Pintu kost Dion terbuka sebelum dia sempat mengetuk. Ernest berdiri di baliknya dengan rambut berdiri semua, handuk di bahu, dan wajah yang jelas sudah menunggu sejak subuh.
"Lu bau kampung," katanya.
"Selamat pagi juga, Nest."
"Bau tempe. Bau sawah. Bau ..." Ernest mengendus tas yang diturunkan Dion dari punggung, lalu mundur dua langkah. "Itu sambal terasi? Dalam botol kecap? Njir, Yon, itu bukan oleh-oleh, itu senjata kimia."
"Emak yang bungkus. Lu makan atau gue bawa balik."
Ernest langsung mengambil botol itu dan memeluknya. Dari kamar sebelah, kamar lama yang masih dipakai Udin tiap kali kontrakannya bocor, terdengar suara mengaji pelan, lalu berhenti, lalu pintu terbuka sedikit. "Itu Dion?" Kepala Udin menyembul. "Alhamdulillah. Lu masih utuh?"
"Utuh. Kurang lebih."
"Kurang lebihnya yang mana?"
"Yang tadi malam diurus Emak." Dion tersenyum tipis, lalu menaruh tas di kasur dan membuka laci. Di dasar laci, terbungkus kantong plastik, ada dua benda yang sejak seminggu lalu dia hindari untuk dipandang lama: jam tangan perak dan kemeja putih yang masih berlipat sempurna.
Ernest berhenti mengunyah tempe. "Jadi hari ini?"
"Hari ini."
Dion mengeluarkan kardus bekas sepatu dari bawah ranjang, mengisinya dengan jam tangan, kemeja, dan fotokopi buku catatan UTANG yang sudah dia jilid rapi di warnet dekat terminal. Terakhir dia melipat selembar kertas dan menaruhnya paling atas. Ernest membaca dari balik bahunya tanpa diminta.
"Terima kasih, maaf, sisanya dicicil, jangan hubungi," dia mengeja. "Singkat amat."
"Makin panjang, makin banyak yang bisa dia tarik jadi percakapan."
"Lu nggak mau nulis 'semoga bahagia'? Kan sopan."
"Gue nggak mau dia bahagia atau nggak bahagia gara-gara surat gue. Gue cuma mau barangnya pulang."
Ernest mengangguk pelan, lalu menekan selotip di tutup kardus dengan dua jempol seakan menutup peti harta. Dari ambang pintu Udin ikut memperhatikan. "Lu sendiri yang antar?"
"Cuma sampai resepsionis. Gue nggak naik."
"Bagus," kata Udin. "Pintu yang nggak diketuk nggak bisa dibukain."
"Itu ayat?"
"Itu pengalaman," jawab Udin, dan Ernest tertawa sampai tempe di mulutnya hampir keluar.
"Eh, soal akun bengkel lu." Ernest mengelap tangan ke handuk, lalu mengeluarkan ponselnya. "Jovian udah bikin jadwal posting. Senin kursi, Rabu lemari, Jumat foto Pak Karto. Katanya Pak Karto itu daya tarik utama. Wajah tersiksanya viral."
"Belum ada yang viral, Nest. Pengikutnya dua belas."
"Sembilan di antaranya Jovian." Ernest nyengir. "Tapi yang tiga itu asli, Yon. Tiga manusia yang nggak kenal lu."
Dion tertawa, kecil dan serak, dan baru sadar sudah lama sekali dia tidak melakukannya di kamar ini.
**
Jam sepuluh Dion duduk di kursi tunggu depan ruang dosen pembimbing, memegang draf skripsi yang halamannya sudah dia kuatkan dengan klip. Pintu terbuka. Sang dosen, perempuan paruh baya berkacamata tebal itu, memandangnya dari atas bingkai kacamata seperti memandang mahasiswa yang menghilang dari bumi.
"Zayn Dion Krismeinda." Dia menyebut nama lengkap itu dengan nada petugas pengadilan. "Seminggu. Tujuh hari. Saya kirim dua pesan dan kamu tidak menjawab satu pun."
"Maaf, Bu. Saya pulang kampung. Ada urusan keluarga."
"Urusan keluarga." Dia membolak-balik draf, mendecakkan lidah di halaman bab dua. "Ini masih bab dua yang sama dengan yang saya coret dua pekan lalu."
"Saya bawa pulang, Bu. Belum sempat diperbaiki."
"Saya tidak minta kamu bawa pulang. Saya minta kamu perbaiki." Dia menutup draf, menaruhnya di meja, lalu menumpuk kedua tangan di atasnya. "Dengar, Dion. Draf lengkap, bab satu sampai lima, dua pekan lagi. Bukan dua bulan, bukan 'nanti kalau sempat'. Kalau lengkap, saya daftarkan sidang. Kalau tidak, kamu tunggu periode berikutnya, dan saya dengar kamu tidak punya waktu sebanyak itu."
Dion menelan ludah. "Dari mana Ibu dengar?"
"Dari wajah kamu." Nada dosen itu turun sedikit. "Kamu kurus. Dua pekan. Bisa?"
Dion memikirkan bengkel, lemari berukir melati, dan buku UTANG yang menunggu. Lalu dia memikirkan wajah Bapak waktu mengelap mesin tua. "Bisa, Bu."
"Jangan jawab bisa kalau cuma mau menyenangkan saya." Dosen itu mengambil pulpen merah, menulis tanggal di sudut halaman judul, lalu melingkarinya dua kali. "Ini tenggatnya. Saya tidak akan menelepon kamu lagi. Saya cuma menunggu."
"Saya paham, Bu."
"Bab dua dulu. Metodenya terlalu longgar, daftar pustaka berantakan, dan kesimpulan kamu menjawab pertanyaan yang tidak pernah kamu ajukan." Dia menyodorkan draf itu kembali. "Saya sudah sering melihat mahasiswa yang hilang seminggu, Dion. Sebagian besar tidak pulang. Kamu pulang. Itu sudah lebih baik dari rata-rata."
Dion menerima draf itu dengan dua tangan, dan sambil melangkah keluar dia baru sadar telapak tangannya basah.
**
Lobi apartemen itu masih sama dinginnya: lantai marmer, wangi bunga plastik yang terlalu rajin disemprot parfum, dan petugas resepsionis berseragam abu-abu yang menatap kardus di tangan Dion dengan curiga yang sopan.
"Titipan untuk Ibu Sanny Shilby, unit lantai atas," kata Dion. "Mohon diserahkan ke tangan beliau. Atau suaminya."
"Boleh tahu dari siapa, Pak?"
"Ada surat di dalamnya. Cukup serahkan saja."
"Kami harus mencatat nama pengirim."
Dion menimbang sebentar, lalu menulis di buku tamu dengan huruf rapat: Dion. Tanpa nomor ponsel, tanpa keterangan. Petugas itu menyegel kardus dengan selotip, menempelkan stiker bernomor, dan menaruhnya di rak belakang. Rak itu terlihat sangat kecil untuk menampung sesuatu yang selama berbulan-bulan terasa sebesar rumah.
"Sudah selesai, Pak?" tanya petugas itu ketika Dion belum juga beranjak.
"Sudah."
"Kalau beliau tanya, kami sampaikan apa?"
"Sampaikan saja ada kardus," kata Dion. "Isinya sudah menjelaskan sendiri."
Di pintu kaca, Dion berhenti. Dia tidak menoleh. Tangannya yang kosong, anehnya, terasa lebih berat daripada waktu memegang kardus.
**
Kantin kampus pukul dua belas ramai oleh bau gorengan dan teriakan pesanan. Mawar duduk di bangku pojok dengan es teh dan ponsel, dan dia menyadari Dion menghampiri jauh sebelum Dion tiba, karena bahunya langsung menegang.
"Aku nggak lagi bawa tangan buat nampar," katanya tanpa menoleh. "Tapi gampang diambil."
"Aku cuma sebentar." Dion tidak duduk. Dari saku jaket dia mengeluarkan amplop putih kecil, tanpa nama, tanpa perangko. "Ini buat Fanya. Cuma tiga kalimat."
Mawar memandang amplop itu seolah-olah bisa meledak. "Isinya?"
"Kakak tidak minta dimaafkan. Kakak sudah menceritakan semuanya kepada Bapak dan Emak. Kakak tidak akan menghubungimu, kecuali kamu yang meminta." Dion menarik napas. "Itu semua. Nggak ada yang disembunyikan."
"Kamu hafal." Mawar mendengus, tetapi suaranya tidak setajam kemarin. "Dan kalau dia nggak mau baca?"
"Berarti nggak baca. Aku nggak akan tanya."
"Emak kamu gimana?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Mawar seperti dipaksa. "Jovian bilang asmanya kumat."
"Sudah pulih. Cuma disuruh banyak istirahat."
"Terus kamu tinggalin?"
"Ada Bapak, ada Zain sampai kemarin, ada Pak Karto yang jaga bengkel. Sabtu depan aku pulang lagi." Dion mengusap tengkuk. "Aku nggak ngomong itu buat dicatat siapa-siapa, War. Cuma biar kamu tahu aku nggak lari."
Mawar menyedot es tehnya sampai bunyi sedotan berderak di dasar gelas. "Aku nggak bilang kamu lari."
Mawar diam cukup lama. Di meja sebelah, seseorang tertawa terlalu keras. Akhirnya dia mengambil amplop itu dengan dua jari dan menyelipkannya ke dalam tas tanpa melihat.
"Aku kasih kalau dia mau," katanya. "Kalau dia nggak mau, amplop ini kubakar di belakang kantin. Paham?"
"Paham."
"Dan Kak Dion." Mawar akhirnya mendongak. Matanya merah di pinggir, dan Dion baru sekali ini melihatnya tidak marah. "Semalam dia lihat akun bengkel kamu. Dua kali. Aku nggak bilang apa-apa. Kamu juga jangan geer."