Layar ponsel Dion menyala pukul lima pagi, dan dia sudah tahu dari nomornya yang asing bahwa isinya bukan tagihan.
Aaron akan tahu. Itu bukan ancaman, itu janji. Kamu yang memaksaku.
Dia membaca pesan itu sekali, lalu sekali lagi, sambil duduk bersila di kasur dengan selimut yang masih menempel di bahu. Kalimat terakhirnya yang paling lama dia pandangi. Kamu yang memaksaku. Dulu, kalimat seperti itu pasti membuatnya panik sampai tidak bisa menelan sarapan. Sekarang dia hanya merasa ada batu di perut, berat tetapi tidak lagi berputar.
Jarinya sempat bergerak ke kolom balasan. Dia mengetik: Tante, tolong jangan. Dihapus. Dia mengetik lagi: Silakan, tapi bilang yang sebenarnya juga. Dihapus. Akhirnya dia menaruh ponsel itu telungkup di lantai, jauh dari jangkauan tangan, dan mengambil buku catatan hitam bertuliskan UTANG dari bawah bantal.
Buku itu sudah lusuh. Angka-angkanya ditulis dalam tiga warna tinta, dicoret, ditimpa, dan di beberapa halaman ada noda sambal yang entah sejak kapan. Dion membuka lembar kosong, mengambil penggaris dari kotak pensil, dan mulai menyalin dari awal.
Tanggal. Jumlah. Dari mana. Untuk apa. Barang apa, ditaksir berapa, dikembalikan kapan.
"Lu ngapain, Yon?"
Ernest berdiri di ambang pintu dengan kaus belel dan mata setengah terbuka. Dia memegang gelas berisi kopi sachet yang sudah dingin, dan jelas tidak berniat minum.
"Nyalin."
"Subuh-subuh?"
"Kalau ditulis tangan, nggak ada yang bisa bilang ini karangan." Dion tidak mengangkat kepala. "Tiap angka gue cocokkan ke bukti transfer. Tiap barang gue foto. Pak Aaron nggak butuh cerita gue, dia butuh catatan yang bisa dia periksa sendiri."
Ernest duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding. "Tapi kalau dia yang duluan ngomong? Dia kan istrinya. Aaron bakal percaya siapa, Yon?"
"Gue nggak tahu."
"Lu nggak takut?"
"Takut." Dion akhirnya mengangkat kepala. "Takut banget. Tapi kalau yang menilai itu Pak Aaron sendiri, setidaknya yang dia lihat adalah kertas gue, bukan cerita yang sudah dipoles orang lain. Biar dia yang nentuin gue ini apa."
Ernest mengunyah kata-kata itu sebentar. "Terus kalau dia nonjok lu?"
"Berarti nonjok."
"Njir." Ernest meminum kopi dinginnya, meringis, lalu mengangguk. "Gue bawain es batu."
**
Perpustakaan fakultas tidak seramai biasanya, dan Fanya duduk di meja paling pojok dekat jendela dengan tiga buku terbuka yang tidak satu pun dia baca.
Dia baru kembali ke kampus pagi ini. Tidak ada yang bertanya macam-macam. Beberapa teman menyapa sekilas, seorang dosen mengangguk ketika dia masuk kelas, dan hanya itu. Rasanya aneh, karena di kepala Fanya segala sesuatu sudah berubah bentuk, sementara dunia di luar tetap rapi seperti tidak ada yang runtuh.
"Nya."
Mawar menarik kursi dengan hati-hati, tidak seperti biasanya. Di tangannya ada amplop putih kecil. Dia menaruhnya di atas buku Fanya, tepat di tengah halaman, lalu mengangkat kedua tangan.
"Aku nggak maksa. Aku nggak ngomong apa-apa. Aku cuma bawa pos."
Fanya menatap amplop itu. Tidak ada nama. Tidak perlu. Tulisan tangan di sudutnya, huruf-huruf yang miring ke kanan, dia kenali dari catatan-catatan kecil yang pernah diselipkan Dion di bawah botol minumnya.
"War ..."
"Kamu boleh buang. Kamu boleh bakar. Kamu boleh sobek-sobek terus kasih makan merpati." Mawar menggigit bibir. "Tapi aku sudah janji nyampein."
Fanya tidak menjawab. Mawar bangkit, menepuk bahunya sekali, lalu pergi dengan langkah yang sengaja dibuat berisik agar Fanya tahu dia benar-benar pergi.
Lama sekali amplop itu hanya tergeletak. Fanya melihat debu halus berputar di cahaya jendela. Lalu, dengan gerakan seolah mengambil sesuatu yang panas, dia membukanya.
Hanya satu lembar kertas bergaris, dilipat dua. Tiga kalimat, ditulis dengan pulpen hitam yang ditekan terlalu kuat sampai membekas di balik kertas.
Kalimat pertama berkata dia tidak meminta dimaafkan. Kalimat kedua berkata Bapak dan Emaknya kini tahu seluruhnya. Kalimat ketiga berkata dia akan diam, kecuali Fanya yang memanggil lebih dulu.
Fanya membacanya sampai habis. Lalu dia membacanya lagi. Pada kali ketiga, dia berhenti di kata terakhir dan baru sadar bibirnya bergerak mengikuti, seperti anak kecil yang belajar mengeja.
Tak satu pun pembelaan di sana, tak satu pun kata cinta, tak ada "tolong". Dia membayangkan Dion menulis ini berkali-kali, mencoret, menyalin, sampai tinggal tiga kalimat yang tidak bisa dibantah. Dia ingin marah karena surat itu terlalu jujur, dan tidak bisa, karena itu justru yang dia butuhkan dan tidak dia mau.
Fanya melipat kertas itu dua kali. Tidak dia balas. Tidak dia robek. Dia membuka buku kuliah tebal di depannya dan menyelipkannya di halaman tengah, di sebelah selembar uang ongkos ojek yang masih menunggu di sana sejak hari itu.
**
Menjelang siang, Fanya berdiri di balkon lorong lantai dua dengan segelas teh kemasan yang belum tersentuh. Dari sana dia bisa melihat halaman tengah yang menghubungkan gedung-gedung fakultas.
Dion melintas di bawah, sendirian, membawa map dan tas punggung. Dia memakai jaket hijau yang lengan kirinya sedikit sobek, dan dia lebih kurus dari yang Fanya ingat. Pipinya cekung, bahunya tidak setegak biasanya. Langkahnya cepat, tetapi ketika sampai di bawah balkon dia berhenti sebentar, bukan karena sadar sedang dilihat, melainkan karena seorang tukang kebun menjatuhkan selang dan dia membantu mengangkatnya.
Fanya menahan napas. Jantungnya memukul pelan, berkali-kali, seakan lupa bahwa pemiliknya sudah memutuskan untuk tidak mendengarkan.
Dia tidak memanggil. Dion tidak menoleh ke atas. Dua puluh detik kemudian laki-laki itu menghilang di balik pintu gedung, dan Fanya baru menyadari tangannya mencengkeram pagar sampai buku jarinya memutih.
"Fanya?"
Dia terlonjak. Siti berdiri di belakangnya dengan kerudung biru muda dan perut yang mulai membulat di balik gamis longgar, membawa kantong plastik berisi dua bungkus kue basah. Wajahnya cerah, tapi matanya hati-hati.
"Maaf, aku nggak bermaksud ngagetin." Siti tertawa kecil, canggung. "Aku dengar dari Mawar kamu sudah masuk. Aku bawa kue. Dari Bu Wulan. Katanya buat teman yang sudah nampung aku."
"Nggak usah repot, Mbak."
"Nggak repot. Aku kangen." Siti ikut bersandar di pagar, menatap halaman yang sama tanpa bertanya apa yang tadi Fanya lihat. Setelah beberapa saat, dia bicara pelan. "Mas Udin cerita, Kak Dion lagi susah."
Fanya diam.
"Mas Udin sudah mulai nyicil yang dua puluh juta itu. Lima ratus ribu dulu, dari hasil bantu-bantu di bengkel motor. Dia bilang Kak Dion nolak. Katanya jangan buru-buru, simpan buat bayi." Siti mengusap perutnya. "Tapi Mas Udin tetap ngotot. Kak Dion akhirnya terima, terus bilang ... dia nggak butuh bantuan apa pun lagi. Cuma doa."
"Cuma doa," ulang Fanya.
"Iya." Siti menoleh. "Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Aku nggak mau tahu kalau kamu nggak mau cerita. Tapi aku bilang ini karena dulu, waktu aku nggak punya siapa-siapa, Kak Dion yang pertama kali ngulurin tangan tanpa nanya apa-apa."
Fanya memandang kue basah di tangan Siti, lalu ke halaman kosong tempat Dion tadi lewat. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, kecil, keras, dan sangat tidak diundang.
"Terima kasih, Mbak," katanya, dan suaranya terdengar lebih jernih daripada yang dia rasakan.