Rabu siang, Fanya datang ke restoran itu hanya karena Refi menulis akan bicara soal Papah, bukan soal cincin. Perasaan kecil dan keras dari lorong kampus kemarin masih mengganjal di dadanya, dan dia tidak berniat tersenyum pada siapa pun.
Restoran itu terlalu bersih untuk ukuran perut Fanya. Taplak putihnya licin, gelas-gelasnya berembun tipis, dan pelayannya menarik kursi dengan gerakan yang sudah dilatih. Fanya duduk menghadap pintu siap kabur kapan saja, dengan tas dipangku dan kedua tangan dilipat di atasnya.
"Saya pesan terlalu banyak," kata Refi, memandang deretan piring yang baru saja diturunkan. "Maaf. Saya tidak tahu kamu suka apa, jadi saya pesan semuanya yang kelihatan aman."
"Aman?"
"Tidak pedas." Refi membetulkan kacamata tipisnya. "Saya sendiri tidak tahan pedas. Itu kelemahan yang sebaiknya kamu tahu sejak awal."
Seorang pelayan datang membawa mangkuk kecil sambal dan menaruhnya di tengah meja. Refi menatap mangkuk itu dengan wajah orang yang diberi tahu ada ular di bawah kursinya. "Tolong dibawa lagi," katanya sopan. "Atau ditaruh jauh sekali."
Fanya hampir tersenyum, lalu ingat dia sedang tidak ingin tersenyum pada siapa pun. Dia mengambil sendok, mengaduk sup di depannya tanpa menyendok. Refi tinggi dan rapi, kemejanya biru muda yang disetrika sampai garis lipatnya tajam, dan caranya duduk selalu seolah takut memakan ruang orang lain.
"Kak Refi," kata Fanya. "Aku mau datang hari ini karena Mama yang minta. Tapi aku mau bilang dari awal, supaya Kakak tidak buang waktu."
"Saya tahu."
"Kakak belum dengar apa yang mau aku ..."
"Kamu mau bilang kamu tidak mau menikah dengan saya." Refi meletakkan garpunya, pelan. "Dan sebelum kamu bilang itu keras-keras, boleh saya bilang sesuatu dulu?"
Fanya menunggu.
"Saya juga tidak mau." Dia mengatakannya tanpa nada apa pun, seperti membaca laporan. "Bukan karena kamu kurang. Kamu baik, dan sopan, dan jelas orang yang tidak pantas diperlakukan seperti barang jaminan. Tapi ayah saya yang menetapkan syaratnya. Beliau mau menyuntik modal ke usaha ayahmu, dengan satu syarat: dua keluarga ini disatukan."
"Jadi benar. Utang Papah."
"Bukan cuma utang. Ayahmu butuh modal kerja supaya bisa membayar pemasok, dan pemasok tidak lagi mau menunggu." Refi mendesah. "Ayah saya melihat itu sebagai peluang. Bukan peluang jahat, saya kira. Cara pikir beliau memang begitu: tidak ada bantuan tanpa ikatan."
Fanya memandang lelaki di depannya lebih lama dari yang dia rencanakan. Dia sudah menyiapkan seluruh pidatonya sejak di angkot: kata-kata dingin, jelas, tidak memberi ruang. Sekarang pidato itu seperti sepatu yang tiba-tiba kebesaran.
"Terus kenapa Kakak tetap datang?"
"Karena saya tidak mau jadi orang yang kamu benci hanya karena ayah saya kebetulan punya uang." Refi menunduk menatap serbet. "Dan karena saya punya tawaran. Boleh saya jelaskan?"
"Boleh."
"Perusahaan ayah saya punya skema pembiayaan untuk usaha kecil. Bunganya wajar, ada jaminan, ada jadwal. Tidak ada urusannya dengan pernikahan. Kalau usaha ayahmu dinilai layak, itu bisa berjalan sendiri." Refi menegakkan punggung. "Saya akan coba bicara dengan beliau. Ayah saya keras. Saya tidak janji berhasil. Tapi saya ingin kamu tahu ada jalan yang tidak lewat kamu."
Fanya menggenggam sendok sampai logamnya terasa hangat. Ada sesuatu yang aneh di dadanya, antara lega dan curiga. Selama dua minggu dia terbiasa dikelilingi orang yang menginginkan sesuatu darinya. Orang yang memberi tanpa menagih terasa seperti bahasa asing.
"Sebelum itu." Refi mendorong sepiring kecil acar ke arahnya. "Mamamu bilang kamu sedang patah hati. Saya tidak akan bertanya soal itu."
"Mama bilang begitu?"
"Dengan kata-kata yang lebih panjang. Dan lebih keras." Dia menahan senyum. "Saya bilang saya tidak akan bertanya soal itu."
Fanya menurunkan pandangan. Tenggorokannya terasa sempit. "Terima kasih, Kak."
"Kenapa Kakak mau repot?"
"Karena saya pernah ada di posisi kamu." Refi tersenyum kecil, tipis, dan jelas itu bukan senyum yang ingin dijelaskan lebih jauh. "Cobalah supnya. Tidak pedas."
Fanya mencicipi sup itu. Hangat, gurih, tidak pedas. Dan untuk beberapa detik dia membiarkan dirinya hanya makan.
**
Sore itu, Mama datang ke rumah Farish dengan kotak beludru kecil di tas tangannya.
Fanya sedang menjemur pakaian di halaman samping ketika mendengar klakson mobil, lalu langkah hak sepatu yang terlalu mantap di atas paving. Dia tidak perlu menoleh untuk tahu itu bukan tamu yang boleh ditolak. Di ambang pintu, Farish berdiri dengan tangan di saku, wajahnya datar, membukakan jalan tanpa suara.
"Fanya." Mama langsung duduk di sofa ruang tengah, menaruh tasnya di pangkuan seakan menyegel perundingan. "Kemari. Mama bawa sesuatu."
Fanya masuk, mengelap tangan di celana. Dia berdiri, tidak duduk.
Mama membuka kotak itu. Sebuah cincin dengan satu permata kecil berkilau di bawah lampu ruang tengah. "Ini dari keluarga Refi. Ibunya yang memilih sendiri. Kamu pakai malam ini, Mama foto, Mama kirim ke mereka. Biar mereka lihat kamu serius."
"Aku nggak mau pakai, Mama."
"Fanya."
"Aku sudah bilang ke Mama, aku nggak ..."
"Kamu bilang 'Terserah Mama'." Suara Mama tidak naik, malah turun, dan kotak cincin di tangannya menutup dengan bunyi klik pendek. "Itu kata-katamu sendiri minggu lalu. Mama pegang."
"Itu karena aku capek, Mama. Bukan karena setuju."
"Capek atau setuju, Mama tidak peduli." Mama menggeser kotak itu ke tepi meja, mendekat. "Kamu pikir Mama senang melakukan ini? Papahmu batuk tiap malam. Pemasok mengetuk pintu tiap pagi. Kalau usaha itu jatuh, kita semua jatuh, termasuk Abang kamu, termasuk kuliah kamu."
Fanya melihat ke arah Farish. Abangnya menatap lantai.
"Kak Refi bilang ada jalan lain," kata Fanya pelan. "Tanpa menikah."
"Refi bilang?" Alis Mama terangkat sedikit. "Kamu sudah ketemu dia?"
"Siang ini."
"Bagus. Kalau begitu kamu sudah tahu dia lelaki baik-baik." Mama tersenyum seolah itu kemenangan kecil yang tak sengaja datang kepadanya. "Jadi tidak ada alasan untuk menolak cincin ini."
"Mama, aku bilang ..."
"Pakai cincin ini, Fanya." Mama berdiri. "Atau uang kuliah semester depan Mama tahan."
Ruangan itu mendadak sunyi. Dari dapur terdengar kulkas berderit, dan Farish menarik napas panjang tetapi tidak berkata apa-apa.
Fanya memandang cincin itu. Lalu dia menatap Mama, dan untuk sekali dia tidak menunduk. "Kalau Mama tahan uang kuliah, aku cari sendiri."
"Cari sendiri?" Mama tertawa kecil, kering. "Dengan apa? Kamu pikir cari uang segampang itu?"
"Aku belum tahu." Fanya mengangkat dagu. "Tapi aku akan tahu."
Mama menutup kotak beludru dengan satu bunyi klik yang keras dan memasukkannya kembali ke tas. Di pintu, dia berhenti dan menoleh tanpa wajah marah, hanya letih yang dingin.
"Mama tidak akan menarik ancaman itu, Fanya. Kita lihat siapa yang duluan lelah."
Mobil Mama menjauh. Fanya masih berdiri di tengah ruangan, dengan kedua tangan yang baru mulai gemetar sekarang, setelah tidak ada lagi yang melihat.
Farish datang dari dapur membawa dua gelas teh dan menaruh satu di tangannya tanpa bicara. Mereka duduk berdampingan di sofa yang tadi diduduki Mama, dan bantalnya masih hangat.
"Abang bisa kasih sedikit buat bayar kuliah," katanya akhirnya. "Nggak banyak."
"Abang juga lagi dimintai Mama."
"Abang diam, Nya. Diam bukan berarti setuju." Farish memutar-mutar gelas di tangannya. "Abang cuma belum tahu caranya melawan Mama tanpa bikin Papah makin batuk."
Fanya bersandar ke bahu abangnya. "Aku juga belum tahu."
"Kamu tadi kelihatan tahu."
"Aku cuma sok tahu."
Farish tertawa pendek, hampir tak bersuara, dan menghabiskan tehnya.