"Cuma itu," ulang Fanya.
Mereka sudah di dapur rumah Farish, rumah satu lantai di ujung gang buntu yang isinya lebih banyak ruang kosong daripada perabot. Di meja makan ada semangkuk mi instan yang Farish masak dengan penuh tekad dan hasil akhir yang kurang meyakinkan: mi-nya lengket jadi satu gumpalan, telurnya setengah hangus. Fanya menatapnya seperti menatap benda dari planet lain.
"Abang janji cuma itu?"
"Janji."
"Abang nggak pernah janji apa pun ke aku seumur hidup."
"Makanya sekarang Abang janji." Farish duduk di seberangnya, masih berjaket basah, dengan wajah orang yang lebih takut pada adik sendiri daripada pada tiga orang preman. "Makan, Nya. Dikit saja."
"Aku nggak lapar."
"Itu mi-nya Abang masak sendiri."
"Itu alasan tambahan buat nggak makan."
Farish menarik napas, hampir tertawa, tapi tawanya tidak jadi. Dan tepat di situ sesuatu dalam diri Fanya yang sejak sore dia tahan dengan kedua tangan akhirnya longgar. Dia memukul meja, tidak keras, tapi cukup membuat sendok di mangkuk bergeser.
"Abang biarin aku jadi lelucon."
"Nya ..."
"Tiga hari! Aku ketawa di depan Kak Dion kemarin sore, aku makan bakso, aku cerita soal Papah telepon dari kamar mandi, dan dia duduk di situ sambil ... dan Abang tahu! Abang tahu, dan Tante tahu, dan dia tahu, dan semua orang di meja akad itu tahu, dan aku, aku yang ngasih mereka kue!" Suaranya pecah di kata terakhir. "Aku kelihatan bodoh banget, Bang. Bodoh banget."
"Kamu nggak bodoh."
"Terus apa?"
Farish bangkit, memutari meja, dan sebelum Fanya sempat mundur, lengan abangnya sudah melingkar di bahunya, canggung sekali, jelas belum pernah melakukannya. Jaketnya basah dan berbau asap rokok orang lain. Fanya menangis di dada itu dengan seluruh suaranya, untuk pertama kalinya malam ini, sementara Farish menepuk punggungnya dengan irama yang salah.
"Kamu nggak bodoh," ulangnya di atas kepala adiknya. "Yang bodoh itu orang-orang yang menyimpan kebenaran seperti harta."
**
Bubur datang pukul sembilan pagi, dibawa seseorang yang membuka pintu pagar dengan kaki.
"Kulkas Abang itu isinya apa sih, Bang?" Mawar sudah menerobos masuk sambil menenteng kantong plastik besar. Rambutnya digelung asal, dan dari wajahnya saja kelihatan dia menahan tiga pidato sekaligus. "Aku intip tadi. Ada air putih, ada saus, ada telur satu yang sudah bertunas. Telur itu bertunas, Bang! Aku nggak tahu telur bisa begitu!"
"Telurnya nggak bertunas."
"Ada akarnya!"
Fanya, yang duduk di sofa ruang tengah dengan selimut sampai dagu dan mata bengkak seperti ikan mas koki, menahan diri sepenuh hati supaya tidak tersenyum. Gagal. Setengah senyum tipis lolos, lalu cepat-cepat dia padamkan seakan itu dosa.
Mawar menaruh mangkuk bubur di pangkuannya dan duduk di sebelahnya tanpa bertanya. "Makan. Pakai kerupuk. Jangan banyak mikir, mikir itu urusan perut kenyang."
"Dari siapa kamu dengar?"
"Dari Abang, subuh tadi. Dia nelepon aku, nanya jam berapa toko bubur buka. Aku bilang jam enam. Dia bilang 'saya tunggu sampai sembilan'. Aku bilang, 'Bang, kenapa sembilan?' Dia bilang 'supaya Fanya tidur'." Mawar menyuap bubur ke mulut Fanya seperti kakak yang kejam. "Abangmu itu lucu juga ternyata. Dia mikirnya dalam."
Fanya menelan. Buburnya hangat, dan itu cukup membuat matanya perih lagi.
"War."
"Hm?"
"Jangan bela dia."
Gerakan sendok Mawar terhenti di udara. "Aku belum ngomong apa-apa."
"Tapi mau." Fanya menatap mangkuk. "Aku nggak mau dengar. Mau dia sedih, mau dia nyesel, mau dia kerja tiga pekerjaan, aku nggak mau dengar. Kalau kamu bilang 'dia berubah', aku bakal keluar dari rumah ini juga."
"Rumah ini rumah Abangmu."
"War!"
"Oke, oke." Mawar mengangkat tangan. Matanya memerah, dan yang mengejutkan Fanya, bukan karena marah. "Aku nggak bela dia. Aku cuma ..." Dia mendengus, menyeka matanya kasar. "Aku cuma lihat kamu hancur, Nya. Itu aja. Lihat kamu duduk begini kayak habis ditabrak truk, aku pengin pukul semua orang, termasuk kamu."
Fanya terdiam. Lalu dia menaruh kepala di bahu sahabatnya, dan Mawar, yang biasanya cerewet, tidak berkata apa-apa lagi.
Dari dapur terdengar suara gelas disusun, terlalu pelan untuk sebuah kebetulan, dan Mawar, yang punya telinga seperti antena parabola untuk setiap rahasia, tahu itu kode. Mawar bangkit tak lama kemudian dengan alasan mengambil air. Di dapur, Farish sedang berdiri di depan wastafel tanpa mencuci apa pun.
"Bang," bisik Mawar, merapat dan mengecek lorong. "Aku mau tunjukkan sesuatu. Fanya jangan tahu dulu."
Dia membuka galeri ponselnya, menggeser beberapa tangkapan layar, dan menyodorkannya. Percakapan itu pendek: Adelia, Syahnaz, kalimat-kalimat yang jelas tentang foto dan angka. Sepuluh juta. Tenggat Sabtu. Kalau tidak, Farish yang dapat.
"Aku foto sendiri di kos Adelia, pas dia lengah," kata Mawar tenang. "Foto yang Abang terima itu bukan laporan, Bang. Itu senjata. Dion sudah cerita ke Abang, aku tahu. Ini buktinya, tertulis: dia minta sepuluh juta, dibagi dua sama Syahnaz. Dan Abang ... Abang yang dia kirimin."
Farish tidak bertanya apa-apa. Dia mengulurkan tangan minta ponsel Mawar, menyalin tangkapan layar itu ke ponselnya sendiri satu per satu, dan wajahnya mengeras tanpa kerut. Mawar mulai berpikir lelaki itu akan meninju kulkas, dan diam-diam bergeser dua langkah menjauh dari pintunya, karena kulkas itu satu-satunya benda di rumah ini yang bisa menolong mereka bertiga dari kelaparan.
"Terima kasih," ucap Farish, akhirnya, sangat datar. "Yang di galeri kamu juga, kirim ke saya."
"Abang mau ngapain?"
"Belum tahu."
"Bang, jangan bilang Fanya. Belum." Mawar menggigit bibir. "Dia lagi nggak sanggup nambah satu muatan. Kalau dia tahu abangnya sendiri yang jadi bagian dari urusan ini, dia bakal merasa semua orang di sekelilingnya bermasalah. Dan itu salah. Abang cuma kena sial."
"Kamu lagi menghibur saya?"
"Aku lagi ngatur strategi. Menghibur itu kerjaan Kak Jovian." Mawar mendengus. "Kalau dia sampai dengar aku bilang begitu, aku masuk liang kubur."
Sudut bibir Farish bergerak, nyaris menjadi senyum, lalu kembali rata. "Dion sudah saya tinju."
"Aku tahu. Satu lagi dari aku pun masih wajar."
"Mawar."
"Nggak sekarang, Bang. Belum." Dia membalik badan, mengambil gelas yang benar-benar tidak dia butuhkan, dan mengisinya dengan air dari galon. "Tapi kalau dia muncul di depan mukaku lagi, nggak janji."
Siang berlalu pelan. Mawar pulang dengan janji kembali besok, dan Farish pergi sebentar ke minimarket dengan alasan membeli telur. Dia pulang membawa dua belas butir telur, lima bungkus mi, dan sekantong jeruk, seakan sedang bersiap menghadapi pengepungan. Fanya melihatnya dari pintu kamar tamu dan memutuskan untuk menyayangi abangnya sedikit lebih banyak, meski hanya diam-diam.
Di kamar itu dia membongkar tas kecilnya mencari charger, dan dompetnya ikut jatuh ke kasur. Dari lipatan paling dalam terselip selembar uang sepuluh ribu yang sudah lecek, dilipat empat, warnanya hampir pudar. Ongkos ojek yang tak pernah diambil. Dulu dia menyebutnya jimat. Fanya menatapnya, membalik-baliknya di antara jari, dan tidak sanggup membuangnya, tidak sanggup pula menyimpannya di tempat yang sama. Akhirnya dia menyelipkannya ke halaman tengah buku kuliah yang paling tebal, lalu menutup buku itu keras-keras.
**
Malam harinya Fanya mengecek ponsel untuk pertama kali sejak kemarin. Hampir seratus notifikasi, sebagian besar dari satu nama. Dia tidak membukanya, hanya menggulir layar sampai pratinjau pesan terakhir terbaca sendiri:
Dion: Dek, Kakak nggak minta dimaafkan. Kakak cuma mau tahu kamu sudah sampai rumah dengan selamat.
Jarinya bergetar di atas layar. Dia menatap kalimat itu lama, lalu membuka profil dan menekan "blokir". Konfirmasi muncul. Dia menekan lagi.
Lalu sebuah pesan lain masuk, dari Mama, singkat seperti biasa: "Besok pagi Mama ke rumah Abangmu. Jangan ke mana-mana."