"Yon! Yooon!" Jovian berlari melintasi parkiran motor dengan ponsel terangkat di atas kepala seperti membawa piala. "Dua pesanan! Dua! Gue baca ulang tiga kali biar nggak salah!"
Dion baru mematikan mesin motornya. Senin pagi, sehabis akhir pekan yang dia habiskan pulang kampung, masih berembun; helmnya berbau asap knalpot jalan tol, dan punggungnya pegal sehabis dua hari mengangkat papan jati. "Pesanan apa?"
"Kursi makan empat biji dari ibu-ibu yang kemarin lihat foto lemari Bu Zubaedah. Sama satu meja kerja dari anak SMA yang bilang 'buat belajar biar nggak ngantuk'." Jovian mengatur napas. "Anak SMA, Yon. Gue yakin dia ngantuk karena nonton drakor, bukan karena mejanya."
"Bagus. Teruskan jadwal posting lu."
"Siap, Bos Besar!"
"Jangan panggil gue begitu, Jov."
Dion menurunkan standar motor, menggantungkan helm di spion, lalu menegakkan badan. Dua hari di kampung masih menempel di telapak tangannya: serpihan jati di bawah kuku, pegal bekas mengangkat papan bersama Zain yang entah kenapa memaksa datang lagi hanya untuk Sabtu, dan Emak yang menaruh lauk ke piringnya diam-diam tiap kali dia lengah. Tiga hari lagi lemari Bu Zubaedah selesai diukir. Dia ingin membawa perasaan itu masuk kelas, menaruhnya di samping draf bab dua, dan membiarkannya jadi tenaga.
Perasaan itu bertahan kira-kira sampai dia melihat mobil merah.
Di ujung deret mobil, tepat di depan tangga gedung fakultas, sebuah mobil merah menyala diparkir miring menutupi dua petak sekaligus. Kaca depannya turun. Kacamata hitam besar menoleh ke arahnya.
Jovian ikut menoleh. Senyumnya mati seperti lampu yang dicabut dari stopkontak. "Yon, itu ..."
"Masuk kelas, Jov."
"Tapi Yon ..."
"Masuk. Kelas."
Jovian mundur dua langkah, lalu menghilang ke arah gedung sambil mengetik sesuatu dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
**
Sanny turun dari mobil tanpa menutup pintunya. Kaus longgar, celana kain, rambut digelung seadanya. Tidak ada gincu, tidak ada parfum yang tercium dari jarak sepuluh langkah. Itu yang membuat Dion sadar ada sesuatu yang berubah: perempuan ini datang dengan wajah yang tidak disiapkan.
"Dua hari," kata Sanny, berhenti di anak tangga paling bawah. "Dua hari aku menelepon, dan nomorku kamu blokir."
"Selamat pagi, Tante."
"Kamu kirim kardus. Kamu kirim jam tanganku. Kamu kirim kemeja yang bahkan belum sempat kamu pakai." Suaranya serak, tetapi bukan serak yang genit. "Kamu pikir aku barang yang bisa kamu kembalikan ke toko?"
"Saya tidak mengembalikan Tante. Saya mengembalikan barang." Dia memilih "saya" dengan sengaja; jarak itu satu-satunya pagar yang dia punya.
"Itu sama saja!"
Beberapa mahasiswa berhenti di tangga. Seorang cewek menurunkan tasnya sambil pura-pura mencari sesuatu. Dion merendahkan suara. "Tante, kalau mau bicara, kita cari tempat yang ..."
"Aku tidak mau tempat yang sepi!" Sanny naik satu anak tangga. "Karena tiap kali kita di tempat sepi, kamu bilang 'nanti', 'besok', 'saya pikirkan'. Aku sudah muak menunggu. Kamu satu-satunya yang bertanya apa aku sudah makan."
"Itu pekerjaan saya, Tante. Saya dibayar untuk bertanya."
Kalimat itu keluar lebih kejam daripada niatnya. Dion langsung menyesal, tetapi dia tidak menariknya kembali, karena memang itulah kenyataannya, dan dia sudah lelah menghias kenyataan supaya enak didengar.
Sanny menatapnya seolah baru ditampar tanpa tangan. "Jadi selama ini ..."
"Saya salah, Tante. Itu yang mau saya katakan sejak malam di rumah Tante. Tante juga salah, tapi bagian Tante bukan urusan saya. Bagian saya, saya yang bereskan."
"Aku tidak mau kamu bereskan! Aku mau kamu ..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, dan Dion membiarkan kata itu menggantung di antara mereka. Di lantai dua gedung, dia melihat dua kepala menempel di kaca jendela: Ernest dan Udin, keduanya tidak lagi berpura-pura mengerjakan apa pun.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan dengan surat itu?" Sanny mengusap pipi dengan punggung tangan. "Kamu hapus aku seperti catatan di buku. Seperti utang."
"Memang utang."
Mata Sanny melebar. Tangan kanannya terangkat, dan sebelum Dion sempat mundur, jemarinya sudah menyambar lengan jaket hijau itu, mencengkeram sampai kuku menembus kain. Dion tidak menyentak. Dia hanya menunduk memandang tangan itu, lalu memandang Sanny, dan berkata pelan, "Lepas, Tante."
"Tidak."
"Lepas."
Cengkeraman itu mengendur, dan Dion melepas jari-jari itu satu per satu, hati-hati, seperti melepas duri dari kain. Itu bukan kekerasan, tetapi juga bukan izin.
"Dengar." Sanny menurunkan suara. Dua mahasiswa di tangga berhenti mengunyah. "Anggap semuanya hadiah. Aku tidak minta kembali satu rupiah pun. Jam itu, uang itu, semuanya milikmu. Kamu cuma harus berhenti bersikap seperti orang suci dan kembali ke apartemen."
"Saya tidak bisa menganggapnya hadiah, Tante."
"Kenapa? Itu uangku, aku yang memutuskan!"
"Karena kalau saya menerimanya sebagai hadiah, berarti saya setuju bahwa saya dibayar untuk sesuatu." Dion menggeleng pelan. "Saya tidak mau jadi orang yang dibayar untuk itu."
Sanny memandangnya seperti memandang orang asing yang kebetulan memakai wajah yang dia kenal.
"Kamu akan menyesal," bisik Sanny. Matanya berkaca-kaca, dan itu yang paling sulit ditatap. "Aku bisa bilang ke Aaron kamu memerasku. Setiap transfer itu ada di rekeningku. Siapa yang akan dipercaya, anak ojek bangkrut atau istri yang rekeningnya jelas?"
Dion menarik napas. Di dadanya ada rasa takut, dan di bawah rasa takut itu ada sesuatu yang lebih tenang. "Silakan, Tante," katanya. "Saya bawa catatannya."
"Catatan apa?"
"Tiap tanggal, tiap angka, tiap barang. Saya tulis sebagai pinjaman sejak hari pertama. Fotokopinya ada di dalam kardus yang Tante terima. Aslinya di tas saya." Dion menatap lurus. "Kalau Pak Aaron mau tahu soal memeras, saya sendiri yang akan mengantarkan semuanya ke tangan beliau."
Wajah Sanny pucat. Bukan karena marah, tetapi karena dia mendengar kalimat itu dan sadar kalimat itu sungguhan.
"Ehem."
Mereka menoleh. Pak Sanusi berdiri di anak tangga ketiga dengan tas jinjing dan map cokelat di dada, memandang Sanny, memandang Dion, memandang Sanny lagi. Jasnya terlalu rapi untuk pukul tujuh pagi. Tiap kali melihat Dion, matanya selalu melirik ke saku celana Dion, tempat sebuah ponsel bisa menyimpan video apa saja.
"Selamat pagi, Dion." Suaranya naik setengah oktaf. Dia mendekat selangkah, lalu menurunkan nada seperti orang menawar di pasar. "Saya tidak bermaksud mengganggu urusan pribadi. Saya cuma kebetulan lewat. Ada ... masalah?"
"Tidak ada, Pak."
"Ini ..." Pak Sanusi melirik Sanny dengan canggung. "Itu klien?"
Dion berpikir sejenak. Biasanya dia akan menjawab 'iya' dan menutup perkara. Tetapi kata itu terasa seperti kerikil di lidah. "Bukan klien, Pak. Orang yang saya berutang budi dan uang. Saya sedang menyelesaikannya."
Pak Sanusi mengangguk-angguk seperti mengerti, walau jelas tidak. Sanny memotong. "Anda siapa? Kenapa ikut campur?"
"Saya dosen di sini, Bu." Pak Sanusi menegakkan punggung, dan untuk sesaat dia terlihat seperti orang yang sedang mengingat bahwa dia punya wibawa. "Dan Ibu sedang membuat keributan di depan fakultas." Pak Sanusi membetulkan dasi dengan jari gemetar, lalu berseru ke arah pos, "Pak Satpam! Tolong ke sini sebentar!"
Dua satpam berlari. Sanny mundur selangkah, memandang Dion dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan, dan ketika tangan pertama menyentuh sikunya, suaranya pecah di seluruh halaman.
"Lepaskan! Dion, dengar aku! Kamu pikir aku tidak bisa membuat Aaron tahu semuanya? Dia akan tahu kamu memerasku!"
Satpam menyeretnya ke arah mobil merah. Di lengan jaket hijau Dion masih berbekas kuku.