"Bukan, Pak," jawab Dion.
Itu dia ucapkan pagi-pagi sekali, di pematang sawah yang masih berembun, setelah semalaman memikirkan jawaban lain. Bapak berjalan di depannya dengan sarung tersingsing sampai lutut dan sandal jepit yang sudah tinggal separuh tebalnya, memeriksa air di petak sawah sewaan seperti kebiasaannya selama dua puluh tahun, padahal sawah itu bukan lagi urusannya. Matahari baru sejengkal di atas bukit. Di kejauhan seekor bangau berdiri di satu kaki dan tampak jauh lebih tenang daripada Dion.
"Bukan karena kangen. Dion ... ada yang harus Dion ceritakan. Dan Dion mau cerita ke Bapak dulu, baru ke Emak."
Bapak berhenti. Tidak menoleh. "Cerita saja."
Dion menarik napas dalam-dalam, seperti penyelam yang bersiap turun ke air gelap. Kalimat-kalimat yang dia hafal sepanjang jalan kemarin ternyata tak ada gunanya. Maka dia ceritakan dengan cara paling polos yang dia sanggup: bahwa kuliahnya menunggak, bahwa genknya punya ide bodoh tentang arisan, bahwa dia bertemu seorang perempuan di tempat latihan, kaya, jauh lebih tua, bersuami. Bahwa perempuan itu memberinya uang, dan dia menerimanya. Bahwa dia mencatat semuanya di sebuah buku, seperti catatan utang Bu Zubaedah, dan menyebutnya pinjaman, padahal dia tahu itu bukan.
"Berapa?"
"Seratus dua belas juta, Pak. Belum barang-barangnya."
Bapak tidak bereaksi. Burung di kejauhan terbang, menciprat air dengan sayapnya.
"Perempuan itu," lanjut Dion, "ternyata tante dari gadis yang Dion cintai. Namanya Fanya. Dion baru tahu pas ketemu langsung di rumahnya, dan Dion nggak berani bilang. Sampai Rabu lalu. Dia pergi, Pak. Dia nampar Dion terus pergi."
Sunyi. Cukup lama sampai Dion menghitung bunyi katak dari petak sebelah.
"Fanya," ulang Bapak akhirnya. "Bapak belum kenal."
"Iya, Pak."
"Kamu cinta?"
"Sama Fanya, iya. Sama tantenya ..." Dion menggeleng. "Awalnya cuma uang, Pak. Terus Dion mau berhenti dan nggak bisa. Dion bohong ke semua orang. Dion jadi orang yang paling Dion benci."
Bapak berbalik. Dion bersiap menerima tamparan, bentakan, kata-kata yang akan membelah dirinya jadi dua. Dia sudah menunggu semuanya sejak malam. Yang datang hanya tatapan, lama dan berat, tatapan seorang lelaki yang sedang menimbang sesuatu di dalam dirinya sendiri.
"Duit itu masih ada?"
"Seratus sebelas juta di rekening terpisah, Pak. Nggak Dion sentuh. Sisanya Dion pakai buat kuliah, buat bayar talangan Udin, buat Emak, lima juta lewat Zain. Dion mau kembalikan semuanya. Ke suaminya."
"Bukan ke perempuan itu?"
"Ke suaminya, Pak. Itu yang benar."
Bapak mengangguk pelan. Lalu dia duduk, begitu saja, di pematang yang basah, tanpa memedulikan sarungnya, dan menepuk tanah di sebelahnya. Dion duduk. Bahu mereka nyaris bersentuhan.
"Bapak mau cerita sesuatu," kata Bapak. "Jangan potong."
**
"Waktu toko mebel itu masih berdiri, Bapak punya satu rekan. Bapak anggap saudara. Dia yang ngurus kontrak sama pemasok, Bapak yang ngurus pekerja." Bapak memandang jauh ke ujung sawah. "Satu hari kontraknya ternyata kosong. Uang tiga tahun hilang. Bank datang. Mereka rantai pintu toko, Yon. Bapak ada di sana. Dengar bunyi gemerincing rantai itu, dan pintu besi yang ditutup dengan tangan orang lain."
Dion menahan napas.
"Waktu pindah ke sini, Pak Karto bilang bengkel simbah masih bisa dihidupkan. Mesin masih ada, kayu jati sisa masih ada. Bapak bilang nanti. Pak Karto tanya kapan. Bapak bilang nanti lagi." Suara Bapak tidak naik. "Sebenarnya Bapak malu, Yon. Dan modal habis. Tapi bukan itu yang paling berat. Tiap kali Bapak pegang gagang mesin itu, Bapak dengar suara rantai. Tangan Bapak gemetar. Bapak, laki-laki setua ini, takut pada mesin gergaji."
"Pak ..."
"Jadi Bapak duduk di kursi bambu, nonton bola, pura-pura santai. Biar kamu dan abangmu pikir Bapak baik-baik saja." Bapak menoleh. Matanya merah, tapi tidak menangis. "Kamu lari dari rumah karena malu. Bapak lari dari bengkel karena malu. Kamu pikir Bapak punya hak marah ke kamu? Kamu itu menurun dari Bapak."
Dion tidak sanggup bicara. Dia hanya menunduk, dan air matanya jatuh ke tanah di antara lutut.
"Tapi kamu harus kembalikan semua." Bapak berdiri, menepuk-nepuk sarungnya yang basah. "Sampai rupiah terakhir. Uang itu bukan rezeki, Yon. Itu piutang. Bedanya sama utang Bu Zubaedah cuma satu: yang ini nggak ada yang menagih, jadi harus kamu sendiri yang datang."
"Iya, Pak."
"Emak juga harus tahu. Tapi pelan-pelan, jangan semua sekaligus, dan jangan pakai angka." Bapak menatap sandalnya yang sudah terbenam di lumpur sampai mata kaki. "Karena Emak akan menyalahkan dirinya sendiri."
"Kenapa Emak yang salah?"
"Kamu tanya begitu karena kamu belum jadi orang tua."
Bapak mulai berjalan kembali, lalu berhenti dan menunduk menatap sandalnya. "Sandal Bapak amblas. Tolong ambil, Yon."
Dion tertawa kecil di antara air mata, dan merogoh lumpur sampai sebahu mencari sandal jepit itu.
**
Sorenya, Emak sedang mengaduk sayur asem di dapur yang beruap dan berbau asam jawa. Dion berdiri di ambang pintu cukup lama sampai Emak menyadari tanpa menoleh.
"Masuk, Yon. Ambilkan garam."
Dion mengambil garam. Mereka bekerja berdampingan dalam diam yang hangat, sampai Emak berkata, "Zain bilang kamu pulang gara-gara perempuan. Anak orang baik-baik, katanya. Siapa namanya?"
"Dulu, Mak."
"Dulu?" Tangan Emak melambat. "Kenapa dulu?"
Maka Dion ceritakan dengan cara yang lebih lunak dan lebih pendek dari yang dia ceritakan pada Bapak, tanpa angka, tanpa nama, hanya bahwa dia sudah melakukan hal yang memalukan demi uang. Emak mendengarkan sambil memunggungi Dion, dan tangannya tetap mengaduk, sampai kalimat "perempuan bersuami" keluar dari mulut anaknya.
Sendok kayu itu berhenti.
"Gusti Allah," bisik Emak. "Jadi ... gara-gara Emak? Gara-gara Emak sakit-sakitan, kamu cari uang sampai begitu?"
"Bukan, Mak! Itu salah Dion sendiri, bukan ..."
Emak berbalik, wajahnya pucat, bibirnya berusaha mengucapkan sesuatu, tapi yang keluar hanya bunyi serak panjang. Satu tangan memegang dada, satu lagi meraba-raba meja. Napasnya memendek, memendek, berbunyi seperti jarum yang menggores kaca.
"Mak! Mak, duduk!"
"Obat ..." Emak terengah. "Dalam ... tas ..."
Dion menyambar tas kain di gantungan pintu dan membongkar isinya, tangan gemetar. Alat semprot itu dia temukan, dia tekan ke bibir Emak sekali, dua kali, tapi dada Emak naik turun tanpa tenaga dan wajahnya mulai kebiruan. Di luar, langkah berat Bapak berderap masuk.
"Ya Allah, kumat!" Bapak berlutut, mengangkat bahu istrinya. "Dion, siapkan motor! Puskesmas!"
Dion berlari ke halaman dan menendang starter motor dengan kaki yang tak terasa. Mesin batuk dua kali, lalu menyala. Bapak muncul menggendong Emak yang lemas, seolah istrinya seringan kapas, dan mendudukkannya di boncengan. Sarung Bapak dilepas dan diikat kasar di pinggang Emak dan pinggang Dion, supaya tubuh itu tidak merosot. Bu Zubaedah muncul dari pagar sambil berteriak, dengan sandal yang tinggal sebelah, menyuruh seseorang membawakan kain basah, menyuruh yang lain minggir, menyuruh semua orang berdoa.
"Jalan, Yon! Pelan tapi cepat!"
"Pelan tapi cepat itu gimana, Pak?"
"Ya sudah, cepat saja!"
Motor melompat ke jalan kampung yang berbatu. Dari kaca spion Dion melihat Bapak berdiri di tengah halaman dengan celana pendek dan kaus oblong, wajahnya putih, satu tangan menempelkan ponsel butut ke telinga. Suara Bapak serak, tapi terbawa angin sejelas lonceng.
"Yan. Ini Bapak. Emakmu kumat. Dion pulang. Pulang sekarang."