Dion membalas pukul empat pagi, sesudah dia menulis ulang halaman kesebelas buku catatannya dan mendengar azan subuh dari masjid di ujung gang menyela keheningan kost.
Tidak, Tante. Saya akan bicara sendiri sesudah Aaron sempat bernapas di rumah.
Satu kalimat. Dia membacanya sekali, memastikan tidak ada kata yang bisa ditarik jadi janji atau jadi ancaman, lalu menekan kirim sebelum keberaniannya habis. Balasan tidak datang. Itu pun sudah dia duga. Perempuan yang menulis Dion, tolong, jawab di tengah malam tidak akan membalas dengan kata-kata yang sopan.
Dia mengembalikan ponsel ke lantai, menarik map plastik bening ke pangkuan, dan melanjutkan. Dua malam sudah dia tidak benar-benar tidur. Malam pertama dia menyalin angka. Malam kedua dia memotret bukti transfer satu per satu, mencetak yang paling penting di warnet, lalu menjilidnya dengan stapler dan potongan kardus. Jam tangan dan kemeja sudah pergi bersama kardusnya. Yang tersisa di tangannya hanya kertas, dan kertas itu, anehnya, terasa lebih berat daripada jam tangan mana pun.
Udin mengetuk tembok sebelah dua kali. Malam itu dia menginap di kamar lamanya, dengan alasan kangen suara tembok. "Yon? Lu masih bangun?"
"Masih."
"Mau gue bawain bubur?"
"Gue mau tidur. Habis ini."
"Habis ini kapan? Habis lu kelar atau habis lu pingsan?"
"Din."
"Gue cuma nanya." Suara Udin melunak. "Siti nitip pesan. Katanya lu nggak harus kuat sendirian. Dia bilang itu dari pengalaman."
Dion memandang tembok itu sebentar, seakan bisa melihat melaluinya. "Bilangin Siti makasih. Dan jangan lupa dia lagi hamil, jangan kebanyakan mikirin orang."
"Bohong," kata Udin dari balik tembok, lalu terdengar langkahnya menjauh, dan sepuluh menit kemudian pintu kamar Dion diketuk lagi dengan seplastik bubur ayam yang masih mengepul.
**
Pesawat Aaron mendarat sore itu, dan pukul enam mobil sedan hitam sudah berhenti di halaman rumah.
Kirana yang pertama berlari. Gadis kecil itu menyeruak keluar dari pelukan pengasuhnya sebelum pintu mobil sepenuhnya terbuka, berteriak "Papa! Papa!" dengan suara yang melengking seperti peluit, dan Aaron, yang baru turun dengan jas kusut dan koper di satu tangan, melepaskan kopernya begitu saja demi menangkap anak itu di udara. Dia memutarnya sekali, dua kali, lalu menciumi pipinya yang gembul sambil tertawa dalam bahasa yang tercampur dari dua negara.
"Papa pulang, Sayang. Papa pulang. Kamu makin berat. Siapa yang kasih makan berlebihan?"
"Mama!"
"Betul. Mama memang suka kasih makan berlebihan."
Sanny berdiri di teras dengan blus krem dan senyum yang sudah dipasangnya sejak pukul empat sore. Rambutnya disisir rapi, gincunya merah muda, kuku-kukunya bersih. Tidak ada yang akan menyangka bahwa semalam dia nyaris tidak tidur. Dia melangkah turun satu anak tangga, lalu satu lagi, dan mencium pipi suaminya persis seperti yang selalu mereka lakukan: cepat, hangat di permukaan, kosong di bawahnya.
"Capek?"
"Sedikit." Aaron menatapnya dengan mata biru keabuan yang terlalu jeli untuk lelaki yang baru turun dari penerbangan dua puluh jam. "Kamu kurus."
"Aku kurang tidur. Sudah kubilang."
"Besok kita sarapan bertiga. Tidak ada telepon, tidak ada urusan." Aaron tersenyum. "Hanya kita. Dan sesudah itu saya mau lihat rekening bersama kita. Ada yang harus saya laporkan untuk pajak akhir bulan."
"Rekening ... bersama?"
"Yang biasa. Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Sanny menyentuh rambutnya yang sudah rapi. "Besok saja. Kamu pasti lelah."
"Besok pagi," kata Aaron lembut, dan dia mengangkat kopernya sendiri ke dalam rumah.
Kata terakhir itu menancap di bagian paling lunak di dada Sanny. Dia membalas senyum itu sambil membuka pintu rumah lebar-lebar, dan wajahnya tetap bahagia, tetap bahagia, tetap bahagia, sampai pengasuh membawa Kirana naik untuk mandi dan dia sendiri sempat berlari ke kamar mandi tamu untuk menutup pintu dan menekan punggung tangan ke mulut.
**
Fanya datang pukul tujuh malam, dengan tas ransel kosong dan hati yang sudah dia rapikan dalam perjalanan.
Dia hanya mau mengambil sisa barangnya: dua buku catatan, pengisi daya, dan satu pasang sandal yang tertinggal di rak sepatu kamar tamu. Sepuluh menit, katanya kepada Farish yang menawarkan menemani dan dia tolak. Sepuluh menit, dan dia tidak perlu bertatap muka dengan siapa pun. Hari itu juga dia baru diterima menjaga kasir toko buku kampus tiga sore seminggu, jadi dia punya sesuatu yang membuat punggungnya sedikit lebih tegak.
Pintu pagar tidak terkunci. Dia menekan bel dua kali, dan yang membukakan bukan pembantu, bukan pengasuh, melainkan seorang lelaki tinggi berambut pirang kecokelatan, dengan kaus polos dan Kirana di pinggulnya.
"Fanya!"
Rasanya seperti menghirup udara yang hilang. Fanya membeku di ambang pintu, mulutnya terbuka, tidak sempat menyiapkan wajah. "Om Aaron?"
"Ya. Saya baru mendarat sore tadi." Aaron membuka pintu lebih lebar dengan tangan yang bebas. "Masuk. Kamu tidak perlu berdiri di luar seperti tamu."
"Kak Anya!" Kirana meronta turun, berlari memeluk lutut Fanya, dan menengadah dengan wajah yang bulat dan berseri. "Kak Anya pulang! Aku bikin gambar kucing!"
Fanya tidak berjongkok. Dia berdiri kaku di ambang pintu dan hanya menyentuh kepala Kirana dengan ujung jari, takut kalau lebih dari itu wajahnya pecah. Gadis kecil itu menggenggam jarinya dan menariknya masuk sambil mengoceh tentang kucing berwarna ungu yang makan permen, tentang Papa yang membawa cokelat, tentang Mama yang menangis sedikit tadi di kamar mandi, tetapi katanya hanya karena sabun masuk ke mata. Fanya menelan ludah. Dia melihat tawa kecil itu, gigi-gigi susu yang rapi, mata yang tidak tahu apa-apa. Di benaknya ada satu kalimat yang bisa dia ucapkan sekarang, di ruang tamu yang hangat itu, dan kalimat itu akan menghancurkan dunia anak ini sebelum makan malam.
Dia memilih diam.
"Kamu mau minum?" tanya Aaron. "Atau makan? Pengasuh baru selesai masak, dan masih ada ayam yang tidak mungkin habis oleh tiga orang."
"Nggak usah, Om. Aku cuma mau ambil barang."
"Dua puluh menit saja. Saya baru pulang, dan saya ingin bertanya kabar keponakan yang sudah lama tidak saya lihat." Dia tersenyum, tulus, dan Fanya makin merasa kecil. "Kuliah kamu bagaimana?"
"Baik, Om. Sebentar lagi semester akhir."
"Kamu kurus."
"Banyak tugas."
"Hm." Aaron mengangguk, tidak percaya sepenuhnya, tapi mengalah. "Kirana, tunjukkan ke Kak Anya gambar kamu."
"Ini! Ini kucing! Ini Papa! Ini Mama! Ini Kak Anya!" Kirana menyorongkan buku gambar yang penuh coretan krayon, dan di antara garis-garis ungu dan merah itu Fanya melihat empat sosok bergandengan di bawah matahari yang terlalu besar.
"Bagus sekali," bisik Fanya.
"Kak Anya jangan pergi lagi, ya."
Fanya tidak menjawab. Dia menyentuh kepala Kirana sekali, sangat ringan, seolah takut kulit anak itu retak.
"Ambil barang?" Aaron menyipitkan mata. "Kamu tinggal di sini, Fanya."
"Dulu, Om."
Aaron menaruh Kirana di sofa, memberinya buku gambar, lalu mengangkat tubuh dengan perlahan. Nada suaranya tetap ramah, tetapi ada sesuatu di bawahnya yang tadi tidak ada. "Saya baru tahu. Sanny tidak bilang kamu pindah."
"Aku ... pindah ke rumah Abang. Lebih dekat ke kampus."
"Lebih dekat ke kampus," ulang Aaron pelan. "Dari sini ke kampus kamu dua puluh menit. Dari rumah Farish?"
"Kira-kira sama, Om."
"Jadi tidak lebih dekat."
Fanya membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi. Di anak tangga paling atas, di belakang bahu Aaron, dia melihat seorang perempuan berdiri tak bergerak. Blus krem, rambut disisir, wajah yang pucat sampai kehilangan warna. Sanny tidak turun. Dia hanya memegang pegangan tangga dengan seluruh jarinya.
Aaron tidak menoleh. Tetapi dia pasti menangkap arah mata Fanya, karena dia berkata, tanpa meninggikan suara, "Fanya. Kenapa kamu pindah?"