Kardus bekas sepatu itu sudah lima hari berada di dasar lemari apartemen, tertutup dua selimut tebal, dan Sanny masih saja berjongkok di depannya tiap kali sendirian di unit itu.
Dia tidak membukanya lagi. Dia sudah membaca surat di dalamnya sampai hafal, sampai tiap huruf yang ditekan terlalu keras seperti ikut menekan dadanya. Terima kasih, maaf, sisanya akan dicicil, jangan hubungi. Di bawahnya jam tangan perak itu masih berkilau, dan kemeja putih yang tak pernah dipakai masih berlipat seolah menunggu seseorang yang tidak akan kembali.
Ponselnya berdering di lantai. Layarnya menampilkan satu nama yang membuat jantungnya berhenti sebentar: Aaron.
"Halo, Sayang." Suara di seberang tenang dan hangat, dengan logat yang sudah puluhan tahun luwes berbahasa Indonesia. "Kamu sudah bangun? Di sini baru selesai makan malam."
"Sudah." Sanny berdeham, menegakkan punggung, lalu berdiri dengan lutut yang gemetar. "Kamu kenapa menelepon jam segini?"
"Karena saya punya kabar. Pekerjaan di sini selesai lebih cepat dari rencana. Saya ambil penerbangan malam ini. Jumat sore saya sudah sampai."
Sanny memegang pinggiran lemari. "Jumat ini?"
"Kenapa? Kamu tidak senang?"
"Senang." Suaranya terlalu cepat. "Tentu saja senang. Cuma ... mendadak. Kamu tidak bilang dari kemarin."
"Saya mau kejutkan Kirana." Aaron tertawa kecil, dan tawa itu terdengar sangat tulus, sehingga Sanny menutup mata. "Dia terus bertanya kapan Papa pulang. Tiga bulan terlalu lama untuk anak umur tiga tahun, dan, kalau saya jujur, terlalu lama juga untuk saya. Kamu baik-baik saja, kan?"
Sanny memandang kardus di dasar lemari. "Baik."
"Suara kamu serak."
"Aku kurang tidur."
"Kalau begitu istirahat. Besok saya kabari lagi kalau sudah di bandara. Salam untuk Kirana."
Sambungan terputus. Sanny berdiri lama dengan ponsel di tangan, sampai layar meredup dan menghitam. Lalu dia menunduk, membuka kolom pesan, dan mengetik dengan jari yang lebih cepat daripada pikirannya.
Aaron pulang Jumat. Kita bicara sebelum dia mendarat.
Dia menekan kirim. Pesan itu terbang ke nomor Dion dari nomor baru yang dia beli kemarin, dan di sebelah kata terkirim muncul dua centang abu-abu yang tidak berubah warna sampai siang.
Sanny menunggu. Dia duduk di lantai, bersandar pada pintu lemari, dan membuka galeri ponselnya tanpa tujuan. Foto Kirana dengan bando di kepala. Foto Kirana tertidur di mobil dengan mulut terbuka. Foto yang diambil Aaron lewat kamera di taman, entah kapan, saat dia sendiri tertawa dan tidak sadar sedang difoto. Dia menggulir terus sampai ke foto-foto yang sudah tiga tahun, lalu menelungkupkan ponselnya di lantai dan menyalakan AC tanpa alasan yang jelas.
**
Sore itu Dion menelepon rumah simbah dari tangga belakang gedung fakultas, tempat sinyalnya paling bagus dan orangnya paling sedikit. Layar ponselnya bergoyang, lalu wajah Bapak muncul terlalu dekat dengan kamera, dengan topi caping miring dan serbuk kayu di alis.
"Bapak, jangan dekat-dekat. Dion cuma kelihatan hidung."
"Lha, Bapak lihat kamu juga cuma kelihatan jidat." Bapak menjauhkan ponselnya satu lengan, dan latar belakang di belakangnya muncul: mesin bubut yang berdengung, rak pahat, dan Pak Karto membungkuk di atas daun pintu lemari dengan ujung pahat kecil. "Itu, lihat. Melati pesanan Zubaedah. Karto ngukirnya dari kemarin, kata dia nggak boleh kebanyakan kelopak biar nggak kayak kembang kuburan."
Layar menyorot pintu jati itu. Di tengahnya sudah ada tiga kuntum melati timbul, halus dan rapi, setiap kelopaknya seperti hampir bergerak ditiup angin. Dion menahan napas. "Bagus, Pak."
"Bagus itu kata Karto kurang. Katanya masih kasar di ujung." Bapak mendekatkan wajahnya lagi, dan suaranya merendah. "Kamu kedengaran capek, Yon."
"Skripsi, Pak."
"Bukan skripsi." Bapak diam sebentar. Dari belakangnya terdengar bunyi pahat, tok, tok, tok, pelan dan teratur. "Bapak pernah dengar suara anak Bapak kayak gini. Waktu kamu SD dan harus nyeberang sungai di belakang sekolah pas banjir. Kamu bilang nggak takut, tapi suaramu begitu."
Dion tertawa pendek, lalu tawanya patah. "Dion ada urusan yang harus Dion selesaikan, Pak. Belum bisa cerita."
"Bapak nggak minta cerita." Bapak mengangguk. "Bapak cuma mau bilang: kalau kamu sudah nyeberang, jangan nengok ke belakang. Pulang saja. Sabtu?"
"Sabtu Dion pulang."
"Bagus. Nanti ada ayam."
Sambungan terputus. Dion memandang layar ponsel yang kembali menampilkan satu pesan belum terbalas sejak pagi, dari nomor yang tidak dia simpan.
**
"Gue baca ulang, ya." Ernest memegang ponsel Dion dengan dua tangan seperti memegang dokumen negara. "'Aaron pulang Jumat. Kita bicara sebelum dia mendarat.' Titik. Nggak ada tanda seru, nggak ada emoji. Itu pesan orang yang lagi panik atau pesan orang yang lagi ngerencanain pembunuhan."
"Dua-duanya," kata Jovian dari lantai.
Mereka berlima berkumpul di kamar kost Dion: Ernest di kursi, Jovian dan Udin di lantai, Gilbert di bangku plastik yang satu kakinya goyang, dan Dion berdiri dekat jendela dengan tangan terlipat. Kardus kosong bekas bungkus mi berserakan. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
"Jadi Aaron bakal tiba besok sore," Udin menghitung dengan jari. "Kalau Sanny bicara duluan, dia bilang apa?"
"Dari pagi belum gue balas." Dion menatap layar di tangan Ernest. "Dia bilang gue memeras, mungkin." Dion mengangguk pelan. "Atau dia bilang gue yang menggoda. Atau dia diam dan berharap semuanya hilang. Gue nggak tahu mana."
"Yang pasti dia nggak bakal bilang yang sebenarnya." Gilbert menggigit kuku. "Terus lu ngapain?"
Dion berjalan ke meja, mengambil buku catatan hitam bertuliskan UTANG, dan menaruhnya di atas kasur supaya semua orang bisa melihat. Di sebelahnya ada salinan rapi, bersampul map plastik bening.
"Gue temuin Pak Aaron sendiri."
Hening satu detik penuh.
"Lu gila?" Ernest berdiri, kursinya terseret. "Lu mau masuk rumah suami orang yang baru mendarat dan bilang 'Pak, istri Bapak selingkuh sama saya'? Yon, itu bukan pengakuan, itu bunuh diri!"
"Bukan hari itu." Dion mengangkat tangan. "Gue kasih dia waktu. Sampai dia sempat bernapas di rumah, ketemu anaknya, tidur satu malam. Habis itu gue datang membawa ini." Dia mengetuk map plastik. "Gue nggak akan membela diri. Gue cuma kasih tahu apa yang terjadi, berapa yang gue terima, dan apa yang mau gue kembalikan."
"Dia bakal marah, Yon."
"Pasti."
"Dia bakal nonjok lu."
"Mungkin."
"Dia bisa laporin lu ke polisi."
Dion tidak menjawab. Ernest menatapnya lama, lalu membuang napas panjang, mengambil buku tulis dari tas Jovian tanpa izin, dan mulai menulis cepat-cepat.
"Lu ngapain, Nest?"
"Surat wasiat." Ernest tidak mengangkat kepala. "Kalau gue yang jadi lu, gue pasti udah nulis. Gue ikutan nulis buat lu, karena lu pasti lupa."
"Gue nggak mau mati, Nest."
"Itu nggak ada hubungannya sama wasiat." Ernest membaca keras-keras sambil menulis. "Satu. Motor matic warisan Dion jatuh ke ..." Dia berhenti. "Siapa yang mau motor?"
"Gue!" Jovian mengacungkan tangan dari lantai. "Gue udah lama naksir joknya."
"Itu jok bocor, Jov."
"Tapi jok bocor yang punya sejarah."
"Wasiat ditolak," kata Dion. "Gue belum mati."
Gilbert, yang sejak tadi duduk pucat di bangku plastik, tiba-tiba bergumam, "Wasiat ... polisi ... suami ..." lalu matanya berputar dan kepalanya terkulai ke dinding dengan bunyi dug yang pelan.
"Gilbert!" Udin melompat. "Lu kenapa?"
"Dia pingsan," ujar Jovian datar. "Lagi."
Mereka berempat mengangkat Gilbert, membaringkannya lurus, dan Udin mulai menepuk pipinya sambil membaca doa pelan-pelan. Di tengah kekacauan itu, Ernest akhirnya menatap Dion dengan wajah yang tidak lagi bercanda.
"Yon. Serius. Lu yakin?"
"Gue takut." Dion menunduk memandang buku catatannya. "Takut dibunuh, takut dipenjara, takut Emak denger kabarnya dari orang lain. Tapi gue lebih takut jadi pengecut lagi. Gue udah pernah lari dari rumah, lari dari Fanya, lari dari semua yang bikin gue malu. Yang ini gue nggak mau lari."
Ernest menutup buku tulis Jovian. Di halaman terakhir ada satu baris tulisan yang belum selesai: Yang ini gue titipin ke Udin buat dibacain di acara tahlil.
"Gue ikut, kalau lu mau," katanya.
"Nggak. Ini bagian gue sendiri."
Di lantai, ponsel Dion bergetar sekali. Layarnya menampilkan pesan yang sama, belum dibalas, dan di bawah satu baris itu muncul baris baru dari nomor yang sama: Dion, tolong. Jawab.