Tukang ojek yang membawa Fanya dari mulut jalan raya menolak ongkos tambahan dan malah menyodorkan jas hujan plastik yang robek di bagian bahu. "Basah kuyup begitu, Mbak, nanti masuk angin." Fanya mengucapkan terima kasih tiga kali dan minta maaf dua kali karena membasahi jok. Lucu juga, pikirnya, lelaki yang sore tadi mematahkan hatinya pun bekerja seperti ini, dan dia tidak bisa memutuskan apakah itu ingin dia tertawakan atau tangisi.
Sepanjang jalan dia tidak menangis. Itu yang aneh. Dia sudah menyiapkan diri untuk tersedu di jok belakang, supaya Abang ojek punya cerita buat istrinya malam ini, tapi yang keluar dari dirinya hanya diam yang berat dan dingin. Tangannya masih terasa panas di bekas tamparan tadi. Payung biru itu tertinggal di pos. Dia sempat memikirkannya di tikungan kedua, payung murah yang dia beli di warung bersama Mawar, lalu sadar betapa konyolnya memikirkan payung ketika ada hal lain yang jauh lebih patah.
Gerbang rumah Tante Sashi sudah terbuka sedikit. Lampu teras menyala, dan dari sela tirai ruang tamu mengintip cahaya kuning. Padahal biasanya jam segini rumah itu sudah gelap, kecuali kamar atas.
Fanya masuk tanpa mengetuk. Air menetes dari ujung rambut ke lantai marmer, membentuk jejak kecil sepanjang lorong.
Tante Sashi duduk di sofa panjang dengan punggung tegak. Rambutnya digelung rapi, tapi riasannya sudah luntur di sekitar mata. Di meja ada secangkir teh yang tak lagi mengepul, dan ponselnya terbuka di pangkuan, layarnya menyala menampilkan satu percakapan yang Fanya kenal baik dari ukuran gelembung pesannya saja.
"Dia sudah bicara denganmu?"
Tidak ada sapaan. Tidak ada "Anya, kamu basah semua". Fanya berdiri di ambang ruang tamu dan merasa sedang menatap orang asing yang meminjam wajah tantenya.
"Sudah, Tante."
"Semalam dia kirim pesan. Katanya hari ini dia akan bilang semuanya." Jari Tante Sashi mengetuk-ngetuk layar. "Tante baca. Tante pikir dia tidak akan berani."
"Dia berani."
"Anya, duduk dulu. Tante ambilkan handuk ..."
"Tante tahu sejak kapan?"
Tante Sashi terdiam. Lalu dia menurunkan ponsel ke meja, dan ketika bicara, nadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih keras, seperti pembelaan yang sudah disiapkan berhari-hari. "Sejak Jumat malam. Sebelum akad. Tante lihat fotonya di ponselmu dan Tante tahu itu dia."
"Dan Tante bilang bawa dia ke akad."
"Tante mau lihat sendiri ..."
"Lihat apa? Lihat aku senyum-senyum?" Fanya melangkah satu langkah masuk, dan sepatunya berdecit basah. "Tante pegang tangan aku di dapur waktu bikin kue, Tante bilang 'Anya akhirnya jatuh cinta'. Tante bilang itu sambil tahu."
Tante Sashi membuka mulut, menutupnya lagi.
"Tante duduk di meja makan yang sama dengan dia, Tante tanya-tanya soal ayahnya, soal skripsinya. Tante suruh bungkuskan kue buat dia." Suara Fanya tidak naik sedikit pun, dan justru itu yang membuat tangan Tante Sashi mengepal di atas lutut. "Aku ceritakan semuanya ke Tante. Soal hujan, soal pos polisi. Tante dengar sambil senyum."
"Dengarkan Tante." Tante Sashi berdiri. "Kamu tinggal di rumah ini berbulan-bulan, kamu tahu seperti apa rumah ini. Om Aaron jarang pulang. Tante cuma ..."
"Kesepian."
"Ya!" Tante Sashi menatapnya, dan sejenak matanya mengilat. Tapi kemudian dagunya terangkat lagi. "Dan jangan bikin seolah anak itu korban. Dia datang karena uang, Anya. Setiap rupiah dia terima. Tidak sekali pun dia menolak. Kamu pikir dia lelaki baik-baik yang tersesat? Dia ..."
"Dia sendiri bilang begitu."
Kalimat itu menghentikan Tante Sashi seperti tamparan. Fanya menarik napas yang gemetar.
"Dia bilang awalnya demi uang. Dia nggak cari alasan, Tante. Dia nggak minta aku percaya." Dia menelan sesuatu yang pahit di tenggorokannya. "Tante yang sembunyi. Tante tahu dia pacarku, dan Tante tetap diam. Itu yang paling nggak bisa aku ... Tante yang tidak pantas."
"Tante nggak pernah mikirin aku? Sekali saja?"
"Tante pikirkan. Tiap malam."
"Kalau begitu Tante memikirkannya di tempat yang salah."
Hening. Di luar, hujan memukul-mukul talang, dan di lantai atas sesuatu berderak, mungkin pintu, mungkin hanya rumah yang ikut menahan napas.
"Aku mau ambil barang-barangku," kata Fanya.
"Ini tengah malam. Hujan. Kamu mau ke mana?"
"Ke Abang."
"Anya ..."
"Tolong, Tante. Jangan malam ini."
**
Kopernya yang paling besar ternyata tidak cukup, dan Fanya baru sadar betapa banyak benda yang selama ini dia pikir hanya singgah. Kamar itu masih berbau sabun lavender yang selalu Tante Sashi beli sepaket untuknya, lengkap dengan lilin aromaterapi, seolah dia anak sendiri. Fanya mengunci pikiran itu rapat-rapat di belakang kepala dan menarik laci pertama. Dia memasukkan baju secara asal, buku kuliah, charger, boneka kelinci pemberian Mama waktu dia lulus SMP. Dia berhenti sekali, ketika menemukan celemek yang masih bertepung dari hari dia membuat kue bersama Mawar dan Mbak Siti. Celemek itu dia lipat sangat rapi, lalu dia tinggalkan di atas kasur.
Dari tangga, dia menelepon Farish. Nada sambungnya belum selesai dua kali.
"Nya?"
"Bang, jemput aku. Sekarang."
"Sepuluh menit." Pertanyaan tidak datang sama sekali, dan itu menjawab sesuatu yang belum sempat Fanya tanyakan.
Pintu kamar bawah terbuka ketika dia menyeret koper melewati ruang tengah. Kirana berdiri di ambangnya dengan boneka beruang terseret di lantai, rambut ikalnya kusut, mata setengah terpejam. Di belakangnya pengasuh yang baru bangun menggeleng-geleng meminta maaf.
"Kak Anya?" Suaranya parau sisa tidur. "Kak Anya mau ke mana? Kok basah?"
Fanya berjongkok. Kakinya hampir tidak bisa menahan tubuhnya. Dia menempelkan bibir di dahi Kirana, yang hangat dan wangi minyak telon, dan sebelum sempat dicegah, air matanya jatuh di rambut anak itu.
"Kakak nginap di rumah Abang dulu, ya."
"Kapan pulang?"
Pertanyaan sederhana yang tidak punya jawaban. "Nanti Kakak telepon, Sayang. Kirana tidur lagi, ya. Besok kan ada kartun."
"Kak Anya nangis?"
"Kakak kena hujan. Dingin."
Kirana mengangguk dengan serius, lalu memeluk lehernya sekejap dengan lengan kecil yang belum punya tenaga. Fanya menahan pelukan itu sedetik lebih lama daripada pantas. Ketika dia berdiri, Tante Sashi sudah ada di ujung lorong, bersandar di dinding dengan tangan menutup mulut. Mereka bertatapan. Tak satu pun mengucapkan apa-apa.
Lampu mobil Farish menyapu tirai dari luar, tepat sepuluh menit.
**
Farish tidak turun. Dia membuka bagasi dari dalam, menunggu Fanya memasukkan koper sendiri, lalu menjalankan mobil begitu pintu penumpang menutup. Wiper bergerak kiri-kanan melawan hujan yang tak kunjung reda. Tak ada yang bicara sampai mereka melewati gapura kompleks.
Fanya menatap kaca depan. Ponsel di kantong jaketnya bergetar tanpa henti sejak tadi, dan dia tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa. Empat puluh? Lima puluh pesan? Dia membiarkannya seperti serangga terjebak di dalam kaleng.
"Abang nggak tanya apa-apa."
"Karena kamu sudah tahu semuanya." Farish mengusap wajah dengan satu tangan. Di dasbor, ponselnya menyala sebentar menampilkan sebuah nama, lalu dia membalik benda itu telungkup tanpa melihat siapa yang menelepon. Fanya tak sempat membaca. "Muka kamu pucat, Nya. AC-nya Abang matikan, ya."
"Nggak usah. Aku mau dingin."
"Sejak kapan Abang tahu?"
Cengkeraman Farish pada setir mengeras. Lampu merah memantul di rahangnya, di matanya yang tidak mau menoleh.
"Tiga hari."
"Tiga hari." Fanya mengulang pelan, seolah menimbang beratnya di lidah. "Abang kasih tenggat ke dia, tapi nggak pernah kasih tenggat buat diri Abang sendiri. Tiga hari Abang lihat aku ketawa-ketawa."
"Abang mau kamu dengar dari dia, bukan dari Abang."
"Abang tahu apa lagi?"
Farish diam lama sekali. Lampu berubah hijau, dan klakson dari belakang menyalak sebelum dia menginjak gas.
"Cuma itu," katanya.