Mama datang pukul delapan pagi dengan taksi, tas tangan kulit di lengan, dan wajah seorang jenderal yang tiba di medan perang untuk mengecek apakah anak buahnya sudah mengurus tenda dengan benar. Dia berhenti tepat di ambang pintu rumah Farish, menyapu ruang tamu dengan matanya, dan menarik napas panjang yang artinya lebih tajam daripada kalimat apa pun.
"Rish. Kamu tinggal di sini atau lagi menunggu disita?"
"Pagi, Mama."
"Sofa satu, televisi satu, rak buku kosong. Kamu makan di mana? Di lantai?" Mama menyerahkan tas ke tangan Farish seperti menyerahkan mantel ke pelayan. Dia berjalan ke dapur tanpa diundang dan membuka pintu kulkas. Di dalamnya, dua belas butir telur berjajar dalam rak baru, mi instan menumpuk di laci sayur, dan sekantong jeruk berdiri sendirian di rak tengah. Mama menutup pintu itu dengan jari telunjuk saja.
"Mama tidak melahirkan anak laki-laki supaya hidup dari telur."
"Itu baru belanja kemarin, Mama."
"Berarti sebelumnya kamu hidup dari apa? Udara?" Mama kembali ke ruang tamu. "Mana adikmu?"
"Di kamar tamu."
"Kenapa tidak keluar menyambut Mama?"
Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Fanya yang muncul dari lorong dengan kaus longgar dan rambut dikuncir asal. Dia mencium tangan Mama, menunduk, dan mencoba tersenyum. Mama menahan dagunya dengan dua jari dan memutar wajah itu ke arah cahaya jendela.
"Matamu bengkak."
"Kurang tidur, Mama."
"Kurang tidur karena apa?" Mama melepas dagunya. "Mama telepon Sashi semalam. Dia bilang cuma 'ada salah paham'. Sashi itu, dari kecil kalau ada apa-apa, kalimatnya selalu pendek. Salah paham apa, Nya? Kenapa kamu pindah tengah malam, bawa koper, padahal dia sudah menampung kamu berbulan-bulan?"
Dari sudut ruangan Fanya merasakan Farish menahan napas. Abangnya menatap lantai, rahangnya mengunci, dan satu kali, hanya satu kali, mata mereka bertemu. Janji itu belum dibatalkan.
"Di kamar saja, Mama."
**
Kamar tamu itu sempit, dengan satu ranjang dan satu jendela yang menghadap tembok tetangga. Mama duduk di tepi kasur seperti sedang menunggu hasil sidang, dan Fanya berdiri, bersandar ke lemari, memeluk lengannya sendiri.
Fanya sudah menyusun kalimat ini sejak subuh, mengulangnya di kamar mandi, di depan cermin, di bawah selimut, dan sekarang semuanya terasa seperti naskah drama yang dibakar sebelum pentas. Dia menarik napas.
"Dion," kata Fanya.
Alis Mama terangkat. Hanya itu.
"Dia ... punya perempuan lain, Mama. Perempuan yang sudah bersuami. Dia menerima uang dari perempuan itu, banyak, sudah lama. Dia bilang trading, ternyata bohong." Kalimat-kalimat itu keluar satu per satu dengan susah payah, seperti batu yang dilempar dari dasar sumur. "Aku baru tahu hari Rabu. Dia sendiri yang cerita."
Mama tidak menjerit. Itu hal pertama yang membuat Fanya merinding. Mama tidak menutup mulut, tidak menyebut nama Tuhan, tidak mencaci. Dia hanya menutup mata sebentar, membukanya, dan mengangguk sekali, lambat, tanda soal itu memang sudah dia jawab dengan benar sejak awal.
"Mama sudah bilang."
"Mama ..."
"Anak ojek. Anak satpam. Mama bilang laki-laki seperti itu tidak punya apa-apa untuk dipertahankan kecuali mukanya." Mama menepuk kasur di sebelahnya. "Duduk."
Fanya duduk, bukan karena patuh, melainkan lututnya tidak lagi sanggup.
"Siapa perempuannya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Di balik tembok, bunyi lemari es terbuka, lalu tertutup, tanda Farish sengaja membuat suara supaya mereka tahu dia ada. Fanya memandang kuku-kukunya sendiri. Dia melihat dengan jelas jalan yang terbentang di depan: satu nama saja, dan malam ini Mama akan berdiri di depan pintu Tante Sashi, dan hal-hal yang selama ini pecah di tempat sepi akan pecah di depan semua orang. Papah juga baru kembali dari batuk-batuk yang menakutkan. Kirana akan mendengar jeritan dari kamar bawah.
"Aku nggak tahu, Mama. Dia nggak mau sebut."
Itu bohong pertama yang pernah dia ucapkan ke Mama dengan tatapan lurus. Rasanya seperti menelan koin.
"Nggak apa-apa." Mama menggenggam tangan Fanya, dan genggaman itu justru dingin dan efisien. "Yang penting kamu sudah lihat sendiri belangnya. Sekarang dengar Mama, Nya. Waktu itu kamu bilang kamu sudah punya pacar, namanya Dion, dan Mama paham, kamu masih anak-anak. Tapi anak-anak belajar dari luka. Refi itu laki-laki baik. Ayahnya teman lama Papah. Dia tidak akan tinggal sama perempuan lain di belakang kamu."
"Aku belum ..."
"Tunangan itu Mama majukan." Mama mengeluarkan ponselnya dan menatap kalender yang sudah dia lingkari dengan tinta merah. "Bulan depan. Tanggal pastinya Mama bicarakan dengan keluarga Refi, tapi bulan depan. Papah tidak perlu tahu kamu sempat berantakan; dia cukup memikirkan utang."
Fanya ingin bilang tidak. Kata itu sudah ada di ujung lidahnya, bulat dan jelas, tetapi ketika dia membuka mulut yang keluar justru suara yang hampir tidak dia kenal: kecil, kosong, mati rasa.
"Terserah Mama."
Mama menepuk-nepuk punggung tangannya, puas tapi tidak tersenyum. "Anak pintar."
Di ruang tamu, sebelum taksinya datang lagi, Mama berhenti di depan Farish yang berdiri kaku di dekat pintu seperti penjaga gerbang.
"Kamu tahu soal anak itu, Rish?"
"Tahu, Mama."
"Sejak kapan?"
"Belum lama." Farish memilih tiap kata seperti orang menyeberangi sungai lewat batu. "Sudah selesai, Mama. Dia tidak akan mengganggu Fanya lagi."
"Bagus." Mama menyambar tas dari lengan anak lelakinya. "Dan jangan kamu ikut membela dia. Kamu itu dari kecil gampang kasihan sama orang yang salah. Ingat anjing pincang yang kamu pungut waktu SD? Kakinya sembuh, anjingnya gigit tetangga."
"Itu anjing, Mama."
"Laki-laki juga bisa begitu." Mama menoleh ke pintu kamar tamu yang tertutup, sorot matanya melunak setengah detik, lalu mengeras lagi. "Suruh dia makan yang benar. Jangan sampai kurus di depan keluarga Refi."
Taksi datang. Farish mengantarnya sampai pagar dan kembali dengan napas habis, seperti baru berenang.
**
Siang itu ponsel Fanya bergetar dengan nomor asing, dan karena dia terlalu lelah untuk menolak apa pun, dia menjawabnya.
"Fanya? Ini Refi."
Suara itu rendah dan sopan, seperti suara pembaca berita yang takut salah ucap. Fanya menatap tembok tetangga di luar jendela.
"Oh. Halo, Kak Refi."
"Saya dengar dari Tante, kamu lagi tidak enak badan. Saya cuma mau tahu apakah kamu mau ngopi. Tanpa maksud apa-apa. Saya duduk di kafe yang tenang, dan kamu bisa tidak bicara sama sekali kalau tidak ingin."
"Maaf, Kak. Aku lagi nggak bisa." Reflek itu muncul sendiri. "Maaf ya, Kak. Terima kasih sudah telepon, terima kasih banget."
Ada jeda di seberang. "Kamu tidak perlu minta maaf untuk itu."
"Maaf."
"Fanya." Refi menarik napas. "Saya tahu ini bukan waktu yang baik. Saya juga tahu Tante punya rencananya sendiri, dan saya tidak akan bilang saya tidak tahu apa-apa soal itu. Tapi saya bukan orang yang suka memaksa orang lain. Kalau suatu hari kamu butuh orang yang diam saja di sebelahmu, telepon saya. Tidak ada syaratnya."
Telepon mati. Fanya menurunkan ponsel dan duduk lama di tepi kasur yang masih berbau parfum Mama. Beberapa hari ini dia sudah mengucapkan maaf dan terima kasih kepada banyak orang yang tidak salah apa-apa. Anehnya, satu-satunya orang yang pantas mendengar kalimat itu adalah dirinya sendiri, dan dia bahkan tidak tahu harus mulai dari kata yang mana.