"Pulang ke mana?" tanya Ernest.
Pertanyaan itu terdengar bodoh, tapi Dion menjawabnya juga, karena dia sendiri baru sadar sudah lama sekali dia tidak mengucapkan kata itu. "Kampung, Nest. Rumah Emak."
Jovian menurunkan tangannya dari pipi Dion, yang sejak tadi dia periksa seperti dokter forensik. "Lu kan sumpah nggak bakal balik sebelum sukses."
"Gue tahu."
"Terus?"
"Terus sumpah itu goblok." Dion mengusap wajah. "Gue pikir sukses itu duit di rekening. Ternyata gue cuma lari. Dari Bapak, dari Emak, dari Zain, dari segalanya. Sekarang gue nggak punya apa-apa lagi buat dilarikan."
Ernest menatapnya lama, lalu menarik kursi plastik di seberang meja dan duduk. "Sebelum lu pulang," katanya, "temui om Gilbert dulu. Dia nelepon bukan buat kabar buruk. Gue tebak."
**
Club itu di sore hari tidak seperti club. Lampu-lampu disko mati, kursi-kursi terbalik di atas meja, dan lantai basah bau pel. Di lantai dua, di kantor sempit berdinding kaca, Om Gilbert duduk di balik meja penuh kertas dengan kacamata bertengger di ujung hidung, memeriksa sesuatu yang kelihatannya jauh lebih membosankan daripada hidup Dion. Gilbert berdiri di pintu dengan wajah pucat, siap pingsan kalau ada yang berteriak.
"Duduk, Yon."
Dion duduk. Om Gilbert melepas kacamatanya, menatap pipi kanan yang masih kemerahan dan rahang kiri yang mulai menguning, dan sebelum Dion sempat menjelaskan, dia mendengus.
"Bocah. Gue dua puluh tahun jaga club, lu pikir gue nggak bisa bedain muka orang habis ditonjok sama muka orang habis ditampar? Dua-duanya ada di muka lu. Itu rekor."
"Maaf, Om."
"Bukan minta maaf. Gue panggil lu bukan buat nasihatin." Om Gilbert mengambil amplop cokelat dari laci dan menyorongkannya. "Gue udah denger dari Gilbert lu lagi kena badai. Gue nggak nanya apa. Intinya gue butuh kepala keamanan malam. Orang yang bisa dipegang, nggak minum, nggak ikut-ikutan, nggak jual info. Gaji dua kali lipat, tiap malam. Lu mau?"
Dion memandang amplop itu. Dua kali lipat gaji satpam. Setahun lalu angka itu bisa membuatnya bersorak. Hari ini angka itu tampak seperti pintu hijau bertuliskan jalan keluar, dan justru karena kelihatan begitu mudah, dia tahu itu jalan yang salah. Dia sudah terlalu sering mengambil jalan yang kelihatan mudah.
"Terima kasih, Om," ucapnya pelan. "Tapi saya mau mundur."
Alis Om Gilbert naik. "Mundur."
"Besok, Om. Saya mau pulang kampung. Keluarga."
"Cewek?"
"Banyak sebabnya, Om. Salah satunya iya."
"Siapa yang sakit?"
"Nggak ada. Maksudnya, ada, tapi nggak tahu sakit apa." Dion menunduk. "Saya punya banyak yang harus dibereskan, Om. Kalau saya terus di sini sambil ngurus semuanya, nggak bakal ada yang beres. Saya mau mulai dari awal."
Om Gilbert diam. Lalu dia menyimpan lagi amplop itu ke dalam laci, perlahan, tanpa kesan tersinggung. "Lu orang pertama dalam dua puluh tahun yang nolak kenaikan gaji gue," katanya. "Dan alasan lu masuk akal. Menyebalkan."
"Maaf."
"Berhenti minta maaf, kayak keponakan gue." Om Gilbert berdiri, mengulurkan tangan. "Pintu gue terbuka, Yon. Kapan pun lu mau balik. Orang yang bisa bilang jujur kayak lu di dunia kayak gini langka."
Dion menjabat tangan itu, dan di pintu Gilbert menyeka mata dengan lengan baju sambil berpura-pura batuk.
**
Minggu pagi, tiga orang berjalan masuk ke toko jual-beli barang bekas dekat kampus dengan kantong plastik besar dan wajah paling serius yang pernah dilihat pemiliknya. Ernest memegang jaket kulit. Jovian memeluk sepatu seperti bayi. Dion membawa ponsel yang masih menyala, yang beberapa pekan lalu dia pegang dengan bangga dan sekarang terasa seperti granat.
"Taksirannya enam belas juta," bisik Dion.
"Berarti kita tawar enam belas juta," kata Jovian.
"Lu mau jual atau mau menang lomba lari?" Ernest menepuk bahunya. "Biar gue yang ngomong."
Dia ternyata tidak lebih baik. Pemilik toko, lelaki kurus berkacamata yang wajahnya tidak bisa dibaca, membolak-balik jaket kulit itu sambil mengerutkan hidung, dan Jovian merasa sudah waktunya dia menyumbang seni peran.
"Itu jaket warisan kakek saya, Pak," katanya penuh perasaan. "Beliau meninggal kemarin."
"Kemarin?" Pemilik toko mengangkat alis. "Kok jaketnya ada label harga toko minggu lalu?"
"Itu ... kakek saya baru beli, Pak. Terus meninggal."
Ernest menutup mata. Dion menahan tawa yang rasanya lebih mirip batuk. Pemilik toko tidak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya mengetuk-ngetukkan kalkulator, dan itu justru yang paling menakutkan.
Mereka keluar dengan uang tunai empat belas juta rupiah, setelah pembeli dengan tenang menyatakan bahwa barang bekas tidak pernah dihargai sebesar harga yang tertulis di kepala penjualnya. Selisih dua juta itu Dion tulis di buku UTANG dengan tanda tangan sendiri, di halaman terakhir, bersama sebaris catatan pendek: dijual, rugi dua juta, tidak apa-apa.
Mereka langsung ke lobi bank yang buka mesinnya meski kantornya tutup hari Minggu. Dion mengeluarkan buku rekening bersampul stiker kuning yang bertuliskan JANGAN DISENTUH dengan tulisan tangan Ernest, memasukkan uang ke mesin setor tunai satu gepok demi satu gepok, sementara Jovian berdiri di belakangnya sambil berbisik seperti orang mengawal pengantin. Mesin itu mendengung, menghitung, lalu mencetak resi. Saldo baru muncul di kertas: seratus sebelas juta rupiah.
"Nggak ada yang gue sentuh," kata Dion pelan, seolah melapor.
Jam tangan dan kemeja dia tinggalkan di laci kost, dibungkus kantong, akan dikembalikan ke pemiliknya sesudah semua terkumpul. Ponselnya yang lama, yang layarnya retak dan baterainya bocor, dia ambil dari dasar tas dan dia nyalakan dengan jantung berdebar. Benda itu hidup, batuk dua kali, dan menampilkan wallpaper bergambar motor matic berdebu. Dion tertawa kecil, tawa pertamanya sejak Rabu.
Dia berangkat tengah hari memakai jaket hijau ojol, jaket yang dulu menyelimuti bahu Fanya di pos polisi bekas. Laptop dan draf skripsi yang belum tersentuh dia selipkan di dalam tas, bab dua yang harus diperbaiki ikut pulang bersama dirinya. Dia baru ingat belum memberi kabar ke dosen pembimbing di tengah jalan tol, tapi tak berniat berbalik.
Sepanjang jalan dia menyusun kalimat untuk Emak dan Bapak, dan tiap kalimat gugur sebelum sampai ke tikungan berikutnya. "Mak, Dion pulang." Terlalu pendek. "Mak, Dion minta maaf." Terlalu murah. "Mak, Dion mau cerita sesuatu yang bakal bikin Emak kecewa." Itu yang paling jujur, dan karena itu dia buang juga. Angin menampar-nampar jaketnya. Setiap kali dia memejamkan mata sekejap saat lampu merah, wajah yang muncul di kegelapan selalu sama: seorang gadis berjalan di bawah hujan dan tidak menoleh. Jangan ikuti aku. Dia mengikuti perintah itu dengan seluruh dirinya, dan itu sebabnya motornya menghadap ke arah yang berlawanan dari rumah Farish.
Dua jam kemudian, jalan beraspal mulai berganti jalan kampung yang sempit. Sawah terhampar di kiri-kanan dengan padi muda hijau terang, dan langit di atasnya cerah tanpa awan, seakan Tuhan sengaja menahan hujan untuk hari ini. Dion memperlambat motor di depan gerbang bambu rumah simbah. Warung Bu Zubaedah masih di seberang, dengan spanduk minuman yang warnanya sudah memudar.
Dia mematikan mesin. Di seberang jalan, Bu Zubaedah yang sedang menyapu teras berhenti. Sapunya jatuh. Matanya membesar, mulutnya membuka, dan dengan suara yang pasti terdengar sampai ke ujung desa dia berteriak:
"Dion?!"