"Lemari," kata Bu Zubaedah. "Dua pintu. Yang kokoh. Yang bisa nyimpen buku utang seluruh kampung."
Dia berdiri di tengah bengkel dengan tangan di pinggang, mengenakan daster bunga-bunga yang paling bagus dan tas pinggang yang paling penting, sementara Pak Karto yang sedang menyerut papan menatapnya dengan sopan dan sedikit takut. Matahari pagi masuk lewat celah atap dan jatuh tepat di buku utang tebal yang dia dekap, seolah dunia sendiri ikut menyorot benda itu.
Dion, yang baru selesai menyapu serbuk kayu, nyaris menjatuhkan sapu. "Bu, Ibu serius?"
"Ibu kapan nggak serius? Ibu serius kalau soal duit, soal tetangga, dan soal lemari." Bu Zubaedah mengetuk-ngetuk papan jati dengan buku jarinya, menaruh telinga ke kayu seperti dokter memeriksa dada pasien. "Ini jatinya bener, ya? Bukan jati belanda?"
"Jati asli, Bu," jawab Pak Karto pelan. "Dari kayu simpanan Pak Devan sendiri. Sudah tua, tidak akan melengkung."
"Bagus." Bu Zubaedah menoleh. "Berapa?"
Dion berpikir. Zain semalam sudah menulis daftar harga di buku tulisnya, dan di antara huruf-hurufnya yang rapi seperti tulisan pegawai bank, ada satu baris yang dia lingkari merah: lemari dua pintu, tiga juta rupiah. Dia menelan ludah. Tiga juta, bagi Bu Zubaedah, mungkin sama dengan sepuluh ribu bungkus kerupuk.
"Tiga juta, Bu."
"Kemahalan!" Bu Zubaedah mengangkat dagu. "Dua setengah!"
"Tiga juta, Bu, itu sudah pas ..."
"Dua tujuh lima. Terakhir. Ibu mau borong tapi Ibu kan nggak bisa borong kalau harganya bikin Ibu migrain."
Pak Karto tiba-tiba berdeham keras sambil memalingkan wajah ke papan. Dion menangkap bahunya bergetar. Mereka bertatapan sebentar, dua laki-laki kampung yang sama-sama berusaha agar tidak tertawa di depan pelanggan pertama.
"Dua delapan lima, Bu. Dan saya antar sendiri."
"Deal!" Bu Zubaedah merogoh tas pinggangnya, mengeluarkan segepok uang yang dilipat karet gelang, dan menghitungnya dengan jempol licin seperti penjual tiket di terminal. "Uang muka satu setengah juta. Sisanya Ibu bayar pas lemari sampai. Tapi jangan lupa ukir bunga di pintunya. Bunga melati."
Dion menerima uang itu. Dingin dan tipis, lembarannya lecek karena sering keluar masuk saku. Dia memandangnya cukup lama, dan baru sadar tangannya tidak gemetar. Setelah berbulan-bulan memegang amplop tebal yang terasa seperti bara, uang satu setengah juta ini beratnya hanya selembar kertas.
Lalu dia berbalik, mengambil buku utang dari tangan Bu Zubaedah tanpa permisi, dan membuka halaman tempat nama keluarganya tertulis dengan tinta biru kusam. Dua juta tiga ratus lima puluh ribu. Dia menghitung ulang uang itu dengan hati-hati, lembar demi lembar, lalu menyodorkannya kembali ke tangan Bu Zubaedah.
"Bu, ini untuk utang keluarga kami. Dicatat, ya."
Bu Zubaedah menatap uang di tangannya. Menatap Dion. Menatap uang itu lagi.
"Ini ... ini kan uang Ibu sendiri?"
"Sekarang bukan, Bu. Ini uang dari lemari."
"Tapi Ibu kasih ..." Bu Zubaedah mengerutkan dahi, bibirnya bergerak-gerak menghitung, dan Dion bisa melihat benaknya berputar seperti kincir air. "Ibu bayar, terus Ibu terima lagi dari kamu sebagai pembayaran. Berarti ... Ibu nggak keluar uang?"
"Ibu keluar lemari."
"Ibu dapat lemari. Sama utang berkurang. Tapi Ibu masih pegang uang." Bu Zubaedah menggeleng pelan, takjub. "Dion, kamu belajar dari mana? Ibu nggak ngerti, tapi Ibu senang."
"Saya juga nggak ngerti, Bu. Zain yang ngajarin."
Bu Zubaedah mencoret angka dua juta tiga ratus lima puluh ribu di bukunya dengan pulpen merah, menggantinya dengan delapan ratus lima puluh ribu, lalu menaruh tanda tangan kecil di pinggirnya. Itu, pikir Dion, adalah tanda tangan paling indah yang pernah dia lihat. Dan uang itu, satu setengah juta rupiah yang hanya sempat mampir beberapa detik di tangannya, adalah uang halal pertama yang dia pegang dari kerja tangan keluarganya sendiri.
**
Di rumah Farish, Mawar membawa ponselnya seperti membawa sebuah bom yang ingin dia ledakkan dengan sangat hati-hati.
"Nya, kamu bisa bantu aku nggak?" Dia duduk di karpet ruang tengah, menyeruput teh dari gelas Fanya tanpa permisi. "Aku lagi cari kursi buat kamar kosku. Kursi kayu. Yang bagus."
Fanya, yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuan dan tugas kuliah setengah jadi di layar, tidak mengangkat kepala. "Beli di toko."
"Tapi aku mau yang kayu jati. Kata Jovian ada yang jual bagus, di akun ini ..." Mawar mengulurkan ponsel dengan gerakan sangat santai, seakan kebetulan.
"War."
"Aku nggak ngomong apa-apa."
"War."
"Aku cuma nanya kursi!"
Fanya akhirnya mendongak. Pandangannya jatuh ke layar yang disodorkan itu, dan dia melihat apa yang sudah dia duga: sebuah akun kecil, tanpa pengikut berarti, dengan nama "Bengkel Jati Simbah". Di foto profil, motor matic kecil berdebu parkir di depan pintu kayu yang terbuka. Cahaya senja jatuh di joknya.
Tubuhnya membeku sedetik. Lalu dengan satu gerakan datar, dia menekan tombol samping ponsel Mawar dan layar itu mati.
"Aku nggak tanya," katanya.
"Tapi ..."
"Aku nggak tanya, War." Dia kembali menatap laptop, jarinya mengetik sesuatu yang bukan kalimat. "Kalau kamu mau kursi, beli di toko."
Mawar menarik tangannya perlahan. Dia tidak membantah. Dia hanya bangkit, menepuk lutut, dan berkata, "Aku pulang dulu. Besok aku bawa sup." Di ambang pintu dia menoleh, dan ada sesuatu yang puas, nyaris jahil, di sudut bibirnya.
Pintu menutup. Fanya mendengar langkah Mawar menjauh, lalu pagar, lalu motor yang menyala, lalu sunyi.
Dia duduk lama.
Lalu tangannya, tanpa menunggu izin dari kepalanya, mengambil ponsel dari meja dan membuka sebuah aplikasi. Dia mengetik tiga huruf pertama, dan nama itu muncul di bagian atas hasil pencarian, seakan sudah menunggu. Akun itu masih bayi. Hanya enam foto: kursi setengah jadi, gergaji pita, dua tangan tua memegang pahat, tumpukan kayu jati, dan satu foto Pak Karto yang menatap kamera dengan wajah tersiksa. Di keterangan tertulis: "Terima pesanan kursi, meja, lemari. Kayu jati sisa toko lama. Dikerjakan dengan tangan."
Tidak ada kata lain. Tidak ada nama Fanya, tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan maaf.
Fanya menatap foto profil itu: motor kecil berdebu di depan pintu terbuka. Jempolnya menggantung di atas layar, tidak menekan apa pun, tidak menutup apa pun.
**
Malam itu, di dapur rumah simbah, Emak membungkus bekal untuk perjalanan dalam keresek hitam: nasi dalam kotak plastik, tempe goreng dibungkus daun pisang, sambal terasi dalam botol kecap bekas. Zain sudah berangkat subuh tadi kembali ke kota, meninggalkan secarik kertas berisi daftar harga dan tulisan tangan yang tegas: JANGAN DIJUAL MURAH.
"Kamu yakin besok berangkat, Yon?"
"Skripsi, Mak. Dosen nunggu. Dan ..." Dion melipat bajunya ke dalam tas, satu per satu, dengan ketelitian yang tidak pernah dia punya sebelumnya. "Ada yang harus Dion beresin di kota."
Emak berhenti membungkus. Dia menatap anak bungsunya lama, dan Dion melihat mata itu menimbang sesuatu yang ingin dia sampaikan dari kemarin.
"Gadis itu. Fanya."
"Iya, Mak."
"Dia anak baik?"
"Terlalu baik, Mak. Itu yang bikin Dion malu."
Emak mengangguk pelan, lalu menaruh bungkusan tempe ke atas tumpukan, memberinya tepukan kecil seakan ikut mendoakan. "Bawa dia ke sini kalau dia mau."
Dion membeku dengan kaus di tangan. "Mak ..."
"Emak nggak bilang dia harus. Emak bilang kalau dia mau." Emak tersenyum tipis, dan senyum itu lebih berat daripada kemarahan mana pun. "Emak ingin lihat anak yang bisa bikin kamu pulang."
Dion tidak bisa menjawab. Dia menutup tas, menarik ritsletingnya sampai ujung, dan memandang bungkusan-bungkusan di meja yang akan ikut berangkat bersamanya, seolah seluruh kampung ikut mengantar. Di luar, jangkrik masih berbunyi, dan di dalam kepalanya terdengar bunyi gergaji pita yang berdengung rendah.
"Dion balik besok pagi, Mak," katanya. "Sabtu depan Dion pulang lagi. Dion harus beresin semuanya sampai habis."