. "Dia melindungi Sanny. Dia melindungi Kirana."
"Saya kira begitu, Pak."
"Kamu tahu kamu telah merusak sesuatu yang tidak bisa kamu bayar dengan uang."
"Tahu."
"Baik." Aaron meraih tas di jok belakang, mengeluarkan sebuah buku catatan kulit dan pulpen, lalu menyodorkannya. "Tulis. Tangan, bukan ketik. Tanggal hari ini. Isinya: jumlah yang kamu terima, apa yang sudah kamu kembalikan, dan bahwa tidak ada pihak yang memaksa. Tanda tangani."
Dion menulis. Tangannya tidak gemetar. Dia mengeja angka demi angka, dan Aaron membaca dari samping, mengoreksi satu kata, membiarkan sisanya. Tunai seratus dua belas juta. Barang tiga puluh juta. Pengembalian ganda tiga puluh juta. Total kewajiban seratus tujuh puluh dua juta rupiah.
"Sudah saya hitung tiga kali, Pak." Aaron menaruh pulpen di sampingnya. "Dan yang sudah kamu kembalikan?"
Dion membuka aplikasi bank di ponselnya. Layar menampilkan satu rekening dengan nama yang sudah dia hafal, dengan kolom catatan berjudul JANGAN DISENTUH yang diketik Ernest dengan huruf besar semua. Seratus sebelas juta rupiah. Dia membuka kolom transfer, mengetik nomor rekening yang diberikan Aaron lewat bisikan yang hampir tidak terdengar, lalu menyodorkan layar itu kepada Aaron sebelum menekan tombol terakhir.
"Seratus sebelas juta, Pak. Seluruh isi rekening ini. Dan jam tangan serta kemeja yang saya kirim ke apartemen nilainya empat belas juta. Totalnya seratus dua puluh lima. Sisanya empat puluh tujuh juta, dan saya mau mencicil."
Aaron memandang angka itu. Lalu memandang jari Dion yang menekan tombol. Ponsel di dasbornya berbunyi, sekali, ringan.
"Masuk," katanya.
"Saya minta jadwal, Pak. Saya tidak ingin menunda."
"Sepuluh juta dalam dua pekan," kata Aaron. "Sisanya tiga puluh tujuh, tanpa bunga, selambat-lambatnya dalam sebulan sesudah itu. Saya tidak mau kamu kehilangan kuliah karena ini."
"Saya sanggupi, Pak."
"Kamu belum tahu dari mana uangnya."
"Belum. Tapi saya akan menepatinya."
Aaron menatapnya lama, seperti baru saja melihat sesuatu yang tidak dia kira ada di sana. Dia menyalakan mesin. "Baik. Sekarang tanda tangan."
**
Malam itu, Dion berjalan masuk ke kamar kost dan mendapati tiga lelaki duduk melingkar di lantai dengan mata merah dan mulut penuh keripik singkong.
"Dia hidup," bisik Jovian.
"Dia hidup!" Ernest menjatuhkan bungkus keripik dan berlari memeluknya. "Lu bau pos satpam. Lu bau kopi tubruk. Lu masih punya dua mata?"
"Dua."
"Gigi?"
"Lengkap."
"Wasiat ditolak," kata Jovian kecewa, lalu menyobek halaman kertasnya.
Dion tertawa, kecil, serak, dan tiba-tiba terduduk karena lututnya menyerah. Udin menyodorkan segelas air. Dia meminumnya sampai habis.
"Gue masih punya utang empat puluh tujuh juta," katanya akhirnya. "Tapi gue masih punya kepala."
"Kepala doang?" Ernest meraba bahunya. "Tulang? Rusuk? Lu nggak ditonjok?"
"Dia bilang nggak akan nonjok. Dia nulis tanggal sama tanda tangan, terus nganter gue balik ke portal." Dion meminum air yang tersisa. "Dia malah ngucapin makasih ke Pak Mamat."
"Orang bule itu aneh," kata Jovian dengan khidmat. "Lebih serem dari yang ngamuk."
"Iya." Dion menunduk. "Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Pak Aaron tahu tentang Fanya."