Gembok bengkel itu berkarat sampai warnanya mirip permen cokelat, dan kunci besar di tangan Bapak harus diputar tiga kali, dengan tambahan semprotan minyak dari botol bekas, sebelum mau menyerah. Pintu kayunya berderit panjang, jenis derit yang dulu membuat Dion kecil berpikir ada hantu tinggal di dalamnya.
Selasa mereka habiskan menjaga Emak. Emak bangun segar dan langsung memarahi semua orang karena memperlakukannya seperti telur retak, lalu minta dibuatkan teh manis. Baru Rabu pagi ini, ketika matahari sudah tinggi dan embun menguap dari atap seng, Bapak benar-benar berdiri di depan pintu bengkel dengan kedua tangan di pinggang, seperti orang yang menunggu pintu itu berubah pikiran.
"Pak?" tanya Dion.
"Sebentar."
Zain berdiri di sebelah Dion dengan kaus oblong dan celana training, rambut acak-acakan, tampak seperti pegawai bank yang baru saja diculik dan dibuang di tempat asing. Dia berbisik: "Bapak udah lima menit di situ."
"Gue tahu."
"Mau gue dorong?"
"Jangan."
Bapak akhirnya masuk. Dua belas langkah ke dalam, di tengah ruangan, dia berhenti, dan Dion, yang menyusul di belakangnya, melihat apa yang dia lihat.
Bengkel itu lebih besar dari yang dia kira. Debu menyelimuti segalanya dengan lapisan abu-abu halus, tapi di bawah debu itu semuanya tertata: gergaji pita besar bercat hijau pudar, mesin serut dengan roda besi, bangku kerja panjang dengan ragum yang berkilat samar karena minyak. Di sudut, tertutup terpal biru, berdiri tumpukan kayu setinggi dada. Dion menyibak ujung terpal. Jati. Tua, padat, warnanya cokelat madu yang tidak bisa dibeli di toko mana pun hari ini.
"Mas Dion?"
Suara itu pelan dan berasal dari belakang mereka. Seorang lelaki kurus berkulit legam, rambutnya putih sebagian, berdiri di pintu dengan sapu lidi di satu tangan dan peci di tangan lain. Usianya mungkin lima puluh delapan, tapi mata dan jari-jarinya bekerja seperti milik orang jauh lebih muda. Dia memandang Dion seolah memandang foto lama yang mendadak bergerak.
"Pak Karto," ucap Bapak.
"Pak Devan." Pak Karto memakai pecinya pelan-pelan, seperti hendak menghormati upacara. "Mesinnya saya minyaki tiap Jumat. Pisaunya saya asah bulan lalu. Tinggal dinyalakan, Pak."
Bapak tidak menjawab. Dia melangkah ke dinding, ke saklar besi tua yang digantungi sarang laba-laba, dan mengulurkan tangan. Dion melihat jari-jari itu gemetar, halus tapi jelas, bergetar seperti dawai yang disentuh angin.
Tak seorang pun bicara. Zain memalingkan muka. Pak Karto menunduk.
Dion melangkah maju dan menaruh tangannya di atas tangan Bapak. Kulit itu dingin dan kasar. Bapak menoleh sedikit, dan untuk sesaat Dion tidak melihat ayahnya, melainkan seorang lelaki muda yang berdiri di depan toko pertamanya dengan seluruh hidupnya di depan mata.
"Barengan, Pak," katanya.
Mereka menurunkan saklar itu bersama.
Mesin gergaji pita batuk, menderu, lalu mengaum rendah dan stabil, mengirim getaran sampai ke lantai, ke telapak kaki, ke tulang dada. Debu di atas bangku terangkat dan menari-nari di cahaya yang masuk dari celah atap. Bapak memejamkan mata. Di sudut matanya, ada sesuatu yang berkilat dan segera dia usap dengan punggung tangan seakan itu debu.
"Hm," kata Bapak. "Bunyinya masih bagus."
**
Siang itu, di atas bangku kerja yang sudah dibersihkan, mereka berempat membentangkan selembar kertas bekas bungkus dan mulai membuat rencana, seperti empat orang yang sedang menyusun siasat perang kecil. Pak Karto menggambar kursi, meja, lemari dua pintu, rak buku, dengan pensil tukang yang diselipkan di telinga. Bapak menghitung kebutuhan kayu. Zain, dengan keahlian bank yang akhirnya berguna, menulis kolom harga dan biaya di buku tulis, mengomel soal "margin" dan "ongkos tersembunyi" sampai Pak Karto memandangnya seperti memandang burung hantu yang mendadak bicara.
"Dion pegang pemasaran sama antar," putus Bapak. "Dia anak kota, tahu cara jualan."
"Jualan apa? Gue pernah jualan diri sendiri," gumam Dion.
Zain menoleh tajam. "Hati-hati lu."
"Maaf. Bercanda."
"Itu nggak lucu."
"Iya, nggak lucu."
Mereka kembali bekerja. Menjelang sore, Zain dan Dion ditugaskan mengamplas rangka kursi pertama, dua lelaki muda duduk berhadapan di bangku rendah, masing-masing memegang selembar ampelas, masing-masing diam. Serbuk kayu menempel di rambut dan alis. Bunyi gesek ampelas mengisi sunyi, diselingi umpatan pelan Zain yang sudah dua kali menusukkan serpihan ke ujung jarinya.
"Searah serat, Mas Zain." Pak Karto lewat di belakang mereka membawa sebatang pahat, tanpa menoleh. "Ngamplas melawan serat itu kayak melawan orang tua. Kayunya nggak rusak, tangan sendiri yang luka."
Zain mendelik pada punggungnya yang menjauh. "Dia tahu dari mana gue lagi ngelawan?"
"Dia nggak lihat, Zain. Dia dengar."
"Pak Karto punya telinga di mana?"
"Di jari." Dion membalik ampelas di tangannya mengikuti arah serat, dan gesekannya mendadak halus, seperti kain yang akhirnya menemukan lipatannya. Dia tak bisa menahan senyum kecil. "Gila. Beda."
Bunyi gesek ampelas mengisi sunyi lagi, kali ini lebih teratur.
"Yon."
"Hm?"
"Gue mau jawab pertanyaan lu yang waktu itu." Zain tidak mengangkat kepala dari kayu. "Kenapa gue gebuk lu malam itu."
Dion berhenti mengamplas.
"Gue pikir lu mau numpang. Gue lihat lu sama Jenifer, di apartemen, dan gue pikir ..." Zain meringis. "Gue pikir lu juga mau hidup dari perempuan kaya. Kayak yang gue pikirin dari awal tentang diri gue sendiri, tapi nggak berani gue ngaku. Gue cemburu, Yon. Dan gue kecewa. Dua-duanya sekaligus. Cemburu karena lu bisa dapetin dengan gampang apa yang gue bayar mahal. Kecewa karena adik gue ternyata nggak lebih baik dari gue."
"Gue nggak ngapa-ngapain sama Jenifer."
"Gue tahu sekarang." Zain akhirnya menoleh. "Dan gue minta maaf. Bukan buat tinjunya, tapi buat alasannya. Alasannya salah."
Dion menunduk menatap ampelas di tangannya. Rasanya seperti ada simpul panjang di dalam dada yang sudah tersangkut sejak malam itu, dan sekarang ujungnya ditarik pelan-pelan.
"Gue juga gebuk diri gue sendiri," katanya. "Tiap malam."
"Lu bego."
"Lu lebih bego."
"Kita bego bareng." Zain mengangkat ampelasnya, menunjuk kursi setengah jadi. "Sekarang amplas. Lu ngamplas kayak ngelus kucing."
**
Menjelang magrib, Dion berdiri di halaman bengkel dengan ponsel butut yang layarnya retak, mengangkatnya ke depan kursi jati yang baru separuh jadi, dan memotret dari berbagai sudut. Di layar sebelah, wajah Jovian muncul lewat panggilan video, dengan kamera terlalu dekat ke hidung.
"Yon, jangan dari atas! Itu kursi, bukan mayat. Ambil dari samping, terus kasih cahaya kuning. Kayak iklan kopi."
"Gue bukan fotografer."
"Lu sekarang influencer mebel. Pak Karto harus masuk. Pak Karto, senyum dikit, Pak!"
Di sudut bingkai, Pak Karto yang sedang mengasah pahat mengangkat kepala. Wajahnya serius, hampir tersiksa. Jovian bertepuk tangan. "Mantap! Sangar! Itu foto sampul! Namanya apa, Yon? Nama usahanya."
Dion menatap bangunan kayu di belakangnya, atapnya yang miring, pintunya yang kini terbuka lebar. "Bengkel Jati Simbah."
"Sip. Foto sampul udah, foto profil juga."
Dion berpikir sebentar. Lalu dia berjalan ke gerbang bambu tempat motor maticnya terparkir, mendorongnya mundur sampai tepat berada di depan pintu bengkel, dan memotretnya sekali. Motor kecil berdebu di depan pintu kayu terbuka, dengan cahaya senja jatuh di jok. Foto yang biasa, tidak indah, tidak mahal.
Dia memandangnya lama. Lalu dia menekan tombol "pakai sebagai foto profil", dan dia merasa memegang sesuatu yang benar-benar miliknya, sesuatu yang tidak perlu dia catat di buku UTANG.