Sanny tidak langsung menjawab. Televisi yang menyala tanpa suara memantulkan warna biru di wajahnya, dan jam dinding menghitung detik lebih keras dari biasanya.
"Seorang kenalan," katanya akhirnya. "Anak teman arisan. Aku sudah bilang, hanya urusan modal."
"Kamu bilang investasi. Sekarang kenalan." Aaron tidak menaikkan suara. "Saya tidak bertanya apa urusannya. Saya bertanya dengan siapa."
"Aaron, tolong. Jangan malam ini."
"Kalau bukan malam ini, kapan? Tiga bulan lagi, waktu saya pulang?"
Sanny menelan ludah, lalu membuang muka ke layar televisi yang tidak dia tonton. Itu jawaban yang lebih jelas daripada kalimat apa pun yang bisa dia karang. Aaron menunggu sampai hening itu berubah dari canggung menjadi pasti. Lalu dia mengambil kardus dari meja, menaruhnya di bawah lengan, dan berdiri.
"Saya tidur di sofa ruang kerja," katanya. "Besok saya keluar pagi."
"Kamu mau ke mana?"
"Mencari tahu sendiri. Kamu sudah memberi saya dua jawaban, dan keduanya bohong."
Tangga berderit di bawah langkahnya, lalu pintu ruang kerja menutup. Sanny duduk sendirian sampai film di televisi tamat dan layar berganti iklan sabun. Lewat pukul lima pagi dia mendengar mesin sedan dinyalakan di halaman, lalu menjauh, dan dia tahu pertanyaan Aaron belum selesai ditanyakan. Hanya pindah alamat.
**
"Dion nggak jadi pulang, Pak."
Suara Bapak di seberang telepon sempat terputus oleh bunyi mesin bubut yang dimatikan. Minggu pagi, kampung pasti sedang berembun, ayam-ayam bersahutan, dan Emak mungkin sudah menanak nasi. Dion duduk di pinggir kasur dengan helm di pangkuan, memandang jendela kost yang masih berkabut.
"Katanya Sabtu. Kemarin Bapak tunggu sampai magrib." Bapak tidak menyalahkan, hanya mengulang.
"Maaf, Pak, kemarin Dion nggak sempat kabari. Ada urusan yang nggak bisa ditunda. Hari ini."
"Urusan yang kamu bilang mau nyeberang sungai itu?"
"Iya."
Bapak diam. Terdengar batuk kecil, bunyi kursi bambu bergeser. "Ayamnya Bapak simpan di kulkas. Nanti dipanasin sendiri kalau kamu datang."
"Siap, Pak."
"Yon." Suara Bapak turun. "Apa pun yang terjadi hari ini, kamu masih anak Bapak."
Dion menutup telepon dengan mata panas, memasukkan buku catatan hitam bertuliskan UTANG ke dalam map plastik, memasukkan map itu ke tas, lalu mengenakan jaket hijau yang lengan kirinya masih berbekas kuku.
**
Jalan dari kost ke kompleks dia tempuh dengan kecepatan yang hampir membuat tukang bubur di perempatan menggeleng. Minggu pagi, jalanan lengang, dan itu justru buruk, karena tidak ada kemacetan yang bisa dia salahkan kalau dia tiba terlalu cepat. Di lampu merah dia memegang tas di pangkuan dan merasakan sudut keras map plastik menekan paha. Di dalamnya semua yang dia miliki: tiga bulan kesalahan, ditulis rapi.
Portal kompleks itu hampir sama seperti yang dia ingat dari malam dia menjemput Fanya, dengan palang merah putih dan pos kecil yang atapnya miring. Bedanya, kali ini dia datang tanpa ada yang menunggunya di dalam.
"Selamat pagi, Mas. Cari siapa?" Satpam yang keluar dari pos berbadan bulat, berkumis tebal, dan bertanda nama MAMAT di dada seragamnya. Di pinggangnya tergantung walkie-talkie yang sepertinya lebih sering dipakai untuk mendengarkan lagu dangdut daripada berkoordinasi.
"Selamat pagi, Pak. Saya mau ke rumah Pak Aaron. Nomor sembilan belas, blok C."
"Waduh, Pak Aaron yang bule itu?" Pak Mamat mengerutkan dahi. "Sudah janji, Mas?"
"Belum. Tapi saya ada urusan penting. Nama saya Dion."
Pak Mamat mengambil buku tamu yang halamannya dipenuhi coretan, membaliknya, lalu berhenti pada satu halaman. Dia mengangguk-angguk sendiri, mengambil gagang telepon pos yang kabelnya kusut, dan menekan beberapa angka. Lama sekali nada sambung terdengar. Akhirnya suara pembantu rumah mengangkat, dan Pak Mamat bicara sopan dengan nada penuh basa-basi.
"Bapak dan Ibu sedang keluar semua, katanya," ujarnya setelah menutup telepon. "Nyonya sama anaknya ke ... entah ke mana, Mas. Bapak keluar subuh tadi, belum balik. Mas tunggu saja di sini."
"Tunggu di sini?"
"Aturan kompleks, Mas. Tamu tak terjadwal nggak boleh masuk kalau tuan rumah nggak bilang." Pak Mamat menunjuk bangku plastik di sebelah pos. "Duduk saja. Mau kopi? Istri saya bikin kopi tubruk. Mantap."
Dion menatap bangku itu, lalu jam tangannya. Pukul delapan lewat sepuluh. Dia mengangguk, menurunkan tas, dan duduk dengan punggung tegak seperti murid yang menunggu giliran dipanggil kepala sekolah.
**
Satu jam pertama berjalan dengan ponsel Dion bergetar tiap beberapa menit.
Ernest: Udah masuk?
Ernest: Yon?
Jovian: gue udah siapin motor lu buat dikirim ke rumah. kalo ada apa2 bilang ya
Ernest: JOV itu motor DION
Jovian: ya makanya itu warisan
Gilbert: kalau lu masuk rumah sakit gue yg bayar. serius. tapi gue pingsan dulu
Udin: Yon, baca Al Fatihah tiga kali. Tarik napas. Jangan ngomong kalo emosi.
Dion membaca semuanya, membalas satu kata ke grup, Belum, dan menyimpan ponsel ke saku sebelum jari-jarinya sempat gemetar. Dia memandang palang yang masih tertutup. Hatinya berkata satu hal, dan lututnya berkata hal lain, dan dia memutuskan mendengarkan hatinya selama mungkin.
Dua jam kemudian, Dion sudah tahu lebih banyak tentang sinetron Indonesia daripada yang pernah dia inginkan.
"Jadi si Reza itu," kata Pak Mamat sambil menuangkan kopi tubruk ketiga ke gelas plastik Dion tanpa diminta, "ternyata bukan anak Pak Hendra. Anak tertukar di rumah sakit. Terus ada kembarannya, kembaran jahat, yang selama ini nyamar jadi dokter. Mas bayangin."
"Wah."
"Namanya juga sinetron, Mas!" Pak Mamat tertawa terbahak, kumisnya naik turun. "Tapi yang saya nggak ngerti, kok orang-orang di sinetron itu gampang banget bohong, ya? Kalau saya bohong ke istri saya, tiga hari saja saya sudah ketahuan. Dia punya mata di belakang kepala."
Dion menunduk menatap kopi di gelasnya. "Biasanya yang ketahuan itu yang lebih dulu ngaku, Pak."
"Lho?"
"Cuma kata orang." Dion tersenyum tipis. "Saya baca di mana, entah."
Pak Mamat memandangnya sebentar, matanya menyipit, dan untuk sesaat Dion mengira lelaki itu menangkap sesuatu. Tetapi Pak Mamat hanya mengangkat bahu dan menawarkan sebungkus pisang goreng yang sudah dingin.
Dia tidak sempat menjawab karena suara mesin mobil berhenti tepat di depan palang.
Sedan putih itu bergerak pelan, berhenti sejajar dengan pos. Kaca jendela pengemudi turun. Dion sempat melihat Pak Mamat berdiri sambil melepas topi, seolah menyambut orang penting.
"Selamat pagi, Pak Aaron!"
"Selamat pagi, Pak Mamat. Maaf, saya keluar lebih lama dari yang saya kira." Suara itu berat dan tenang, dengan aksen yang terlalu halus untuk disebut asing. "Ada apa?"
"Ada tamu nunggu Bapak dari tadi, Pak. Dua jam. Namanya Dion."
Dion berdiri. Kakinya mati rasa karena terlalu lama duduk, atau karena sesuatu yang lain. Dia melangkah maju satu langkah ke samping mobil, menurunkan tas dari bahu, dan menunduk dalam-dalam.
"Selamat pagi, Pak Aaron. Saya Dion."
Lelaki di balik kemudi itu tidak langsung menjawab. Dia memandang Dion dari ujung sepatu sampai pucuk kepala, sekali, tanpa ekspresi, dan Dion merasa baru saja ditimbang. Rambutnya pirang kecokelatan, matanya biru keabuan, dan di bawah matanya ada lingkar gelap yang sama dengan lingkar gelap di bawah mata Dion.
"Saya tahu," katanya akhirnya. "Saya sudah menunggu seseorang datang. Sejak semalam, sebenarnya. Mungkin sejak lama."
"Saya minta maaf kalau terlambat, Pak. Saya menunggu Bapak sempat beristirahat dulu."
"Terlambat atau tidak, kita bicarakan di mobil." Aaron tersenyum samar, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan, tetapi juga tidak mengandung ancaman. "Dua jam di pos Pak Mamat sudah cukup untuk menguji siapa pun."
"Saya sudah tahu kisah Reza anak tertukar, Pak."
"Berarti kamu sudah lulus." Sudut bibir Aaron naik sebentar, lalu turun lagi.
Pak Mamat memandang keduanya bergantian, bingung. "Lho, Bapak kenal? Tadi Mas Dion bilang belum janji."
"Belum janji, tapi sudah ditunggu. Itu lain, Pak Mamat."
"Oh." Pak Mamat mengangguk pelan, jelas tidak paham, tetapi lega karena tidak ada lagi yang menyuruhnya mengusir siapa pun. "Ya sudah. Tamu raja, Pak."
Aaron membuka kunci pintu penumpang dari dalam, tanpa menoleh, dengan bunyi klik pelan. "Terima kasih sudah menjaga tamu saya. Dion, masuk ke mobil. Saya mau mendengar semuanya di tempat yang tidak ada telinga lain."