"Mama dan Papah ribut terus soal tunangan, Om." Fanya mendengar suaranya sendiri keluar, datar dan teratur, seperti anak kecil yang menghafal pelajaran. "Aku nggak enak kalau rumah ini jadi tempat Mama datang tiap hari buat ngomel. Aku pindah ke Abang supaya Tante tenang."
"Tunangan?" Aaron mengangkat alis. "Dengan siapa?"
"Kak Refi. Anak teman Papah."
"Dan kamu tidak mau."
"Belum, Om."
Aaron mengangguk pelan, tidak menyela, tidak mendesak. Itu yang membuat Fanya makin gelisah. Lelaki ini bukan jenis yang mengejar kebohongan sampai pojok. Dia membiarkan kebohongan itu berdiri sendiri di tengah ruangan, lalu menunggu apakah penuturnya sanggup menatapnya.
"Tante tidak salah apa-apa, Om," tambah Fanya, terlalu cepat. "Aku yang pindah sendiri."
Hening sebentar. Dari sofa terdengar suara krayon digosokkan ke kertas. Kirana menggumamkan lagu tentang kucing yang tak punya ekor.
"Saya mengerti," kata Aaron akhirnya, dan nada ramahnya tak berubah satu derajat pun. "Pintu rumah ini tetap terbuka untuk kamu, Fanya. Kapan pun. Tolong ingat itu."
"Terima kasih, Om."
Dia mengambil barang-barangnya dari kamar tamu dengan tangan yang hampir tidak dia rasakan. Dua buku, pengisi daya, sepasang sandal. Saat melewati tangga untuk kembali turun, dia tidak mengangkat kepala. Dia tahu mata Sanny ada di sana, mengikutinya dengan tatapan orang yang memohon sesuatu tanpa berani mengucapkannya. Dia melewatinya sepenuhnya, seakan tangga itu kosong.
Pintu pagar tertutup di belakangnya. Di dalam rumah, Aaron berdiri tanpa bergerak, memandang puncak tangga, dan berkata dalam bahasa yang sama lembutnya dengan tadi:
"Sanny. Kamu tidak bilang Fanya pindah."
"Aku lupa."
"Lupa," ulang Aaron.
Hanya itu. Dia berbalik dan mengangkat Kirana ke pangkuan.
**
Sabtu pagi mereka sarapan bertiga, sesuai janji. Roti panggang, telur setengah matang, dan jus jeruk yang diperas pengasuh sebelum subuh. Kirana duduk di antara kedua orang tuanya sambil bercerita tentang kucing ungu, dan Sanny menuangkan teh, tertawa di tempat yang tepat, dan memotong roti Kirana menjadi segitiga kecil-kecil. Aaron makan dengan tenang. Dia tidak menyinggung Fanya. Dia tidak menyinggung apa pun.
"Papa, nanti kita ke taman?" tanya Kirana, mulutnya penuh roti.
"Sore nanti. Papa ada pekerjaan sebentar."
"Pekerjaan terus." Kirana menggembungkan pipi. "Papa pulang, tapi Papa kerja."
"Papa kerja sebentar, Sayang. Satu jam." Aaron mengusap kepala anak itu. "Mama akan menemani kamu."
Sanny mengangguk. Gelas tehnya bergetar sedikit ketika dia mengangkatnya, dan dia segera menaruhnya lagi.
Sesudahnya Aaron naik ke ruang kerja dengan laptop terbuka dan secangkir kopi hitam.
Rekening bersama itu terbuka di layar dengan kata sandi yang sudah dia hafal sejak mereka menikah. Dia menggulir daftar mutasi tiga bulan terakhir tanpa tujuan tertentu, sampai satu pola menyentuh ujung matanya. Satu nama yang sama, muncul lagi, dan lagi. Zayn Dion Krismeinda. Penarikan, pemindahan, tanggal-tanggal yang rapat, angka-angka yang bulat. Lalu, di sela-selanya, pemasukan dengan nama yang sama, jumlahnya pun bulat, kembali ke rekening yang sama, hanya untuk dikeluarkan lagi sesudahnya.
Aaron membaca semuanya dua kali. Dia mengetuk-ngetukkan jari ke meja, tiga ketukan, lalu berhenti. Kemudian dia mengambil ponsel dan menelepon nomor yang ada di kartu nama pengelola apartemen yang selalu dia simpan di dompetnya.
"Selamat pagi, saya Aaron, suami Ibu Sanny Shilby, pemilik unit di lantai atas. Saya mau menanyakan sesuatu. Apakah ada kiriman untuk unit saya dalam beberapa hari terakhir?"
"Sebentar, Pak." Terdengar ketikan. "Ada, Pak. Hari Jumat minggu lalu. Kardus atas nama Dion, titipan resepsionis. Sudah kami serahkan langsung ke Ibu Sanny pada hari Sabtu."
"Dion."
"Betul, Pak."
"Terima kasih." Aaron menutup telepon. Dia duduk beberapa detik tanpa bergerak, lalu menutup laptop dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah.
**
Siang itu, apartemen terasa sunyi dan sedikit pengap. Aaron berdiri di tengah ruang tamu yang rapi, memandang sofa putih, meja kaca, jendela besar dengan pemandangan kota. Dia hampir tidak pernah ke sini. Sanny menyebutnya tempat menenangkan diri, dan dia, selama bertahun-tahun, percaya.
Dia membuka pintu kamar. Pintu itu berderit sedikit, seolah ikut terkejut karena sudah lama tidak dibuka oleh pemiliknya. Lemari. Selimut tebal di dasar, terlipat tidak seperti biasanya. Dia menyibaknya.
Kardus bekas sepatu itu terselip di belakang, tertutup rapat. Jam tangan perak. Kemeja putih yang belum pernah dipakai. Di atasnya, selembar surat terlipat dua.
Terima kasih. Maaf. Sisanya akan dicicil. Jangan hubungi.
Di bawahnya, fotokopi sebuah buku catatan yang dijilid rapi. Tanggal, jumlah, dari mana, untuk apa. Tulisan tangan yang jelas, sedikit miring ke kanan. Bukan tulisan orang yang berniat menyembunyikan sesuatu. Aaron membalik halaman demi halaman. Rp 20.000.000. Rp 20.000.000. Jam tangan. Jaket kulit. Sepatu. Pengembalian ganda Rp 30.000.000. Pinjaman, tulis Dion di tiap baris, dalam huruf besar, seolah takut dicap pencuri.
Dia duduk di tepi ranjang yang tidak pernah dia tiduri bersama istrinya, dan membaca sampai halaman terakhir.
**
Malam itu Aaron menunggu sampai Kirana tertidur. Dia menunggu sampai pengasuh keluar dari kamar anak. Lalu dia turun ke ruang tengah, tempat Sanny duduk dengan acara televisi yang tidak dia tonton, dan menaruh kardus itu di meja, di antara mereka, tanpa suara.
Sanny menatap kardus itu. Wajahnya berubah beberapa kali dalam satu detik.
"Kamu ... dari mana?"
"Apartemen."
"Aaron, itu ..."
"Saya baca semuanya." Suaranya masih rendah, masih sopan. "Mutasi rekening kita. Surat ini. Catatan ini. Saya ingin dengar dari kamu."
"Itu investasi!" Sanny berkata terlalu cepat, terlalu terang, dengan senyum yang sudah retak sebelum selesai. "Aku berinvestasi ke ... ke bisnis kecil. Seorang kenalan, anak muda, dia minta modal. Aku nggak mau ganggu kamu karena kamu sibuk."
"Investasi."
"Iya."
"Dengan jam tangan?" Aaron menunjuk isi kardus. "Dengan kemeja? Dengan surat yang bilang 'jangan hubungi'?"
"Dia ... dia nggak jadi. Dia kembalikan semuanya."
"Semua?" Aaron menyentuh tepi kardus. "Kenapa kamu sembunyikan di lemari, dengan selimut di atasnya, kalau itu hanya investasi yang gagal?"
"Karena aku malu. Aku malu gagal."
"Sanny." Aaron menggeleng sedikit. "Orang yang menerima belas kasihan tidak menulis catatan sejelas ini. Anak muda ini mencatat setiap rupiah sejak hari pertama, dan menulis di tiap barisnya: pinjaman. Dia sedang membela dirinya dari sesuatu. Dari apa?"
Sanny membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aaron mengambil kertas dari kardus, membukanya, menaruhnya kembali. Dia menatap istrinya, lama, dan di matanya tidak ada kemarahan yang Sanny takutkan. Hanya sesuatu yang jauh lebih sulit ditahan: kesedihan yang tenang. "Saya tidak bertanya apakah itu investasi."
"Lalu apa?"
Aaron menarik napas, menahannya sebentar, dan melepaskan satu pertanyaan yang dia simpan sejak membuka lemari itu.
"Dengan siapa, Sanny?"