Puskesmas kecamatan itu hanya punya satu dokter jaga, dua perawat, dan satu tabung oksigen yang sudah dicat ulang tiga kali. Itu cukup. Begitu motor Dion berhenti di depan pintu UGD dengan Emak terkulai di punggungnya dan sarung Bapak masih terikat di pinggang mereka, seorang perawat berseragam hijau muda langsung berlari membawa kursi roda sambil berteriak, "Asma! Pasien asma, Dok!"
Mereka mengangkat Emak ke ranjang sempit berseprai biru. Masker oksigen dipasang, uap obat dari nebulizer menyembur dengan bunyi dengus pelan, dan dokter jaga, seorang perempuan muda berkerudung dengan kantong mata yang bersaing dengan milik Dion, mengecek denyut nadi sambil menghitung dalam hati.
"Ibu, tarik napas pelan. Pelan saja. Ikuti hitungan saya. Satu, dua, tiga."
Dion berdiri di sudut ruangan. Dia tidak diperbolehkan lebih dekat, dan sebenarnya dia tidak yakin bisa. Tangannya masih bau minyak kayu putih. Dari balik tirai biru, bunyi napas Emak terdengar naik turun seperti ombak yang kehabisan tenaga, dan tiap helaan itu menusuk perutnya.
Bapak tiba sepuluh menit kemudian, diboncengkan seorang tetangga bermotor butut, masih bercelana pendek dan berkaus oblong. Dia berhenti di ambang UGD, melihat Emak, dan seluruh bahunya turun satu senti.
"Gimana?"
"Belum tahu, Pak." Dion menelan ludah. "Dokternya lagi ..."
"Bapak Bu Astri?" Dokter menyibak tirai dan menatap dua lelaki itu dengan mata yang letih tapi tegas. "Ibu sudah mulai stabil. Saturasi naik. Tapi saya mau tahu, kenapa bisa kambuh seburuk ini? Ibu sedang ada pikiran berat?"
Dion membuka mulut, tetapi Bapak mendahului.
"Capek, Dok. Kecapekan. Dia kurang tidur beberapa hari ini." Bapak menatap lurus ke dokter, dan tidak sedikit pun mengerling ke arah Dion. "Anak kami baru pulang dari kota. Emaknya terlalu senang."
"Senang pun bisa memicu." Dokter mengangguk, menulis sesuatu. "Observasi beberapa jam. Kalau stabil, boleh pulang malam ini dengan obat. Tapi tolong ya, Pak, jauhkan dari kejutan."
Bapak mengangguk. Dion menunduk. Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada ayahnya, tapi tenggorokannya menutup, dan ketika Bapak berjalan lewat di sampingnya masuk ke balik tirai, tangan tuanya menepuk punggung Dion satu kali, keras, seperti menepuk kuda yang harus bangun.
Bu Zubaedah tiba menjelang magrib, diboncengkan anak sulungnya, dengan dua bungkus nasi di tangan kiri dan buku utang di tangan kanan. Perawat di pintu langsung menahan. "Bu, ini UGD, nggak boleh ramai!"
"Ibu nggak ramai! Ibu cuma antar nasi!" Bu Zubaedah menembus penjagaan seperti kapal pemecah es. Dia menyodorkan bungkusan itu ke tangan Bapak. "Makan, Pak. Nanti Bapak ikut pingsan, yang pingsan satu cukup. Itu ayam suwir, Ibu catat sebagai utang."
"Bu, ini bukan waktunya ..."
"Justru ini waktunya. Orang kalau sudah punya utang, dia punya alasan buat tetap hidup." Dia menepuk bahu Bapak dengan tangan berminyak. "Emak Dion itu kuat, Pak. Dari dulu dia kuat. Dia cuma butuh ayam suwir."
Bapak menatap bungkusan itu, lalu menatap Bu Zubaedah, dan sudut bibirnya terangkat sedikit, sedikit sekali, tapi Dion melihatnya. Itu senyum pertama Bapak yang dia lihat sejak pulang.
Satu jam kemudian Emak membuka mata, memandang langit-langit puskesmas yang berbintik air, lalu menoleh ke Dion di sisi ranjang.
"Yon."
"Ya, Mak."
"Emak nggak marah." Suaranya tipis di balik masker. "Emak cuma kaget. Kamu pulang. Itu yang Emak pikirin, bukan yang lain. Kamu pulang."
Dion menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya dan menaruhnya di dahi. Dia tidak berkata apa-apa. Tidak ada kata yang cukup.
**
Malam itu rumah simbah dipenuhi suara jangkrik dan bau minyak angin. Emak tidur di kamar dengan tabung obat di meja, napasnya teratur untuk pertama kalinya sejak pagi. Bapak duduk menjaganya di kursi anyaman, mata terpejam setengah, jari menggenggam tasbih yang jarang dia pakai.
Dion duduk di teras. Lampu lima watt di atas kepalanya berayun-ayun diterpa kelelawar.
Pukul sembilan lewat, cahaya lampu mobil menyapu pagar bambu. Sebuah mobil merah memasuki halaman sempit itu dengan kecepatan terlalu tinggi, ban depannya menyenggol pot bunga Emak yang sudah retak, lalu berhenti miring. Pintunya terbuka, dan seorang lelaki berkemeja kusut dan dasi longgar keluar dengan napas seperti orang habis lari maraton.
"Emak?" Zain menyambar tanpa salam.
"Tidur. Stabil. Dokter bilang aman."
Zain menutup mata. Bahunya merosot, dan lelaki yang biasanya menyeringai itu tampak untuk beberapa detik seperti anak sepuluh tahun yang takut kehilangan sesuatu. Lalu dia menarik napas, menegakkan diri, dan menatap adiknya.
"Gue ambil cuti tiga hari. Senin sampai Rabu. Gue ngurus kerjaan tadi sampai jam tujuh, terus macet di tol. Lu ..." Dia menunjuk dada Dion dengan telunjuk. "Lu yang bikin Emak kumat?"
"Iya."
Zain terdiam. Dion menunggu tinju. Yang datang justru dengusan panjang, dan Zain duduk di tepi teras dengan kaki menggantung, tanpa melepas sepatu.
"Bapak udah cerita di telepon," katanya. "Sepotong. Cukup buat gue ngerti. Tante-tante, kan? Dari awal gue udah curiga."
"Kok nggak lu gebuk gue?"
"Gue nggak punya hak." Zain menyisir rambut dengan sela jari. "Gue sendiri cicil mobil buat cewek yang nggak pernah cinta sama gue, Yon. Siapa yang lebih bego, coba?"
Keduanya diam. Jangkrik bersahut-sahutan, dan entah dari mana, suara katak ikut menjadi paduan suara.
"Ada yang mau gue omongin," lanjut Zain akhirnya. "Yang lu pernah teriakin di kamar simbah, malam gue gebuk lu. Soal kesepakatan."
Dion mengangkat wajah.
"Kesepakatan gue sama Emak dan Bapak." Zain menatap telapak tangannya. "Bangkrutnya nyata. Itu bukan sandiwara. Tapi waktu Bapak ditipu, kami bertiga duduk di meja makan dan sepakat: kita nggak akan manjain lu. Lu bungsu, lu manja, lu nggak pernah tahu rasanya bayar listrik. Kita pikir, kalau lu dibiarin jatuh sendiri, lu bakal bangun jadi laki-laki. Dan kita diem-diem nyisihin tabungan, dikit-dikit, buat wisuda lu, buat saat lu butuh."
"Gue pikir ..."
"Lu pikir kita nelantarin lu. Gue tahu." Zain meringis. "Rencananya salah, Yon. Kita pikir lu bakal kuat. Ternyata lu malah ... ya gini. Tapi bukan karena kita nggak sayang."
Dion tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya menutup lagi.
"Dan duit lima juta lu dulu," lanjut Zain, lebih pelan, "gue pakai buat obat Emak. Gue bohong waktu bilang buat apa pun. Nggak ada cicilan, nggak ada apa-apa. Obat."
"Gue bakal ganti, Zain."
"Nggak usah. Uangnya udah jadi napas Emak." Zain menyeringai tipis, tapi matanya basah. "Lagian gue nggak mau lu ganti pakai duit tante-tante."
"Itu yang mau gue bilang." Dion menatap tangannya. "Gue punya satu rekening, isinya seratus sebelas juta. Gue nggak mau pakai satu rupiah pun. Semua bakal balik ke suaminya. Dan kalau lu mau pakai tabungan itu buat bantu gue bayar ..."
"Berhenti." Zain mengangkat tangan. "Tabungan itu bukan buat tante-tante lu. Itu buat modal."
"Modal apa?"
Zain tidak menjawab. Dia hanya menoleh ke belakang rumah, ke arah gelap tempat berdiri sebuah bangunan kayu yang atapnya sedikit miring. Dion mengikuti pandangannya ke bayangan atap miring itu, dan sebelum sempat bertanya, pintu rumah berderit. Bapak berdiri di ambang, memegang kunci besar yang karatan dengan tangan yang gemetar.
"Lusa pagi," kata Bapak. "Kalau Emak sudah kuat. Kita buka bengkel."