"Wuuung ... pesawat Jovian Air tujuan mulut Dion, mohon seluruh penumpang menegakkan sandaran kursi, dan, Yon, buka mulut lu, njir!"
Sendok berisi nasi uduk berhenti dua jengkal dari bibir Dion. Dia tidak membuka mulut. Dia bahkan tidak menoleh, hanya menatap dinding kost yang catnya mengelupas di sudut atas, seperti orang yang berlangganan film dokumenter tentang dinding.
Kamar itu sudah tidak layak disebut kamar. Bungkus mi instan membentuk gunung kecil di sudut, kaus yang tiga hari tidak dicuci menggantung di gagang pintu, dan di atas meja buku catatan hitam bertuliskan UTANG tergeletak terbuka dengan angka-angka yang sudah ribuan kali dia jumlah ulang. Ponselnya tertelungkup di kasur. Pesan-pesan yang dia kirim ke Fanya sejak Rabu malam semuanya berhenti di satu centang abu-abu, jenis centang yang artinya "pesanmu tidak sampai karena kamu sudah bukan siapa-siapa lagi".
"Pesawat ini mau mendarat darurat," kata Jovian dengan wajah serius. "Nasinya mulai dingin."
"Jov," kata Ernest dari kursi belajar tanpa mengangkat kepala dari ponselnya, "kalau lu suapin dia kayak gitu sekali lagi, gue sendiri yang naik pesawat itu dan bawa lu mendarat di got."
"Lah, ini metode ilmiah! Kata mamaku, orang sedih itu mesti dibikin kayak bayi!"
"Mama lu ngomong gitu soal kucing."
"Kucing juga makhluk hidup!"
Dion mengembuskan napas, lalu membuka mulut, hanya untuk membiarkan Jovian menyuap sesendok nasi sekaligus membuktikan bahwa dia masih bernapas. Rasanya seperti mengunyah kertas. Jovian bersorak sendirian, Ernest mengangkat satu jempol tanpa semangat, dan di pintu Gilbert muncul tergopoh-gopoh dengan kaus terbalik dan napas pendek.
"Om gue nelepon," kata Gilbert. "Dia minta Dion datang. Hari ini. Katanya ada yang mau dia omongin."
"Soal apa?" tanya Ernest.
"Gue nggak tahu. Dia cuma bilang suruh Dion datang, dan suaranya ... gimana ya, kayak ibu-ibu mau ngasih kabar gempa."
Dion mengangguk. Hanya itu. Sendok kedua sudah mendekat, dan dia menyambutnya dengan patuh.
Ponsel Ernest berbunyi pendek. Dia membaca layarnya, lalu membacakan keras-keras tanpa diminta, mungkin karena ruangan itu terlalu sunyi. "Udin. 'Kasih tahu Dion, gue sama Siti doain. Gue nggak bisa datang, kontrakan bocor lagi, lagi nadahin air pakai panci.'" Ernest menurunkan ponsel. "Pake panci Bu Rohana, kayaknya. Panci keramat."
"Panci yang sama?" Jovian tersentak. "Yang buat mukul Udin?"
"Yang itu. Sekarang buat nadahin air hujan."
Itu tidak terlalu lucu, tapi Dion mendengar dirinya mengeluarkan bunyi yang hampir mirip tawa. Ketiganya terdiam menatapnya, takut membuatnya hilang lagi.
**
Warung kopi di dekat gerbang belakang kampus sepi di Sabtu pagi. Dion duduk di bangku paling ujung dengan segelas kopi hitam yang tak dia minum dan bawaan di pangkuan yang tak biasa: sebuah payung biru yang dia ambil dari bangku pos polisi bekas, Rabu sore itu juga, begitu bahu Fanya hilang di ujung jalan dan tangannya masih gemetar. Sejak itu dia menyimpannya di dekat kasur. Dia tidak tahu kenapa. Mungkin karena payung itu satu-satunya benda yang masih menyimpan sisa tangan Fanya.
"Kak Dion."
Dia mengenali suara itu sebelum menoleh. Mawar berdiri di sisi meja tanpa tas, tanpa Jovian, dengan kerudung yang rapi dan wajah yang jauh lebih rapi dari biasanya. Rapi, di wajah gadis semacam Mawar, adalah tanda bahaya tingkat tertinggi.
"Mawar, aku ..."
Tamparan itu lebih pelan dari tamparan Fanya, tapi lebih tepat. Telapak Mawar mendarat di pipi kanan Dion, di sisi yang masih bersih dari lebam, seperti tanda tangan di dokumen yang sudah lama dia siapkan. Bunyinya nyaring. Si pemilik warung berhenti mengelap gelas.
"Itu," kata Mawar, dadanya naik turun, "buat Fanya. Aku janji di kantin. Aku nggak pernah nepatin janji lain sebagus ini."
Dion menyentuh pipinya. Anehnya, dia merasa lebih ringan daripada selama dua hari terakhir.
"Terima kasih," ucapnya.
"Jangan bilang terima kasih! Itu kalimat Fanya!" Mawar menarik kursi dan duduk dengan hentakan, lalu seketika tangannya yang tadi menampar mulai gemetar di atas meja. "Aku nggak bakal nampar kamu lagi. Satu kali cukup. Sekarang dengerin, karena aku cuma bilang sekali."
"Iya."
"Fanya di rumah Abangnya. Nggak mau makan, nggak mau cerita, nggak mau dengar namamu. Aku datang bawa bubur, dia ketawa sedikit gara-gara telur bertunas, terus langsung nutup mulut seperti ketawa itu dosa." Suara Mawar patah dan dia menggigit bibir. "Mamanya kemarin datang. Dia cerita sambil nunduk, aku nggak tega nanya detailnya. Intinya Mamanya mau percepat tunangan sama Kak Refi. Bulan depan, katanya." Mawar mengusap hidungnya dengan punggung tangan. "Dan Fanya bilang 'terserah Mama'. Fanya, Kak. Yang biasanya bilang maaf kalau nabrak kursi."
Dion membeku. Pegangannya pada gelas mengencang sampai buku-buku jarinya memutih. "Itu ..."
"Bukan urusanmu lagi, aku tahu." Mawar memotong tajam. "Tapi kamu yang bikin dia nggak punya alasan buat nolak. Ingat itu."
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada tamparan tadi. Mawar menarik napas, lalu menurunkan nadanya.
"Dia nggak sedang marah, Kak. Itu yang bikin takut. Orang marah itu masih ada tenaganya. Dia ... kosong."
Dion menunduk. Kopi di gelasnya sudah berhenti mengepul.
"Siapa perempuan itu?" tanya Mawar tiba-tiba. "Fanya nggak mau bilang, dan Abang diam seperti batu. Siapa?"
"Itu bukan hakku buat bilang."
"Hah?"
"Kalau Fanya mau kamu tahu, dia yang akan cerita." Dion mengangkat wajah. "Aku sudah menghancurkan satu hal. Aku nggak mau menghancurkan hal kedua dengan mulutku sendiri."
Mawar menatapnya lama sekali. Rahangnya bergerak, dan Dion bisa melihat sebuah kalimat kasar nyaris lolos, tapi yang keluar justru napas panjang. "Ya ampun. Aku benci kamu bisa ngomong begitu."
"Mawar."
"Apa?"
"Tolong." Dion mengangkat payung biru dari pangkuannya dan menaruhnya pelan di meja di antara mereka. "Ini punya Fanya. Ketinggalan di pos. Kamu bilang saja ketemu di jalan."
Mawar memandang payung itu, lalu Dion, lalu payung itu lagi. Sesuatu bergerak di wajahnya, bukan simpati, tapi sesuatu yang sedikit lebih pahit. Dia mengambilnya.
"Jangan kirim pesan lagi," katanya, sambil berdiri. "Nomor kamu sudah diblokir, jadi pesan kamu cuma numpuk di entah mana dan dia tahu kamu nggak berhenti. Jangan datang ke rumah Abangnya. Jangan nunggu di kampus. Biarkan dia yang mutusin. Kalau dia mau, dia yang cari kamu." Dia berhenti satu langkah di depan. "Kalau dia nggak mau, ya sudah."
"Ya."
"Aku nggak bilang aku maafin kamu."
"Aku nggak berharap."
Mawar pergi tanpa menoleh, payung biru terkepit di bawah lengan.
Sepuluh menit kemudian Ernest dan Jovian tiba di warung dengan napas terengah, dan Jovian berhenti di depan Dion dengan mata melebar.
"Itu ... itu cap tangan? Itu tangan Mawar?" Dia mendekatkan wajah ke pipi Dion, hampir menyentuhnya. "Lima jari! Jari kelingkingnya kelihatan! Demi Tuhan, Yon, bekas tangan Mawar bagus banget, bentuknya rapi."
"Jov ..."
"Boleh nggak gue foto?"
"Jov!" Ernest menyikutnya. Lalu, lebih pelan ke Dion: "Lu oke?"
Dion mengangkat wajah. Semua yang dia pendam sejak Rabu naik ke tenggorokannya, kuat dan sederhana, dan dia mendengar dirinya mengucapkannya sebelum sempat mengubahnya.
"Gue mau pulang."