Bu Zubaedah menyeberang jalan secepat orang berusia lima puluhan yang pernah dilatih oleh dendam. Sandalnya satu terlepas di tengah aspal, tapi dia tak menoleh. Di tangannya terayun sebuah benda tebal berbalut sampul plastik lusuh, benda yang Dion kenali dalam tidurnya sekalipun: buku catatan utang.
"Dion! Dion Krismeinda! Kamu ke mana aja, hah? Berbulan-bulan! Kamu hilang, Emakmu nangis tiap malam, Bapakmu jadi nggak mau ngomong, dan buku Ibu!" Dia mengacungkan buku itu seperti jaksa menunjukkan barang bukti. "Buku Ibu nggak ada yang bayar!"
"Bu, saya ..."
"Utang keluargamu itu masih dua juta tiga ratus lima puluh ribu! Itu udah dikurangi bayaran Zain bulan lalu! Ibu hitung ulang, lho, pakai kalkulator! Tapi ..." Bu Zubaedah tiba-tiba berhenti, napasnya terengah, dan matanya yang tadi menyala berkaca-kaca. Buku itu turun pelan di sisi tubuhnya. "Tapi bukan itu yang Ibu cari."
Dion turun dari motor. Belum sempat dia membuka mulut, tangan Bu Zubaedah yang kasar dan hangat sudah meraih pipinya dan memeriksa wajah itu dari kiri ke kanan.
"Kurus. Ini lebam apa? Ini rahang kenapa?"
"Jatuh, Bu."
"Muka orang jatuh nggak begini." Bu Zubaedah mendengus, lalu memeluknya kaku, sebentar, dengan buku utang terselip di antara tubuh mereka. "Pulang sana. Emakmu di dalam. Jangan lupa utang, tapi ... pulang dulu."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan terima kasih. Ibu tambahin bunga kasih sayang di buku. Nanti Ibu tagih." Dia berbalik dengan sebelah sandal hilang dan berteriak ke arah tetangga yang sudah berkerumun di pagar. "Kalian lihat apa? Anak ini bukan sirkus!"
Dion melangkah melewati gerbang bambu. Halaman rumah simbah lebih sempit dari ingatannya. Di teras, kursi bambu yang berderit itu masih ada, dan Bapak duduk di atasnya.
Bapak tidak berdiri. Tidak berkata apa-apa. Televisi kecil di ruang tengah mati, dan sepertinya sudah lama mati, karena kabel antenanya menjuntai tak tersambung. Bapak hanya menatapnya dengan sepasang mata yang lebih tua dari yang terakhir Dion lihat, tangan di atas lutut, jari-jari menggenggam kain sarung.
"Pak," ucap Dion.
Bapak mengangguk sekali.
Itu cukup untuk membuat Dion berhenti di anak tangga teras. Dia tidak sanggup melangkah ke depan, tidak sanggup mundur, hanya berdiri dengan tas di punggung dan helm di tangan seperti anak SD yang lupa membawa pekerjaan rumah.
"Dion?"
Suara itu serak, nyaris tak terdengar dari balik pintu depan. Emak muncul dengan daster kusam dan kerudung seadanya, satu tangan berpegangan ke kusen. Napasnya berbunyi, ngik, ngik, seperti pintu tua yang dipaksa. Beliau tampak lebih kecil dari yang Dion simpan di kepalanya, begitu kecil sampai dia merasa bersalah sudah membuat orang sekecil itu menunggunya.
"Mak."
"Yon."
Dua langkah. Emak tidak sanggup lebih. Dia hanya membuka kedua lengannya, dan Dion jatuh ke dalamnya seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Aroma minyak kayu putih dan sabun cuci menyergap, dan sesuatu di dadanya yang sejak malam dia pergi keras seperti batu mulai retak. Emak menangis di bahunya. Tangisnya tidak keras. Hanya bahu yang bergetar dan napas yang tersengal di antara isak.
"Kamu kurus," bisik Emak. "Kamu kurus banget, Yon. Emak telepon pakai nomor Bu Zubaedah, kamu blokir. Emak telepon Zain, kamu nggak mau ketemu. Emak ..."
"Dion minta maaf, Mak."
"Jangan minta maaf dulu." Emak menarik wajah Dion, memegang kedua pipinya dengan tangan yang gemetar, lalu menyentuh lebam di rahangnya. "Ini kenapa?"
"Jatuh, Mak."
"Muka kamu bukan muka orang jatuh." Persis kalimat Bu Zubaedah, dengan nada yang jauh lebih lembut. Emak menghela napas, terbatuk dua kali, dan Bapak di kursi bambu akhirnya bergerak, setengah berdiri.
"Bu, sudah. Nanti sesak."
"Biarin!" Emak menepis tanpa menoleh. "Anak Emak pulang, biarin Emak sesak!"
**
Makan malam datang lebih awal dari biasanya karena Emak menolak menunggu. Di meja kayu, tersaji nasi hangat, tempe goreng yang pinggirannya hangus sedikit, sambal terasi dalam cobek batu, dan sepiring lalapan. Tidak ada daging. Tidak ada kemewahan. Dion duduk di kursi yang dulu dia tempati sejak kecil, menatap semua itu, dan hampir menangis lagi.
"Makan yang banyak." Emak menaruh dua tempe lagi di piringnya padahal piring itu belum kosong. "Ini sambalnya Emak bikin pedes kayak yang kamu suka."
"Mak, ini udah ..."
"Satu lagi."
"Mak ..."
"Makan, Yon."
Di jendela ruang makan yang tirainya tidak sampai menutup, sebaris kepala menyembul: Bu Zubaedah, dua tetangga, dan seorang anak kecil berhidung ingusan yang digendong paksa supaya ikut melihat. Emak menyadarinya lebih dulu. Tanpa menoleh, dia mengambil sendok sayur dan mengacungkannya ke arah jendela seperti tongkat sihir.
"Sudah, sudah! Besok-besok boleh nonton lagi! Hari ini tutup!"
Kepala-kepala itu lenyap. Terdengar bisik-bisik panik, lalu suara Bu Zubaedah, kecil dan jelas: "Ssst, Ibu cuma pastiin dia makan beneran!"
Dion tertawa. Tawa yang keluar dari perutnya tanpa izin, membuat nasi hampir tersembur, dan Emak tersenyum dengan mata yang masih basah. Di seberang meja, kursi yang biasa diduduki Zain kosong. Dion memandang kursi itu dan teringat tinju di wajahnya beberapa bulan lalu, seakan seluruh masa itu hanya satu kedipan.
"Zain sering pulang, Mak?"
"Kadang. Dia sibuk sekali sekarang." Emak mengaduk teh. "Dia bilang ada urusan di kota."
Urusan di kota, pikir Dion. Dia tahu persis urusan apa. Tetapi dia tidak mengatakannya, karena ada hal-hal yang tidak pantas dibongkar di atas tempe goreng.
Maka dia makan. Entah sudah berapa suap, dia berhenti menghitung. Nasi dan sambal masuk seperti obat yang dirindukan lidah, dan dia tak sadar air matanya jatuh sampai butir pertama mendarat di piring. Emak pura-pura menyibukkan diri membersihkan sendok. Bapak diam menatap piringnya sendiri.
"Sawah masih disewa orang yang sama, Pak?" tanya Dion, hanya demi mengisi sunyi.
"Masih." Bapak menjawab pendek. Lalu, setelah jeda yang terlalu lama: "Belakang rumah, bengkel simbah, masih ada."
Dion mengangkat wajah.
"Pak Karto masih datang tiap sore. Nyapu. Ngelap mesin." Bapak menyendok sambal dengan gerakan sangat hati-hati. "Bapak bilang nggak usah, dia tetap datang. Katanya mesin kalau nggak disentuh bakal karatan dari dalam."
"Pak Karto yang dulu kerja di toko?"
"Yang itu."
Hanya itu. Bapak kembali ke piringnya seolah kalimat itu bukan apa-apa, tetapi Dion tahu betul Bapak tidak pernah mengucapkan sesuatu tanpa maksud, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang dia coba lupakan. Dia menatap Emak. Emak menunduk, pura-pura tidak mendengar. Di antara tiga orang itu, sebuah pintu tua bergerak sedikit, seperti angin yang menyelinap lewat celah.
**
Kamarnya masih sama. Kasur kapuk tipis, jendela yang tembus ke halaman belakang, poster klub bola yang ujungnya mengelupas. Debu sudah dibersihkan, seprai baru diganti dengan yang tercium wangi matahari. Seseorang, mungkin Emak, mungkin setiap hari selama dua bulan, membersihkannya untuk anak yang tidak pulang.
Dion duduk di tepi kasur dengan tas di pangkuan dan tak membuka apa pun.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Bapak berdiri di ambang, bayangannya panjang diterpa lampu bohlam lima watt dari ruang tengah. Dia tidak masuk. Dia hanya menatap putranya lama, dengan wajah yang tidak bisa dibaca, dan akhirnya bertanya:
"Kamu pulang bukan cuma karena kangen, kan?"